Raih Back To Back Tiket Liga Champions, Atalanta Bukan Cerita Dongeng Semusim
29
Aug
2020
0 Comment Share Likes 180 View

Musim 2019/2020 membuktikan Atalanta bukanlah sekedar tim sensasi sesaat, sensasi musim lalu ataupun hanya sensasi beberapa bulan. La Dea sukses mengakhiri musim di peringkat tiga klasemen Serie A. Mereka pun menjadi tim paling subur di Italia dengan produktivitas 98 gol, jauh melebihi sang juara Juventus (76 gol) dan tim peringkat dua Inter Milan (81 gol).  Bahkan di lima liga top Eropa, si Hitam-Biru hanya kalah dari Juara Bundesliga Bayern Munchen (100 gol) dan tim peringkat dua Premier League, Manchester City (102 gol).

Selain menjadi tim paling banyak menjebol gawang lawan di Italia , tim asuhan Gian Piero Gasperini juga sukses memastikan tiket otomatis ke Liga Champions musim depan. Jika musim sebelumnya mereka mengukir sejarah dengan menembus kompetisi tertinggi antar benua biru, kali ini mereka kembali menorehkan pencapaian historikal back-to-back alias beruntun.

Seolah belum cukup mengejutkan di kandang sendiri, klub asal Bergamo, Italia ini juga mengukir kejutan di panggung eropa. Dalam penampilan debutnya di Liga Champions mereka menjadi wakil tunggal dari Negara Spaghetti yang sanggup melangkah ke babak perempat final, disaat dua wakil lainnya yaitu Juventus dan Napoli tersingkir di babak 16 besar.

Padahal klub yang berdiri tahun 1907 itu mengawali fase grup Liga Champions dengan hasil mengecewakan berupa tiga kekalahan beruntun. Disaat banyak yang memprediksi Atalanta hanya pemanis di turnamen antar klub eropa tersebut, situasi pun berubah 180 derajat setelahnya. Hasil seri kontra Manchester City diikuti dua kemenangan beruntun melawan Dinamo Zagreb dan Shakhtar Donetsk di grup C berhasil meloloskan pasukan Gasperini keluar dari lubang jarum. Sejarah pun tercipta karena Atalanta menjadi tim pertama yang lolos ke tahap gugur setelah melewati 3 partai perdana dengan kekalahan di fase grup.

Sang Allenatore Gasperini membeberkan salah satu resep sukses timnya. Kepada The Guardian, pelatih berusia 62 tahun itu mengatakan bahwa dia memajang gambar para serigala di ruang ganti timnya.  

"Saya memasang gambar gerombolan serigala di ruang ganti. Ada serigala di depan, beberapa di tengah, dan satu di belakang," ucap Gasperini. Serigala yang di depan bertugas mengatur langkah awal. Sementara serigala berikutnya adalah yang terkuat. Dia harus bisa melindungi yang lain. Yang terakhir adalah pemimpin. Selain sebagai pelindung, ia juga memastikan agar kelompok tetap solid.

“Pesannya adalah bahwa seorang pemimpin tidak hanya tinggal di depan; dia mengurus tim dan inilah yang saya inginkan dari para pemain saya,” lanjut Gasperini. Mentalitas kawanan serigala itu seolah merasuki sepak terjang Papu Gomez dan kawan kawan di setiap pertandingan yang dihadapinya. Sebagai sebuah tim, Atalanta adalah skuat yang bermain dengan kolektivitas tinggi. Tidak ada pemain yang benar-benar dominan diatas pemain lainnya.

Sebelum berbicara statisik dan distribusi gol, tidak ketergantungan kepada satu atau dua pemain bisa dilihat dari rekam jejak Atalanta di bursa transfer beberapa musim terakhir. Menjual sejumlah pemain berkualitas seperti Franck Kessie, Bryan Cristante, hingga Gianluca Mancini rupanya tidak membuat kekuatan punggawa La Dea kekurangan bakat. Sebagai gantinya di musim panas 2019/2020 manajemen La Dea mendatangkan beberapa pemain diantaranya Duvan Zapata dari Sampdoria, Luis Muriel dari Sevilla dan Ruslan Malinovsky dari KRC Genk.

 

  Alejandro Gomez. Foto: Nicolo Campo / Shutterstock.com

Strategi transfer ini pun terbukti jitu. Ketiga pemain tersebut menjadi pemain kunci di Serie A. Muriel dan Zapata menjadi yang terdepan di liga dengan koleksi gol serupa yaitu 18 gol. Malinovsky pun tidak kalah cemerlang memiliki sumbangan 8 gol. Ketiga punggawa baru itu sukses bersinergi dengan para pemain andalan Atalanta sebelumnya di lini serang, Alejandro Gomez serta pemain tersubur jika dilihat dari semua kompetisi musim ini, Josip Ilicic. Jangan lupakan juga para pemain berbakat macam Mario Pasalic yang mengukir total 12 gol serta Robin Gosens 10 gol sepanjang musim 2019/2020 ini. Artinya distribusi gol Atalanta yang sangat subur musim ini tidak hanya berpusat di satu atau dua pemain saja.

