Tampil Lebih Baik Ketika Menguasai Bola, Real Madrid Kalahkan Internazionale
04
Nov
2020
0 Comment Share Likes 137 View

Dua tim unggulan di Grup B Liga Champions musim ini, Real Madrid dan Internazionale, belum meraih kemenangan di dua laga awal. Tren buruk tersebut membuat kemenangan menjadi hasil penting yang harus diraih saat keduanya bertemu di Estadio Alfredo di Stefano, Madrid. Kemenangan akan memperpanjang asa mereka di sisa turnamen, sementara kekalahan akan membuat langkah semakin berat.

Dalam laga yang berlangsung ketat dan menghasilkan total lima gol, Real Madrid yang bermain sebagai tuan rumah berhasil keluar sebagai pemenang. Gol dari wonderkid El Real asal Brasil, Rodrygo Goes di sepuluh menit terakhir pertandingan mampu mengunci tiga angka pertama anak asuh Zinedine Zidane di Champions League musim ini.

Kunci Real Madrid memenangi pertandingan ini bisa dilihat dari bagaimana mereka mampu menguasai bola dengan baik dan menyulitkan La Beneamata. Hal tersebut membuat mereka bisa meraih kemenangan meski Inter sempat mengeksploitasi kelemahan mereka dan menyamakan skor.

Line-up

Tuan rumah menurunkan susunan pemain terkuat mereka. Zidane hanya melakukan dua perubahan dari susunan pemain ketika mengalahkan Huesca akhir pekan lalu; Raphaël Varane menggantikan Éder Militão yang absen karena positif virus corona dan Toni Kroos yang merotasi Luka Modrić di lini tengah.

Real Madrid turun dalam formasi 4-3-3. Thibaut Courtois menjadi pilihan utama di bawah mistar. Varane berduet bersama Sergio Ramos di jantung pertahanan, diapit dua bek sayap Lucas Vázquez dan Ferland Mendy. Casemiro mengisi pos gelandang bertahan di belakang Kroos dan Federico Valverde. Trio Marco Asensio, Karim Benzema, dan Eden Hazard memimpin lini depan.

Sementara itu tuan rumah harus tampil tanpa penyerang andalan mereka, Romelu Lukaku yang absen akibat cedera. Ivan Perišić tampil menggantikan penyerang Belgia tersebut.

Inter asuhan Antonio Conte turun dengan formasi andalan 3-5-2. Samir Handanović sebagai penjaga gawang di belakang back three Danilo D’Ambrosio, Stefan de Vrij, dan Alessandro Bastoni. Trio gelandang diisi oleh pemain kuat: Marcelo Brozović dan Arturo Vidal yang beroperasi lebih ke belakang serta Nicolò Barella yang tampil di posisi yang lebih advance. Achraf Hakimi dan Ashley Young mengisi posisi wing-back di kedua sisi. Lautaro Martinez berduet dengan Perišić di lini depan.

 

Formasi Real Madrid vs Inter. Sumber: Olahan Intersport

 

Penguasaan Bola Real Madrid: Dominan dan Menyulitkan

Sebagai tuan rumah, Real Madrid banyak mengambil inisiatif dan tidak bermain reaktif. Di sisi lain, karena sama-sama mengincar poin penuh, Inter juga cukup banyak melakukan pressing blok tinggi di area permainan Madrid. Meski sempat kesulitan, Madrid tetap bisa keluar dari tekanan dan menciptakan progresi serangan.

Kesulitan pertama Madrid adalah, secara natural, Inter bisa menyamai jumlah pemain Madrid di area tengah dalam tumbukan antara 4-3-3 dengan 3-5-2. Dua penyerang Inter akan berhadapan langsung dengan dua bek tengah Madrid, sementara tiga gelandang akan saling berhadapan. Secara keseluruhan akan tercipta situasi 5 lawan 5 di awal fondasi serangan tuan rumah.

Cara anak asuh Zidane menyiasati hal tersebut adalah dengan menciptakan overload menggunakan kiper. Sebagai pemain tambahan, Courtois mampu menciptakan situasi menang jumlah sekaligus menjadi opsi bagi bek Madrid untuk melakukan sirkulasi bola sambil mencari celah di blok pressing Inter.

Opsi lainnya adalah memainkan bola ke bek sayap (Vázquez-Mendy). Keduanya relatif lebih bebas karena struktur pressing Inter yang lebih fokus pada menutup area tengah. Biasanya, Inter akan merespon dengan menugaskan wingback mereka (Hakimi-Young) untuk menekan lawan. Akan tetapi, karena keduanya berangkat dari posisi yang lebih rendah, jarak dan waktu tempuh menjadi lebih besar. Hal ini memberikan ruang dan waktu bagi bek sayap Madrid untuk melakukan progresi.

 

Set-up pressing Inter vs build-up Madrid yang fokus menutup area tengah. Madrid memiliki opsi via Vazquez-Mendy yang memiliki ruang cukup luas. Sumber: Vidio.com & Olahan Intersport

 

Cara lain yang membuat Madrid lebih stabil adalah dengan melakukan rotasi posisional. Rotasi yang umum dilakukan biasanya adalah Kroos yang turun ke bawah, sejajar dengan dua bek tengah yang bermain melebar. Sementara Mendy tampil lebih ke dalam dan Hazard menjaga kelebaran di sayap kiri. Di posisi yang lebih tinggi, Benzema sering turun ke ruang antarlini sementara Casemiro atau Valverde mengisi posisi Benzema di lini depan.

