Sepakbola Cerdas Ala Pep Guardiola
18
Jan
2021
0 Comment Share Likes 134 View

Josep Pep Guardiola Sala tepat berusia 50 tahun pada 18 Januari 2021. Di usianya sekarang ini, dia menjadi salah satu juru taktik papan atas dunia. Sudah banyak gelar juara yang dia raih ketika berkarir sebagai pelatih. Klub yang ditangani pun selalu yang memiliki nama besar di kancah domestik maupun Eropa. Semua itu bisa dia lakukan karena memang memiliki darah sepakbola yang kental di dalam diri.

Membicarakan sosoknya tentu tidak bisa dilepaskan dari Barcelona. Dari klub asal Catalan itulah, pria yang belakangan dikenal dengan panggilan Pep Guardiola itu lahir sebagai pemain dengan kualitas mumpuni. Pada usia 13 tahun dia telah bergabung dengan akademi Barcelona. Enam tahun berselang kesempatan untuk bermain di tim utama datang menghampiri.

Sebagai gelandang bertahan, dia dikenal lugas dan cerdik dalam membaca permainan lawan. Tak heran jika Pep Guardiola masuk dalam bagian skuad terbaik Barcelona yang kala itu dilatih oleh Johan Cruyff. Periode dimana Blaugrana menemukan identitas permainan tiki-taka yang dipertahankan hingga sekarang.

Mengutip Spain-football.org, Pep Guardiola termasuk seorang pemain beruntung, karena bakatnya ditemukan oleh Johan Cruyff. Pria asal Belanda itu pada suatu hari datang tanpa pemberitahuan ke Stadion Mini, lokasi latihan tim Barcelona B. Dia lalu meminta kepada Charly Rexach yang bertindak sebagai pelatih untuk menggeser posisi Pep Guardiola agak ke tengah sebagai pivot, dari sebelumnya gelandang sayap kanan.

Pep Guardiola ketika menjadi pemain Barcelona. Foto: fcbarcelona.com

 

Posisi pivot ketika itu belum banyak dikenal dalam sepakbola Spanyol. Untuk pemain seusia Guardiola, tentu sulit untuk beradaptasi, terutama mencari role model dari pendahulunya. Namun, secara perlahan dia bisa beradaptasi sampai kemudian di musim kedua bersama tim utama Barcelona, dia selalu menjadi tulang punggung.

Dalam kurun waktu 1991 hingga 1994, tim impian Barcelona berhasil memenangkan La Liga dalam empat musim beruntun. Lalu mereka juga menjadi juara di Piala Eropa yang sekarang dikenal dengan nama Liga Champions hingga Piala Super Eropa 1992. Tiga trofi juara Piala Super Spanyol, 1991, 1992, dan 1994 juga jadi capaian bagusnya. Itu artinya ada sembilan gelar juara yang mereka kumpulkan dalam periode tersebut.

Gheorghe Hagi sebagai mantan pemain Barcelona menilai Pep Guardiola adalah seorang pivot terbaik sepanjang masa. Dia tahu betul kualitas pria kelahiran Santpedor dalam menjaga keseimbangan permainan tim. Itu yang membuatnya tak ragu memasukkan nama Pep Guardiola di antara 11 pemain ketika diminta membentuk skuad impiannya.

"Pep salah satu gelandang terbaik yang tugasnya memecah serangan dan memenangkan perebutan bola. Dia akan berada di depan pertahanan dan tidak mungkin untuk dilewati. Dia akan menjaga keseimbangan yang bagus di lini tengah meski berada di tim manapun," ujar Gheorghe Hagi, dikutip dari Fourfourtwo.com.

Pada 2001, Pep Guardiola memutuskan untuk meninggalkan Barcelona. Total 15 trofi juara yang dia sumbangkan untuk Blaugrana. Setelah itu dia memulai petualangan di Serie A Italia dengan Brescia dan Roma. Kemudian dua tahun dihabiskannya bermain untuk klub Qatar Al Ahli. Dan Dorados Sinaloa dari Mexico menjadi klub terakhirnya sebelum gantung sepatu di tahun 2006.

Berkat Pep Guardiola pula, Timnas Spanyol akhirnya memiliki banyak gelandang berkualitas. Nama-nama seperti Xavi Hernández, Andrés Iniesta, sampai Cesc Fàbregas secara terang-terangan mengaku sangat mengidolakan seniornya itu. Mereka selalu mencoba mengikuti cara bermain Pep Guardiola sampai akhirnya menemukan identitasnya masing-masing.