Jika melihat La Dea bermain, maka akan terlihat bagaimana pressing cukup ketat yang dimainkan anak asuhnya. Filosofi permainan mereka membuat lawan sulit mengembangkan permainannya. Gasperini adalah pelatih yang gemar dengan formasi 3-4-3/3-4-1-2 dan beragam variasinya. Dengan formasi ini Gasperini menerapkan sepak bola bertahan sekaligus menyerang.

 "Saya menggunakan pepatah Tiongkok pada 500 SM: ‘Bertahan membuat Anda tak terkalahkan, tetapi jika Anda ingin menang, Anda harus menyerang ’," ucap Gasperini. “Ini menegaskan semangat dan mentalitas yang saya inginkan di tim. Tapi ada hal lain yang tak kalah penting, Identitas yang Anda buat tanamkan di tim harus selalu diperkuat. 

Strategi pressing dan marking ketat ini ditunjang fleksibilitas tinggi. Biasanya tiga pemain Atalanta ditugaskan Gasperini untuk berupaya menekan bek lawan ketika sedang menguasai bola atau memberikan operan. Mereka menekan total tim lawan sebisa mungkin setelah mereka menguasai bola. Gasperini pun menerapkan permaian pragmatis. Ketika lawan kehilangan bola, di situlah semua barisan lini Atalanta siap langsung menyerang dan mencoba menjebol gawang lawan dibandingkan berlama-lama menguasai bola.

Namun filosofi permainan yang diterapkan Atalanta bukan tanpa cela. Ketika para pemainnya hingga barisan pemain bertahannya ikut membantu penyerangan gagal memberikan tekanan ke gawang lawan, mereka juga rentan diserang balik. Selain itu kelemahan lain Atalanta musim ini adalah ketidakmampuan mereka meredam pemain dengan skill individu tinggi. Apalagi pemain dengan skill tinggi dari tim besar seperti Juventus ataupun Inter Milan. Terbukti menghadapi dua tim peringkat atas Serie A tersebut, La dea sama-sama hanya bisa meraih hasil seri dan kalah dari dua pertemuan. Lawan Si Nyonya tua, mereka kalah 1-3 dan imbang 2-2. Sementara lawan tim Hitam-Biru lainnya meraih hasil imbang 1-1, dan kalah 0-2.

Puncaknya adalah di babak perempat final Liga Champions menghadapi tim kaya raya bertabur bintang Paris Saint Germain di Estadio Da Luz, Portugal. Sang Jawara Perancis memang dominan dalam penguasaan bola sebesar 61% ataupun tembakan percobaan sebanyak 16 kali dengan 7 yang on target, berbanding penguasaan bola Atalanta 39% dengan 9 tembakan percobaan dan hanya 3 yang mengarah ke gawang.

Meski secara statistik Les Parisien lebih mendominasi laga, Atalanta sebenarnya mengawali laga dengan cukup baik khususnya di babak pertama. Mereka mampu mencuri 1 gol lebih dulu lewat gol Mario Pasalic di menit ke-27. Namun saat itu PSG yang bermain dengan mengandalkan Neymar belum mengandalkan semua kekuatan intinya. Marco Verratti dan Angel Di Maria absen, sementara Kylian Mbappe masih duduk di bangku cadangan saat timnya ketinggalan dari Atalanta.

Di babak kedua, situasi pun mulai berubah ketika Mbappe dimasukkan sebagai pengganti. Serangan PSG yang sebelumnya hanya berpusat di Neymar mulai terbagi dengan adanya Mbappe. Meski keduanya tidak mencetak gol, namun skill individu tinggi milik Neymar-Mbappe memberikan teror besar untuk Atalanta. Disaat stamina dan konsentrasi punggawa Hitam-Biru mulai menurun, PSG memupuskan kemenangan Atalanta di depan mata lewat 2 golnya di menit 90 dan 90+3.

Kekalahan tersebut menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi Gasperini dan anak asuhnya. Seperti bermain game, PSG adalah raja terakhirnya. Pengalaman menghadapi tim negara lain yang dihuni pemain bintang kelas dunia bisa membuat Atalanta semakin matang. Begitu juga dengan kekalahan lainnya di ajang domestik musim ini. Mereka mempunyai kesempatan untuk mengevaluasi dan berbenah menyambut musim kompetisi 2020/2021.

Namun yang jelas Gasperini dan pasukannya membuktikan mereka tidak lagi hanya sekedar tim numpang lewat di Italia, namun sudah bisa diperhitungkan sebagai pesaing di papan atas maupun menjadi wakil yang membanggakan untuk Serie A di kancah turnamen tertinggi antar klub benua biru.  

SAMPAIKAN KOMENTAR