Pesta Manchester City di Tengah Lengkapnya Krisis Pertahanan Liverpool
08
Feb
2021
1 Comment Share Likes 95 View

Manchester City berpesta di tengah krisis pertahanan Liverpool. The Citizens menang dengan skor 4-1 dalam pertandingan lanjutan Premier League yang berlangsung di Anfield Stadium, Minggu malam WIB 7 Februari 2021 pukul 23.30 WIB. Senyum bahagia terlihat dari para penggawa Manchester City begitu wasit meniupkan peluit tanda pertandingan usai.

Liverpool memulai pertandingan ini dengan kondisi krisis lini bertahan. Jürgen Klopp sampai harus mengeplot Jordan Henderson dan Fabinho sebagai bek tengah. Padahal kedua pemain tersebut biasanya beroperasi sebagai gelandang. Tapi tak ada pilihan lain bagi juru taktik asal Jerman, mengingat stok bek tengah di dalam skuadnya begitu minim.

Liverpool dan Manchester City sama-sama menerapkan permainan tempo cepat di awal babak pertama. Mereka tak membiarkan lawan dengan leluasa mengatur ritme serangan yang dimulai dari belakang. Pemain depan yang memiliki kecepatan baik secara bergantian memberi tekanan kepada lawan yang menguasai bola.

Manchester City lebih dulu menemukan kenyamanan bermain. Operan-operan pendek skuad asuhan Pep Guardiola berjalan mulus. Mereka bahkan berani memainkan bola di garis pertahanan demi menanti penyerang dan gelandang Liverpool maju ke depan untuk memberikan tekanan. Setelah itu mereka coba keluar dari situasi tersebut dan melancarkan serangan dengan cepat.

 

Pertandingan Liverpool vs Manchester City di Anfield Stadium. Foto: Twitter.com/premierleague

 

Cerdiknya Pep Guardiola, dia membiarkan para pemain bergerak cair. João Cancelo yang aslinya bek sayap kanan, diberikan ruang untuk masuk mengisi posisi gelandang bertahan bersama dengan Rodri. Bersama Bernardo Silva, mereka akan bergerak mencari ruang kosong di lini tengah. Ketika berhasil mendapatkan operan, dengan sigap mereka melakukan gerakan individu atau langsung menyetorkan umpan kepada para penyerang.

Posisi João Cancelo yang merapat ke sisi dalam menjadi gelandang bertahan bersama Rodri juga sekaligus membuat upaya Manchester City memutus serangan balik Liverpool menjadi lebih cepat. Sehingga upaya serangan dari tuan rumah tidak langsung dihadapi oleh dua bek tengah, Rúben Dias dan John Stones.

Di sisi sayap kanan, Manchester City mengandalkan Riyad Mahrez. Pergerakannya begitu simpel karena lebih mengutamakan kombinasi operan pendek dan terobosan bersama Bernardo Silva. Sedangkan di sisi kiri, Raheem Sterling dibiarkan bergerak dengan caranya sendiri, termasuk melakukan akselerasi hingga ke dalam kotak penalti.

Cara Raheem Sterling tersebut membuahkan hasil positif bagi Manchester City. Karena dia dilanggar oleh Fabinho yang coba menghadangnya pada menit 36. Sayangnya eksekusi penalti yang dilakukan oleh İlkay Gündoğan sangat buruk. Bola hasil tendangannya masih melambung jauh di atas mistar gawang. Di tepi lapangan, Pep Guardiola menunjukkan rasa kecewanya.

Liverpool yang berada dalam tekanan berhasil menemukan cara efektif untuk memberi ancaman kepada Manchester City. Mereka coba memanfaatkan pergerakan dari garis kedua penyerangan untuk mendapatkan bola hasil sapuan lawan. Metode yang jelas terlihat bagaimana dua bek sayap mereka memaksa untuk mengirimkan umpan ke dalam kotak penalti, meski cuma ada satu atau dua rekannya di sana.

