Pertaruhan Sang Pelatih Dalam Sengitnya El Clásico
24
Oct
2020
0 Comment Share Likes 700 View

El Clásico edisi ke-245 akan tersaji dalam pekan ketujuh La Liga. Barcelona menjamu Real Madrid di Estadio Camp Nou, pada 24 Oktober 2020 pukul 21.00 WIB. Ini adalah kesempatan pertemuan sengit kedua di musim 2020/2021.

Sebagai tim raksasa di La Liga, pertemuan Barcelona melawan Madrid selalu dinanti-nanti, tidak cuma penggemar sepakbola di Spanyol, tapi juga seluruh dunia. Drama di dalam lapangan selalu bisa muncul dari setiap pertandingan El Clásico.

Di awal musim ini, Madrid yang telah melakoni lima laga di La Liga mengumpulkan 10 poin hasil dari tiga kemenangan, sekali imbang, dan sekali kalah. Sedangkan tim asal Catalan masih menempati urutan sembilan dengan raihan tujuh  poin dari empat laga.

 

Lionel Messi dan Toni Kroos berduel di laga El Clásico. FOTO: fcbarcelona.com

 

Dua kemenangan di pekan awal menjadi start positif Barcelona musim ini. Tapi setelah itu mereka ditahan imbang Sevilla dan menelan kekalahan saat melawat ke markas Getafe. Skuad asuhan Ronald Koeman benar-benar tidak seperti biasanya.

Kemenangan dalam laga nanti akan jadi penentu momentum kebangkitan Barcelona. Karena mereka tidak cuma bisa mengejar ketertinggalan angka dari Madrid, tapi juga memperbaiki posisi di klasemen.

Sejarah pertemuan Barcelona dengan Madrid di kompetisi resmi tercatat sebanyak 244 kali. Menariknya, kedua tim sama-sama mengoleksi 96 kemenangan, dan sisanya 52 pertandingan berakhir dengan kedudukan imbang.

Mengutip The Story of Spanish Football, pendukung kedua tim sudah saling adu gengsi sejak lama. Bahkan dalam setiap pertandingan yang tidak masuk ajang resmi sekali pun. Ada 33 pertemuan mereka sebagai bentuk ekshibisi dan dominasi kemenangannya dipegang Barcelona sebanyak 19 kali. Madrid empat kali menang, dan 10 imbang.

Barcelona yang dibentuk dua tahun lebih dulu dari Madrid, kalah jumlah secara perolehan gelar juara di La Liga. Mereka punya 26 trofi, sedangkan Los Blancos mengoleksi 34 kali. Tapi di Copa del Rey, Blaugrana mengoleksi 30 gelar juara, atau unggul 11 atas Madrid.

Pertaruhan Zinedine Zidane

Pelatih Real Madrid, Zinedine Zidane sedang dalam sorotan. Karena dalam dua pertandingan terakhir anak asuhnya menelan kekalahan. Mereka takluk 0-1 saat menjamu Cádiz di Estadio Alfredo Di Stefano dalam lanjutan La Liga. Empat hari berselang, mereka kembali kalah di kandang sendiri dari Shakhtar Donetsk di Liga Champions.

Kekhawatiran suporter jelas muncul melihat dua hasil kekalahan ini. Mengingat lawan mereka berikutnya adalah Barcelona. Ditambah lagi mereka akan bermain di Estadio Camp Nou. Tuan rumah tentu saja akan bermain habis-habisan agar bisa memetik tiga angka.

Suara-suara yang mendesak manajemen Madrid untuk memecat Zidane jika kalah ketika melawat ke markas Barcelona pun mulai bermunculan. Aksi ini bisa menambah tekanan kepada juru taktik asal Prancis untuk berpikir mencari racikan strategi yang tepat.

 

Pelatih Real Madrid, Zinedine Zidane. FOTO: realmadrid.com

 

Saat tekanan datang bertubi-tubi, Zidane beruntung masih ada sosok José Antonio Camacho. Mantan pelatih Madrid dan Timnas Spanyol itu memberi pembelaan dengan menyebut pemecatan jika kalah di laga El Clásico bukanlah alasan yang tepat.

