Rombak Kursi Pelatih: Tantangan Menjelang Musim Baru
19
Jul
2021
0 Comment Share Likes 96 View

Setelah gelaran UEFA Euro 2020 dan Copa America 2021 resmi ditutup dengan memunculkan nama Italia dan Argentina sebagai juara kompetisi bergengsi antar negara Benua Biru dan Amerika Latin tersebut, rasanya fokus penikmat sepakbola dunia akan terpaku ke analisis jalannya liga musim mendatang.

Selain di sektor jual beli pemain yang selalu panas tiap bursa transfer dibuka, di sektor pelatih juga tak kalah seru. Banyak tim melakukan pergantian pelatih untuk menghadapi kompetisi musim depan karena menilai para pelatih sebelumnya dirasa gagal membawa prestasi bagi klubnya.

Liga Italia Serie A bahkan sangat sporadis pergantian nahkoda lapangannya. Tercatat ada 13 klub yang mengganti tampuk kepemimpinan timnya dan sejauh ini hanya ada 7 klub yang memutuskan masih setia dengan pelatih yang sama dengan musim 2020-21. Pergantian pelatih tersebut juga memasukkan nama Jose Mourinho yang di akhir musim lalu memutuskan menerima pinangan tim ibukota Italia, Roma.

Selain dari negeri asal spaghetti, beberapa bongkar pasang pelatih juga terjadi di liga top Eropa lainnya. Siapa saja mereka? Apa saja tantangan baru yang dihadapi oleh para pelatih ini? Mari kita simak daftar berikut ini:

JOSE MOURINHO -  ROMA


The Special one memimpin latihan pramusim di Roma. Sumber : tribunnews.com

 

Jose Mourinho selama ini dikenal sebagai pelatih kawakan yang mampu membawa klub asuhannya memenangkan banyak trofi baik di liga maupun di kompetisi lainnya. Karena kepiawaiannya tersebut, pria Portugal tersebut mendapat julukan The Special One.

Musim sebelumnya Mourinho menangani klub Liga Inggris, Tottenham Hotspur, yang sudah dilatihnya sejak 23 November 2019 setelah menggantikan Maurio Pochettino. Di musim pertamanya, ia membawa Harry Kane dkk menduduki peringkat ke 6 Liga Premier Inggris.

Musim lalu Mourinho dipecat oleh Hotspurs sebelum laga Final EFL Cup melawan Manchester City. The Special One mengakhiri 17 bulannya bersama Tottenham tanpa gelar sekali pun. Ini adalah pencapaian terburuk pertama Mourinho tanpa memenangkan trofi apapun sejak tahun 2002.

Pada 4 Mei 2021, Mourinho bergabung menjadi pelatih Roma untuk musim 2021-22 setelah menggantikan kompatriotnya sesama pelatih Portugal, Paulo Fonseca. Italia bukan sesuatu yang asing bagi sosok Mourinho, sebelumnya Ia pernah didaulat menjadi pelatih Inter Milan pada musim 2008-09 dan 2009-2010.

Dua musim kebersamaannya dengan La Beneamata, Mourinho sukses mempersembahkan empat trofi bagi klub yang bermarkas di Stadion Giuseppe Meazza tersebut. Mou, sapaan akrab nya, membawa Inter memenangkan gelar Serie A dua musim berturut-turut, sekali gelar Coppa Italia di musim 2009-10, sekali trofi Supercoppa Italiana di tahun 2008 dan puncaknya membawa Inter mengakhiri paceklik gelar di Liga Champion setelah mengalahkan tim kuat Jerman, Bayern Munchen dengan skor dua gol tanpa balas. Kedua gol tersebut diborong oleh penyerang asal Argentina, Diego Milito.

Menarik disimak kiprah Mourinho bersama AS Roma di musim depan. Diprediksi sang The Special One tidak akan terlalu kesulitan untuk beradaptasi dengan panasnya persaingan di Serie A. Hal tersebut dibuktikan dengan dua pertandingan pra musim yang sudah dilakoni oleh Roma di bawah kepemimpinan Mou. Tim ibukota Italia tersebut sukses menang besar setelah membantai 10 gol tanpa balas ketika kontra Montecatini. Setelahnya I Lupi, julukan Roma kembali menang 2-0 atas Ternana.

