Profesi Ganda Pesepakbola Dunia
22
Apr
2021
0 Comment Share Likes 125 View

Menjadi pesepakbola profesional sangatlah menjanjikan dari segi pendapatan. Gaji per pekannya bagi mereka yang bermain di kompetisi Eropa sudah cukup besar. Namun, bagi sebagian pemain, mencari tambahan dari bidang lain tetap dijalani. Tentu saja profesi tersebut bukan sekadar mengembangkan potensi diri mereka, tapi juga menambah pundi-pundi kekayaan.

Dari sederet nama yang bakal kami sajikan berikut, ada pula yang menjalani profesi selain sepakbola karena merasa punya bakat di sana. Dunia seni hiburan sampai bekerja menjadi pemroses kredit pengajuan kredit kepemilikan properti menjadi pilihan mereka. Menarik untuk mengetahui alasannya bukan?

Dunia Hiburan Menjadi Pilihan

Rio Ferdinand gantung sepatu pada 2015. Klub yang terakhir dia bela adalah Queens Park Rangers. 10 tahun sebelum itu, dia sudah coba mengembangkan bisnis dengan mendirikan label rekaman dengan nama White Chalk Music bersama temannya semasa sekolah. Ada dua artis yang albumnya dirilis, yaitu Melody Johnston dan Nia Jai.

 

Rio Ferdinand ketika menjadi pengamat sepakbola. Foto: Instagram.com/rioferdy5

 

Menariknya, Rio Ferdinand masuk ke industri hiburan saat karirnya tengah menanjak. Ketika itu dia sudah menjadi andalan Manchester United. Bermain untuk klub besar, tentu tuntutan agar selalu maksimal dan fokus dalam setiap pertandingan menjadi yang paling utama dihadapi.

Seolah semua tuntutan itu tak terlalu berpengaruh bagi dirinya, Rio Ferdinand coba merambah dunia film. Pada akhir 2008, dia bersama pemain asal Inggris lainnya, Ashley Cole menjadi eksekutif produser untuk film berjudul Dead Man Running. Di dalamnya turut ikut berperan adalah rapper ternama, 50 Cent.

Salah satu aktor dalam film Dead Man Running, Tamer Hassan yang menjadi penghubung Rio Ferdinand dan Ashley Cole. Kedua pemain tersebut kata Tamer Hassan mau menginvestasikan uangnya sebesar 3 juta poundsterling atau setara dengan Rp60,7 miliar. Mereka berdua juga menjadi pendobrak kebiasaan pesepakbola Inggris yang biasa memilih investasi di bidang restoran atau bar.

"Saya membawa Ashley Cole dan Rio Ferdinand untuk berdiskusi. Saya mengajak mereka menggabungkan sepakbola dan film. Tidak perlu dipikirkan lagi, bukan? Mereka punya banyak uang, dan berikan kepada kami agar membuat film Inggris menjadi lebih kredibel," kata Tamer Hassan, dikutip dari Theguardian.com.

Sekarang ini Rio Ferdinand dikenal sebagai pengamat sepakbola. Dia mampu tampil mengalir ketika berada di depan kamera. Tidak mudah tentunya bagi seorang mantan pemain, tapi karena dia sudah pernah masuk ke dunia hiburan dan bahkan turut berperan dalam sebuah film, pembawaannya ketika menjadi pengamat sepakbola begitu cair.

Tukang Perbaiki Atap Rumah

Nama Craig Noone memang tidak sohor seperti pemain yang disebutkan sebelumnya. Namun, dia pernah mengecap Premier League bersama Cardiff City pada musim 2013/2014. Pemain kelahiran Kirkby itu sayangnya cuma satu musim merasakan kompetisi kasta tertinggi Inggris, karena setahun kemudian timnya kembali degradasi ke Championship.

Craig Noone yang lahir pada 17 November 1987 memulai kariernya benar-benar dari bawah. Dia bermain untuk tim Non-Liga di Inggris, Skelmersdale United sejak 2005. Sempat seleksi di klub Belgia, Royal Antwerp pada 2007, tapi dia tidak lolos. Akhirnya tim Non-Liga lainnya, Burscough yang jadi pilihan.

 

Craig Noone saat berlatih dengan Melbourne City. Foto: Melbournecityfc.com

 

Bakatnya baru bisa membuat tim lain kepincut pada 2008. Plymouth Argyle yang bermain di Championship membelinya dari Southport dengan harga Rp2,2 miliar. Jumlah yang membuatnya menjadi pemain termahal sepanjang sejarah klub. Berposisi sebagai winger, tempat di skuad inti Plymouth Argyle bisa dia dapatkan.

