Tradisi Juara Bawa Chelsea Taklukkan Liga Champions 2020/2021
31
May
2021
0 Comment Share Likes 86 View

Selesai sudah perjalanan Liga Champions 2020/2021. Dimulai dengan preliminary round pada 8 Agustus 2020 di Nyon, berakhir dengan final pada 29 Mei 2021 di Porto. Trofi Liga Champions musim ini jatuh kepada Chelsea FC. Klub asal London itu memenangi pertandingan final melawan sesama klub Inggris, Manchester City FC.

Dalam final yang berlangsung di Porto pada Sabtu 29 Mei 2021 malam waktu setempat, atau Minggu 30 Mei 2021 dini hari WIB, The Blues menang tipis 1-0 atas The Citizens. Gol penentu kemenangan Chelsea dicetak Kai Havertz pada pengujung babak pertama, persisnya menit ke-42. Ini merupakan gelar juara Liga Champions kedua buat Chelsea, dari total tiga kali merasakan partai final pada 2008, 2012, dan sekarang 2021. Chelsea hanya gagal di final 2008 ketika menghadapi Manchester United FC. Waktu itu final dituntaskan lewat drama adu penalti dan Chelsea tidak mampu menghadang Manchester United.

Pada 2012 Chelsea berhasil meraih gelar juara Liga Champions untuk pertama kalinya, setelah di final mengalahkan FC Bayern. Musim 2020/2021 sukses di final itu mampu diulangi. Trofi Si Kuping Lebar pun mampir ke lemari prestasi klub yang bermarkas di Stadion Stamford Bridge ini. Aroma juara Chelsea sekarang ini ada sedikit balas dendam terhadap klub dari Manchester pada 2008. Walaupun sekarang yang dikalahkan adalah Man City, tetangga Manchester United.

Secara permainan Chelsea sangat tertinggal dalam penguasaan bola dibandingkan Manchester City. Statistik pertandingan yang dirilis UEFA memperlihatkan Chelsea hanya mencatat 39 persen penguasaan bola. Jadi betapa timpangnya perbedaan penguasaan bola dengan Manchester City. Tapi dominan dalam penguasaan bola tidak selalu berbanding lurus dengan hasil pertandingan. Tim yang mendominasi pertandingan, kadang malah keok dari tim yang permainannya biasa-biasa saja.

Gol Kai Havertz berasal dari skema serangan balik. Pemain asal Jerman itu tampak berada di celah yang kosong di antara para pemain bertahan Manchester City. Mason Mount yang melihat posisi Kai Havertz tidak terkawal, dengan leluasa mengirim umpan terobosan. Bola lurus berhasil dikejar Kai Havertz dan seketika sudah berhadapan dengan kiper Ederson. Dengan sekali gerak tipu Kai Havertz telah disambut gawang kosong. Bola lantas disodok masuk ke gawang. Sesederhana itu gol kemenangan Chelsea dalam pertandingan final kemarin.

Tapi pastinya sukses Chelsea meraih mahkota juara Liga Champions musim ini tidak sesederhana gol yang dicetak dalam pertandingan final. Ada banyak cerita yang menguras air mata bahagia maupun duka. Lantas seperti apa perjalanan Chelsea hingga akhirnya berhasil mendaki puncak tertinggi dari Liga Champions musim ini? Berikut potretnya:

Berangkat Dari Posisi Terbawah

 

Perjalanan Chelsea diawali dari batas terbawah zona Liga Champions – Foto: UEFA.com

 

Chelsea lolos ke babak utama Liga Champions dari peringkat keempat Premier League 2019/2020. Itu adalah posisi terbawah dari tim yang berhak lolos dari Inggris. Sebab Premier League dapat kuota empat tim yang lolos ke Liga Champions. Persis di klasemen akhir musim 2019/2020 Chelsea ada di bawah Liverpool sebagai juara, Manchester City (runner-up), dan Manchester United (peringkat ketiga).