Ini adalah sinyal kuat bagi banyak klub lain di Serie A tentang betapa berbahayanya Roma bersama Jose Mourinho. Legenda sekaligus Pangeran Roma, Francesco Totti pun mengakui kepiawaian Mourinho meramu taktik setelah hasil memukau dalam laga pra musim tersebut.

SIMONE INZAGHI - INTER MILAN


Pelatih anyar Inter Milan. Simone Inzaghi dan ekspektasi besar di pundaknya. Sumber : viva.co.id

 

Kabar cukup mengejutkan datang dari juara Liga Italia Serie A musim lalu, Inter Milan. Antonio Conte yang sukses mempersembahkan gelar juara bagi La Beneamata nyatanya mengundurkan diri dari posisi pelatih tim.

Disinyalir perbedaan pandangan soal proyeksi klub kedepannya menjadi alasan utama berakhirnya kerjasama antara Conte dan Inter. Conte menginginkan proyek yang jelas di Inter dengan memperkuat tim, salah satunya dengan mendatangkan banyak pemain hebat. Sedangkan I Nerazzurri hendak berhemat dan berencana melepas sejumlah pemainnya.

Di awal musim, nama Simone Inzaghi menyeruak menjadi suksesor pelatih Inter Milan menggantikan Antonio Conte. Dengan kontrak berdurasi dua tahun. Hal itu menjadikan adik Filippo Inzaghi tersebut sebagai pelatih kepala di Giuseppe Meazza hingga Juni tahun 2023.

Langkah awal yang diambil oleh mantan pelatih Lazio ini ketika pertama kali mendarat di Inter Milan adalah dengan membujuk penyerang asal Belgia, Romelu Lukaku, untuk terus dan tidak meninggalkan klub tersebut.

Yang menarik dari Simone Inzaghi adalah fakta bahwa ia menghabiskan 22 tahun bersama klub yang menjadi rival abadi Roma, Lazio. Inzaghi pernah menjadi pemain, pelatih tim akademi dan pelatih tim senior bagi Lazio. Selain itu, Inzaghi juga sukses mempersembahkan tiga gelar bagi Lazio semasa ia masih merumput. Tiga trofi tersebut adalah Coppa Italia, dua Piala Super Italia dan Piala Super Eropa.

Di luar gelar sebagai pemain, SImone Inzaghi ternyata juga cuku mentereng ketika ia berposisi sebagai pelatih. Dua gelar Coppa Italia di level Primavera (U19) ia persembahkan ketika menjadi nahkoda tim muda Lazio.

Inzaghi yang berposisi sebagai penyerang ketika masih aktif bermain ini juga berhasil membawa Lazio merengkuh Coppa Italia dan sebagai peringkat kedua Piala Super Italia. Selain itu, Inzaghi juga berhasil membawa Lazio lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya dalam 13 tahun terakhir dan sukses lolos ke babak perdelapan final.

Dalam laga persahabatan dan juga debutnya bersama Inter, Inzaghi berhasil mempersembahkan kemenangan dengan mengalahkan Lugao. Inter menang melalui adu penalti melawan klub asal Swiss tersebut. Yang menarik dari pertandingan tersebut adalah taktik yang digunakan Inzaghi. Ia menerapkan skema formasi 3-4-1-2 sebagaimana taktik yang biasa dijalankan oleh Antonio Conte saat sukses membawa Inter menjadi capolista Serie A musim lalu.

Menarik dilihat bagaimana jadinya Inter di tangan Inzaghi musim depan. Mengingat ada kemungkinan Inzaghi tidak akan disokong oleh pendanaan kuat dalam bursa transfer musim ini. Penyebab utamanya adalah paceklik dan krisis keuangan yang dihadapi oleh tim biru-hitam tersebut dan menjadi salah satu alasan pengunduran dirinya Conte.

Ada keharusan dan menjadi tantangan tersendiri bagi Inzaghi untuk memanfaatkan segala sumber daya yang tersedia saat ini termasuk juga memaksimalkan peran pemain muda Inter. Contoh dalam laga melawan Lugano lalu, Inzaghi banyak mengandalkan pemain muda seperti duet Pinamonti dan Satriano Costa di lini penyerangan Inter Milan.

Bisa jadi salah satu pemain muda yang nanti reguler dimainkan oleh Inzaghi akan menjelma menjadi pemain hebat dengan segala potensinya seperti sebut saja Lautaro Martinez musim lalu.

