Panggung Terbaik Pekan Ketiga Serie A
04
Oct
2020
0 Comment Share Likes 1172 View

Awal musim Liga Italia Serie A 2020/2021 langsung menghadirkan partai panas. Baru di pekan ketiga, empat tim dengan nama besar di Negeri Pizza sudah harus bersaing ketat.

Siapa yang akan membantah kalau pertemuan pekan ketiga antara Lazio vs Inter dan Juventus vs SSC Napoli, adalah big match?

Seperti kita tahu empat tim ini pernah menjadi juara Serie A. Paling banyak jelas Juventus. Disusul Inter, lalu Napoli, baru Lazio.

Ini berarti mereka adalah tim tradisional. Klub yang memiliki tradisi juara. Sehingga setiap perjumpaan mereka, selalu mempertaruhkan prestise tersendiri.

Jadwal mereka di pekan ketiga ini juga seru, terutama buat Napoli dan Inter yang mampu memetik dua kemenangan di dua pekan awal. Sebaliknya Juventus sebagai juara bertahan, di pekan kedua ditahan AS Roma 2-2, Lazio malah kalah dari Atalanta BC 1-4.

Big match pekan ketiga antara Lazio melawan Inter akan digelar pada Minggu 4 Oktober 2020. Mulai pukul 20.00 WIB, atau sore waktu setempat. Bertempat di Stadion Olimpico, Roma.

Sedangkan pertandingan antara Juventus melawan Napoli di Turin, diselenggarakan pada Minggu 4 Oktober 2020 malam waktu setempat, atau Senin dini hari WIB, tepatnya mulai pukul 01.45 WIB.

Menarik untuk dikupas bagaimana kesiapan empat tim ini untuk menghadapi pekan menantang nanti. Mulai bagaimana komposisi pemain yang akan diturunkan, sampai kondisi terbaru skuat mereka jelang partai krusial tersebut.

Lazio VS Inter, Lupakan Kekalahan

Musim kemarin dalam kesempatan pertama era Antonio Conte, Inter berhasil membukukan start positif. Menyapu tiga pertandingan awal dengan kemenangan. Musim ini pada second change, apakah Conte mampu mengulang perjalanan lalu?

Melihat lawan yang akan dihadapi, tantangan Inter tidak mudah. Apalagi Lazio akan bermain di kandang. Meski laga nanti masih tetap tanpa penonton, aura Olimpico tetap memberi nilai tambah buat Lazio.

Namun sejarah tidak memberi efek besar. Semua tergantung kesiapan di lapangan. Baik, Lazio maupun Inter pasti sudah menyusun taktik dan strategi, demi mengamankan tiga poin. Terutama Lazio untuk menebus poin yang hilang, saat kalah dari Atalanta di pekan kedua kemarin.

Pelatih Lazio, Simone Inzaghi. Foto: twitter.com/SSLazioEN

 

Lazio sebagai tuan rumah sudah pasti mentalnya harus sudah bangkit dari kekalahan melawan Atalanta. Hasil minor kemarin itu membuat Lazio tertahan di papan tengah. Walaupun baru main dua kali, tetap ini harus diwaspadai.

Allenatore Simone Inzaghi perlu menyakinkan para pemainnya, bahwa hasil di kandang saat menjamu Atalanta sudah selesai. Tidak perlu diungkit lagi. Meski dalam pertandingan itu permainan I Biancocelesti bisa dikatakan amburadul.

Sebetulnya Simone Inzaghi sadar tiga pertandingan di awal musim ini penuh risiko. Karena pekan kedua harus menghadapi Atalanta--liliput yang sedang bertransformasi menjadi raksasa-lantas disambung melawan Inter, runner-up Serie A musim kemarin.

"Akan sangat membantu jika kami tidak punya Atalanta dan Inter di dua dari tiga laga pertama musim ini," kata Simone Inzaghi, dikutip dari laman resmi klub.

Main Aman

Dalam dua pertandingan kemarin sebenarnya tidak ada yang salah dengan Lazio. Komposisi pemain tidak banyak berubah dari musim kemarin, yang kembali membuahkan hasil lolos ke Liga Champions.

Formasi Simone Inzaghi juga masih 3-5-2. Berhasil di pertandingan pertama di kandang Cagliari dengan memetik kemenangan 2-0, tapi zonk saat menjamu Atalanta.

Barangkali Lazio hanya sedang tidak dalam performa terbaik ketika menyerah dari Atalanta. Terutama performa lini depan, walaupun di sana ada Ciro Immobile, top scorer Serie A dan kompetisi papan atas Eropa musim kemarin.

