Xavi Hernández: Kisah Sang Maestro Lapangan Hijau
27
Jan
2021
0 Comment Share Likes 138 View

Rasa-rasanya, hampir mustahil ada penggemar sepakbola yang tak mengenal sosok Xavi Hernández. Seorang gelandang bertalenta lengkap dengan visi bermain, sentuhan, dan operan kelas dunia.

“Ia adalah seseorang yang mendominasi ritme permainan. Penampilannya akan memungkinkan tim untuk berfungsi. Ia adalah seorang pemain yang berbeda.” Pujian Johan Cruyff tentu tak berlebihan. Penampilan Xavi di atas lapangan membuktikannya.

Xavi membuat segala sesuatunya berjalan begitu mudah di lini tengah. Tidak ada blok pertahanan lawan yang tidak bisa ditembus dengan umpan tajamnya. Xavi seolah memiliki visi 360 derajat yang bisa mengakses seluruh lapangan. Xavi adalah seorang maestro lapangan hijau yang sesungguhnya.

Rumah Bernama Barcelona

Sulit membayangkan Xavi tanpa Barcelona, begitu juga sebaliknya. Barcelona merupakan klub yang dibela Xavi hampir sepanjang karirnya. Sebanyak 18 dari 23 tahun karirnya sebagai pesepak bola profesional dihabiskan di tim asal tanah kelahirannya di Catalan tersebut.

Xavi lahir di Terrassa, sebuah kota di Provinsi Catalan. Bakat sepak bolanya sudah tercium oleh Oriol Tort, salah satu direksi pembinaan usia muda di Barcelona pada umur 6 tahun. Ketika Xavi berusia 11, Tort menawarinya untuk trial. Xavi mencetak tiga gol di laga tersebut, dan resmi bergabung dengan Barcelona. Di usia 16 tahun, Xavi mulai menembus skuad Barcelona B. Dua tahun kemudian, Xavi mendapatkan debutnya bersama tim senior dalam laga Copa Catalunya kontra UE Lleida.

Awal karir Xavi di tim senior tidak berlangsung begitu mulus. Setelah hanya menjadi pilihan nomor sekian setelah nama-nama beken sekelas Rivaldo, Jari Litmanen, Pep Guardiola, dan Luis Enrique, Xavi mulai mendapat tempat ketika Guardiola pindah ke Brescia pada 2001. Hanya saja, bakat muda Xavi dianggap masih terlalu dini untuk lini tengah Barcelona. Fans bahkan menjulukinya Parabrisas, yang secara harfiah berarti wiper kaca depan mobil. Julukan tega tersebut disematkan lantaran permainannya yang banyak melakukan operan aman ke sisi lapangan.

Xavi di awal karir bersama Barcelona (90min.com)

 

Tetapi sejarah akhirnya membuktikan bahwa ia merupakan salah satu yang terbaik dalam sejarah klub tersebut. Perlahan Xavi membuktikan kemampuannya. Dimulai dari kedatangan Frank Rijkaard pada 2003, bakat gemilang Xavi terakomodasi dalam permainan menyerang ala pelatih Belanda tersebut. Bersama Rijkaard, Xavi berperan dalam dua titel La Liga, serta trofi Liga Champions pertama Blaugrana dalam 14 tahun. Pada 2005 ia menjadi wakil kapten Barcelona.

Puncak karir Xavi sebagai pemain hadir di masa kepelatihan Guardiola, sosok yang ia ‘gantikan’ dulu semasa bermain. Guardiola yang baru setahun menjabat pelatih kepala Tim B, promosi ke tim senior dengan mengusung konsep permainan penguasaan bola yang lebih modern; juego de posesión, atau tiki-taka dalam istilah yang lebih populer. Gaya permainan menyerang yang dinamis dengan mengedepankan penguasaan bola.

Guardiola kemudian membawa Barcelona ke dalam salah satu fase terbaik dalam sejarah mereka. Bersama Guardiola, Xavi mengumpulkan 3 gelar La Liga beruntun, 2 Copa del Rey, 2 Liga Champions, 3 Supercopa de Espana, 2 Piala Super Eropa, dan 2 Piala Dunia Antarklub. Total 14 gelar tersebut diraih hanya dalam jangka waktu 4 tahun kepelatihan Guardiola.

Xavi dan koleksi trofinya semasa memperkuat Barcelona (FC Barcelona)

 

Menguasai Bola, Menguasai Dunia

Xavi merupakan kepingan penting di salah satu era terbaik Barcelona dan Tim Nasional Spanyol. Barcelona dan Spanyol medio 2008-2012 boleh jadi adalah dua dari sekian tim terhebat sepanjang sejarah sepak bola. Tak hanya memenangi hampir semua gelar bergengsi yang ada, mereka menjuarainya dengan permainan yang atraktif.

Penguasaan bola menjadi fitur utama dalam permainan keduanya. Dengan menguasai bola, mereka bisa mendikte jalannya pertandingan. Xavi, sebagai pemain dengan kemampuan olah bola di atas rata-rata, tentu akan sangat dibutuhkan oleh tim tersebut. Di Timnas Spanyol, Vicente Del Bosque membawa gaya permainan tersebut dengan Xavi, bersama enam rekannya di Barcelona menjadi tulang punggung tim.

