Most Improved Head Coach di 5 Liga Top Eropa 2020/21
11
Jan
2021
0 Comment Share Likes 91 View

Liga-liga top Eropa sudah memasuki pertengahan musim. Perlahan, beberapa kompetisi sudah mulai memperlihatkan peta kekuatan dari masing-masing kontestan. Ada beberapa tim yang konsisten meraih hasil maksimal sejak musim lalu, ada juga yang cenderung stagnan bahkan mengalami penurunan performa.

Faktor pandemi Covid-19 tentu sangat mempengaruhi penampilan tim. Beberapa tim harus kehilangan pemain kuncinya di laga penting akibat infeksi virus corona. Beberapa tim lain kesulitan untuk memperkuat kedalaman skuadnya akibat persoalan finansial klub selama pandemi. Bisa dibilang musim 2020/21 ini tidak mudah bagi banyak pelatih di hampir seluruh kesebelasan.

Meski demikian, ada beberapa pelatih yang sukses meraih hasil impresif di paruh musim pertama pada edisi 2020/21. Beberapa nama berikut sukses meningkatkan performa timnya untuk meraih hasil maksimal dan bersaing di papan atas. Siapa saja mereka?

Stefano Pioli (AC Milan)

Pada 9 Oktober 2019 lalu, Stefano Pioli resmi ditunjuk sebagai kepala pelatih AC Milan. Eks manajer Fiorentina tersebut menggantikan posisi Marco Giampaolo. Nama terakhir harus diputus kontraknya oleh AC Milan setelah kalah 4 kali dari 7 laga awal musim. Tugas berat menanti Pioli untuk mengembalikan AC Milan kembali menjadi klub besar. Tantangan lain bagi Pioli kala itu adalah penolakan dari kalangan suporter serta beberapa pembelian baru yang belum nyetel dengan taktik Giampaolo.

Tak disangka, Pioli justru sukses membawa Rossoneri melejit dengan cepat. Di musim pertamanya ia mampu membawa Milan lolos ke kompetisi Eropa sekaligus mencapai semifinal Coppa Italia. Di musim kedua, prestasinya semakin mengkilap. Il Diavolo Rosso sejauh ini memuncaki klasemen sementara Serie A. Bahkan sebelum dikalahkan Juventus tengah pekan lalu, AC Milan menjadi satu-satunya klub di 5 liga top Eropa yang belum terkalahkan di kompetisi domestik.

Pioli dan Ibrahimovic menjadi aktor kunci kebangkitan Milan musim ini (foto: Goal)

 

Kunci dari kesuksesan Pioli tidak bisa dilepaskan dari kemampuan taktikalnya. Tanpa mengandalkan set play yang spesifik dan rumit, Pioli berhasil menciptakan sistem penyerangan yang cair dan tidak mudah ditebak dalam pakem 4-2-3-1 miliknya. Pioli juga bisa mengeluarkan kemampuan terbaik dari para pemainnya. Zlatan Ibrahimovic, penyerang senior berusia 39 tahun berhasil disulap pioli menjadi salah satu pencetak gol paling produktif di Eropa. Alexis Saelmaekers, sayap muda asal Belgia yang relatif belum banyak dikenal menjadi nama lain yang menemukan potensinya. Ante Rebić, Hakan Çalhanoğlu, dan Simon Kjær juga mengalami renaissance dalam karir mereka usai dipoles Pioli. Begitu juga dengan Franck Kessié dan Ismaël Bennacer yang menjelma menjadi metronom utama di lini tengah.

Dean Smith (Aston Villa)

Musim lalu, Aston Villa yang baru promosi kembali ke Liga Primer nyaris kembali turun kasta. Jack Grealish dkk harus benar-benar bertarung hingga pekan terakhir untuk memastikan diri bertahan di Liga Primer usai menahan imbang West Ham.

Peruntungan The Villans berubah 180 derajat di musim ini. Hingga pekan ke-17 mereka bertengger di posisi delapan dengan 26 poin. Meski begitu, mereka masih menyimpan dua pertandingan tambahan. Andai memenangi dua laga tersebut, mereka bisa naik ke posisi tiga klasemen sementara.

