RB Leipzig vs Bayern Munich, Duel Menguras Otak 2 Pelatih
05
Apr
2021
0 Comment Share Likes 144 View

Bayern Munich membungkus tiga angka dari lawatan ke Red Bull Arena, markas RB Leipzig dalam pekan ke-27 Bundesliga, Sabtu malam WIB 3 April 2021. Tim berjuluk FC Hollywood memenangkan pertandingan tersebut dengan keunggulan tipis 1-0. Tiga angka yang diraih dengan melalui laga sengit dan tidak mudah.

RB Leipzig memulai pertandingan dengan menerapkan tekanan agresif. Formasi 4-3-3 yang diandalkan tim berjuluk Die Roten Bullen berhasil membuat permainan Bayern Munich sulit berkembang, setidaknya dalam 20 menit awal. Setiap kali kehilangan bola, pemain RB Leipzig langsung sigap merebutnya kembali.

Dua gelandang jangkar Bayern Munich, Joshua Kimmich dan Leon Goretzka yang biasanya jadi alternatif untuk mengalirkan bola malah terkunci pergerakannya. Sulit bagi mereka untuk membuka ruang meminta bola dari para pemain belakang yang sedang berupaya membangun serangan. Alhasil, Bayern Munich lebih sering langsung mengirim bola panjang ke arah Eric Maxim Choupo-Moting sebagai ujung tombak.

Harapannya, dengan tubuh yang tinggi, Eric Maxim Choupo-Moting bisa menguasai bola. Setelah itu dia tinggal mengalirkannya kembali kepada Thomas Müller yang bertindak sebagai penyerang lubang atau ke sisi sayap kanan dan kiri yang ditempati Kingsley Coman dan Leroy Sané.

 

Penyerang sayap Bayern Munich, Kingsley Coman mendapat penjagaan ketat dari pemain RB Leipzig. Foto: Twitter.com/FCBayernEN

 

Akan tetapi, cara tersebut masih belum bisa membuat Bayern Munich keluar dari tekanan tuan rumah. Para pemain belakang RB Leipzig, Nordi Mukiele, Willi Orban, Dayot Upamecano, dan Lukas Klostermann bisa selalu sigap mementahkan upaya dari tim tamu. Malah dari sana mereka kembali dengan cepat melakukan rotasi serangan balik.

Di tengah kebuntuan tersebut, Bayern Munich melakukan percobaan skema lain. Kali ini dua penyerang sayap mereka, Leroy Sané dan Kingsley Coman lebih sering membuka ruang dengan turun ke bawah. Tujuannya agar opsi mengalirkan bola menjadi lebih banyak. Bayern Munich juga coba menurunkan tempo permainan dengan berlama-lama menguasai bola.

Tapi, lagi-lagi cara tersebut tak memberikan dampak yang begitu positif. Sebabnya RB Leipzig melakukan kontra strategi dengan cara merapatkan jarak antar lini mereka ketika melakukan tekanan. Masalah baru bagi Bayern Munich, karena ruang gerak mereka untuk keluar dari tekanan semakin sempit.

Hansi Flick tidak kehabisan akal. Daripada anak asuhnya dieksploitasi oleh kecepatan penyerang sayap dan gelandang RB Leipzig, menerapkan zonal marking dan compact defense jadi pilihannya. Situasi ini membuat mereka bisa sedikit menguras fisik karena tinggal menunggu di garis pertahanan, tapi tak memberi celah kepada lawan untuk menciptakan peluang.

Apa yang dilakukan Bayern Munich ini dianggap sukses. Karena walau terus mendapatkan serangan, tapi RB Leipzig sama sekali tidak bisa mencatatkan percobaan ke gawang mereka yang mengarah tepat ke sasaran. Ruang tembak dan celah untuk pemain tuan rumah melakukan akselerasi ditutup habis.

Kejelian Sang Penafsir Ruang

Hansi Flick mengandalkan formasi 4-2-3-1 untuk meladeni permainan RB Leipzig. Eric Maxim Choupo-Moting sebagai ujung tombak tunggal ditopang oleh Leroy Sané, Thomas Müller, dan Kingsley Coman. Hampir sepanjang babak pertama, mereka kesulitan untuk bisa bekerja sama menciptakan peluang. Karena memang penjagaan dari pemain belakang RB Leipzig begitu disiplin.

