Sukses Jose Mourinho Lumpuhkan Manchester United
06
Oct
2020
0 Comment Share Likes 1157 View

Manchester United dipaksa menyerah dengan skor telak 1-6 saat menjamu Tottenham Hotspur di Old Trafford Stadium dalam pekan keempat Premier League, Minggu malam WIB 4 Oktober 2020. Tuan rumah benar-benar dibuat kewalahan oleh tamunya.

Manajer Tottenham, Jose Mourinho akhirnya menurunkan Son Heung-min sejak menit awal. Sempat diragukan tampil karena cedera hamstring, pemain asal Korea Selatan jadi tumpuan lini depan bersama Harry Kane dan Erik Lamela.

Son menjadi sorotan jelang pertandingan berlangsung. Karena pada pekan kedua Premier League melawan Southampton, dia berhasil menyarangkan empat gol. Kolaborasinya dengan Kane sebagai pendobrak garis pertahanan lawan semakin padu di awal musim ini.

Tiga gelandang dengan tipe bertahan menjadi andalan Mourinho untuk menyeimbangkan permainan. Pierre-Emile Kordt Hojbjerg, Tanguy Ndombele, dan Moussa Sissoko yang menjadi pilihan juru taktik asal Portugal tersebut.

Memilih Hojbjerg, Ndombele, dan Sissoko menjadi salah satu kecerdikan Mourinho. Dia enggan berjudi dengan membiarkan lini tengah MU yang memiliki stok pemain berkualitas bisa mengembangkan permainan.

 

Gelandang Tottenham, Pierre-Emile Kordt Hojbjerg saat melawan MU. FOTO: instagram.com/spursofficial.

 

Empat bek yang menjadi pilihan Tottenham sejak awal adalah Serge Aurier, Davinson Sanchez, Eric Dier, dan Sergio Reguilon. Mereka bertugas mengawal Hugo Lloris yang dipercaya sebagai penjaga gawang.

Dari kubu tuan rumah, manajer Ole Gunnar Solskjaer juga menerapkan skema 4-3-3 pada pertandingan ini. Anthony Martial sebagai ujung tombak ditopang oleh Mason Greenwood dan Marcus Rashford yang beroperasi di sisi sayap penyerangan Setan Merah.

Dua gelandang kreatif milik MU, Paul Pogba dan Bruno Fernandes tetap menjadi andalan Solskjaer. Keduanya ditemani oleh Nemanja Matic yang bertugas sebagai gelandang bertahan. Dengan Pogba dan Bruno, Setan Merah coba mengambil peluang untuk mendikte lini tengah.

Untuk barisan pertahanan, Solskjaer menurunkan Aaron Wan-Bissaka, Eric Bailly, Harry Maguire, dan Luke Shaw. Lalu ada David de Gea yang berdiri di bawah mistar gawang.

MU Hancur Lebur di Babak Pertama

MU coba mengambil inisiatif menyerang sejak wasit meniup peluit tanda pertandingan dimulai. Lini depan yang diisi oleh trio pemuda dengan kecepatan berlari di atas rata-rata memberi asa bisa membuat pertahanan Tottenham kerepotan.

Belum genap satu menit pertandingan berjalan, MU sudah dapat hadiah penalti. Bek Tottenham, Sanchez melakukan pelanggaran ketika berupaya menghentikan akselerasi Martial. Algojo penalti dipercayakan kepada Bruno dan berhasil membawa MU unggul 1-0.

Terlalu banyak membuat kesalahan fatal membuat MU harus mengakui keunggulan Tottenham di babak pertama. Blunder-blunder yang dilakukan para pemain Setan Merah membuat tim tamu berhasil menyarangkan gol.

Kesalahan pertama yang dilakukan pemain MU hanya berselang dua menit dari gol keunggulan mereka. Upaya dua bek tengah, Bailly dan Maguire untuk menghalau bola dengan sundulan tidaklah sempurna. Akibatnya bola berhasil direbut oleh Lamela yang berjuang sepenuh tenaga untuk memenangkan duel.

Bola lalu lepas dari kendali semua pemain. Letaknya tepat di depan mulut gawang MU. Ndombele yang sudah merangsek ke dalam kotak penalti langsung menyambarnya dengan tendangan keras yang sempat menyentuh kaki Maguire dan membuat De Gea mati langkah.

Gol kedua Tottenham bersarang ke gawang MU pada menit ketujuh. Prosesnya lagi-lagi tidak lepas dari kelengahan skuad asuhan Solskjaer. Ketika terjadi pelanggaran, para pemain MU tidak langsung merapatkan barisan.

Melihat kondisi tersebut, Kane yang berdiri di dekat bola langsung melepaskan operan kepada Son yang berdiri bebas. Dia langsung melakukan dribel hingga ke dalam kotak penalti dan melepaskan tendangan terukur.

Berbalik tertinggal membuat mental bermain MU terganggu. Mereka tidak lagi bisa bermain lepas seperti di menit awal. Ditambah lagi, Tottenham bermain dengan rapi dalam mengawal pergerakan mereka.

Derita MU bertambah lagi ketika pertandingan memasuki menit 28 karena Martial diganjar kartu merah setelah terlibat friksi dengan Lamela. Dua menit kemudian, gawang De Gea kembali dibobol, kali ini lewat tendangan Kane.

