Spanyol vs Jerman: Bersaing Ketat Demi Tiket Menuju Babak Akhir
17
Nov
2020
0 Comment Share Likes 78 View

Dua tim unggulan Grup 4 UEFA Nations League A, Spanyol dan Jerman akan saling sikut di laga pamungkas untuk memperebutkan tiket menuju babak akhir kompetisi tersebut. Kegagalan keduanya lolos ke babak final di kompetisi musim lalu serta potensi untuk mengukur kemampuan jelang Piala Eropa tahun depan menjadi motivasi tambahan bagi keduanya di laga kali ini.

Laga keduanya akan digelar pada Selasa malam waktu setempat atau Rabu dini hari WIB. Spanyol yang bertindak sebagai tuan rumah akan menggelar laga di Estadio de la Cartuja, Sevilla. Wasit asal Swedia berusia 35 tahun, Andreas Ekberg akan mengatur jalannya pertandingan pada laga kali ini dibantu dua asisten wasit, Mehmet Culum dan Stefan Hallberg, serta Kristoffer Karlsson sebagai official keempat.

Jerman selangkah lebih di depan

Berdasarkan klasemen sementara, Jerman berada di posisi yang lebih menguntungkan dibandingkan Spanyol. Pasukan Der Panzer memimpin klasemen sementara dengan 9 poin, hasil dari 2 kali menang dan 3 kali imbang. Sempat gagal menang di dua laga awal, Jerman kemudian meraih dua kemenangan beruntun kandang-tandang atas Ukraina.

Di sisi lain, Spanyol sedang berada dalam performa yang kurang baik di mana mereka gagal meraih kemenangan di dua laga terakhir, tumbang 0-1 di Ukraina dan ditahan Swiss 1-1. Hasil minor tersebut membuat tren positif mereka di awal kompetisi, mencuri poin di kandang Jerman, serta menang atas Ukraina dan Swiss, terbuang percuma. Kini Sergio Ramos dkk harus melorot ke peringkat kedua klasemen dengan 8 poin, hasil dari 2 kali menang, 2 kali imbang, dan 1 kali kalah.

Klasemen sementara Grup 4. Sumber Foto: UEFA.com

 

Dari perolehan tersebut, Jerman hanya membutuhkan hasil imbang untuk lolos ke babak akhir. Di sisi lain, Spanyol harus meraih kemenangan atau kembali gagal ke babak final selama dua musim berturut-turut. Hal ini memberikan beban tersendiri bagi Tim Matador, terutama apabila berkaca pada pertemuan pertama di mana mereka relatif sulit mengalahkan Jerman.

Pelajaran dari pertemuan pertama: serangan kilat Jerman dan penguasaan bola Spanyol

Pada pertemuan pertama di Stuttgart, September lalu, kedua tim berbagi angka 1-1. Meski unggul penguasaan bola, Spanyol justru terlebih dahulu kecolongan oleh gol Timo Werner di awal babak kedua. Determinasi tinggi tim asuhan Luis Enrique akhirnya berbuah hasil ketika José Gayà mampu menyamakan skor di detik-detik terakhir dan menyelamatkan Spanyol dari kekalahan.

Pada pertemuan pertama, baik Jerman dan Spanyol tampil cukup terbuka. Kedua tim berinisiatif untuk menguasai pertandingan dengan banyak melakukan serangan. Selain itu, kedua tim juga berani untuk melakukan tekanan terhadap lawan dengan pressing ketat untuk menyulitkan lawan membangun serangan.

Salah satu highlight dari pertemuan pertama adalah bagaimana pressing Jerman mampu menyulitkan Spanyol. Menghadapi Spanyol yang banyak menguasai bola dengan membangun serangan dari bawah, Jerman menerapkan orientasi penjagaan man to man marking secara menyeluruh terhadap Spanyol, mulai dari penyerang hingga pemain bertahan. Hal ini membuat Spanyol tampil kesulitan karena tidak bisa leluasa melakukan progresi dari area tengah, di mana terdapat pemain-pemain kreatifnya seperti Thiago Alcântara dan Fabián Ruiz. Agresivitas Jerman, meski berisiko, nyatanya cukup efektif dan memaksa Spanyol melakukan perubahan di pergantian babak. Jerman kemudian unggul cepat di awal babak kedua.

