Steven Gerrard: Loyalitas dan Semangat untuk Bangkit
30
May
2021
0 Comment Share Likes 133 View

Nama Steven Gerrard tak bisa dilepaskan begitu saja jika kita membicarakan deretan gelandang terbaik di abad ke-21. Gerrard, sebagaimana banyak gelandang klasik lainnya, adalah paket yang lengkap. Ia bisa memenangkan tekel di wilayahnya sendiri, menjelajah setiap jengkal lapangan, mengirimkan umpan secara akurat dan terperinci, hingga menyelesaikan serangan seorang diri dengan tendangan keras nan mematikan.

Akan tetapi sebagaimana banyak pahlawan, Gerrard tak luput dari cela. Pencapaiannya sebagai pemain tak se-mentereng pemain-pemain dunia lainnya. Di era sosial media, tak jarang pencapaian tersebut menjadi bahan bakar dalam setiap umpatan yang terkadang mendiskreditkan sang legenda.

Pemain sebesar Gerrard harus rela pensiun tanpa satupun gelar liga. Bisa saja Gerrard sekadar muncul di generasi yang salah. Lahir terlambat atau malah terlampau cepat dari masa ketika Liverpool mendominasi tanah Britania. Nyatanya, beberapa kali kesempatan itu hadir di depan mata, tetapi menguap begitu saja.

Sialnya, momen-momen itu terjadi di depan mata kepalanya. Musim 2014, Liverpool selangkah lagi menjuarai liga. Menjamu tim lapis kedua Chelsea, Gerrard terpeleset kala mengontrol umpan pelan dari Mamadou Sakho. Apa boleh buat. Demba Ba yang berada tak jauh dari sana merebut bola dan dengan mudah mencetak gol yang membuat Chelsea unggul. Selang beberapa laga, keunggulan 3-0 atas Crystal Palace terbuang sia-sia karena lawan bisa menyamakan kedudukan. Hasil tersebut kemudian resmi membuyarkan mimpi menjadi juara.

Nasib sial seolah tak cukup. Laga terakhir Gerrard bersama, Liverpool, klub yang dibelanya nyaris di sepanjang karirnya, berakhir tragis. Bertandang ke Stoke City, Gerrard dan Liverpool harus menelan kekalahan 1-6. Khusus penggemar Manchester United, rival bebuyutan mereka, olok-olok tak berhenti di situ. Laga derby North-West terakhir Gerrard hanya berlangsung sepanjang 45 detik. Masuk di awal babak kedua, Gerrard tak bertahan lama di lapangan. Sentuhan pertamanya adalah tekel keras kepada Ander Herrera yang berujung kartu merah dari sang pengadil.

Nasib buruk tersebut bisa bertambah kalau kita membicarakan pencapaian di tim nasional. Gerrard, bersama ‘generasi emas’ Inggris lainnya, gagal mempersembahkan satupun gelar bergengsi bagi tim Tiga Singa.

Bagaimanapun, yang membuat Gerrard menjadi pemain besar bukan sekadar permainan di atas lapangan. Kisah bagaimana ia bangkit dari kejatuhan adalah momen yang lebih menginspirasi.

Sisi merah Merseyside

Gerrard adalah Liverpool. Saat memasuki era dimana sepakbola sudah semakin komersil, nilai uang menjadi parameter utama. Gerrard adalah antitesis dari itu. Ungkapan yang mungkin klise, tapi tak ada salahnya untuk terus diulang dan dimaknai dengan hebat: loyalitas. Liverpool adalah klub yang dibelanya nyaris seumur karir sepakbolanya. Termasuk di dalamnya adalah menolak pindah ke tim kaya seperti Chelsea, hingga benar-benar meninggalkan Liverpool pada 2015 untuk menghabiskan masa tua di Los Angeles Galaxy.

Liverpool bagi Gerrard tentu istimewa. Ia sudah berada di sisi merah Merseyside sejak berumur sembilan. Sebagai bocah lokal Merseyside, bisa menembus akademi tentu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Apalagi kemudian mendapat tempat, bahkan melegenda di klub yang menjadi simbol dari wilayah tersebut.

Pada tahun 1997, ia menandatangani kontrak profesional pertamanya bersama Liverpool. Setahun berselang, Gerrard mendapatkan debutnya dalam laga Liga Primer kontra Blackburn Rovers. Catatan 13 pertandingan di musim debut tentu bukan catatan buruk bagi remaja yang baru genap berusia 18 tahun.

Sayangnya, baru setahun menjadi reguler, Gerrard harus menderita cedera punggung. Ditambah dengan cedera paha akibat pertumbuhan yang terlalu cepat dan terlalu banyaknya pertandingan yang dimainkan di usia muda. Dokter memvonis Gerrard harus menjalani empat kali operasi berbeda.