Tapi ada satu momen yang kemudian membuat mereka mencetak gol kemenangan pada pertandingan ini. Semuanya diawali oleh pergerakan Thomas Müller ketika meminta bola dari Joshua Kimmich. Inilah bukti jika pemain Timnas Jerman tersebut tak salah disematkan julukan Sang Penafsir Ruang.

 

Thomas Müller dalam pertandingan Bayern Munich melawan RB Leipzig. Foto: Twitter.com/FCBayernEN

 

Thomas Müller berlari dari tengah ke dalam kotak penalti RB Leipzig. Aksi apiknya itu terjadi begitu cepat, dan melihat rekannya berlari, Joshua Kimmich melepaskan umpan panjang. Posisi Thomas Müller ketika itu bukannya nyaman untuk langsung melepaskan tendangan ke arah gawang, karena dia sedikit melebar.

Tapi dengan tenang dia menguasai bola lalu membalikkan badan menghindari penjagaan bek RB Leipzig. Situasinya ketika itu, ada tiga pemain depan Bayern Munich di dalam kotak penalti dan berhadapan dengan empat bek RB Leipzig. Thomas Müller memilih untuk tidak melepas umpan kepada Eric Maxim Choupo-Moting atau Kingsley Coman yang ada di depan mulut gawang.

Akan tetapi, Thomas Müller memilih untuk mengirim umpan silang datar sedikit ke belakang di mana Leon Goretzka muncul secara tiba-tiba ke dalam kotak penalti dan langsung melepaskan tendangan keras. RB Leipzig harus membayar mahal kelalaiannya dalam membaca pergerakan pemain Bayern Munich yang jeli melihat celah kosong.

Saling Respon Perubahan Taktik

Mendominasi jalannya pertandingan namun malah tertinggal satu gol membuat pelatih RB Leipzig, Julian Nagelsmann melakukan pergantian pemain. Justin Kluivert dimainkan untuk menggantikan Emil Forsberg. Namun, Justin Kluivert diplot mengisi penyerang sayap kanan. Sementara Christopher Nkunku digeser sebagai striker tengah mengisi pos yang ditinggalkan Emil Forsberg. Sedangkan di kanan ada Amadou Haidara.

Pergantian ini memunculkan bacaan jika Julian Nagelsmann ingin trio penyerangnya mengandalkan kecepatan untuk menekan sekaligus melancarkan serangan ke lini pertahanan Bayern Munich. Karena di babak pertama, tekanan mereka di garis pertahanan tim tamu memaksa lawan melakukan kesalahan atau cuma bisa melepaskan operan jauh ke depan.

Tujuh menit babak kedua berjalan, RB Leipzig mendapatkan peluang yang bahkan dari dalam kotak penalti Bayern Munich. Dani Olmo mendapat dua kesempatan, sedangkan masing-masing satu dari Christopher Nkunku dan Marcel Sabitzer. Sayang penyelesaian akhir mereka masih begitu buruk. Bola bahkan masih belum menemui sasaran yang tepat.

 

Pelatih RB Leipzig, Julian Nagelsmann. Foto: Twitter.com/RBLeipzig_EN

 

Melihat anak asuhnya kembali mendapatkan ancaman berbahaya, Hansi Flick menginstruksikan zonal marking dan compact defense diterapkan kembali. Cara ini terbilang sukses, karena RB Leipzig kembali kesulitan untuk menciptakan peluang berbahaya seperti yang di awal babak kedua mereka dapatkan.

Jalan buntu yang kembali didapati oleh RB Leipzig coba diakali dengan alternatif melepaskan tendangan dari luar kotak penalti. Dua kali Marcel Sabitzer melakukannya, yang pertama masih bisa ditangkap dengan sempurna oleh Manuel Neuer, sedangkan berikutnya berbuah sepak pojok.

Membiarkan Bayern Munich unggul lebih dulu dan gagal memaksimalkan peluang emas adalah kesalahan fatal Leipzig pada pertandingan ini. Karena pertahanan grendel skuad asuhan Hansi Flick semakin solid saja. Joshua Kimmich dan Leon Goretzka menjadi lebih aktif membantu pertahanan. Mereka bahkan sampai berada di area penalti untuk menutup celah yang ada.