Struktur man to man marking Jerman di pertemuan pertama. Sumber Foto: TotalFootballAnalysis.com

 

Pasca unggul, Jerman tampil lebih bertahan. Sayangnya, keputusan Jerman untuk tampil lebih reaktif pasca unggul 1-0 justru menjadi bumerang bagi mereka sendiri. Spanyol yang tampil lebih menyerang di babak kedua setelah memasukkan Ansu Fati mendapatkan keuntungan dari Jerman yang tampil lebih bertahan. Spanyol justru mendapatkan lebih banyak ruang di lini tengah dan bisa tampil lebih menekan untuk mencetak angka.

Struktur serangan Spanyol di babak kedua Sumber Foto: TotalFootballAnalysis.com

 

Secara umum pertandingan keduanya di pertemuan pertama berlangsung ketat. Berdasarkan metriks expected goals (xG) flow di bawah, terlihat bahwa Jerman sedikit lebih mendominasi sejak awal laga dengan banyak dan tingginya kualitas peluang yang mereka ciptakan. Akan tetapi, setelah unggul dan tampil lebih bertahan, Spanyol justru lebih banyak mendapatkan ruang dan bisa menciptakan beberapa peluang hingga menipiskan selisih expected goals dengan Jerman. Puncaknya adalah gol Jose Gaya di menit terakhir.

Expected Goals flow di laga Jerman-Spanyol September lalu. Sumber Foto: BetweenThePosts.net

 

Prediksi pertandingan: Spanyol tampil proaktif, Jerman menekan balik

Membutuhkan kemenangan, Spanyol diprediksi bakal tampil menyerang sejak menit awal untuk mendapatkan keunggulan. Sementara Jerman yang hanya butuh satu angka mungkin akan tampil lebih bertahan, tetapi mereka diyakini bakal tetap menekan balik untuk membatasi permainan tim tuan rumah.

Mengandalkan penguasaan bola, Spanyol akan banyak bertumpu pada pemain di lini tengah dan depan. Dalam formasi 4-3-3 yang kerap digunakan Enrique, pemain tengah memiliki peranan penting untuk terciptanya serangan sejak fase pertama di area yang lebih dalam. Di laga melawan Swiss dan Ukraina, terlihat struktur rata-rata Spanyol kurang optimal di lini tengah, sehingga tim meraih hasil kurang maksimal. Hal tersebut terlihat dari minimnya okupasi pemain di zona 14 atau area di depan kotak penalti, sehingga bola hanya bersirkulasi di sayap. Hal ini tentu lebih menguntungkan bagi tim yang bertahan.

Pass map dan rata-rata posisi Spanyol di laga melawan Swiss (kiri) dan Ukraina (kanan). Sumber Foto: BetweenThePosts.net
 

Kabar buruk bagi Spanyol adalah absennya pemain yang handal di fase ini, yaitu Sergio Busquets akibat cedera lutut. Untuk mengisi peran gelandang Barcelona tersebut, Enrique bisa mempercayakan Rodri atau Mikel Merino. Peran gelandang, khususnya gelandang bertahan, juga semakin krusial mengingat Jerman tampil cukup baik dalam serangan balik. Gelandang bertahan diharapkan dapat memberikan perlindungan tambahan bagi Spanyol yang kerap memainkan garis pertahanan tinggi.

Di posisi yang lebih menyerang, muncul banyak desakan bagi Enrique untuk memainkan sosok penyerang murni di posisi ujung tombak. Dalam beberapa laga resmi belakangan, posisi tersebut memang kerap diisi oleh gelandang serang, seperti Dani Olmo atau Mikel Oyarzabal yang berperan sebagai false nine untuk memperkuat lini tengah. Hal tersebut lazim dilakukan oleh tim yang berbasis penguasaan bola. Sayangnya dalam beberapa laga terakhir strategi tersebut kurang menemui hasil. Berada dalam tuntutan untuk meraih kemenangan, Enrique bisa saja mengandalkan dua penyerang murninya, Gerard Moreno dan Álvaro Morata untuk bermain di posisi nomor sembilan. Moreno mencetak gol penyama kedudukan saat melawan Swiss di laga sebelumnya, sementara Morata sedang dalam performa yang bagus dengan koleksi 6 gol dan 2 asis di 8 laga bersama klubnya, Juventus.