Dari sana kariernya mulai melebar. Klub-klub seperti Exeter City, Brighton & Hove Albion, hingga Bolton Wanderers bisa dia bela. Tapi siapa sangka, sosok Craig Noone dulunya adalah seorang tukang perbaikan atap. Rumah mantan gelandang Liverpool, Steven Gerrard adalah salah satu yang pernah dia garap.

Craig Noone memperbaiki atap rumah Steven Gerrard pada 2008. Pekerjaan yang dia lakukan ketika masih bermain di tim Non-Liga itu menjadi sebuah rutinitas demi bisa mendapatkan uang untuk menyambung hidup. Tapi dari momen itulah, dia belajar secara diam-diam seorang pesepakbola profesional dari Steven Gerrard.

"Saat saya bekerja di sana, saya melihat gaya hidupnya. Pergi latihan pukul 9 pagi, dan pulang pukul 2 siang. Itu bentuk kerja keras, dan saya berpikir untuk melakukannya suatu hari nanti. Saya selalu ingin bekerja sekeras yang saya bisa untuk menjadi seorang pemain profesional," cerita Craig Noone kepada Liverpoolecho.co.uk.

Di usianya yang sudah memasuki 33 tahun, Craig Noone masih belum mau menyerah meniti karier dalam sepakbola. Dia merantau ke Australia untuk bermain dengan Melbourne City. Sejak 2019 sampai sekarang dia masih jadi andalan lini depan tim berjuluk City Blues tersebut.

Dari Penjaga Toko Hingga Pemroses Kredit

Troy Perkins bisa dibilang adalah sosok pesepakbola yang tak mau cuma menggantungkan pendapatan pada satu profesi. Kiper yang pernah bermain untuk D.C. United tersebut menjalani profesi ganda di sebuah toko perlengkapan olahraga. Ketika itu dia cuma jadi penjaga gawang cadangan dalam tim, sehingga ada waktu luang yang bisa dimanfaatkan untuk bekerja sampingan.

Troy Perkins saat membela D.C. United. Foto: dcunited.com

 

Pada 2006 Troy Perkins coba merambah profesi baru. Dia memilih menjadi pemroses kredit properti di National Bank of Arizona. Tugasnya di sana adalah mencatat data para pelanggan, melakukan verifikasi informasi, mengumpulkan formulir, dan lainnya.

Dari pekerjaan itu, Troy Perkins mendapatkan gaji sebesar Rp12 juta per bulannya. Padahal dengan menjadi bagian D.C. United, dia sudah memiliki gaji Rp427 juta setiap bulan. Atasannya di National Bank of Arizona, Sean Wathen yang juga penggemar D.C. United sampai kebingungan ketika harus memberi perintah.

"Ini sangat aneh. Anda meminta orang itu (Troy Perkins) untuk melakukan verifikasi pekerjaan. Tapi dia telah melakukannya. Tidak ada kesombongan sama sekali dari dia," kata Sean Wathen, dikutip dari Washingtonpost.com.

Bagi Troy Perkins, bekerja tambahan di luar sepakbola dengan gaji yang lebih rendah bukanlah sekadar sampingan. Rekan kerjanya memberi gambaran pria kelahiran Springfield, Ohio adalah sosok pekerja keras yang serius mengembangkan kemampuan di bidang perbankan.

Juragan Bus dan Impor Mie Instan

Asamoah Gyan adalah pemain sepakbola yang memiliki naluri bisnis bagus. Dia tak cuma merambah satu unit usaha, tapi lebih dari tiga. Pengusaha multibidang layak disematkan kepada sosok pemain asal Ghana tersebut. Sudah sejak 2012 dia mulai aktif berinvestasi di luar sepakbola.

 

Asamoah Gyan memiliki sejumlah unit bisnis. Foto: Instagram.com/asamoah_gyan3

 

Investasi awal Asamoah Gyan di bidang transportasi darat. Di usia ke-26 tahun, mantan pemain Udinese tersebut sudah memiliki 20 bus yang beroperasi untuk rute Accra-Kumasi di Ghana. Sukses di sana, dia merambah ke unit usaha lainnya, yaitu impor bahan pangan seperti beras dan mie instan.

Bisnis transportasi penerbangan juga jadi eksplorasi Asamoah Gyan dengan nama Baby Jet Airline. Dia kemudian menjalin kerja sama untuk menjadi promotor tinju. Alasan pria kelahiran 22 November 1985 itu masuk ke sana karena merasa banyak talenta dari Ghana yang layak diorbitkan ke level internasional.

Businessinsider.com menyebutkan Asamoah Gyan juga punya beberapa perusahaan lain yang fokus dalam pengembangan real estate dan perhotelan. Bidang musik juga tak lepas dari pantauannya dengan menjadi investor grup band bernama Asa Band. Sampai kemudian bisnis air minum kemasan juga turut dia rambah.