Chelsea punya koleksi poin yang sama dengan Manchester United, yaitu 66 poin. Namun Chelsea kalah head to head dari Manchester United, sehingga harus ada di bawah mereka. Chelsea unggul 4 poin atas pesaing terdekat, Leicester City, yang akhirnya finis di peringkat kelima. Sukses Chelsea menempati batas bawah zona Liga Champions, membuat Inggris diwakili tiga kota kekuatan utama sepak bola negara itu, Liverpool, Manchester, dan London.

Meski demikian Chelsea dengan lolos ke Liga Champions sebagai peringkat keempat, maka tidak masuk pot unggulan dalam undian grup babak utama. Namun paling penting adalah tetap lolos ke Liga Champions dan langsung masuk ke babak utama. Sebab dengan bermain di kompetisi klub elite Eropa ini, pundi-pundi uang bakal bertambah. Selain itu kompetisi ini juga punya prestise tersendiri. Tidak heran bila semua klub di Eropa memimpikan bisa lolos dan bermain di Liga Champions.

Dalam undian grup Chelsea masuk ke dalam Pot 2. Bersama Barcelona, Atletico Madrid, Manchester City, Manchester United, Shakhtar Donetsk, Borussia Dortmund, dan Ajax. Sedangkan Pot 1 yang merupakan unggulan ditempati juara-juara kompetisi Eropa dengan koefisien tertinggi, ditambah juara bertahan Liga Champions dan juara Liga Europa. Singkat cerita Chelsea dalam undian masuk ke Grup E. Bersama Sevilla (Spanyol), Krasnodar (Rusia), dan Rennes (Perancis). Undian yang disambut positif jajaran Chelsea, karena mereka yakin bisa lolos ke fase knock-out.

Nyaris Sempurna Di Fase Grup

 

Sevilla vs Chelsea – Foto: UEFA.com

 

Total keseluruhan Chelsea mengumpulkan 14 poin dari 6 pertandingan fase grup. Hasil dari 4 kali menang dan 2 kali seri, tanpa pernah merasakan kekalahan. Itu berarti Chelsea nyaris sempurna menyapu 100 persen laga dengan kemenangan, seandainya langkah mereka tidak tertahan dalam dua laga kandang melawan Sevilla dan Krasnodar. Sebab empat laga lainnya berhasil dibungkus dengan kemenangan. Tidak heran kalau Chelsea mampu keluar sebagai juara Grup E pada fase ini.

Frank Lampard yang masih memimpin Chelsea pada saat itu, mengawali perjalanan kompetisi Liga Champions dengan hasil imbang di kandang menghadapi Sevilla. Pertandingan berakhir dengan hasil 0-0. Beruntung hasil imbang juga dicatat pertandingan lainnya antara Rennes melawan Krasnodar. Maka persaingan keempat tim di Grup E usai matchday pertama masih tetap dalam posisi start yang sama.

Baru pada matchday kedua peta persaingan siapa yang potensi dominan dan tidak dalam Grup E mulai terlihat. Ini tampak dari hasil pertandingan saat Chelsea menggulung Krasnodar dalam laga tandang dengan angka telak 4-0. Charles Hudson-Odoi, Timo Werner, Hakim Ziyech, dan Christian Pulisic, menjadi pencetak gol kemenangan yang mengantarkan tim menempati peringkat pertama klasemen sementara. Di saat bersamaan Sevilla juga memetik kemenangan, atas Rennes. Sehingga Chelsea dan Sevilla memimpin klasemen Grup E dengan angka sama 3, tapi Chelsea ada di atas karena unggul selisih gol.