Tantangan lain bagi Spanyol ada di posisi kiper. Dua kiper andalan Enrique sebelumnya, David De Gea dan Kepa Arrizabalaga sedang tidak dalam performa terbaik. De Gea melakukan blunder yang berakibat pada kekalahan Spanyol ketika melawat ke Ukraina bulan lalu. Sementara Kepa saat ini bahkan hanya menjadi pemain cadangan di klubnya, Chelsea, akibat penampilan yang kurang meyakinkan. Dalam dua laga terakhir, kiper ketiga, Unai Simon justru menjadi pilihan utama. Penjaga gawang Athletic Bilbao tersebut merupakan salah satu pemain paling konsisten di La Liga dua musim terakhir. Bukan tidak mungkin Enrique kembali mempercayakan Simon menjaga mistar La Furia Roja.

Di sisi lain, Jerman menghadapi situasi yang lumayan pelik meski hanya butuh satu angka dari laga ini. Joachim Löw, sang juru taktik, bisa saja tampil reaktif dengan banyak bertahan dan mengandalkan serangan balik. Akan tetapi, berkaca dari pertemuan pertama, strategi tersebut justru bisa menjadi bumerang bagi timnya. Di sisi lain, bermain ekspansif kala bertandang ke Spanyol juga menyimpan risiko, apalagi dengan kondisi lini belakang yang kurang ideal.

Lini pertahanan memang menjadi sorotan. Di tahun ini, mereka sudah kebobolan 10 gol dari 7 laga. Pertaruhan Löw dengan tidak memanggil pemain berpengalaman seperti Jérôme Boateng dan Matts Hummels dan mengandalkan pemain muda macam Robin Koch tentu memiliki risiko tersendiri. Hal ini harus dibenahi dengan permainan bertahan yang kolektif ketika menghadapi Spanyol.

Absennya beberapa pilar lini belakang seperti Marcel Halstenberg, Thilo Kehrer, Robin Gosens, Lukas Klostermann (cedera), dan Antonio Rüdiger (skorsing kartu) membuat Löw kemungkinan kembali mengandalkan Niklas Süle, Mathias Ginter, Robin Koch, Philipp Max, dan Jonathan Tah di lini belakang. Löw kemungkinan kembali memakai formasi pakem 4-3-3 seperti saat mengalahkan Ukraina, dengan Koch berposisi sebagai gelandang jangkar agar susunan formasi bisa berubah menjadi 3-4-3 untuk memperkuat lini pertahanan.

Potensi terbesar Jerman adalah ketiga penyerang cepatnya: Timo Werner, Serge Gnabry, dan Leroy Sané. Berbekal kecepatan tinggi dan pergerakan tanpa bola yang ciamik, ketiganya diberikan kebebasan dalam penyerangan Die Mannschaft. Hal ini membuat serangan Jerman menjadi lebih cair, sehingga berpotensi memberikan ancaman bagi garis pertahanan tinggi Spanyol. Hal ini ditambah dengan dukungan dari Philipp Max yang tampil baik akhir-akhir ini. Fullback asal klub PSV Eindhoven tersebut mampu menggantikan peran Gosens di sisi kiri Jerman dengan baik dan turut memperkaya dimensi serangan tim.

Pass map dan rata-rata posisi pemain Jerman di laga vs Ukraina. Max memiliki posisi rata-rata yang cukup tinggi dan banyak terlibat dalam permainan. Sumber Foto: BetweenThePosts.net

 

Berikut adalah prediksi susunan starting eleven dari kedua tim

Spanyol (4-3-3): Unai Simón, Bellerín, Ramos, Pau Torres, Sergio Reguilón, Mikel Merino, Rodri, Fabián Ruiz, Ferran Torres, Dani Olmo, Marco Asensio.

Jerman (4-3-3): Neuer, Matthias Ginter, Niklas Süle, Jonathan Tah, Philipp Max, Robin Koch, İlkay Gündoğan, Toni Kroos, Serge Gnabry, Timo Werner, Leroy Sané 

Melihat analisis di atas siapa kah yang layak meraih tiga poin pada pertemuan super sengit ini? Kita lihat saja hasilnya, Pria Intersport.

SAMPAIKAN KOMENTAR