"Saya tidak berpikir Zidane akan dipecat ketika Madrid kalah. Dia mendapat dukungan dari Presiden klub, dan bisa melanjutkan karier. Meskipun dalam sepakbola Anda tidak bisa melihat ke belakang, dan itu terkadang cukup kejam," tutur Camacho, dikutip dari Sport.es

Melihat ke belakang menurut Camacho adalah rekam jejak Zidane selama menukangi Madrid. Dari periode pertamanya pada 2016 hingga 2018, dia mempersembahkan satu gelar juara La Liga, Piala Super Spanyol, tiga trofi Liga Champions secara beruntun, dan masing-masing dua Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antarklub.

Dia sempat memilih untuk mundur pada Januari 2018. Kemudian pada Maret 2019 juru taktik berusia 48 tahun itu kembali. Gelar juara La Liga dan Piala Super Spanyol musim lalu jadi persembahan teranyar Zidane untuk Los Blancos.

Secara psikologis, Zidane juga memiliki keberuntungan ketika memimpin Madrid menjalani El Clásico. Tim besutannya empat kali menang, tiga imbang, dan dua kali menelan kekalahan. Tapi, kalahnya Los Blancos justru ketika bermain di kandang sendiri. Saat melawat ke Estadio Camp Nou, Zidane belum merasakan kekalahan.

Menanti Peran Penting Sang Kapten

Satu hal yang awalnya menjadi kerugian bagi Madrid dalam menatap laga nanti adalah kemungkinan absennya Sergio Ramos. Pemilik jumlah tampil terbanyak dalam sejarah El Clásico (44 pertandingan) itu masih berkutat dengan cedera engkel yang dialami ketika berhadapan dengan Cádiz.

Kondisi itu memaksa Zidane tidak bisa memainkan Ramos saat mereka dikalahkan Shakhtar Donetsk. Kabar teranyar seperti diberitakan Marca.com, kondisi kapten Los Blancos itu belum pulih benar. Bayang-bayang ‘Kutukan Ramos’ mulai ramai dibicarakan publik.

Kutukan Ramos bagi Madrid adalah kekalahan yang dialami ketika sang kapten absen. Istilah itu muncul pertama kali ketika mereka melakoni fase grup Liga Champions musim 2018/2019. CSKA Moskow sampai dua kali berhasil mengalahkan mereka.

Meski mengalami kekalahan dari CSKA, namun Madrid masih bisa melenggang ke babak 16 besar. Di sini petaka datang untuk mereka. Menang 2-1 pada leg pertama atas Ajax Amsterdam, tapi akhirnya mereka harus tersingkir. Karena pada leg kedua, wakil Belanda mampu menang telak 4-1.

Kekalahan ketika tampil tanpa Ramos juga terjadi di Liga Champions 2019/2020. Madrid dikalahkan oleh Paris Saint-Germain di fase grup, lalu tersingkir di babak 16 akibat kalah melawan Manchester City.

Itulah sebabnya, usai kalah dari Shakhtar Donetsk, Zidane berjanji untuk gerak cepat mencari solusi. Beruntung, kabar baik datang sehari jelang pertandingan bahwa Ramos dikabarkan sudah dalam kondisi 100 persen bugar dan siap tampil melawan Barcelona.

"Dia adalah kapten kami, pemimpin kami. Kami tidak ingin mengambil risiko apapun. Dia telah pulih dan akan ikut bersama kami. Ini soal kondisi fit 100 persen, dan Sergio ada di sana," ujar Zidane, dikutip dari Marca.com.

Dinginnya Ruang Ganti Barcelona

Isu tak sedap juga datang dari ruang ganti Barcelona. Situasinya saat ini digambarkan begitu dingin. Penyebabnya bukan dari hubungan antarpemain atau pemain dengan pelatih, tapi kebijakan manajemen yang dianggap merugikan Lionel Messi dan kawan-kawan.

Manajemen Barcelona coba mengambil kebijakan efisiensi pengeluaran di tengah pandemi COVID-19 dengan cara memangkas gaji pemain. Namun, sebagian besar dari mereka menolak dengan tegas. Alasannya pemain tetap menjalani jadwal padat, dan tidak pantas untuk dipotong gajinya.