Hanya tiga gol dalam dua pertandingan, merupakan jumlah yang minim. Oleh karena itu Simone Inzaghi harus membuat lini depan lebih bergigi untuk menghadapi Inter. Dengan catatan lini tengah tetap liat, begitu pula lapangan belakang kudu solid.

Diprediksi Simone Inzaghi belum mengubah komposisi dan formasi pemain, seperti ketika melawan Atalanta, untuk nanti menghadapi Inter. Formasi masih 3-5-2 dan starter Thomas Strakosha sebagai kiper, tiga bek Patric, Francesco Acerbi, dan Stefan Radu. Lalu dua flank ditempati Manuel Lazzari di kanan dan Adam Marusic di kiri. Tiga pemain di lapangan tengah adalah Sergej Milinkovic Savic, Lucas Leiva, dan Luis Alberto. Disambung dua pemain depan Felipe Caicedo dan Ciro Immobile.

Misalnya bikin perubahan, Simone Inzaghi mungkin hanya menukar Felipe Caicedo dengan Joaquin Correa. Rotasi lini depan ini untuk bisa mendapatkan tandem yang ideal buat Ciro Immobile. Untuk pos kiper, belakang, sampai tengah terlalu riskan kalau mengubah situasi yang ada, karena ini baru di pekan-pekan awal, sehingga butuh main dengan tidak sering mengubah-ubah komposisi starter.

 

Selebrasi gol Inter ke gawang Benevento. Foto: Inter.it

 

Beralih ke Inter. Mereka sudah dapat momentum bagus. Dua kemenangan di awal kompetisi, membuat kepercayaan diri meningkat. Beredar di papan atas dengan dua kemenangan alias 6 poin, Inter memenuhi semua syarat untuk gas pol di pekan ketiga. Tidak peduli dijalani di kandang Lazio. Apalagi tuan rumah sedang limbung, karena kekalahan di laga sebelumnya.

Kenapa Inter perlu gas pol di pertandingan melawan Lazio, dengan bermain terbuka dan memutar mesin menyerang lebih cepat? Karena Inter punya banyak opsi pemain tipe menyerang. Sayang kalau tidak dimanfaatkan secara maksimal. Momentumnya juga sedang bagus, karena dalam dua pertandingan awal, melawan Fiorentina dan Benevento, Inter sudah memproduksi 9 gol (terbanyak hingga pekan kedua).

Antonio Conte tinggal menjaga hawa panas dalam skuatnya, supaya bisa langsung tancap gas sejak menit pertama di Stadion Olimpico. Terlebih Inter belum punya banyak jadwal di kompetisi lain, misalnya Coppa Italia atau Liga Champions. Jadi sekarang waktunya untuk terus mendulang kemenangan.

Achraf Hakimi, Arturo Vidal, Ashley Young, Romelu Lukaku, sampai Alexis Sanchez siap selama 90 menit meneror pertahanan Lazio. Diyakini Inter bisa mencetak lebih dari 2 gol dalam pertandingan nanti, kalau melihat-lihat nama-nama itu sedang on fire itu.

Juventus vs Napoli, Uji Konsistensi

MUSIM kemarin Napoli "lupa" menjadi pesaing terbesar Juventus, seperti musim-musim sebelumnya. Napoli sibuk dengan transformasi dari Maurizio Sarri ke Carlo Ancelotti, yang akhirnya di tengah jalan diganti Gennaro Gattuso. Akibatnya Napoli belum menemukan jati diri yang pas. Hasilnya Napoli finis di posisi ketujuh, tapi beruntung masih lolos ke Liga Eropa.

 

Cristiano Ronaldo – Foto: juventus.com

 

Tapi musim ini isyarat Napoli bangkit menjadi penantang serius dalam perburuan scudetto sepertinya mulai terlihat. Sekarang ini Napoli adalah pemuncak klasemen sementara. Bersama-sama empat tim lainnya, yaitu Atalanta, Inter, AC Milan, dan Hellas Verona, yang mengumpulkan 6 poin. Namun Napoli ada di puncak karena mampu mencetak 8 gol, tanpa kebobolan.

Maka itu pertandingan menghadapi Juventus bakal seru. Sebab, Juventus sedang mengalami start kurang maksimal. Dua pertandingan baru dapat 4 poin. Hasil menang atas Sampdoria, lalu seri di kandang AS Roma.

Pertandingan nanti memang akan berlangsung di Turin, markas besar Juventus. Tapi Napoli tidak surut. Mereka siap memberi perlawanan maksimal.

Lalu bagaimana dengan Juventus? Yang masih beradaptasi dengan Andrea Pirlo sebagai juru taktik baru.