Masuk matchday ketiga Chelsea sudah sprint bersama dengan Sevilla. Dua klub ini kembali memetik kemenangan. Chelsea mengalahkan Rennes dan Sevilla membungkam Krasnodar. Tambahannya Chelsea tetap mampu produktif dan menjaga clean sheet alias tidak kebobolan. The Blues menang 3-0 atas Rennes melalui gol Timo Werner (2 gol) dan Tammy Abraham. Sementara Sevilla di tempat lain menang 3-2 atas Krasnodar. Kedudukan itu membuat Chelsea nyaman di puncak klasemen Grup E, dengan keunggulan selisih gol atas Sevilla.

Seterusnya di matchday keempat dan kelima Chelsea mampu mendulang kemenangan. Enam poin berhasil diborong dan paling krusial saat mengalahkan Sevilla sebagai seteru berat di Grup E. Dalam pertemuan kedua itu Chelsea menang 4-0 atas Sevilla di Stadion Ramon Sanchez Pizjuan. Empat gol Chelsea secara gemilang diborong Olivier Giroud. Catatan empat gol dalam satu laga itu sempat bikin heboh matchday kelima Liga Champions 2020/2021.

Tiba di matchday terakhir atau pertandingan keenam, Chelsea sudah dipastikan lolos dan menjadi juara grup. Menurunkan skuat kedua alias yang jarang dapat menit bermain, Chelsea ditahan imbang Krasnodar. Pertandingan berakhir 1-1 dengan Chelsea sempat tertinggal dulu, tetapi bisa membalas melalui penalti Jorginho. Dengan demikian Chelsea tidak terkalahkan di fase grup dan lolos ke fase knock-out 16 besar sebagai juara grup. Posisi itu membuat Chelsea terhindar dari sesama juara grup di undian pertandingan 16 besar.

Berpisah Dengan Frank Lampard

 

Frank Lampard – Foto: Twitter.com/ChelseaFC

 

Geger terjadi di ruang ganti Chelsea, karena ada perubahan signifikan setelah pemecatan terhadap Frank Lampard. Posisi Chelsea yang terpuruk di papan tengah Premier League, membuat manajemen The Blues mengirimkan surat pemecatan kepada Frank Lampard. Bos Chelsea Roman Abramovich juga tidak berusaha menahan keputusan manajemen untuk mendepak Frank Lampard. Padahal hubungan orang Rusia itu dengan Frank Lampard sangatlah dekat. Maklum Frank Lampard merupakan salah seorang legenda Chelsea.

Namun manajemen lebih mengedepankan akal sehat. Mereka berpikir kalau terus mempertahankan Frank Lampard, diyakini tidak memberi dampak signifikan terhadap posisi Chelsea di Premier League. Dalam arti Chelsea makin tertinggal dalam perburuan gelar juara, sekaligus bisa tidak mampu menembus zona Liga Champions. Ditambah lagi Chelsea melihat ada pelatih "berlian" yang baru saja kehilangan pekerjaan. Dia adalah Thomas Tuchel.

Tidak ada angin, tidak ada hujan, Thomas Tuchel diberhentikan sebagai pelatih PSG. Memang ada alasan tertentu, namun yang dominan adalah PSG sudah tidak suka dengan Thomas Tuchel. Meski musim 2019/2020 membawa klub Paris ini lolos ke final Liga Champions. Setelah resmi memecat Frank Lampard, Chelsea bergerak cepat mendatangkan Thomas Tuchel. Semua berjalan seperti kilat. Negosiasi tidak berlangsung lama. Sama-sama cocok dan sama-sama butuh. Perjalanan Chelsea bersama Thomas Tuchel pun dimulai!

Bersaing Dengan Wakil Spanyol Lagi

Olivier Giroud gemilang di partai melawan Atletico Madrid – Foto: UEFA.com

 

Hasil undian babak 16 besar menghasilkan Chelsea bertemu Atletico Madrid. Berarti ini perjumpaan kembali dengan klub Spanyol dalam persaingan langsung, seperti halnya di fase Grup E ketika Chelsea bersaing dengan Sevilla. Atletico memang bukan lawan enteng, tetapi harus diakui kalau Chelsea dapat sedikit keuntungan dengan situasi COVID-19. Kenapa bisa begitu?