Massimiliano Allegri - Juventus

Massimiliano Allegri mengangkat trofi juara bagi Juventus di Liga Italia. Sumber : italia.skor.co.id

 

Kabar baik bagi Juventini untuk liga musim depan adalah kembalinya sosok Massimiliano Allegri ke Juventus. Allegri sendiri adalah mantan pelatih Juventus media 2014-2019 silam. Dalam masa kebersamaan tersebut, Allegri sukses luar biasa dengan mempersembahkan 11 trofi bagi Si Nyonya Tua, termasuk lima gelar Liga Italia Serie A beruntun.

Ada harapan dari para pendukung Juventus setelah musim lalu dominasi mereka berakhir ketika klub dilatih Andrea Pirlo. Mantan pemain AC Milan tersebut gagal mempertahankan hegemoni Juventus di Liga Italia dan dengan berat hati merelakan gelar kepada musuh bebuyutan mereka Inter Milan.

Salah satu legenda Juventus yang senang dengan kepastian Massimiliano Allegri menjadi pelatih adalah Gianluigi Buffon. Buffon optimis Allegri akan mampu membawa kembali kejayaan bagi La Vecchia Signora, julukan Juventus.

Dalam sebuah wawancara yang dilansir Football Italia, Minggu (18 Juli 2021), Buffon merasa kecewa dengan hasil yang didapat oleh Juventus musim lalu. Walaupun mereka sukses memenangkan Coppa Italia dan Supercoppa Italiana tetapi dua gelar tersebut dirasa kurang bergengsi bagi Buffon. Ada harapan dari mantan kiper yang sekarang membela Parma tersebut untuk melihat Juventus kembali juara Serie A musim ini di bawah asuhan Massimiliano Allegri.

Yang menarik disimak dari kembali Allegri ke Juventus adalah pemenuhan harapan dan ekspektasi dari para pendukung Juventus termasuk juga dari internal tim. Pria asal Livorno ini dianggap adalah sosok yang tepat setelah dua pelatih sebelumnya, Maurizio Sarri dan Andrea Pirlo, dinilai tidak tepat dan tidak mampu menangani tim sebesar Juventus.

Ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi Allegri untuk menjawab semua beban yang ada di punggungnya tersebut. Apalagi kehadiran Jose Mourinho sebagai pelatih Roma akan membawa atmosfer berbeda di Liga Italia Serie A musim mendatang.

Maurizio Sarri - Lazio


Menggantikan Simone Inzaghi, Maurizio Sarri diharapkan tuahnya bagi Lazio. Sumber : cnnindonesia.com/olahraga

 

Lazio akhirnya mengumumkan nama Maurizio Sarri sebagai pelatih mereka melalui laman resmi mereka. Sebelumnya melalui akun Twitter Lazio sudah memberikan beberapa kode melalui emotikon tentang siapa pelatih mereka untuk musim mendatang.

Dalam unggahan di Twitter tersebut, akun Biancoceleste membuat simbol sigaret (rokok), setelah training dan bangunan bank. Tiga hal tersebut tentu saja akan mengerucut kepada satu nama yaitu Maurizio Sarri. Sekedar informasi bahwa Sarri sendiri adalah mantan bankir sebelum menggeluti sepakbola, senang memakai setelan training dan ia pun terkenal karena hobinya menghisap tembakau tersebut.

Sarri sendiri datang ke tim ibukota Italia tersebut setelah kepastian Simone Inzaghi menerima tawaran Inter Milan. Ia akan menggantikan posisi Inzaghi dengan kontrak berdurasi dua tahun bersama klub biru langit tersebut.

Setelah keluarnya jadwal pertandingan Serie A 2021-22 pada laga pembukaan Lazio akan bertandang ke Stadion Castellani guna menghadapi tuan rumah Empoli. Pertandingan ini akan membawa romantisme sendiri bagi Sarri mengingat Empoli adalah klub yang pernah ditukanginya hingga berhasil membawa klub tersebut promosi ke Serie A musim 2013-14. Saat itu usia Sarri sudah menginjak 55 tahun setelah ia memutuskan kembali ke dunia sepakbola dan berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang bankir.

Serie A musim mendatang akan menarik untuk disimak terutama dalam Derby Ibukota yang akan mempertemukan Lazio dan Roma. Keberadaan Jose Mourinho di sisi pinggir lapangan sebagai pelatih Roma akan menjadi magnet tersendiri bagi khalayak sepakbola dunia termasuk juga Sarri yang menjadi pelatih Lazio.

