Xabi Alonso, Tak Perlu Cepat Yang Penting Cerdas
25
Nov
2020
0 Comment Share Likes 175 View

Lahir di di Tolosa, Spanyol pada 25 November 1981, Xabi Alonso berkembang menjadi pemain papan atas dunia. Gelandang yang kemudian malang melintang di klub top Eropa hingga akhir kariernya. Bayern Munich jadi labuhan terakhir sampai memutuskan pensiun pada 2017. Darah sepak bola mengalir dalam dirinya, karena sang ayah, Periko Alonso adalah pemain ternama di Spanyol dengan koleksi tiga gelar juara La Liga.

Di usia sembilan tahun, Xabi masuk ke klub amatir Spanyol, Antiguoko. Dia sama-sama menimba ilmu dengan Mikel Arteta yang kini menjadi manajer Arsenal. Ketika masuk ke usia 18 tahun, jenjang menuju profesional dijalani Xabi karena direkrut Real Sociedad B. Cuma butuh waktu setahun hingga dia mendapat kepercayaan masuk ke tim utama.

Real Sociedad sempat meminjamkan Xabi ke Eibar dalam kurun waktu satu tahun. Setelah itu dia menjadi andalan, dan akhirnya memutuskan hengkang pada 2004. Total catatan penampilannya di sana mencapai 114 pertandingan. Liverpool pun kepincut dengan gelandang yang terkenal dengan operan panjangnya yang akurat ini. Sumbangannya selama berseragam The Reds adalah Piala FA, Community Shield, Liga Champions, dan Piala Super UEFA.

 

Xabi Alonso ketika bermain untuk Liverpool. Foto: Liverpoolfc.com.

 

Lima musim menjalani petualangan di Liverpool, Xabi kemudian memilih pulang kampung ke Spanyol. Dia bergabung dengan Real Madrid yang dibeli dengan harga 30 juta pound sterling. Negosiasi antara kedua klub terbilang alot, karena Presiden Real Madrid, Florentino Pérez hanya ingin membeli dengan harga Rp 27 juta poundsterling. Sampai akhirnya Los Blancos yang mengalah, karena memang betul-betul butuh tenaga Xabi.

Uang yang dikeluarkan Madrid untuk mendatangkan Xabi terbilang berguna. Karena selama lima tahun di sana, dia turut berkontribusi dalam merebut dua trofi Copa del Rey, dan masing-masing satu Piala Super Spanyol, La Liga, Liga Champions, dan Piala Super UEFA. Setelah itu, Xabi memilih bergabung dengan Bayern Munich. Tiga gelar juara Bundesliga secara beruntun didapatkan ketika itu, mulai musim 2014/2015 hingga 2016/2017. Tambahannya trofi DFB Pokal dan DFL Supercup.

Prestasi luar biasa juga ditorehkan Xabi ketika dipercaya memperkuat Timnas Spanyol. Dia masuk dalam skuad yang berhasil menjadi juara Piala Eropa 2008 dan 2012, ditambah Piala Dunia 2010. Periode di mana La Furia Roja menjadi kekuatan besar di pentas dunia. Dan Xabi selalu jadi tulang punggung di lini tengah.

Orkestrator Lapangan Hijau

Xabi menjalani peran sebagai gelandang yang tugasnya vital. Dia tidak cuma sigap dalam memotong aliran bola ketika lawan melancarkan serangan, tapi juga bisa berpikir cepat menginisiasi serangan balik lewat umpan panjangnya yang akurat. Dengan ketenangan, Xabi selalu bisa menjaga ritme permainan tim yang dibela. Itu mengapa dia disebut orkestrator di atas lapangan hijau.

Mantan rekan setim Xabi di Liverpool, Peter Crouch merasakan betul layanan luar biasa yang pernah dia dapatkan. Sosok yang digambarkannya hanya dalam satu kata, yakni berkelas. Dalam setiap latihan, Xabi selalu mengajak rekan setim untuk meningkatkan kemampuan. Dia tak pernah berhenti bekerja keras.

Selebrasi Xabi Alonso dan Peter Crouch saat berseragam Liverpool. Foto: foxsport.com.au

 

"Menyaksikannya dalam latihan saat melakukan tendangan ke gawang juga merupakan pemandangan yang mesti dilihat. Dalam setiap latihan, dia akan coba melepaskan umpan pendek cepat kepada Anda, berharap setelah itu ada penyelesaian akhir," ujar Crouch, seperti dikutip dari BBC.co.uk.