Buat driver baru hasil dua pertandingan, menang dan seri, memang tidak buruk-buruk amat. Hanya karena mobil yang dikemudikan ini adalah Juventus, seharusnya bisa langsung tancap gas dengan menyapu dua kemenangan. Tidak peduli di mana bermain dan menghadapi siapa.

 

Latihan Juventus – Foto: juventus.com

 

Hasil menang dan seri dalam dua pertandingan awal, tidak layak untuk menyebut Juventus dalam kondisi krisis. Juventus pernah lebih parah lagi, ketika dalam dua pertandingan awal musim selalu kalah. Itu terjadi pada musim 2015/2016, saat kalah beruntun dari Udinese dan AS Roma. Tapi setelah itu juga aman, dominasi terus berlanjut dan di akhir musim tetap Juventus juaranya. Dari 2010/2011 sampai musim kemarin.

Ya begitulah Juventus. Raja Italia. Mau susah seperti apapun di awal musim, di akhir selalu menjadi juara. Setidaknya seperti itu yang terjadi sejak 2010/2011, ketika dominasi Juventus tidak pernah putus menjadi juara.

Jadi Andrea Pirlo dan pasukannya jangan berpikir sedang goyah. Pahami saja 4 poin yang baru didapat sekarang ini, semata karena adaptasi. Dari sistem permainan Sarriball ke Andrea Pirlo. Yang penting Juventus belum kalah dan perjalanan kompetisi masih jauh.

Dengan tidak berpikir sedang goyah, konsentrasi dan kepercayaan diri Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan tetap terjaga. Sebab, secara kemampuan individu dan soliditas bermain tim, Juventus tidak ada bandingnya. Siapapun pelatihnya, dengan materi pemain seperti itu, peluang menjadi juara sangat terbuka.

Dan, sepertinya skuat Juventus juga tidak gemetar. Mereka diyakini menjamu Napoli dengan penuh suka cita dan kepercayaan diri tinggi. Bermain normal, menyerang, dan kuat dalam bertahan. Di atas kertas Juventus sepertinya diunggulkan bisa mengalahkan Napoli.

 

Latihan Napoli – Foto: sscnapoli.it

 

Sekarang bagaimana dengan Napoli? Torehan dua pertadingan dengan kemenangan, memang pencapaian top. Tapi Napoli tetap harus berhati-hati. Jangan sampai pikirannya sudah melayang-layang ke angkasa. Ingat, kompetisi baru jalan dua pekan.

Napoli perlu tetap kalem. Termasuk saat tandang ke kandang Juventus. Barisan pemain Napoli fokus saja ke lapangan. Menjalani menit demi menit dengan penampilan tenang. Menjaga keseimbangan dari lini belakang, tengah, dan depan.

Gennaro Gattuso sebagai juru taktik sudah belajar dari kejadian musim kemarin. Ketika tidak satupun kemenangan didapat di kandang Juventus. Oleh karena itu Napoli lebih baik tetap memainkan sepak bola menyerang, dengan menjaga konsentrasi saat dibombardir para pemain Juventus.

Formasi 4-2-3-1 yang dihamparkan Gennaro Gattuso, tampaknya akan dipertahankan. Dua bek tengah Kostas Manolas dan Kalidou Koulibaly menjadi jaminan mutu. Ditambah dengan lapangan tengah yang sabar memainkan bola, rasanya minimal satu poin bisa dibawa pulang ke Naples. Kondisi mereka dalam posisi 100 persen untuk bertarung di Turin.

Pelukan Dua Sahabat

Terlepas dari kesiapan taktik dan strategi Juventus vs Napoli, pertemuan nanti adalah reuni dua sahabat. Seperti kita tahu Andrea Pirlo dan Gennaro Gattuso adalah bagian dari skuat juara AC Milan, ketika merajai Eropa pada 2003 dan 2007, dengan gelar Liga Champions.

Hubungan antara Andrea Pirlo dan Gennaro Gattuso begitu lekat. Bahkan mereka lebih dari sekadar sahabat. Mungkin diantara mereka sudah tahu apa yang ada pikiran masing-masing jelang bentrokan nanti.

Jadi selain mempersiapkan skuat mereka dengan maksimal, Andrea Pirlo dan Gennaro Gattuso barangkali telah merencanakan makan malam bersama selepas pertandingan. Membicarakan hasil pertandingan sambil tertawa bersenda gurau.

Dan, ya pada akhirnya pertandingan nanti tidak ubahnya seperti pelukan diantara dua sahabat. Hanya bersaing dalam 90 menit.

SAMPAIKAN KOMENTAR