Pelatih Lazio. Maurizio Sarri dan rokoknya. Sumber : dreamteamfc.com

 

Jika dibandingkan dengan capaian Mourinho yang sudah mengoleksi 25 trofi sejauh ini, Sarri tentu bukan siapa-siapa. Sarri baru benar-benar dikenal sebagai pelatih hebat setelah pindah dari Empoli ke Napoli. Di Napoli, Sarri sukses membawa mantan klub Diego Maradona ini bertengger di posisi kedua di bawah Juventus. Selain itu, anak didiknya Gonzalo Higuain juga berhasil menasbihkan diri menjadi pencetak gol terbanyak liga dengan torehan 36 angka.

Setelah musim mengesankan bersama Napoli, Sarri menarik perhatian klub raksasa Inggris, Chelsea. 14 Juli 2018 ia akhirnya pindah ke Chelsea setelah menggantikan posisi pelatih Italia juga yaitu Antonio Conte. Bersama Chelsea, Sarri mempersembahkan gelar Liga Eropa setelah di partai puncak mengandaskan perlawanan Arsenal dengan skor 4-1. Chelsea merengkuh gelar juara juga diikuti rekor tak terkalahkan selama jalannya turnamen tersebut.

Setelah dari Chelsea, 16 Juni 2019, Juventus mengumumkan mengikat Sarri menjadi pelatih dengan kontrak berdurasi tiga tahun. Tetapi karirnya di Juventus tidak berjalan mulus dan akhirnya ia dipecat setelah sehari sebelumnya Juventus tersisih dari babak perdelapan final Liga Champions dalam laga kontra Lyon.

Ada harapan di pundak Maurizio Sarri di musim mendatang Serie A untuk membawa kembali hegemoni kehebatan Lazio seperti medio awal tahun 2000 lalu. Selain itu, tantangan lainnya dari Sarri adalah ia akan selalu dibandingkan dengan capaian gemilang Simone Inzaghi musim lalu ketika menjadi pelatih Lazio.

Julian Nagelsmann - Bayern Munchen


Julian Nagelsmann pelatih anyar bagi Bayern Munchen. Sumber: sportbild.bild.de

 

Selain dari Italia, rupanya rombakan kepelatihan ini juga terjadi di beberapa liga lainnya, termasuk diantaranya Bundesliga, Jerman. Klub raksasa Jerman, Bayern Munchen mengumumkan nama Julian Nagelsmann sebagai pelatih anyar mereka menggantikan Hansi Flick mulai musim depan.

Nagelsmann yang sebelumnya sebagai pelatih RB Leipzig diikat kontrak panjang berdurasi lima tahun yang akan membuat dirinya bertahan di Allianz Arena setidaknya hingga 30 Juni 2026.

Walaupun namanya tidak setenar yang lainnya, catatan Nagelsmann sendiri sebagai pelatih cukup mentereng. Ia tercatat sebagai pemegang rekor pelatih termuda dalam sejarah Bundesliga. Saat itu ia yang baru berusia 28 tahun ditunjuk sebagai pelatih Hoffenheim pada Februari 2016. Debutnya tersebut sukses menyelamatkan Hoffenheim dari zona degradasi.

Selain itu, catatannya membawa RB Leipzig lolos ke semifinal Liga Champions juga menjadikan dirinya pelatih termuda yang berhasil merengkuh capaian tersebut. Saat itu Nagelsmann baru berusia 33 tahun. Luar biasa.

Menarik menyimak bagaimana pola permainan dari Bayern Munchen di bawah asuhan Nagelsmann musim mendatang. Sang pelatih dikenal dengan fleksibilitas dalam penerapan taktiknya di lapangan. Ia dikenal tidak takut dan kerap kali mengganti strategi sejak awal pertandingan jika ia merasa rencana awalnya tidak berjalan sesuai yang diharapkan.

Selain itu, Nagelsmann juga sering merotasi strateginya dari yang semula empat bek menjadi hanya tiga bek. Semua itu ia lakukan karena merasa perlu adaptif dengan setiap permainan lawan. Hal tersebut tentu saja menjadi kebingungan bagi siapapun yang akan menghadapi Bayern di musim depan.

