Preview Inter vs Juventus: Misi Kedua Tim Menuju Juara
17
Jan
2021
0 Comment Share Likes 116 View

Laga besar bertajuk Derby d'Italia antara tuan rumah Internazionale Milano kontra Juventus akan tersaji di pekan ke-17 Serie A di Stadion Giuseppe Meazza pada penghujung pekan. Duel dua musuh bebuyutan negeri pizza tersebut sekaligus juga mewarnai perebutan titel scudetto musim ini. Pertahanan kokoh anak asuh Antonio Conte akan diuji lini serang mematikan di bawah arahan Andrea Pirlo.

Poin penuh untuk menekan Milan

Selain berbalut gengsi dua tim tersukses di Italia, laga ini juga menjadi momen penting bagi kedua tim untuk terus berada di jalur juara. Inter dan Juve saat ini masing-masing duduk di peringkat 2 dan 4 klasemen sementara. Inter mengoleksi 37 poin, sementara Juve 33.

Saat ini, fokus keduanya adalah sesegera mungkin menyusul perolehan angka AC Milan. I Rossoneri saat ini nyaman dengan angka 40 di puncak klasemen. Angka tersebut aman untuk berada di posisi puncak hingga pekan depan.

Pertandingan antara rival langsung dalam perebutan gelar memang penting. Keberhasilan salah satunya meraih poin atas rival berarti kehilangan angka bagi sang lawan. Momentum ini penting baik secara matematis maupun secara moril bagi perjalanan di sisa musim ini.

Jelang laga ini, kedua tim sedang berada di performa yang cukup meyakinkan. Dalam lima laga terkini di liga, keduanya hanya sekali meraih kekalahan. Juventus bahkan sedang berada dalam streak tiga kemenangan beruntun, termasuk atas Milan. Sedangkan tuan rumah konsisten menyapu bersih tiga angka di lima laga kandang terakhir. Performa positif keduanya juga berlanjut di laga Coppa Italia tengah pekan ini. Inter lolos usai mengalahkan Fiorentina 2-1, sedangkan Juve menyingkirkan Genoa dengan skor 3-2.

Inter dan rekor buruk kontra Juve

Dari total 174 pertemuan Derby d'Italia di ajang Serie A, Inter hanya memenangi 46 laga di antaranya. Sejak 2017, La Beneamata bahkan belum sekalipun menang atas Juventus. Kali terakhir Inter menang atas Juve adalah pada 18 September 2016 dengan skor 2-1. Kala itu, satu gol masing-masing dari Mauro Icardi dan Ivan Perišić berhasil membalikkan keunggulan Juve yang unggul terlebih dahulu lewat Stephan Lichtsteiner.

Kemenangan terakhir Inter atas Juve pada 2016 lalu (Sumber foto: Serpentofmadonninna)

 

 Sejak saat itu, Inter sekalipun gagal menang atas musuh bebuyutannya tersebut. Prestasi ‘terbaik’ Inter hanya dua kali menahan imbang. Lima laga sisanya berakhir dengan kekalahan bagi Nerazzurri. Rekor buruk tersebut mau tidak mau harus dipatahkan Inter di laga kali ini. Secara hitung-hitungan, Inter wajib menang apabila tidak ingin tertinggal semakin jauh dari Milan. Tidak berhenti di situ, kekalahan bisa membuat posisi mereka dikudeta oleh Roma atau bahkan Juve itu sendiri.

 Menghadapi laga ini, Inter bisa menurunkan hampir seluruh pemain intinya pasca merotasi tim di laga Coppa Italia. Pemain yang kemungkinan absen adalah Stefano Sensi. Akan tetapi laporan terbaru, seperti dilansir SempreInter, Sensi kemungkinan bisa masuk ke dalam skuad pertandingan.

Mampukah Juve kembali menang kontra tim papan atas?

Kemenangan atas Milan menjadi bukti kejeniusan Pirlo dalam meraih kemenangan kontra tim papan atas. Bertandang ke San Siro, dua gol Federico Chiesa plus sontekan Weston McKennie membawa pulang tiga angka dalam kemenangan 3-1 Juve atas tuan rumah.