Menekan di garis tinggi yang diterapkan Tottenham menjadi awal dari terciptanya gol tersebut. Bailly yang coba keluar dari tekanan tersebut, bermaksud melepaskan operan pendek kepada Matic. Sayangnya, bola belum sampai ke tujuan, sudah bisa dicuri oleh Kane dengan tekelnya, dan bola jatuh di kaki Sissoko.

Dengan cepat Sissoko melihat posisi Son tanpa penjagaan di dalam kotak penalti. Dalam kondisi bek MU yang panik coba menutup lubang pertahanan, Kane menarik dirinya agak ke belakang sehingga membuat Son leluasa melepaskan umpan mendatar lalu diteruskannya dengan sepakan terukur.

Ringkihnya pertahanan MU semakin jelas terlihat ketika Son mencatatkan namanya di papan skor untuk kedua kali pada menit 37. Lagi-lagi dia berdiri dengan bebas di dalam kotak penalti untuk menyambut umpan silang mendatar dari Aurier.

Mengunci Pogba dan Bruno

Sejak susunan pemain inti diumumkan oleh kedua tim, memang sudah terlihat Mourinho tidak membiarkan lini tengah MU bisa mengembangkan permainan. Dua gelandang kreatif milik Setan Merah, Pogba dan Bruno harus bisa dimatikan.

Ini adalah kali pertama Hojbjerg, Ndombele, dan Sissoko bermain di lini tengah secara bersama-sama sejak menit pertama. Mourinho malah membiarkan Dele Alli yang memiliki karakter menyerang duduk di bangku cadangan. Begitu juga Harry Winks yang belakangan selalu jadi andalan.

Hojbjerg, Ndombele, dan Sissoko diperintahkan untuk bisa terus bergerak menjaga aliran bola kepada Pogba dan Bruno. Mereka secara bergantian melakukan pengawalan. Strategi yang berjalan dengan sukses, karena sepanjang babak pertama, Tottenham unggul dalam penguasaan lini tengah.

 

Heat maps gelandang MU (kiri) dan Tottenham (kanan) di babak pertama. FOTO: Whoscored.com

 

Apresiasi layak diberikan kepada Hojbjerg di babak pertama. Pemain asal Denmark itu betul-betul pintar dalam membaca ide lawannya untuk mengawali serangan. Beberapa kali dia berhasil memotong aliran bola sehingga membuat Tottenham berbalik menguasai jalannya pertandingan.

Penampilan apik Hojbjerg bisa dilihat dari catatan statistiknya. Total dia melepaskan 105 operan sepanjang 90 menit waktu pertandingan, dan cuma lima yang terbilang gagal. Lalu ada tujuh tekel dan dua intersep yang dilakukan gelandang berusia 25 tahun tersebut.

Trio lini depan Tottenham pun dibuat bermain dengan beragam kombinasi oleh Mourinho. Lamela yang memiliki keunggulan penguasaan bola, tidak murni selalu berada di sisi sayap. Dia beberapa kali bertugas lebih ke dalam untuk memberi variasi operan pendek. Kekosongan pos gelandang serang kerap ditambal olehnya.

Terlihat pula Kane berperan sebagai penghancur perhatian bek MU. Dia aktif bergerak mengisi ruang kosong. Ketika lawan fokus untuk menjaganya, Son dengan kecepatannya langsung ikut bergerak meminta bola. Skema inilah yang sukses membuat The Lillywhites mencetak gol keempat.

 

Harry Kane saat mengisi ruang kosong dan berhasil membuat fokus bek MU terpecah di gol keempat Tottenham. FOTO: Twitter.com/SnapGoal

 

Memulai babak kedua dengan jarak ketertinggalan yang jauh dan kalah jumlah pemain membuat MU tak bisa berbuat banyak memberi perlawanan kepada Tottenham. Mereka benar-benar bermain di bawah tekanan, alhasil tim tamu bisa menambah dua gol lagi lewat Aurier dan Kane.

Pada paruh kedua pertandingan, catatan penguasaan bola Tottenham mencapai 71 persen. Dalam kondisi seperti itu, MU cuma bisa bermain se-disiplin mungkin agar kesalahan seperti di babak pertama tak terulang, tapi pada akhirnya pertahanan mereka jebol juga.

Tottenham memang tampil begitu agresif pada pertandingan ini. Mereka tak membiarkan pemain MU bisa memperbaiki penampilan yang berantakan sejak menit-menit awal. Peluang yang mereka dapatkan ke gawang lawan totalnya 22 kali, sedangkan MU cuma punya lima kesempatan.

Darurat Lini Belakang MU

Dari tiga pertandingan Premier League musim ini, total sudah 11 gol yang bersarang ke gawang MU. Sebelumnya gawang mereka dibobol tiga kali oleh Crystal Palace, dan dua kali ketika menghadapi Brighton Hove & Albion.

Solskjaer tentu pusing bukan main melihat kondisi seperti sekarang, karena dia sudah coba melakukan perombakan. Bailly yang baru pulih dari cedera menjadi harapan Solskjaer agar lini belakang anak asuhnya bisa lebih baik.

Pemain asal Pantai Gading itu berduet dengan Maguire bek tengah, menggantikan Victor Lindeloef yang dianggap sebagai titik lemah pertahanan MU. Namun harapan Solskjaer itu diruntuhkan oleh ketajaman Tottenham.

SAMPAIKAN KOMENTAR