Preview Semifinal Piala Menpora: Final Idaman atau Kejutan?
14
Apr
2021
0 Comment Share Likes 215 View

Gelaran Piala Menpora 2021 mulai mencapai tahap akhir. Empat kontestan tersisa siap saling jegal di babak semifinal. PSM Makassar, Persija Jakarta, Persib Bandung, dan PS Sleman siap bertarung dalam pertarungan dua leg demi tiket ke babak final. Pertaruhan gengsi dan ambisi meraih prestasi menjadi motivasi keempat kesebelasan tersebut. Seperti apa kesiapan mereka?

PSM: Bukti talenta lokal tidak kalah saing

Dari keempat peserta semifinal, PSM merupakan satu-satunya tim dengan komposisi seratus persen pemain lokal. Dengan persiapan dan materi skuad yang serba mepet, Juku Eja justru mampu melaju ke babak semifinal. Dalam perjalanannya mereka bahkan menyingkirkan tim-tim berlabel bintang, seperti Bhayangkara Solo FC, serta sempat mengalahkan Persija di fase grup.

Determinasi tinggi menjadi kunci anak-anak Makassar mampu bersaing. Dengan materi lokal, nyatanya mereka menjadi tim yang siap bertarung selama 90 menit. Penampilan spartan ditunjukkan oleh PSM di setiap laganya. Mereka tidak ragu untuk berlari menekan dan menyerang dengan cepat.

Pertahanan kokoh yang digalang kiper Hilman Syah menjadi salah satu faktor utama. Sebanyak 14 penyelamatan total telah dibuat penjaga gawang berusia 23 tahun tersebut. Catatan tersebut merupakan yang terbanyak di antara kiper-kiper lain di Piala Menpora. Lini tengah PSM yang diperkuat trio Rasyid Bakri, Sutanto Tan, dan M. Arfan juga menjadi kunci. Kelihaian ketiganya dalam melakukan tekanan mampu membuat lawan kesulitan menyerang hingga ke garis pertahanan PSM. Di lini depan, PSM bisa memanfaatkan kecepatan dari Yakob Sayuri. Sejauh ini Yakob sukses mencatatkan 2 gol dan 2 assist dalam 4 pertandingan.

Keberadaan PSM dengan pemain lokalnya di semifinal menunjukkan bahwa talenta lokal tidak kalah saing dengan pemain asing atau naturalisasi. Permainan spartan dan bertenaga tinggi dari PSM mampu melumpuhkan lawan-lawannya yang lebih mentereng.

PSM, bukti kalau pemain lokal bisa bersaing (foto: Detik)

 

Persija: Manfaatkan keunggulan individu

Sempat kalah di laga perdana, Persija mulai kembali menemukan bentuk permainan terbaiknya. Borneo FC digilas 4-0, dilanjutkan dengan comeback dramatis 2-1 atas Bhayangkara, dan terbaru menggempur Barito Putera sebelum mengamankan kemenangan 1-0 di babak perempat final.

Tanpa permainan yang begitu ‘spesial’ Persija mampu melangkah jauh. Dihuni pemain-pemain kelas satu benar-benar dimanfaatkan oleh Persija. Keberadaan pemain tim nasional seperti Riko Simanjuntak dan Osvaldo Haay, pemain lokal rasa asing seperti Otavio Dutra dan Marc Klok, serta pemain asing kualitas jempolan macam Marko Simic dan Marco Motta benar-benar dimanfaatkan oleh Persija.

Ketika situasi sedang deadlock, pemain-pemain ini mampu membawa Persija keluar dari tekanan. Bagaimana umpan-umpan dari Motta atau Klok mampu mencapai lini depan dengan cepat, akselerasi Riko di situasi 1v1, hingga penempatan posisi dan penyelesaian akhir yang prima dari Osvaldo dan Simic. Dua nama terakhir memang menjadi ancaman utama Persija bagi lawan. Sebanyak 15 tembakan tepat sasaran berhasil diciptakan keduanya, menjadi catatan terbanyak di turnamen kali ini.

Kualitas individu Persija bisa menjadi penentu (foto: Liga Olahraga)

 

Dengan kemampuan pemain yang prima, tugas selanjutnya adalah mengakomodasi kemampuan tersebut dalam strategi tim. Sejauh ini Persija cukup baik dalam mengatasi hal tersebut. Taktik yang dijalankan memberikan keleluasaan bagi pemain untuk berkreasi. Kombinasi tersebut membuat melawan Persija bukan perkara mudah. Butuh ketekunan dan permainan kolektif yang mumpuni. Kalau saja permainan sang lawan kurang kohesif, kualitas  Persija siap menghukum.