Jual Beli Mobil Mewah

Pesepakbola dan mobil mewah seperti sebuah pasangan ideal. Seringkali kita jumpai para pemain papan atas memiliki kendaraan yang harganya mahal. Mantan gelandang Timnas Belanda, Nigel de Jong adalah salah satu dari sekian banyak figur yang juga mengoleksi mobil mewah.

 

Nigel de Jong begitu lekat dengan mobil mewah. Foto: Instagram.com/nigeldejong

 

Akan tetapi, Nigel de Jong tak mau kegemarannya itu cuma untuk sekadar menghamburkan uang. Dia justru melihat potensi mendapat pemasukan tambahan dari sana. Pada 2007 saat dia bermain di Hamburger SV, sebuah dealer mobil mewah didirikan. Targetnya jelas, orang-orang dengan kemampuan ekonomi di atas rata-rata.

Deretan mobil mewah mulai dari Bentley, Ferrari, Lamborghini, hingga Maseratis ada di dealer milik Nigel de Jong. Dia merambah jual beli mobil mewah ini rupanya karena memiliki pengalaman sejak kecil yang datang dari keluarga. Kakeknya merupakan seorang Direktur Pelaksana Ford di Belanda.

Itu pula yang menjadi sebab Nigel de Jong ketika masih bermain untuk Ajax Amsterdam memilih sambil berkuliah. Dia adalah sarjana ilmu ekonomi yang tahu betul seluk-beluk dalam mengembangkan bisnis. Dari pekerjaan tambahannya ini, tak heran jika Nigel de Jong memiliki deretan mobil mewah di garasi rumah pribadinya.

Pesepakbola asal Jerman seperti Lukas Podolski dan Mesut Ozil merupakan klien dari dealer milik Nigel de Jong. Kepiawaiannya dalam berjualan diteruskan ketika dia memilih hijrah ke Liga Qatar sejak 2018. Saat ini beberapa pengusaha di sana menjadi pembeli mobil mewah di dealer-nya.

Menangguk Keuntungan Sekaligus Membuat Bumi Hijau

Mathieu Flamini didapuk menjadi pemain sepakbola terkaya di dunia. Majalah Forbes yang merilis fakta tersebut dengan menyebutkan kekayaan gelandang asal Prancis tersebut menembus angka Rp 206,3 triliun. Sebuah publikasi yang membuat banyak orang tidak percaya.

Bagaimana mungkin Mathieu Flamini di tahun 2018 bisa memiliki kekayaan melebihi pemain seperti Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Kedua nama tersebut adalah sosok paling sohor dari sepakbola dunia dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan jika dibandingkan amat jauh. Cristiano Ronaldo cuma punya Rp8,4 triliun dan Lionel Messi sebesar Rp3,1 triliun.

 

Mathieu Flamini ketika menjadi pembicara dalam bioeconomic forum. Foto: Instagram.com/mathieuflamini

 

Majalah Forbes mengungkapkan jika Mathieu Flamini merupakan pendiri sebuah perusahaan kimia bernama GFBIochemicals. Sejak 2008, ia mendirikan perusahaan ini yang memproduksi levulinic acid (LA). Sebuah bahan kimia yang bisa menjadikan bumi lebih hijau.

Yang paling menarik dari terungkapnya fakta ini adalah upaya Mathieu Flamini yang menyembunyikan dirinya sebagai co-founder GF Biochemicals. Padahal huruf G diambil dari nama rekannya, Pasquale Granata dan F adalah Mathieu Flamini. Keduanya bertemu di Italia ketika mantan pemain Arsenal itu hijrah ke AC Milan.

"Saat itu Pasquale Granata sudah memiliki ketertarikan terhadap masalah perubahan iklim dan kami benar-benar ingin melakukan sesuatu. Jadi setelah rapat dengan seorang ilmuwan, kami bersama-sama mengembangkan bioteknologi ini," kata Mathieu Flamini ketika diwawancara oleh BBC.com.

Investasi Pasca Pensiun

Sebagian para pemain yang tersebut di atas telah gantung sepatu. Mereka kini tak perlu lagi berusaha dari bawah untuk mendapatkan sumber pendapatan baru. Gaji besar yang mereka dapatkan ketika masih aktif bermain telah dikembangkan menjadi usaha, dan menghasilkan uang yang tak kalah banyaknya. Kemampuan bekerja dari bidang lain membuat mereka tak dituntut untuk meneruskan karier sebagai pelatih.

Jalan tersebut biasanya ditempuh sejumlah mantan pesepakbola yang ingin tetap bekerja pasca pensiun. Tapi bagi nama-nama tersebut di atas, seandainya lapangan hijau tak lagi cocok, bidang lain siap dijalani dan tak perlu gamang memulainya kembali.

SAMPAIKAN KOMENTAR