Sebelum melawan Milan, Juve kerap gagal meraih angka penuh kala menghadapi tim enam besar. Awal musim, menghadapi Roma di kandang sendiri, Juve bermain imbang 2-2. Hasil imbang juga diraih Juve kala menjamu Atalanta, kali ini dengan skor 1-1. Satu-satunya kemenangan adalah ketika melawan Napoli, itupun hasil kemenangan walkout--akibat Napoli tidak hadir lantaran larangan perjalanan dari Kota Naples--yang kemudian dibatalkan otoritas Serie A. Kemenangan kontra Milan, selain menipiskan jarak perolehan poin, juga bisa menjadi dorongan moril bagi Si Nyonya Tua. Keberhasilan meraih angka penuh kontra sesama tim papan atas membuktikan bahwa mereka masih ada di jalur juara.

Menang atas Milan, jadi bukti Juve layak bersaing? (Sumber Foto: Goal)

 

Jelang laga melawan Inter, Juve hampir dipastikan tampil tanpa penyerang andalannya, Paulo Dybala. Sementara itu, kondisi Federico Chiesa dan Weston McKennie masih dipantau usai mengalami cedera minor di laga pekan lalu. Kondisi ini masih menunggu konfirmasi terkait tes Juan Cuadrado dan Alex Sandro yang absen akibat positif Covid-19. Kondisi ini tentu harus membuat Pirlo memutar otak lebih banyak. Kabar baiknya, Dejan Kulusevski dan Álvaro Morata bermain baik dan mencetak gol di laga melawan Genoa. Keduanya kemungkinan akan diturunkan di laga ini mengisi posisi Chiesa dan Dybala.

Pratinjau taktikal: Meminimalisir peran Lukaku dan memanfaatkan lebar lapangan

Laga ini akan diwarnai oleh pertemuan perdana antara Antonio Conte dan Andrea Pirlo sebagai pelatih. Sebelum pensiun dan menjadi pelatih, Pirlo pernah bermain di bawah arahan Conte di Juventus dan Timnas Italia.

Masa-masa Pirlo dan Conte di Juventus pada 2011-2014 bahkan bisa menjadi salah satu momen terbaik dalam karir keduanya. Conte merekrut Pirlo secara gratis dari Milan pada musim panas 2011. Bermain sebagai pemain No. 6 di dalam sistem 3-5-2 Conte, Pirlo diberikan kebebasan untuk menjadi orkestra permainan Juve. Pirlo, yang banyak dikira sudah habis pada saat itu, menemukan kembali permainan terbaiknya bersama Conte di usia 32 tahun. Keduanya berperan dalam tiga gelar Serie A dan dua Supercoppa bagi Juventus. Pada saat menyelesaikan tesis UEFA Pro-nya, Pirlo secara eksplisit menyebut Juventus arahan Conte sebagai salah satu referensi permainan dalam gaya kepelatihannya.

Conte kembali membawa pakem 3-5-2 yang sukses ia aplikasikan di Juve dan Italia ke dalam permainan Inter. Fitur utama Conte di Inter adalah set-up play serangan secara konstruktif dari lini belakang dengan menuju Romelu Lukaku sebagai target. Kemampuan Lukaku dalam menahan dan melindungi bola serta visi bermainnya yang bagus membuatnya kerap menjadi outlet serangan Inter.

Di laga melawan Roma, Lukaku memerankan peran tersebut dengan baik. Ia bisa menjadi tujuan build-up Inter untuk mengeliminasi pressing agresif Roma. Tidak hanya itu, Lukaku juga mampu menarik perhatian garis terakhir pertahanan lawan dan menciptakan ruang bagi rekan setimnya.

Untuk membendung pengaruh Lukaku, Juve harus sebisa mungkin meminimalisir ruang antar lini. Dengan sedikitnya ruang, aksi Lukaku tersebut bisa dihentikan dan ancaman lawan bisa dikurangi. Tugas penting selanjutnya adalah mencegah lawan memenangi bola kedua dari pantulan Lukaku. Dua gelandang tengah Juve harus aktif berperan di momen ini untuk membantu garis belakang pertahanan mereka.