Persib: Eksplosivitas lini serang jadi kunci

Sama seperti Persija, Persib adalah kontestan empat besar lain yang dihuni oleh pemain-pemain bintang. Tentu hal tersebut memberikan Persib status tim unggulan. Sejauh ini, kualitas Persib mampu membuat mereka menjadi tim yang tajam di lini depan, sekaligus kokoh di lini belakang.

Hingga partai perempat final kemarin, Persib menjadi tim dengan produktivitas gol tertinggi ketiga di Piala Menpora. Bersama Persija, mereka mencatatkan total 9 gol dari 4 laga. Catatan tersebut bisa saja lebih besar karena catatan tembakan mereka juga tinggi. Selama gelaran Piala Menpora, Persib telah mencatatkan 56 percobaan tembakan. Agresivitas tersebut didukung oleh daya ledak lini serang yang tinggi.

Wander Luiz dan Ezra Walian menjadi duet yang mematikan di lini depan yang masing-masing telah mencetak 2 gol. Luiz bahkan bisa menjadi penyerang yang komplit, karena pemain berpaspor Brasil tersebut sudah mengoleksi 2 asis. Agresivitas di lini depan juga bertambah kuat dengan sokongan dari lini kedua dalam sosok Frets Butuan dan Febri Hariyadi. Kedua pemain yang berposisi di area sayap tersebut masing-masing membuat 6 penciptaan peluang. Kreativitas keduanya sangat berguna bagi Persib yang mengandalkan serangan berbasis penguasaan bola.

Wander Luiz, salah satu pilar penting di lini depan Persib yang mematikan (foto: CNN)

 

Daya ledak lini depan Persib tentu harus diwaspadai oleh lawannya nanti di babak semifinal. Meski Luiz terkena akumulasi dan Ezra mengalami cedera, rasanya hal tersebut masih bisa disiasati oleh Maung Bandung. Daya ledak Persib akan menghadapi PSS yang terkenal disiplin di babak semifinal. Pertarungan dua tim dengan catatan statistik yang kontras ini bisa menghasilkan duel yang menarik.

PSS: Akankah pragmatisme kembali berbuah hasil?

Lolosnya PSS ke babak semifinal sempat dianggap sebagai suatu kejutan. Di fase grup mereka memuncaki klasemen di atas tim-tim besar seperti Persebaya dan Madura United. Di babak delapan besar giliran Bali United disingkirkan lewat adu penalti.

Meski dihuni banyak pemain bintang, nyatanya PSS banyak bermain secara pragmatis. Tidak banyak menyerang, mereka lebih senang bermain bertahan, menunggu, dan segera menghukum lawan lewat serangan balik cepat.

Sejauh ini gawang PSS baru 2 kali dibobol lawan dalam 5 pertandingan. Catatan tersebut menjadi yang paling minim di Piala Menpora. Permainan pragmatis PSS tercermin dalam determinasi dan kedisiplinan mereka dalam bertahan. Super Elja merupakan tim dengan jumlah tekel terbanyak di turnamen ini, dengan 264 upaya merebut bola dari lawan. PSS juga memuncaki daftar intersep, dengan 309 buah, dan sapuan bola (152).

Kedisiplinan PSS dalam bertahan menjadi kunci dalam menyingkirkan tim-tim besar (foto: CNN)

 

Dalam kompetisi berformat turnamen, bermain pragmatis sangat mungkin menjadi pendekatan yang diambil oleh banyak tim. Apalagi ketika memasuki fase gugur. Kedisiplinan PSS akan menemui ujian berat kala menghadapi tim dengan lini serang sekelas Persib. Mampukah pragmatisme PSS kembali menumbangkan tim besar?

Keempat tim memiliki karakteristik permainan yang menjadi keunggulan masing-masing. Kelolosan ke partai final bisa sangat ditentukan oleh keberhasilan mereka memanfaatkan keunggulan tersebut, yang tentu saja tidak mudah, karena tekanan babak akhir yang lebih tinggi.

Jika melihat perolehan di babak-babak sebelumnya, Persija dan Persib menjadi tim unggulan untuk melaju ke babak final. Selain memiliki catatan baik di turnamen ini, keduanya diisi oleh pemain-pemain berlabel bintang yang bisa memberikan perbedaan. Perseteruan klasik antara keduanya juga bisa menjadi bumbu penyedap yang pas untuk laga puncak. Meski demikian, militansi PSM dan kedisiplinan PSS juga tak bisa dianggap sebelah mata. Bagaimana prediksi lo untuk babak semifinal nanti, Pria Intersport?

SAMPAIKAN KOMENTAR