Serangan Sayap dan Hattrick Mbappé: Barcelona Hancur Lebur di Camp Nou
17
Feb
2021
0 Comment Share Likes 110 View

Mimpi buruk Barcelona nampaknya mulai memasuki episode berikutnya. Kali ini panggungnya adalah leg pertama babak 16 Besar Liga Champions. Menjamu Paris Saint Germain di kandang sendiri, Blaugrana takluk dengan skor telak 1-4. Sempat unggul terlebih dahulu lewat penalti Lionel Messi, hattrick dari Kylian Mbappé dan satu gol Moise Kean membalikkan keadaan. Kemenangan ini jadi modal berharga bagi PSG untuk melaju ke babak perempat final.

Apa sih sebenarnya yang membuat skuad asuhan Ronald Koeman harus mengalami kekalahan pahit di fase awal 16 besar Liga Champions? Mari kita telaah lebih dalam, Pria Interspor?

Susunan pemain

Tuan rumah yang dilatih oleh Ronald Koeman menurunkan formasi 4-3-3. Perubahan nampaknya dilakukan Koeman untuk mengantisipasi permainan PSG yang kuat di area tengah. Di laga kali ini, Koeman menurunkan trio Sergio Busquets, Frenkie De Jong, dan Pedri di lini tengah yang banyak berhadapan langsung dengan penyerang PSG yang kerap merapat ke dalam.

Di lini belakang, Gerard Piqué kembali menjadi starter setelah absen cukup lama. Piqué berduet dengan Clément Lenglet dalam skema empat bek dengan Sergino Dest dan Jordi Alba di kedua sayapnya. Di lini depan, Ousmane Dembélé dan Antoine Griezmann mengapit Leo Messi yang berperan sebagai false nine.

Tim tamu arahan Mauricio Pochettino tampil sedikit timpang tanpa Neymar dan Ángel Di María. Marco Verratti yang baru pulih dari cedera menggantikan peran Neymar sebagai pemain nomor 10, sementara Moise Kean mengisi pos Di Maria di sayap kanan dalam formasi 4-2-3-1 yang bisa bertransformasi menjadi 4-3-3.

Di lini belakang PSG turun dengan kekuatan penuh. Keylor Navas di bawah mistar dilindungi oleh kuartet Marquinhos-Presnel Kimpembe di tengah dan Alessandro Florenzi-Layvin Kurzawa di sayap. Duet pivot Leandro Paredes dan Idrissa Gueye memberikan proteksi tambahan bagi lini belakang PSG.

Line-up kedua tim (sumber: olahan Intersport)

 

Pressing ketat kedua tim di babak pertama

Meski skor akhir cukup telak, laga pada awalnya berjalan ketat di babak pertama. Kedua tim menerapkan pressing yang cukup intens dengan selalu menekan lawan baik ketika lawan menguasai bola maupun ketika transisi.

PSG cukup aktif menekan dengan pola 4-2-3-1 mereka ketika tidak menguasai bola. Icardi yang bermain sebagai penyerang tunggal memimpin blok pressing PSG. Icardi akan menekan pembawa bola sambil mengarahkannya ke sisi luar. Pemain no. 10, sayap terdekat, dan dua pivot akan menutup opsi operan terdekat. Mekanisme ini banyak memaksa Barcelona memainkan build-up panjang ke depan.

Skema pressing PSG pada babak pertama (sumber: olahan Intersport)

 

Hal ini membuat Barcelona beberapa kali menyesuaikan struktur build-up mereka. Strukturnya sendiri cukup bervariasi dan melibatkan banyak pemain yang kerap melakukan rotasi. Messi yang diberikan kebebasan kerap turun untuk menciptakan overload di bawah sekaligus mengacaukan pressing lawan. Kemampuan dribel pemain Argentina tersebut juga kerap dimanfaatkan untuk berprogresi dari area bawah.

Mekanisme lain yang cenderung aman adalah memainkan wall pass ke pemain nomor 6 (Busquets). Hal ini biasanya didahului oleh sirkulasi bola antar pemain belakang Barcelona. Perpindahan tersebut akan membuat pemain No. 10 PSG menekan bek tengah lainnya, sehingga pemain No. 6 akan bebas. Apabila Barcelona mampu membuat operan via orang ketiga kepada pemain No. 6 tadi maka mekanisme tersebut bisa menjadi opsi yang bagus.

Formasi 4-3-3 Barcelona aktif melakukan pressing dengan blok menengah. Pemain sayap akan menyesuaikan antara menekan bek tengah dengan curved press (menekan dengan sudut lari tertentu agar menutup opsi lawan ke luar) ketika menekan di blok tinggi. Sementara ketika blok rendah, mereka akan sejajar dengan gelandang untuk melakukan tracking back terhadap bek sayap PSG yang berposisi cukup tinggi.