Tapi nantinya ada pemain yang bergantian menanti di garis kedua. Bisa jadi dari tiga penyerang mereka, Mohamed Salah, Roberto Firmino, dan Sadio Mané yang bergantian bersiap mencuri momentum. Beberapa kali pula Georginio Wijnaldum dan Thiago Alcântara membantu agak ke depan untuk memperpendek jarak.

Dari cara seperti ini, Liverpool bisa mendapatkan beberapa peluang yang membahayakan gawang Manchester City. Salah satunya terjadi pada menit ke-29 saat Roberto Firmino yang datang dari belakang melepaskan tendangan keras. Beruntung bagi tim tamu karena kiper mereka, Ederson masih bisa melakukan tepisan.

Skema ini pula yang membuat kelemahan Livepool dalam transisi dari bertahan ke menyerang jadi sedikit berkurang. Di awal terlihat sekali bagaimana Sadio Mané atau Mohamed Salah harus berjuang keras melakukan akselerasi di tengah penjagaan dua hingga tiga pemain Manchester City.

Eksekusi penalti Mohamed Salah di laga Liverpool vs Manchester City. Foto: Twitter.com/premierleague

 

Bayar Mahal Atas Kesalahan Fatal

Lima gol tercipta di babak kedua Liverpool vs Manchester City. Tiga diantaranya tercipta karena kesalahan fatal pemain. Inilah efek negatif dari pertandingan dengan intensitas tinggi, di mana tekanan yang diberikan ketika lawan menguasai bola begitu cepat dilakukan agar alur serangan tidak sempurna atau bahkan kesalahan dilakukan.

Baru empat menit babak kedua berjalan, Manchester City berhasil membuka keunggulan atas Liverpool. Diawali pergerakan Raheem Sterling, bola dioper kepada Phil Foden. Dia meneruskan dengan tendangan mendatar dan bola ditepis oleh kiper The Reds, Alisson Becker. Tapi disana sudah ada İlkay Gündoğan, yang berdiri bebas untuk menyambar bola dan menjadi gol.

Pergerakan İlkay Gündoğan hingga ke dalam kotak penalti seperti ini memang sudah menjadi ciri khas Manchester City. Gelandang asal Jerman itu selalu diplot untuk ikut memberi tekanan dan mengambil peluang untuk mencetak gol. Sayangnya skema seperti itu tidak berjalan mulus di babak pertama.

Kedudukan menjadi 1-1 ketika memasuki menit 65. Eksekusi penalti Mohamed Salah membuat bola bersarang mulus ke dalam gawang Manchester City. Penyebab penalti ini adalah kesalahan Rúben Dias dalam melakukan sapuan. Dia kehilangan kontrol atas bola ketika peluang untuk mengamankan gawang lebih besar.

Jelas terlihat Rúben Dias ragu untuk menyapu bola jauh ke depan atau memberikannya kepada Oleksandr Zinchenko. Justru tendangannya meleset, dan bola bisa dicuri oleh Mohamed Salah. Dalam keadaan seperti itu, bek asal Portugal melakukan tekel yang berujung hukuman penalti.

Dalam kedudukan imbang, Jürgen Klopp coba mengambil kesempatan untuk mengubah permainan anak asuhnya. Thiago Alcântara dan Curtis Jones yang sudah tidak maksimal di lini tengah ditarik keluar. Mereka digantikan oleh Xherdan Shaqiri dan James Milner. Tujuan Jürgen Klopp jelas, yakni memenangkan pertarungan di lini tengah yang memang vital untuk menyeimbangkan tim.

 

Duel João Cancelo dan Thiago Alcântara. Foto: Twitter.com/premierleague

 

Ketika pertandingan sudah berjalan seimbang, kesalahan fatal dilakukan oleh Alisson Becker. Operan bolanya tidak sempurna dan malah membuat bola jatuh di kaki Phil Foden. Dua pemain Liverpool berhasil ia lewati dan langsung melepaskan umpan kepada İlkay Gündoğan yang ada di depan mulut gawang dan meneruskannya dengan sontekan terukur.