Build-up Inter dan pekerjaan Juve untuk menghambat progresi via Lukaku (Sumber foto: olahan Intersport)

 

Sementara itu, ketika menyerang Juve harus memiliki rencana untuk menembus blok pertahanan Inter. Conte termasuk pelatih yang ketat dalam urusan mencegah lawan mencetak gol. Formasi 5-3-2 Inter ketika bertahan menjadi tembok kokoh yang harus ditembus. Berkaca dari laga melawan Roma, wing-back bisa menjadi opsi keluarnya lawan dari pressing Inter. Keberadaan pemain yang melebar di kedua sisi lapangan berada di luar akses lini pertama dan kedua pressing Inter, sehingga keduanya bisa memberikan opsi yang aman untuk keluar.

Satu yang bisa menjadi isu bagi Juventus adalah struktur serangan mereka dalam bentuk 3-4-1-2 yang hanya memiliki satu pemain untuk menjaga kelebaran di masing-masing sisi. Hal ini bisa memudahkan dua wingback Inter untuk melakukan pressing secara vertikal. Solusi bagi Juventus adalah menempatkan dua pemain sayap tersebut untuk merenggangkan garis belakang lawan.

Di area yang lebih tinggi, Juve bisa memainkan Cristiano Ronaldo, Aaron Ramsey, dan Álvaro Morata di ruang antarlini. Ketiganya mesti pintar dan cepat mengeksploitasi ruang karena kemungkinan Inter akan menang jumlah. Dua gelandang juga harus difungsikan secara cermat untuk mencegah kemungkinan Inter menyerang balik.

Struktur serangan Juve dengan merenggangkan pertahanan Inter dan mencari celah di ruang antarlini (Sumber Foto: olahan Intersport)

 

Duel dua tim ‘telat panas’

Berdasarkan statistik, Inter dan Juve kerap menjadi tim yang ‘telat panas’. Apabila klasemen Serie A dihitung hanya berdasarkan perolehan di babak pertama saja, Inter berada di posisi 11. Akan tetapi jika klasemen dihitung hanya berdasarkan perolehan di babak kedua, Inter akan memuncaki klasemen, diikuti oleh Juventus di posisi kedua. Sebanyak 30 dari 43 gol atau nyaris 70% gol Inter di liga musim ini dicetak di babak kedua. Sementara catatan gol Juve di babak kedua mencapai 62%.

Akan tetapi, harus diingat juga bahwa Inter kerap menahan momentum sesudah unggul. Melawan Roma, Inter tidak membuat tembakan sama sekali usai mencetak gol kedua. Sementara lawannya membuat 10 percobaan. Alhasil, Inter justru kebobolan oleh Mancini di penghujung laga. Ini perkiraan line-up dari kedua tim

Inter (3-5-2): Samir Handanović, Milan Škriniar, Stefan De Vrij, Alessandro Bastoni, Achraf Hakimi, Nicolò Barella, Marcelo Brozović, Arturo Vidal, Ashley Young, Romelu Lukaku, Lautaro Martínez.

Juve (4-4-2): Wojciech Szczęsny, Danilo, Matthijs De Ligt, Leonardo Bonucci, Gianluca Frabotta, Dejan Kulusevski, Adrien Rabiot, Rodrigo Betancur, Aaron Ramsey, Álvaro Morata, Cristiano Ronaldo. 

Melihat performa kedua tim, perlu diketahui bahwa Inter cukup berbahaya di babak kedua, namun mereka seringkali melepas momentum mereka usai unggul. Dari fakta ini, ada kemungkinan pertandingan justru akan lebih hidup di babak kedua. Menarik melihat persiapan kedua tim dalam merespon catatan statistik ini. Apakah keduanya akan tancap gas sejak menit pertama? Atau mengantisipasi kebangkitan lawan di babak kedua? Kita lihat saja, Pria Intersport.

SAMPAIKAN KOMENTAR