Bayern Munich yang coba mempertahankan keunggulan melakukan pergantian pemain pada menit 72. Kingsley Coman digantikan oleh Serge Gnabry. Lalu Jamal Musiala masuk menggantikan Leon Goretzka. Tambahan tenaga segar ini membuat Bayern Munich bisa dengan sigap meladeni serangan cepat yang dilakukan oleh tim tuan rumah. Apalagi sejak awal pertandingan, sisi kiri pertahanan Bayern Munich lebih banyak mendapat tekanan, dengan adanya Serge Gnabry, dia bisa lebih aktif turun membantu Lucas Hernandez di lini pertahanan.

Buntu dengan tiga penyerang cepat, Julian Nagelsmann melakukan perubahan kembali. Dia memasukkan Yussuf Poulsen dan Alexander Sørloth secara berbarengan pada menit 72. Pola serangan yang begitu berbeda, karena Yussuf Poulsen diletakkan sebagai striker tengah, dan Sørloth yang punya tinggi badan 194 cm diplot sebagai penyerang sayap kiri.

Hansi Flick kemudian memberi respons lagi. Leroy Sané yang bertugas di sisi penyerangan kiri digantikan oleh Javi Martinez yang berposisi sebagai gelandang bertahan. Ini tak cuma untuk menguatkan lini tengah, tapi juga mengantisipasi duel udara yang dibaca oleh Hansi Flick bakal dieksploitasi oleh RB Leipzig. Tak heran jika Javi Martinez kerap menjadi bek tengah ketiga ketika pemain sayap tuan rumah menguasai bola.

Julian Nagelsmann tak mau menyerah begitu saja. Dia kembali menurunkan pemain bertipe menyerang, yakni Hwang Hee-chan. Dengan adanya pergantian ini, formasi RB Leipzig menjadi 4-1-3-2. Yussuf Poulsen dan Alexander Sørloth sebagai duet penyerang tengah ditopang Hwang Hee-chan, Christopher Nkunku, dan Justin Kluivert di belakangnya. Perubahan itu memang bisa membuat Bayern Munich terkurung, tapi tak cukup untuk memecah kebuntuan mereka dalam upaya mencetak gol.

Bayern Munich Semakin Nyaman

Tambahan tiga angka dari markas RB Leipzig membuat Bayern Munich semakin nyaman berada di puncak klasemen sementara Bundesliga. Memainkan 27 pertandingan, mereka total sudah mengumpulkan 64 poin. Jumlah itu membuat mereka unggul dengan selisih tujuh angka dari RB Leipzig yang menempati urutan kedua.

Sisa pertandingan Bundesliga 2020/2021 hanya tinggal sembilan. Julian Nagelsmann seusai pertandingan menyiratkan rasa pesimistis bisa terus bersaing dengan Bayern Munich di sisa musim ini untuk memperebutkan gelar juara Bundesliga. Kekalahan di markas sendiri membuatnya terpukul, terlebih gol tim tamu dicetak karena pemainnya lengah melihat pergerakan lawan.

"Kami menekan Bayern Munich hingga ke lini permainan mereka. Namun, ini bukan kali pertama kami gagal mencetak gol. Kami harus belajar dari itu. Jika musim ini berjalan sesuai ekspektasi, Bayern Munich yang akan jadi juaranya. Kami ingin finis pada urutan kedua," kata Julian Nagelsmann, dikutip dari Sport.sky.de.

Julian Nagelsmann tentu tidak sembara berucap hal tersebut. Dia sudah mengukur dan tahu betul kekuatan Bayern Munich musim ini di bawah asuhan Hansi Flick. Sepanjang musim ini di Bundesliga, mereka cuma tiga kali mengalami kekalahan. Cuma Wolfsburg sebagai peringkat ketiga klasemen yang bisa menyamai jumlah kekalahan itu.

Jika apa yang diucapkan Julian Nagelsmann itu jadi kenyataan, Bayern Munich akan menjadi juara Bundesliga untuk sembilan musim secara beruntun. Sejak 2012/2013, FC Hollywood seolah tak tersentuh para pesaing lainnya di kompetisi kasta tertinggi Jerman.

SAMPAIKAN KOMENTAR