Membayar Tuntas Kepercayaan dari Barcelona

Setahun setelah memutuskan pensiun sebagai pemain, Pep Guardiola merintis karier di bidang kepelatihan. Lagi-lagi Barcelona yang memberi kesempatan bagi putra daerahnya itu untuk mengembangkan kemampuannya dalam meramu taktik dan strategi. Bersama Barcelona B, di musim pertamanya Pep Guardiola menguasai fase grup Tercera Division. Tiket ke play-off Segunda Division B pun diraih dan diakhirinya sebagai juara.

Melihat kemampuan Pep Guardiola dalam melatih, akhirnya Presiden Barcelona ketika itu, Joan Laporta memberi kepercayaan lebih. Dia dipromosikan ke tim utama untuk menggantikan Frank Rijkaard di akhir musim 2007/2008. Tak butuh waktu lama bagi Pep Guardiola untuk membayar tuntas apa yang sudah diberikan kepadanya.

Pada musim 2008/2009, enam gelar juara berhasil dimenangkan oleh Barcelona. Mulai dari La Liga, Copa del Rey, Piala Super Spanyol, Liga Champions, Piala Super Eropa, hingga Piala Dunia Antarklub. Nama Pep Guardiola pun langsung diperhitungkan sebagai juru taktik papan atas dunia ketika itu.

Tiki-taka Barcelona menjadi kekuatan yang ditakuti oleh lawan-lawannya. Dia berhasil membuat Lionel Messi dan kawan-kawan mendominasi penguasaan bola sepanjang pertandingan. Pep Guardiola melakukan hal yang sama dengan Johan Cruyff ketika menemukan talentanya, yakni melakukan perubahan posisi. Sukses didapatkan ketika menjadikan seorang Javier Mascherano yang awalnya adalah gelandang bertahan menjadi bek tengah untuk berduet dengan Gerard Piqué.

Pep Guardiola meraih sukses ketika menjadi pelatih Barcelona. Foto: fcbarcelona.com

 

Barcelona besutan Pep Guardiola tak tersaingi di La Liga dalam dua musim berikutnya. Mereka berhasil kembali menyabet gelar juara. Akan tetapi, di akhir musim 2011/2012, dia memilih untuk tidak memperpanjang kontrak bersama Blaugrana. Alasannya ketika itu sangat sederhana, butuh waktu istirahat. Suporter banyak yang terkejut sekaligus kecewa.

Mengingat Pep Guardiola diharapkan masih bisa bertahan lebih lama menjadi pelatih di sana. Empat musim dilaluinya bersama Barcelona dengan sumbangan 14 trofi juara. Pencapaian tersebut membuat namanya masuk sebagai pelatih tersukses sepanjang sejarah Barcelona berdiri. Mengutip Sofascore.com, total pertandingan yang dilalui Pep Guardiola bersama Barcelona mencapai 247 kali. Catatan rincinya 179 kali dimenangkan, 47 imbang, dan cuma 21 kali kalah.

Merombak Identitas Bayern Munich

Setahun istirahat dari hiruk-pikuk dunia sepakbola, akhirnya Pep Guardiola kembali. Klub raksasa Jerman, Bayern Munich yang jadi pilihannya. Langkah awalnya di sana tidaklah mulus. Sempat muncul keraguan karena saat memimpin tim berjuluk FC Hollywood di Piala Super Jerman, kekalahan 2-4 dari Borussia Dortmund yang didapatkan.

Keraguan dari banyak pihak tak lantas membuatnya kehilangan kepercayaan diri. Pep Guardiola menebusnya dengan keberhasilan menjadi juara di Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antarklub. Musim pertamanya bersama Bayern Munich pun diakhiri dengan keberhasilan menggondol trofi Bundesliga dan DFB Pokal.

Tapi capaian itu tak menghentikan kritik yang dialamatkan kepadanya. Pep Guardiola datang ke Bayern Munich dengan membawa idenya sendiri. Perombakan dilakukan olehnya. Formasi 4-3-3 yang jadi identitas ketika dilatih Jupp Heynckes digantinya menjadi 3-4-2-1. Philipp Lahm adalah salah satu korban eksperimennya, dari yang biasa menjadi bek sayap kanan beralih tugas sebagai gelandang bertahan.

Pep Guardiola melanjutkan karirnya dengan menjadi pelatih Bayern Munich. Foto: twitter.com/fcbayern

 

Mantan anak asuh Pep Guardiola di Bayern Munich, Jan Kirchhoff membagikan pengalamannya. Menurut dia, juru taktik asal Spanyol itu menerjemahkan sepakbola menjadi sederhana. Cara seperti itu yang membuat pemain menjadi mengerti apa yang harus dilakukan di atas lapangan. Semuanya terasa menjadi lebih mudah.