Sebab pertandingan leg pertama Atletico Madrid tidak bisa menjamu Chelsea di markas mereka, Stadion Wanda Metropolitano. Gara-garanya ada pembatasan akses Warga Negara Inggris atau orang yang datang dari Inggris ke Spanyol. UEFA langsung turun tangan memindahkan lokasi leg pertama saat Atletico Madrid menjadi tuan rumah. Maka Atletico Madrid pun menjamu Chelsea di Arena Nationala, Bucharest.

Secara psikologis bermain tidak di rumah sendiri jelas merupakan Atletico Madrid dan itu akhirnya terbukti. Atletico Madrid harus menerima kenyataan kalah dari Chelsea di leg pertama dengan kedudukan 1-0. Gol tunggal Chelsea dihasilkan Olivier Giroud pada menit ke-68.

Posisi Chelsea makin di atas angin saat leg kedua boleh memainkan pertandingan di kandang sendiri, yaitu Stadion Stamford Bridge. Hal ini terjadi karena pembatasan perjalanan orang luar masuk ke Inggris mulai dilonggarkan. Perjalanan tim olahraga juga masuk dalam pelonggaran. Maka Chelsea bisa menjamu Atletico Madrid di kandang, tidak di tempat netral.

Langkah Chelsea sangat mulus di leg kedua ini karena berhasil memetik kemenangan yang meyakinkan. Chelsea menang 2-0 atas Atletico melalui gol Hakim Ziyech dan Emerson. Kedudukan itu membuat agregat akhir 16 besar antara Chelsea vs Atletico Madrid menjadi 3-0. The Blues melenggang lolos ke perempat final atau babak delapan besar.

Terhindar Dari Raksasa

Porto vs Chelsea – Foto: UEFA.com

 

Mungkin ini yang namanya takdir, bahwa Chelsea terhindar dari para raksasa Liga Champions dalam undian babak perempat final. Dalam pot undian ada klub-klub penguasa Liga Champions semacam Real Madrid, Liverpool, hingga FC Bayern. Tapi tangan pengambil undian mempertemukan Chelsea melawan FC Porto, wakil Portugal. Dari semua tim yang main di perempat final, Porto adalah tim dari negara koefisiennya paling bawah.

Namun Chelsea tidak menganggap ini sebagai berkah berlebihan. Karena di Liga Champions apapun bisa terjadi. Kompetisi ini dikenal dengan kejutan yang meledak-ledak, daripada membenarkan prediksi di atas kertas. Dan, satu yang pasti pertandingan nanti dimainkan di tempat netral. Masih karena COVID-19. Tapi tidak seperti di babak 16 besar, Chelsea juga harus bermain di tempat netral. Akhirnya UEFA menetapkan Sevilla sebagai tempat menggelar pertandingan dua leg perempat final antara Porto vs Chelsea.

Pada leg pertama Chelsea berhasil menang dengan 2-0 atas Porto. Dua gol dicetak Mason Mount pada menit ke-32 dan Ben Chilwell menit ke-85. Kemudian pada leg kedua Chelsea kalah dari Porto. Tapi kekalahan hanya tipis 0-1 dan tidak cukup buat Porto memaksakan perpanjangan waktu, untuk memperpanjang nafas peluang lolos ke semifinal. Gol tunggal Porto dicetak Mehdi Taremi pada menit ke-90+4. Chelsea ke semifinal dengan keunggulan agregat 2-1.

Di akhir Liga Champions kekalahan dari Porto itu menjadi satu-satunya hasil negatif yang didapat Chelsea. Dalam 13 pertandingan dari fase grup hingga final, Chelsea hanya menelan 1 kali saja kekalahan. Satu-satunya kekalahan diderita dari Porto di babak perempat final leg kedua. Selebihnya adalah kemenangan dan seri.