Cuma berselang tiga menit, kesalahan serupa dilakukan kembali oleh Alisson Becker. Kali ini dengan sangat buruk dia salah mengirimkan operan dan jatuh di kaki Bernardo Silva. Umpan lambung langsung dikirimkan kepada Raheem Sterling yang berdiri bebas dan menyambutnya dengan sundulan. Dari sini awal keterpurukan Liverpool terjadi.

Jordan Henderson dan kawan-kawan makin kesulitan untuk kembali menemukan ritme permainan terbaiknya. Sedangkan Manchester City semakin bertambah kepercayaan dirinya. Upaya serangan yang dilakukan oleh The Reds mudah sekali patah. Lini tengah mereka semakin terkunci dan sulit untuk mengkreasikan serangan João Cancelo dan Rodri berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Tugas mereka semakin ringan setelah adanya bantuan dari Phil Foden. Sejak Pep Guardiola memasukkan Gabriel Jesus, posisi pemain asal Inggris itu dimundurkan menjadi gelandang. Lalu sayap kanan penyerangan yang ditinggalkan Riyad Mahrez menjadi milik Bernardo Silva.

Keputusan Pep Guardiola ini sangatlah tepat. Karena Phil Foden dengan kecepatannya mampu menutup ruang kosong yang ditinggalkan oleh João Cancelo ketika membantu Rodri sebagai gelandang bertahan. Dengan begitu, ada waktu bagi mereka menunda pemain Liverpool yang ingin melepaskan umpan silang.

Sampai akhirnya gol pamungkas pada pertandingan ini tercipta pada menit 83. Sebuah pergerakan cepat dilakukan Phil Foden dari sisi sayap kanan penyerangan Manchester City. Dia mengecoh Andrew Robertson dan langsung melepaskan tendangan keras. Alisson Becker tak kuasa untuk menghalau bola meski datang tepat di hadapannya berdiri.

Phil Foden Jadi Bintangnya

Menyaksikan 90 menit jalannya pertandingan Liverpool vs Manchester City, sulit rasanya jika tak menjatuhkan pilihan pemain terbaik kepada Phil Foden. Pemain berusia 20 tahun itu harus menjalani peran yang berbeda dari posisi aslinya. Sejak menit awal, Pep Guardiola menugaskannya sebagai penyerang tengah. Tugas utamanya adalah memberi tekanan kepada pemain belakang Liverpool yang hendak membangun serangan.

 

Heatmaps Phil Foden dalam pertandingan Liverpool vs Manchester City. Foto: whoscored.com

 

Tidak mudah bagi Phil Foden untuk menjalani tugas tersebut. Karena dia harus berhadapan dengan Jordan Henderson dan Fabinho yang memiliki postur lebih besar. Tak heran jika dia seringkali terlihat jatuh bangun saat berduel memperebutkan bola. Apalagi dia harus juga cepat melakukan akselerasi ketika Manchester City melancarkan serangan balik.

Peran signifikan Phil Foden terlihat ketika gol pertama Manchester City tercipta. Dia dengan jeli membuka ruang untuk meminta bola dari Raheem Sterling. Respons-nya kemudian adalah melakukan tendangan langsung yang sayang masih bisa ditepis Alisson Becker. Untungnya bola masih bisa disambar oleh Ilkay Gundogan.

Pada menit 72, Phil Foden menjalani peran yang sangat jauh berbeda. Dia digeser menjadi gelandang dan harus aktif membantu sisi kanan pertahanan. Perubahan itu terjadi ketika Pep Guardiola memasukkan ujung tombaknya, Gabriel Jesus untuk menggantikan Riyad Mahrez. Tapi karena tenaga Phil Foden masih lebih banyak, posisi yang ditinggalkan Riyad Mahrez diberikan kepada Bernardo Silva.

Lagi-lagi peran yang diberikan Pep Guardiola terhadap potensi anak asuhnya sangat tepat. Phil Foden yang terus berlari sepanjang 90 menit masih punya tenaga untuk membantu serangan Manchester City. Masing-masing satu gol dan assist dia ciptakan pada pertandingan ini dan membawa The Citizens semakin nyaman di puncak klasemen dengan raihan 50 poin hasil dari 22 pertandingan.

SAMPAIKAN KOMENTAR