Yang paling menarik adalah latihan ekstra Xabi untuk melatih tendangan jarak jauhnya. Bahkan dalam jarak sekira 46 meter dari gawang, dia mampu melepaskan tendangan yang begitu akurat. Crouch mengibaratkan hal itu seperti laser. Tak heran jika dalam pertandingan, tendangan jarak jauhnya kerap kali memukau.

Dari deretan gelandang terbaik di dunia, Xabi dianggap sebagai salah satu yang cerdas. Dia memiliki kelebihan dalam membaca permainan lawan. Itulah sebabnya Pep Guardiola yang mendapat kepercayaan melatih Bayern Munich langsung menempatkan Xabi dalam daftar buruan transfer pada 2014 silam.

"Saya sangat mengenal bagaimana seorang Xabi Alonso. Dia memiliki kepribadian yang baik, sosok yang profesional, dan seorang pemain yang begitu cerdas. Kami membutuhkannya," ujar Guardiola, dikutip dari Marca.com.

Ketika itu, usia Xabi sudah 32 tahun. Banyak pertanyaan yang diajukan kepada Guardiola mengenai alasan ngotot membelinya dari Madrid. Tidak perlu panjang lebar bagi Guardiola untuk menjawab itu semua. Karena memang dia hanya membutuhkan pemain yang cerdas untuk membantu tim dalam pertandingan.

Calon Pelatih Top

Mengandalkan kecerdasan dalam membaca pertandingan, bukan kecepatan atau liukan-liukan indah ketika menggiring bola yang membuat Xabi menonjol selama menjadi pemain. Tapi, kelebihan itulah yang membuatnya diproyeksikan menjadi salah satu pelatih papan atas dunia. Pemahamannya akan taktik dan strategi adalah kunci utama.

Di usia 39 tahun, Xabi kini berkarier sebagai pelatih. Dia memulainya dari bawah, yaitu menangani tim akademi Madrid yang berisi pemain usia 12 sampai 13 tahun pada 2018. Selama satu musim kompetisi, mereka memenangkan 22 pertandingan, dan satu sisanya berakhir dengan kedudukan imbang. Prestasi itu sempat membuat perhatian publik Spanyol tersedot.

 

Xabi Alonso sebagai pelatih skuad muda Real Madrid. Foto: en.as.com

 

Meski begitu, Xabi kemudian memilih tantangan baru setahun berselang. Kembali ke Real Sociedad untuk menangani tim B jadi pilihannya. Mereka bermain di Segunda División B, kasta ketiga kompetisi di Spanyol. Di musim pertama, dia membawa tim besutannya finish pada urutan kelima, jauh lebih baik dari musim sebelumnya yang ada di posisi 12.

Xabi dengan ambisinya sebagai pelatih tidak terlalu mengejutkan bagi mantan rekan setim, terutama di Liverpool. Ada Steven Gerrard dan Luis García yang sudah memprediksi Xabi akan meneruskan kariernya dalam dunia sepak bola. Dia memiliki modal untuk mengibarkan kejayaan di posisi barunya tersebut.

"Jika suatu saat saya menjadi manajer Liverpool, saya tahu siapa yang akan mendampingi sebagai asisten. Xabi Alonso atau Jamie Carragher. Mereka adalah pria-pria cerdas dan memiliki pemahaman sepak bola yang baik," tulis Gerrard dalam bukunya yang berjudul My Story.

Gerrard bukannya tanpa alasan mengungkapkan pujian seperti itu untuk Xabi. Semasa sama-sama di Liverpool, keduanya sering terlibat dalam sebuah diskusi membahas sepak bola. Dari sana Gerrard menyadari betapa Xabi punya pemikiran visioner untuk menjadi pelatih.

Garcia juga mengutarakan hal yang sama terkait masa depan Xabi. Sejak masih jadi pemain, rekannya itu selalu duduk di tengah lapangan dan mengarahkan pemain lain. Bahkan sampai memberi tahu secara personal, ke mana seharusnya masing-masing pemain berlari dan melakukan apa.

"Saya tidak heran kalau dia langsung berkarier sebagai pelatih. Tidak pernah saya meragukannya sedikitpun. Dia sudah melatih tim U-13 dan U-14 Real Madrid, dan berhasil mencatat kemenangan. Sekarang waktunya dia beralih ke tahap selanjutnya," ujar Garcia ketika mengomentari kepindahan Xabi ke Sociedad B.

Sempat muncul wacana Xabi akan jadi pelatih Bayern menggantikan Hansi Flick dalam waktu dekat ini. Tapi dia tak kunjung memberikan tanggapan atas isu yang entah dari mana asalnya. Biarkan waktu yang akan menjawabnya. Selamat ulang tahun, Señor Xabi Alonso!

SAMPAIKAN KOMENTAR