Situasi tersebut membuat Madrid bisa menciptakan overload, memberikan opsi umpan, memancing lawan, dan membuka ruang. Selain itu, Madrid memiliki kualitas eksekusi yang sangat baik. Pemain seperti Ramos, Kroos, dan Mendy mampu tampil baik di ruang sempit dengan kualitas operan dan kontrol bola yang ciamik.

 

Rotasi Madrid menciptakan momen untuk progresi. Sumber: Vidio.com & Olahan Intersport

 

Pada dasarnya, rotasi dapat menciptakan decisional crisis pada pemain bertahan; apakah mereka akan mengikuti pemain yang dijaganya keluar zona atau tetap mempertahankan bentuk struktur. Inter sendiri, seperti yang sempat dibahas di atas memiliki isu dalam menyiasati rotasi tersebut.

Pemain mereka memang mempertahankan bentuk struktur mereka dalam orientasi zonal marking, tapi hal tersebut menjadi bumerang karena mereka kurang proaktif dalam melakukan pressing, misalnya minim mengarahkan build-up lawan ke area yang kurang strategis. Lini belakang juga kurang aktif untuk ikut melakukan pressing. Hal ini menciptakan ruang yang pada akhirnya, dimanfaatkan Madrid untuk melanjutkan serangannya.

Hal tersebut tetap terlihat ketika Inter sudah berhasil menyamakan skor menjadi 2-2. Pemain Madrid tetap dapat menemukan celah di ruang antarlini akibat terlalu pasifnya lini pressing Inter dalam menutup ruang. Alhasil, ruang tersebut bisa dimanfaatkan oleh Valverde dan Vinícius untuk menciptakan kombinasi sebelum gol Rodrygo.

 

Celah dalam pressing Inter yang dimanfaatkan Madrid untuk mencetak gol penentu. Sumber: Olahan Intersport

 

Potensi Inter dalam menghadapi pressing Real Madrid

Conte termasuk pelatih yang banyak menginstruksikan timnya untuk bermain dari bawah, termasuk di pertandingan ini. Tujuannya adalah mendapatkan progresi serangan yang lebih pasti karena tim terus menguasai bola.

Madrid sendiri meresponnya dengan pressing blok tinggi untuk menganggu progresi serangan Inter. Struktur Madrid yang berorientasi dengan penjagaan perorangan (man to man marking) menyiratkan strategi bertahan yang high risk, high reward. Pressing ekspansif Benzema cs dalam beberapa kesempatan bisa mencuri peluang, bahkan gol. Tapi secara struktur, mereka sangat rentan dieksploitasi.

Di area bawah, Inter melakukan build-up dengan struktur 3-2-2-4. Di lini pertama, Handanović turut terlibat, sementara dua bek tengah terluar turun rendah sejajar dengan kiper. De Vrij dan Brozović membentuk double pivot. Di bawah struktur ini memberikan keuntungan bagi Inter secara jumlah (5v3).

Di area tengah, Barella dan Vidal mengambil posisi cukup melebar untuk merenggangkan lini tengah Madrid. Hakimi dan Young mengambil posisi cukup tinggi, bahkan sejajar dengan striker untuk menciptakan situasi 4 versus 4 melawan lini belakang lawan.

Respon Madrid yang melakukan man to man marking sebetulnya cukup ekstrem karena situasi 4 versus 4 di belakang tadi. Jika dibandingkan dengan tim  yang memperagakan orientasi penjagaan serupa, seperti Leeds United atau Atalanta, idealnya ada satu pemain bertahan yang free untuk mengantisipasi tertembusnya lini pertahanan. Di sinilah letak potensi Inter.

 

Potensi Inter untuk progresi melawan penjagaan man to man Madrid. Sumber: Olahan Intersport

 

Dalam banyak kasus, Inter juga melakukan rotasi. Hal ini memberikan dampak strategis karena orientasi man to man lawan pasti akan mengikuti rotasi tersebut, sehingga menciptakan ruang yang bisa dimanfaatkan.

 

Rotasi antara Vidal dan Brozovic membuka ruang untuk progresi serangan sebelum gol pertama Inter. Sumber: Vidio.com & Olahan Intersport

 

Sayangnya, meskipun beberapa kali Inter mampu mengakses kedua pemain terdepannya, mereka kurang bisa memanfaatkan situasi ini. Absennya sosok target man pada Lukaku sangat terasa. Baik Lautaro maupun Perišić kurang bisa mengamankan bola pertama sebaik Lukaku. Akhirnya keduanya banyak memainkan operan satu-dua sederhana yang cukup mudah diintersep bek sekelas Varane dan Ramos dalam situasi terstruktur.

Kemenangan Krusial bagi Real Madrid

Laga antara Madrid melawan Inter menghadirkan duel ketat antara dua tim yang ngotot untuk meraih kemenangan. Kedua tim tampil cukup terbuka dan memiliki banyak peluang. Akan tetapi, Madrid lebih baik dalam memanfaatkan situasi yang ada. Meski Inter memiliki potensi untuk mengeksploitasi lawan, eksekusi yang dilakukan kurang membuahkan hasil.

Kemenangan UCL perdana bagi Madrid musim ini tentu penting untuk perjalanan mereka musim ini. Setelah meraih tiga gelar beruntun, Madrid dua kali terhenti di babak 16 besar di dua musim terakhir. Kemenangan ini tentu penting untuk meraih juara grup dan menghindari tim favorit di babak 16 besar. Sementara bagi Inter, kekalahan ini turut memperpanjang start kurang meyakinkan mereka di awal musim ini. Hal ini menjadi PR serius bagi Conte untuk meningkatkan performa timnya apabila tidak ingin kehilangan pekerjaan.

SAMPAIKAN KOMENTAR