Tampil Disiplin, Atlético Hukum Kesalahan Barcelona
24
Nov
2020
0 Comment Share Likes 106 View

Nasib baik nampaknya masih belum berpihak kepada Barcelona. Los Blaugrana menelan kekalahan ketiganya di La Liga musim ini usai takluk 0-1 ketika bertandang ke markas Atlético Madrid pada Sabtu (22/11) lalu.

Barcelona terlihat kesulitan menembus disiplinnya pertahanan kokoh tuan rumah yang digalang duet Stefan Savić dan José Giménez meski menurunkan skuat terbaiknya. Sebaliknya, El Barca justru kebobolan lewat serangan balik lawan pada akhir babak pertama.

Line-up

Tuan rumah Atlético Madrid turun dengan formasi 4-4-2 yang bisa berubah menjadi 3-1-3-3 ketika menyerang dan 5-3-2 ketika bertahan. Atlético harus tampil tanpa bomber andalan mereka yang juga eks penyerang Barcelona, Luis Suárez, akibat terinfeksi virus Covid-19. Sebagai gantinya, Ángel Correa mengisi posisi penyerang asal Uruguay tersebut di lini depan untuk berduet dengan João Félix. Di lini tengah, Koke yang tampil impresif bersama Timnas Spanyol ketika jeda internasional berduet bersama Saúl Ñíguez dan Marcos Llorente. Ketiganya memiliki peran instrumental dalam meredam kreativitas lini tengah lawan.

Barcelona di sisi lain tampil dengan kekuatan terbaiknya, minus Ansu Fati dan Sergio Busquets yang mengalami cedera. Griezmann kembali ke Wanda Metropolitano sebagai lawan, berduet di lini depan dengan Lionel Messi. Keduanya dibantu oleh Pedri dan Ousmane Dembélé yang memberikan ancaman dari sisi luar. Di lini tengah, Miralem Pjanić dan Frenkie De Jong menjadi aktor utama dalam konstruksi serangan awal Barca.

Susunan sebelas awal kedua tim (sumber: Olahan Intersport)

 

Blok pertahanan 5-3-2 Atlético yang sulitkan Barca

Yannick Carrasco mungkin menjadi headline akibat gol semata wayangnya yang membawa Atlético memenangi laga. Berawal dari serangan balik, pemain Belgia tersebut berhasil memperdaya Marc-André Ter Stegen yang keluar dari gawangnya dan menyepak bola ke gawang kosong. Akan tetapi, peran Carrasco di pertandingan jauh lebih banyak dari momen tersebut.

Meski bermain sebagai sayap kiri, Carrasco tampil lebih defensif sebagai wing back kiri. Carrasco akan turun sejajar dengan empat bek dan membentuk rantai lima bek dalam blok rendah 5-3-2 Atlético.

Struktur Atlético tersebut merupakan bentuk antisipasi terhadap eksplosivitas area kanan Barca, di mana Lionel Messi kerap masuk ke area half space kanan, sementara Ousmane Dembélé mengisi posisi terluar. Posisi Carrasco di struktur lima bek diharapkan dapat menambah personil di area tersebut dan mengantisipasi bek kiri (Mario Hermoso) tereksploitasi di situasi 1v2.

Struktur pertahanan Atlético (sumber: Olahan Intersport)

 

Selain itu, struktur lima bek juga memberikan konsekuensi positif dalam skema pressing Atlético secara keseluruhan. Dengan adanya lima pemain di lini belakang, tiga gelandang tengah Atlético, Koke, Saúl, dan Llorente bisa lebih terlibat dalam menekan dua pivot Barcelona, Pjanić dan De Jong tanpa banyak menimbulkan lubang di lini tengah. Dua penyerang di lini depan juga bisa banyak menekan dua bek tengah lawan. Sebagai tim yang sangat mengandalkan pressing secara kolektif, bentuk ini memberikan keuntungan strategis bagi Atlético.

Bagaimana Barca merespon?

Blok rendah Atlético sangat menyulitkan Barcelona untuk mengembangkan permainan. Dalam meresponnya, Barcelona menggunakan beberapa pendekatan, seperti eksploitasi area di luar blok, menciptakan overload, dan decoy yang dilakukan oleh penyerang.

Secara natural, blok 5-3-2 memiliki area yang kosong di sisi luar area yang di-cover 3-2 mereka. Hal ini yang coba dieksploitasi Barca dengan menempatkan pemain dengan kualitas umpan yang baik seperti Messi atau Coutinho (di babak kedua) di area tersebut lewat progresi yang berasal dari luar ke dalam (outside-inside). Nantinya mereka akan memberikan umpan yang mengarah ke pemain-pemain terdepan. Dalam eksekusi ini, pemain depan akan bermain melebar untuk merenggangkan blok pertahanan lawan dan memperluas area permainan. Mekanisme ini juga biasanya akan dikombinasikan dengan overload di satu sisi. Tujuannya adalah memberikan opsi passing bagi pemegang bola sekaligus mengurangi stabilitas blok lawan.

Peluang Barca juga terlihat lewat aksi decoy atau pergerakan pancingan yang dilakukan para pemain depan. Biasanya decoy akan dilakukan lewat pergerakan vertikal yang akan menarik penjagaan bek atau gelandang lawan, sehingga membuka ruang bagi pemain Barca untuk masuk dari lini kedua. Peluang emas Messi yang berhasil lolos dan berhadapan 1v1 dengan Jan Oblak di akhir babak pertama berasal dari skema ini.