Filosofi sepakbola menyerang juga dikenal dari seorang Nagelsmann. Ini dirasa akan sangat cocok dengan permainan Bayern selama ini. Nagelsmann kerap kali menginstruksikan para pemainnya untuk secepat kilat mengirimkan bola ke depan menuju gawang lawan.

Rasanya, Nagelsmann tak akan kesulitan mempertahankan dominasi Bayern di Bundesliga musim depan. Catatan sebagai juara bertahan Liga Jerman tentunya akan mudah bagi Nagelsmann untuk mewujudkannya kembali.

Carlo Ancelotti - Real Madrid


Selepas Zidane, Carlo Ancelotti kembali menjadi pelatih Real Madrid. Sumber: tudonoticia.org

 

Di tanah Matador sendiri terjadi perombakan kepelatihan pada tim raksasa, Real Madrid. Setelah kepastian Zinedine Zidane mengundurkan diri dari kursi kepala pelatih Madrid, muncul beberapa nama yang disinyalir akan menggantikannya.

Massimiliano Allegri dan Carlo Ancelotti diyakini akan menjadi suksesor Zidane di Santiago Bernabeu. Nama terakhir akhirnya muncul ke permukaan dan hal tersebut dibenarkan oleh pernyataan resmi klub bahwa Ancelotti akan didaulat menjadi pelatih Real Madrid dengan masa bakti tiga tahun lamanya.

Carlo Ancelotti sendiri bukan nama baru di ruang ganti Real Madrid. Ia pernah menangani Madrid pada tahun 2013 silam. Ancelotti dikenal mampu “menjinakkan” banyak pemain dan mampu bekerja sama dengan baik bersama mereka.

Kembali ke tahun 2013, ia dengan cepat membawa kedamaian ke ruang ganti Madrid yang tiga tahun memanas sejak kedatangan Jose Mourinho. Ancelotti dapat membuat mega bintang seperti Cristiano Ronaldo, Xabi Alonso, Sergio Ramos dan Gareth Bale yang saat itu baru didatangkan dengan rekor transfer dunia untuk bahu membahu mengakhiri penantian panjang dan paceklik gelar Liga Champions bagi Madrid. Di musim perdananya, Don Carlo sukses mempersembahkan “Decima” gelar ke-10 juara Eropa bagi Los Blancos.

Romantisme masa gemilang terdahulu bisa jadi adalah alasan bagi Presiden Real Madrid, Florentino Perez, untuk kembali menggunakan jasanya. Perez dan juga segenap Madridista di seluruh dunia berharap sang pelatih akan mampu membawa semua kenangan baik tersebut ke dalam lemari trofi Real Madrid.

Tantangan tersendiri bagi Ancelotti di musim mendatang adalah kecenderungannya bermain bertahan. Hilangnya Sergio Ramos sekaligus ikon pertahanan Madrid selama ini tentu saja akan berdampak besar. Ramos memilih hijrah ke Paris-Saint Germain setelah terjadi tarik ulur perpanjangan kontrak yang alot sebelumnya. Selain itu, kedalaman dan kondisi skuad Real Madrid saat ini tentu saja sudah sangat berbeda dibanding delapan tahun lalu ketika ia pertama kali tiba di Spanyol.

Saat itu, Real Madrid masih banyak dihuni pemain bintang kelas dunia. Jika menilik nama-nama pemain di klub saat ini, beberapa nama memang ada yang terkenal tapi tidak sedikit juga beberapa pemain yang namanya terasa asing di telinga.

Kondisi keuangan Madrid yang sedang dalam masa pengetatan pengeluaran ini juga menjadi tantangan bagi Ancelotti. Ia bisa saja tidak akan mendapat gelontoran dana yang melimpah untuk mendatangkan banyak pemain berkelas demi menghadapi musim mendatang.

Selain itu, La Liga juga sudah bukan hanya perkara persaingan antara Real Madrid dan Barcelona saja. Ada Atletico Madrid di bawah komando Diego Simeone yang musim lalu sukses menggoyah hegemoni dua klub raksasa tersebut dan menyabet gelar juara La Liga musim 2020-21.

Dari sederet nama dalam daftar ini, siapakah yang menjadi jagoan Pria Intersport untuk merengkuh gelar juara bagi klub barunya? Atau para pelatih mana yang akan kesulitan membawa kejayaan bagi klubnya? Mari kita saksikan dalam jalannya liga di musim depan.

SAMPAIKAN KOMENTAR