Skema pressing zonal Barcelona (sumber: olahan Intersport)

 

PSG menghukum Barcelona lewat sisi sayap

Kunci PSG dalam memenangi laga ini adalah lewat eksploitasi sisi sayap Barcelona. Blok pertahanan Barcelona yang sangat rapat memberikan ruang yang luas di area sayap. Hal ini yang banyak dimanfaatkan oleh PSG, terutama melalui dua bek sayap mereka.

Pendekatan zonal marking yang dibawa oleh Koeman memang menyulitkan PSG untuk bermain vertikal dari area tengah seperti biasanya. Akan tetapi, blok pertahanan Barcelona justru gagap saat mengantisipasi serangan PSG lewat area sayap. Blok yang sangat rapat terbukti mengurangi--bahkan menghilangkan akses pressing pemain terdekat. 

Hilangnya akses pressing tersebut membuat Florenzi dan Kurzawa leluasa naik sangat jauh. Hal ini juga didukung oleh struktur 3-1 oleh bek tengah dan pivot dari PSG yang memberikan proteksi dari serangan balik apabila PSG kehilangan bola. Pemain depan PSG yang bermain lebih ke dalam turut semakin merapatkan Barcelona di tengah dan membuka ruang lebih lebar di sayap.

Gol pertama dan gol kedua PSG sangat mengisyaratkan hal tersebut. Di kedua gol itu, terlihat blok pertahanan sangat rapat dan menimbulkan ruang besar yang menjadi sasaran empuk bagi bek sayap. Umpan silang yang dikirimkan menjadi berbahaya karena akses pemain Barcelona untuk melakukan pressing ke pengirim umpan sangat jauh. Akhirnya, bek sayap bisa mengirimkan umpan secara lebih akurat.

Skema gol pertama dan kedua PSG yang mirip. Sebuah skema yang mengeksploitasi kelemahan blok pertahanan Barcelona (sumber: olahan Intersport)

 

Secara skema, mungkin terlihat sangat sederhana. Akan tetapi, lebih dari itu terlihat adanya kecerdikan dari Pochettino untuk terus menekan dan mengeksploitasi celah tersebut. Tak hanya itu, eksekusi skema yang sangat baik dari pemain PSG menunjukkan kualitas individual yang mumpuni. Dominasi PSG atas Barcelona di laga tersebut sangat terlihat.

Kegemilangan Mbappé

Camp Nou malam itu menjadi milik Kylian Mbappé. Pemain 22 tahun tersebut berhasil mengemas hattrick. Sebuah catatan yang pertama bagi pemain tamu di stadion tersebut sejak Andriy Shevchenko melakukannya pada 1997 silam.

Tiga gol dicetak Mbappé dengan brilian. Gol pertama ia selesaikan dengan sentuhan dingin. Ketika menerima bola, Clément Lenglet sigap menutup ruang tembak. Akan tetapi, satu sentuhan ringan diberikan Mbappé untuk mengecoh Lenglet. Di jarak sedekat itu, kiper Marc-Andre Ter Stegen tak bisa berbuat banyak. Gol kedua mirip dengan gol pertama. Berawal dari umpan silang, ia berada di posisi yang tepat untuk menyambar intersep tak sempurna dari Pique. Di gol ketiga, pergerakan brilian ia lakukan dalam skema serangan balik. Menerima umpan Julian Draxler, sentuhan pertamanya segera menghujamkan bola ke pojok gawang.

Mbappé memang menjadi bintang di laga ini. Tak hanya gol, pergerakannya juga kerap menyulitkan pertahanan Barcelona. Angka 14 dribble dan 6 tembakan menjadi catatan yang terbanyak di antara 22 pemain yang berlaga.

Kegemilangan Mbappé di sisi lain diikuti oleh ketidakmampuan individu pemain bertahan Barcelona dalam mengantisipasi eksplosivitas Mbappé. Beberapa kali mereka mudah dilewati dalam situasi 1 lawan 1. Gelandang sayap juga tercatat beberapa kali terlambat dalam melakukan tracking back bek sayap lawan. Hal ini tentu di luar celah strategi Koeman. Secara individu mereka kurang baik dalam menjalankan tugas. Sergino Dest, yang berulang kali menjadi ‘korban’ Mbappé harus ditarik keluar digantikan oleh Óscar Mingueza.

Kekalahan ini tentu harus dibayar mahal oleh Barcelona. Satu peluang untuk meraih gelar musim ini kembali terancam. Laga kedua di Paris belum tentu berjalan mudah. Sebaliknya bagi PSG, kemenangan ini harus menjadi pembuktian kematangan mereka di ajang Eropa. Keberhasilan lolos ke final musim lalu, setelah sebelumnya kerap menjadi korban comeback di fase gugur.

SAMPAIKAN KOMENTAR