Xavi membawa Spanyol menjuarai Piala Eropa di 2008. Ia menjadi pemain terbaik di turnamen tersebut. Namun dua tahun kemudian di Afrika Selatan, Xavi berada di puncak dunia. Tim Matador berhasil membawa pulang trofi paling bergengsi di dunia sepakbola: Piala Dunia, untuk kali pertama ke semenanjung Iberia.

Berada di puncak dunia. Xavi bersama trofi Piala Dunia (FC Barcelona)

 

Dua tahun berselang, Xavi masih menjadi aktor penting dominasi Spanyol di sepak bola. Kali ini Piala Eropa kembali menjadi trofi untuk menambah koleksi Xavi. Dalam edisi 2012 di Polandia-Ukraina, Xavi mencetak dua asis dalam kemenangan telak 4-0 Spanyol atas Italia di partai puncak. Prestasi tersebut menggenapi dominasi Spanyol dengan tiga trofi internasional bergengsi.

Duet Xaviesta

Membicarakan dua tim di mana Xavi berada di puncak karier--Barcelona dan Timnas Spanyol--tak lengkap tanpa nama seorang Andres Iniesta. Boleh jadi duet keduanya, yang dijuluki ‘Xaviesta’, merupakan duet lini tengah terbaik sepanjang masa.

Iniesta hanya terpaut empat tahun lebih muda dari Xavi. Sama seperti Xavi, Iniesta memiliki kemampuan olah bola yang luar biasa. Kemampuannya dalam mengontrol lini tengah sangat cocok dengan profil Xavi. Sejak operan pertama antar keduanya di laga melawan Mallorca pada Desember 2002, chemistry antara keduanya semakin meningkat. Duet Xaviesta dalam 486 laga membuat permainan penguasaan bola Barcelona menjadi lebih dinamis dan semakin menarik untuk disaksikan.

Xavi-Iniesta. Salah satu duet gelandang terbaik dalam sejarah (Sport Corner)

 

Sejak menjadi pemain reguler pada 2005, Iniesta menjadi tandem Xavi di lini tengah Barcelona. Duet keduanya menjadi semakin moncer di era Guardiola. Dijualnya pemain senior seperti Deco dan Ronaldinho membuat keduanya menjadi pilihan utama. Duet Xaviesta juga menjadi pilar utama Timnas Spanyol di era kesuksesannya pada 2008-12. Xavi dan Iniesta merupakan pemain reguler yang selalu menjadi pilihan utama.

Keduanya menjadi simbol permainan sepakbola dengan kecerdikan level tinggi. Operan-operan pendek penuh imajinasi, membuat lawan hanya bisa berpeluh putus asa mengejar bayangan.

Qatar Bukan Perhentian Terakhir

Final Liga Champions 2015 menandai akhir perjalanan Xavi bersama klub yang membesarkan namanya. Mengakhiri musim dengan tiga gelar--treble keduanya setelah 2009, Xavi mengucapkan selamat tinggal.

Al-Sadd menjadi pelabuhan karir berikutnya. Kehadiran Xavi di Qatar juga disepakati dengan Xavi menjadi duta negara teluk tersebut untuk penyelenggaraan Piala Dunia 2022. Hijrah ke Qatar juga menjadi bagian dari rencana jangka panjang sang maestro: menyelesaikan lisensi kepelatihan miliknya.

Xavi kemudian benar-benar gantung sepatu pada Mei 2019. Di musim berikutnya, Xavi langsung mengambil alih sebagai pelatih kepala. Sebagai pelatih, ia menerapkan gaya permainan juego de posesión yang ia paham betul. Ia mengarahkan anak asuhnya untuk bermain sebagaimana ia diajarkan dahulu. Membangun serangan dari bawah, menguasai bola, dan memenangkan pertandingan dengan gaya.

Menapaki karir sebagai pelatih usai pensiun. Akankah Xavi kembali ke Barcelona? (AFC)

 

Bersama Al-Sadd ia membuktikan mampu memenuhi tuntutan untuk memenangi gelar. Dua musim di manajerial berbuah trofi Qatar Cup, Qatar Super Cup, Emir of Qatar Cup, dan Qatar Stars Cup. Di tengah berbagai pergolakan dan masalah yang ada di Barcelona, Xavi dinilai sebagai sosok yang tepat untuk melatih klub tersebut dengan filosofi Barcelona yang mulai pudar. Tidak sedikit yang memprediksi bahwa hanya soal waktu saja Xavi akan kembali.

Xavi telah menorehkan karir yang luar biasa di sepakbola. Permainan yang brilian dalam tim yang luar biasa dan bergelimang gelar prestise. Namanya hampir pasti akan selalu disejajarkan dengan deretan gelandang terhebat sepanjang masa. Ungkapan itu tidak berlebihan mengingat penampilannya semasa berkarier di lapangan hijau. Menurut Pria Intersport, apa momen Xavi yang paling berkesan, Pria Intersport?

SAMPAIKAN KOMENTAR