Menjadi andalan Liverpool sejak remaja (foto: Liverpool Echo)

 

Cedera tak menghambat kemauannya untuk menjadi pemain hebat. Ia kembali menjadi langganan sebelas utama Liverpool di musim 2000/21. Di tahun tersebut ia membawa Liverpool menjuarai tiga kompetisi piala: Piala Liga, Piala FA, dan Piala UEFA. Penampilannya yang impresif di musim tersebut berbuah penghargaan Pemain Muda Terbaik PFA serta pemanggilan ke tim nasional. Jiwa kepemimpinannya juga membuat Gerrard ditunjuk sebagai kapten di usia yang masih 23. Adalah almarhum Gerard Houllier, pelatih Liverpool kala itu, yang percaya dengan kepemimpinannya.

Sisanya adalah sejarah. Beragam memori dicatatkan Gerrard bersama klub kota kelahirannya tersebut. Baik dan buruk, setiap kemenangan dan kekalahan, kejayaan dan keterpurukan, semua dijalani Gerrard dengan loyalitas dan pengorbanan. Kisah Gerrard adalah kisah tentang kebangkitan usai berulang kali jatuh.

Istanbul 2005

Final Liga Champions 2005 di Istanbul adalah epitome karir Gerrard sebagai sosok yang tak kenal lelah. Istanbul 2005 adalah simbol bagi Gerrard sebagai seorang pejuang. Sebagai kapten, pemimpin, dari tim yang melawan segala ketidakmungkinan.

Cerita Liverpool di Istanbul 2005 dipenuhi segala syarat yang diperlukan untuk mendefinisikan sebuah tim yang tak diunggulkan. Mereka tertatih-tatih di liga, hanya finis di peringkat lima. Ini juga merupakan final pertama mereka di kompetisi tertinggi antarklub Eropa sejak tragedi Heysel nyaris dua dekade sebelumnya. Dalam lanskap sepakbola kala itu, Liverpool bukan tim unggulan.

Lawannya adalah AC Milan. Empat trofi dalam lima tahun di bawah kepemimpinan Carlo Ancelotti. Jika Liverpool punya Milan Baros, Harry Kewell, dan Luis Garcia, AC Milan punya Andriy Shevchenko, Clarence Seedorf, dan Ricardo Kaka. Seolah mempertegas disparitas antara keduanya, AC Milan berhasil unggul tiga gol di babak pertama. Tiga gol. Tanpa balas.

Seolah pertandingan sudah selesai. Pendukung Milan sudah berpesta. Pendukung Liverpool dirundung lara. Bayangan kegagalan sudah ada di depan mata. Tapi tidak demikian dengan Gerrard. Ia memimpin timnya memutarbalikkan semuanya. Tak sampai sepuluh menit babak kedua berjalan Gerrard mencetak gol. Skor 1-3, dan Liverpool seolah punya energi tambahan untuk melawan.

Selanjutnya adalah sejarah yang kita ketahui bersama. Liverpool bisa mengejar skor menjadi 3-3 dan memenangi trofi lewat adu penalti. Sejarah yang akan terus diingat hingga generasi-generasi mendatang.

Comeback luar biasa di Istanbul (foto: These Football Times)

 

Babak baru di Glasgow

Pasca berpisah dengan Liverpool, Gerrard melanjutkan karir di LA Galaxy. Pelatih adalah jalan hidup selanjutnya bagi Gerrard. Di lembaran baru ini, ia mulai membuktikan kehebatannya semasa dulu bermain.

Karir Gerrard di dunia kepelatihan dimulai dengan ‘magang’ di akademi yang dulu membesarkan namanya. Kehadirannya memberikan impresi yang positif bagi jajaran manajemen akademi. Kemampuannya dalam melatih yang diimbangi pengetahuan yang luas soal sepakbola membuatnya dipercaya memegang kendali di tim U-18 yang akan berlaga di ajang UEFA Youth League.

Bukan tepi Sungai Mersey, melainkan Glasgow jadi perhentian pertamanya sebagai manajer di level pro. Glasgow Rangers menunjuk Gerrard sebagai manajer sejak musim panas 2018 silam menggantikan Graeme Murty. Sepakbola Skotlandia kala itu didominasi oleh rival bebuyutan Rangers, Celtic.

Di sinilah magis Gerrard kembali muncul. Di musim ketiganya, Gerrard berhasil memutus dominasi Celtic di Liga Skotlandia. Tak hanya sekadar memutus, tetapi juga melakukannya dengan indah. Semusim tanpa kekalahan menjadi pelepas dahaga yang luar biasa bagi gelar perdana Rangers dalam sepuluh musim ke belakang.

Menjuarai liga sebagai pelatih Rangers (foto: Goal)
 

Gerrard adalah standar komitmen dan kompetensi. Semasa bermain, ia selalu mengerahkan segala sesuatunya dengan seratus persen. Kemampuan teknik dibarengi dengan komitmen untuk terus berlari dan melakukan segalanya demi tim. Sesuatu yang ingin ia tularkan kini di babak baru sebagai seorang manajer.

SAMPAIKAN KOMENTAR