Akhirnya Bertemu Raksasa Spanyol

 

Chelsea vs Real Madrid – Foto: UEFA.com

 

Jalur pertandingan semifinal berdasarkan undian perempat final, mempertemukan Chelsea melawan Real Madrid. Inilah yang dinamakan Chelsea akhirnya bertemu raksasa beneran. Sebab kita tahu Real Madrid begitu adidaya di Liga Champions. Mereka adalah pengoleksi trofi juara Liga Champions terbanyak di antara seluruh klub belahan bumi Eropa. Fakta itu membuat Chelsea oleh para pengamat banyak ditempatkan sebagai underdog, alias tidak diunggulkan untuk bisa lolos ke final karena Real Madrid yang lebih dijagokan.

Tapi mungkin ini yang dinamakan magis Liga Champions. Chelsea secara gagah mampu menyingkirkan Real Madrid, bahkan tanpa kekalahan. Entah di leg pertama atau kedua. Chelsea pada leg pertama mampu menahan imbang Real Madrid di Stadion Alfredo Di Stefano. Hasil leg pertama adalah 1-1. Christian Pulisic memberi kejutan pada menit ke-14 untuk memberi keuntungan gol tandang. Gol yang sangat berarti. Beruntung Real Madrid terhindar dari kekalahan, setelah Karim Benzema menyamakan kedudukan menjadi 1-1.

Pada leg kedua bermain di London, Chelsea sejatinya sudah merasa tenang. Karena angka 0-0 sudah bisa membawa mereka lolos ke final. Namun ternyata The Blues mampu menghancurkan Real Madrid dengan 2-0. Gol dihasilkan Timo Werner dan Mason Mount. Kemenangan itu mengunci agregat pertandingan semifinal Chelsea menjadi 3-0. Tiket final pun aman dalam genggaman.

Derby Inggris Di Partai Puncak

 

Manchester City vs Chelsea – Foto: UEFA.com

 

Final Liga Champions mempertemukan Derby Inggris antara Manchester City vs Chelsea. Fakta yang memperlihatkan bagaimana kualitas nomor satu tim dari Premier League. Sebab belum lama final Liga Champions juga mempertemukan sesama klub Inggris, yaitu Tottenham Hotspur vs Liverpool.

Pertandingan final Liga Champions 2020/2021 awalnya dijadwalkan main di Istanbul, Turki. Tapi UEFA kembali memindahkan lokasi karena tantangan pandemi COVID-19. Akhirnya ditetapkan final dimainkan di Estadio Do Dragao, Porto. Final ini juga bersejarah karena kedua tim diberi kuota penonton masing-masing 6.000 suporter. Sebab final digelar dengan kehadiran penonton langsung di stadion, dengan syarat penerapan protokol kesehatan.

Dan, seperti telah diulas dalam awal tulisan mengenai jalannya pertandingan, Chelsea tampak lebih siap untuk memenangi pertandingan final kemarin. Apalagi kalau ditanya pengalaman, Chelsea sebelumnya sudah pernah 2 kali lolos ke final, saat salah satunya berhasil dituntaskan dengan gelar juara. Walaupun skuad dan generasinya berbeda, tetap rekam jejak juga tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Sebaliknya buat Manchester City ini adalah final Liga Champions pertama sepanjang sejarah berdirinya klub. Meski kita tahu juru taktiknya adalah Pep Guardiola, seorang yang sudah fasih bagaimana menaklukkan Liga Champions ketika bersama FC Barcelona.

Maka boleh saja kita sebut pertandingan final dan sukses Chelsea menjadi juara musim ini berkat tradisi dan pengalaman. Karena Liga Champions ini lebih sering berpihak kepada tim yang sarat pengalaman dan tradisi juara. Mirip ketika Tottenham Hotspur tidak mampu menghadang Liverpool, di final dua musim lalu. Setuju, Pria Intersport?

SAMPAIKAN KOMENTAR