Peluang Messi di babak pertama. Pergerakan Griezmann dan Pedri memancing Savić dan Koke sekaligus membuka ruang (sumber: Olahan Intersport)

 

Sayangnya, meski memiliki beberapa variasi, Barca tetap kesulitan untuk membongkar pertahanan lawan. Kuncinya adalah pada kedisiplinan blok pertahanan Atlético yang tetap bisa mempertahankan strukturnya. Ketika satu pemain tereliminasi oleh progresi Barcelona, pemain lainnya siap untuk melakukan cover terhadap ruang yang ditinggalkan. Hal ini juga terbantu oleh determinasi tinggi dari semua pemain Los Rojiblancos untuk mengejar bola, termasuk pemain depan.

Barcelona eksploitasi ruang di luar blok Atlético. De Jong menemukan celah untuk passing ke Messi, yang kemudian memberikan umpan terobosan ke Sergi Roberto. Sayangnya Carrasco dan Giménez cepat untuk melakukan cover (sumber: Olahan Intersport)

 

Struktur Atlético berikan ancaman pada blok 4-4-2 Barca

Meski bermain bertahan, Atlético nyatanya tetap mampu membuat beberapa serangan yang berbahaya. Serangan yang dilakukan Atlético memang cenderung direct. Akan tetapi, struktur yang baik mampu memberikan akses progresi yang aman bagi Atlético dalam mengatasi pressing 4-4-2 Barcelona.

Ketika menyerang Atlético akan memiliki struktur 3-1-3-3. Tiga bek tengah akan menjadi lini pertama dalam membangun serangan. Koke menjadi pemain gelandang yang berposisi lebih ke dalam dibandingkan dengan dua rekannya, Saúl dan Llorente. Sementara itu, Kieran Trippier dan Carrasco akan menjaga kelebaran. Felix dan Llorente akan beroperasi di masing-masing half-space sementara Correa akan menjaga kedalaman vertikal. Saúl akan banyak beroperasi di ruang antarlini untuk menjadi konektor dari belakang ke depan.

Konektivitas struktur Atlético (sumber: olahan penulis)

 

Struktur tersebut memberikan Atlético semua hal yang dibutuhkan dalam membongkar pressing Barcelona: kedalaman vertikal dan horizontal yang ideal, okupasi area-area strategis, eksploitasi ruang antarlini dan antar pemain lawan, serta koneksi antar pemain. Sebagai catatan, Atlético banyak memulai serangannya lewat bola-bola panjang. Struktur tersebut merupakan struktur yang ada ketika Atlético membangun serangan kembali dari situasi second ball. Mekanisme tersebut membuat Atlético bisa membuat struktur di area yang lebih tinggi sekaligus mendorong Barca bertahan lebih dekat ke gawangnya sendiri. Hal ini meminimalisir ancaman pressing lawan,

Struktur tersebut membuat Atlético menjadi berbahaya ketika melakukan serangan. Di awal laga Atlético berhasil menciptakan beberapa peluang berbahaya, seperti tendangan jarak jauh Saúl atau sepakan Llorente yang membentur mistar, sebagai konsekuensi dari struktur tersebut.

Nasib kontras Barca dan Atleti

Kekalahan dari Atlético membuat Barca semakin terpuruk di papan tengah klasemen sementara La Liga. Dari 8 pertandingan, Barca gagal meraih poin penuh di 5 pertandingan di antaranya. Barca yang terbenam di posisi ke-12 klasemen juga semakin jauh tertinggal dari para rivalnya, seperti Real Madrid dan Atlético yang bertengger di posisi tiga besar.

Penurunan kualitas penampilan Barca di awal musim ini juga ditambah dengan statistik kurang positif dari sang megabintang, Lionel Messi. Sempat santer akan meninggalkan klub pada musim panas lalu, Messi saat ini baru mencetak satu gol dari situasi open play di La Liga. Padahal, secara kualitas peluang, Messi mendapatkan beberapa peluang di situasi yang bagus. Statistik dari Understat menunjukkan nilai expected goals (xG) Messi dari open play musim ini ada di angka 3,55. Artinya Messi diekspektasikan minimal mencetak 3-4 gol dari situasi tersebut. Untuk seorang Messi yang biasa mencetak gol melampaui nilai xG-nya, catatan tersebut jelas mengkhawatirkan.

Ketajaman Messi sangat dibutuhkan Barca untuk bisa bersaing musim ini. Dengan banyaknya pemain muda, seperti Pedri, Francisco Trincão, atau Ansu Fati, Messi diharapkan mampu menjadi pemimpin di lini serang Barcelona dan menjadi solusi untuk bisa mengangkat performa tim yang sedang menurun.

Peta tembakan Messi di La Liga 20/21 (sumber: Understat)

 

Jika Barcelona sedang dipayungi nasib buruk, Atlético justru sebaliknya. Kemenangan atas Barcelona Sabtu lalu merupakan yang pertama setelah mencatatkan 20 laga beruntun tanpa kemenangan atas tim asal Catalan tersebut. João Félix cs juga sedang berada dalam performa meyakinkan. Saat ini Atlético sudah tidak terkalahkan di 24 pertandingan terakhir di La Liga.

Atlético musim ini juga menjadi satu-satunya tim yang belum terkalahkan di La Liga. Dari 8 pertandingan, mereka meraih 6 kemenangan dan 2 kali imbang. Catatan impresif tersebut membuat mereka ada di posisi kedua klasemen sementara. Meski tertinggal tiga angka dari pimpinan sementara, Real Sociedad, Atlético masih menyimpan dua laga lebih banyak. Performa impresif tersebut menjadi momentum yang baik di awal musim bagi Atlético untuk meraih prestasi yang lebih tinggi lagi di La Liga musim ini.

SAMPAIKAN KOMENTAR