"Sebelumnya saya tidak mengerti apapun. Lalu melihat bagaimana Pep menyederhanakan sepakbola dan menunjukkan bagaimana Anda seharusnya berdiri dan melihat posisi bola atau ketika sedang berada di dalam lapangan. Sungguh luar biasa. Begitu dua bulan berlatih dengannya, begitu banyak hal yang menjadi masuk akal," tutur Jan Kirchhoff, dikutip dari Goal.com.

Di akhir musim ketiganya di Jerman, Pep Guardiola dan Bayern Munich bersepakat berpisah karena kontrak sudah berakhir. Catatannya di Liga Champions cuma bisa tiga kali beruntun mencapai babak semifinal. Gelar juara seperti yang diharapkan oleh para suporter FC Hollywood tidak pernah berhasil direalisasikan oleh Pep Guardiola dan anak asuhnya.

Saatnya Mengakhiri Rasa Penasaran

Begitu dipastikan kontraknya bersama Bayern Munich tak diperpanjang, Pep Guardiola langsung mendapat pinangan dari Manchester City. Klub yang memiliki sokongan dana besar dari konsorsium Uni Emirat Arab. Kedatangannya pun disambut sorak sorai dari pendukung klub berjuluk The Citizens. Mereka sudah tidak sabar melihat racikan pria yang membawa Barcelona ke era kejayaan beberapa tahun sebelumnya.

Harapan yang kemudian berakhir kecewa bagi suporter. Sebab, di musim pertamanya itu Pep Guardiola gagal membawa tim besutannya meraih gelar juara. Ini adalah kali pertama dia gagal mempersembahkan trofi dalam satu musim ketika menjabat sebagai juru taktik. Meski begitu, manajemen Manchester City masih menaruh kepercayaan kepadanya.

Kebijakan transfer dilakukan secara besar-besaran oleh Pep Guardiola. Dia menjual sejumlah pemain senior, seperti Aleksandar Kolarov, Bacary Sagna, dan Pablo Zabaleta. Sebagai gantinya, Ederson Moraes, Kyle Walker, Bernardo Silva, dan lainnya didatangkan. Kebijakan ini dilakukan agar dia bisa menerapkan strategi yang diinginkan secara maksimal.

 

Pep Guardiola punya target tinggi bersama Manchester City. Foto: mancity.com

 

Apa yang diminta oleh Pep Guardiola semuanya diloloskan oleh manajemen Manchester City. Mereka rela merogoh kantong lebih dalam lagi agar sang juru taktik bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Hingga akhirnya di musim kedua membesut The Citizens, gelar juara Premier League dan Piala Liga Inggris berhasil diraih. Belum lagi tambahan piala Community Shield 2018.

Setahun berselang puncak kegemilangan Manchester City bersama Pep Guardiola hadir juga. Premier League, Piala FA, Piala Liga Inggris, dan Community Shield berhasil mereka menangkan. Cuma Liga Champions saja yang gagal mereka kuasai karena kalah dari Tottenham Hotspur di babak perempat final.

Berhasil menjadi penguasa domestik membuat Manchester City menambah target ke tingkat yang lebih tinggi. Membawa timnya menjadi juara Liga Champions adalah tugas yang mesti dijalani oleh Pep Guardiola di musim berikutnya. Di tengah tekanan yang datang, prestasi The Citizens menurun. Mereka cuma bisa mendapatkan satu gelar juara dari Piala Liga Inggris, dan di Liga Champions kalah dari Olympique Lyon di perempat final.

Rasa penasaran untuk menjadi yang terbaik di Liga Champions bukan cuma menjadi milik suporter dan manajemen Manchester City. Pep Guardiola pasti juga merasakan hal yang sama. Gelar yang terakhir kali dia rasakan di musim 2011/2011 itu seakan ogah mendekat kepadanya lagi.

Sekarang sudah musim kelimanya menangani Manchester City. Banyak sudah yang dipertaruhkan oleh manajemen untuk mendukung kinerja Pep Guardiola di dalam tim. Kesabaran tentu ada batasnya. Jika mimpi untuk mendapatkan gelar Liga Champions pertama kali sepanjang sejarah klub tak kunjung terpenuhi, bukan tidak mungkin ini jadi tahun terakhirnya di Emirates Stadium.

Selamat ulang tahun, Pep. Saatnya mengakhiri rasa penasaran di Liga Champions!

SAMPAIKAN KOMENTAR