Mengutip Sport.es, manajemen Barcelona mengajukan negosiasi kepada pemain untuk pemotongan gaji sebesar 30 persen. Undangan untuk pertemuan dengan pemain juga sudah dilayangkan, tapi balasan yang diterima tidak sesuai harapan, karena dibalas lagi dengan surat yang isinya penolakan dengan tegas.

 

Suasana latihan Barcelona jelang El Clásico. FOTO: twitter.com/FCBarcelona

 

Messi disebut-sebut sebagai pemain yang masuk dalam kelompok penolakan. Namun ada pula segelintir pemain yang mau menerima ajuan pemotongan gaji dari manajemen, seperti Gerard Piqué.

Di sinilah kemudian pelatih Barcelona, Ronald Koeman dituntut untuk bersikap bijak. Dia mesti pandai merayu para pemain yang psikologisnya sedang tidak baik untuk tetap tampil maksimal di laga El Clásico. Apalagi banyak yang merupakan pemain inti.

Taktik Anyar Barcelona 

Sejak kedatangan Koeman di awal musim ini, formasi pakem 4-3-3 di era pelatih-pelatih sebelumnya dirombak. Juru taktik asal Belanda itu menggantinya dengan 4-2-3-1. Tujuannya agar pertahanan Blaugrana semakin kokoh dan tidak mudah ditembus lawan.

Empat pemain belakang mendapat lapisan pengawalan dari dua gelandang bertahan yang ditempati oleh Sergio Busquets dan Frenkie de Jong. Kelebihan dua pemain tersebut adalah cerdik dalam menjembatani transisi dari bertahan ke menyerang.

Tujuan Koeman untuk memperkokoh lini pertahanan Barcelona yang biasa ditempat Sergi Roberto, Gerard Piqué, Clément Lenglet, dan Jordi Alba bisa dianggap sukses. Karena dalam empat laga La Liga, gawang mereka yang dikawal oleh Neto baru kebobolan dua kali.

Kebebasan bergerak diberikan kepada Philippe Coutinho yang berperan sebagai gelandang serang. Dia bisa mencari ruang kosong untuk melepaskan diri dari kawalan, lalu merancang serangan yang tujuan akhirnya menjadi peluang ke gawang lawan.

 

Pelatih Barcelona, Ronald Koeman. FOTO: fcbarcelona.com

 

Untuk posisi ujung tombak, Koeman mempercayakannya kepada Lionel Messi. Memiliki kualitas individu di atas rata-rata, dia yakin pemain berjuluk La Pulga bisa membuat perbedaan besar, dibanding peran sebelumnya sebagai penyerang sayap. Kinerjanya akan didukung oleh Antoine Griezmann dan Ansu Fati yang sejajar dengan Coutinho.

Perang di lini tengah nampaknya akan jadi sajian utama pada El Clásico nanti. Karena Zidane yang memiliki pakem 4-3-3 juga memadatkan lini tengah dengan pemain mobilitas tinggi. Casemiro, Luka Modrić, Toni Kroos biasanya jadi pilihan utama.

Trio lini depan yang belakangan ini jadi andalan Zidane adalah Vinícius Júnior, Karim Benzema, dan Marco Asensio. Bisa jadi pula, pemain seperti Lucas Vazquez dan Rodrygo Goes sebagai alternatif. Karena sampai sekarang, Eden Hazard masih belum bisa dimainkan akibat cedera.

Untuk empat pemain belakang, absennya Ramos kemungkinan besar akan digantikan oleh Éder Militão. Dia sudah siap berduet dengan Raphaël Varane ketika berhadapan dengan Shakhtar Donetsk. Sedangkan posisi bek kanan menjadi milik Ferland Mendy, dan Marcelo di kiri.

Posisi penjaga gawang sepertinya tetap akan jadi milik Thibaut Courtois. Meski dalam dua pertandingan terakhir gawangnya kebobolan empat kali, kepercayaan Zidane kepada kiper asal Belgia itu tetap besar.

SAMPAIKAN KOMENTAR