Mengusung sepakbola menyerang, Villa beberapa kali meraih hasil optimal musim ini. Yang paling fenomenal tentu ketika membantai Liverpool dan Arsenal dengan skor masing-masing 7-2 dan 3-0. Mengandalkan kuartet Jack Grealish, Anwar El-Ghazi, Bertrand Traoré, dan Ollie Watkins, Smith menciptakan lini depan yang cair, kreatif, dan produktif.

 

Dean Smith menunjukkan kemajuan yang pesat bersama skuad Aston Villa (foto: Express.co.uk)

 

Gaya menyerang Villa sangat terefleksi di beberapa catatan statistik. Misalnya pada metrik expected goals (xG) yang berasal dari tembakan non-penalti, mereka menempati urutan ke-4 di bawah Liverpool, Chelsea, dan Leeds United. Mereka juga menjadi tim yang paling banyak melakukan aksi yang berujung tembakan (shot creating actions) yaitu sebanyak 410 atau 27,33 di setiap laganya.

Unai Emery (Villarreal)

Dipecat dari Arsenal pada musim dingin 2019 lalu, Unai Emery kini justru sedang memulai kembali masa-masa indahnya sebagai pelatih. Villarreal, tim asuhan Emery, kini menempati urutan keempat klasemen sementara La Liga. Catatan impresif lainnya, Villareal baru dua kali menelan kekalahan. Jumlahnya lebih sedikit dari duo raksasa Real Madrid dan Barcelona serta hanya kalah dari Atletico Madrid.

Unai Emery ‘menemukan dirinya kembali’ di Villarreal (foto: The Athletic)

 

Di tim yang bermarkas di Estadio La Cerámica tersebut, Emery membawa konsep positional play dengan sistem dan struktur yang rigid. Emery menginstruksikan anak asuhnya untuk banyak membangun serangan dari bawah. Melalui permainan posisional, Villarreal mampu menemukan progresi serangan yang bersih untuk menciptakan peluang berbahaya. Sistem permainan Emery tersebut mampu membuat para pemain Villarreal tampil optimal. Gerard Moreno, penyerang utama Kapal Selam Kuning tersebut saat ini menjadi pencetak gol terbanyak La Liga dengan 9 gol. Koleksinya setara dengan beberapa penyerang papan atas lainnya, seperti Luis Suárez, Lionel Messi, dan Iago Aspas.

Urs Fischer (1 FC Union Berlin)

Nama Union Berlin bukanlah kesebelasan yang mentereng di Bundesliga. Bahkan di level kota Berlin sendiri, nama mereka masih kalah tenar dengan rival sekotanya, Hertha. Akan tetapi, di musim 2020/21 mereka justru mampu mengangkangi rivalnya tersebut dan duduk di peringkat 5 klasemen sementara Bundesliga. Nama Urs Fischer patut diberi kredit lebih untuk pencapaian tim yang bermarkas di Stadion An der Alten Försterei tersebut.

Mampukah Urs Fischer membuat keajaiban berikutnya di Berlin? (foto: Union Berlin)

 

Prestasi tersebut tentu sangat fenomenal. Semusim setelah ditunjuk pada 2018, Fischer membawa Union promosi untuk kali pertama ke level tertinggi sepakbola Jerman tersebut pada via jalur playoff. Di musim pertama berkiprah di Bundesliga, tidak banyak yang memprediksi mereka akan bertahan. Akan tetapi, secara mengejutkan mereka mampu lolos dari degradasi. Bahkan Union sukses bercokol di papan tengah. Union mengakhiri musim di peringkat 11 dengan koleksi 41 poin, sama dengan Hertha.

Di musim ini, mereka berada di posisi ke-5 setelah 14 pertandingan dengan rekor 6 kali menang, 6 imbang, dan hanya 2 kali kalah. Union juga beberapa kali mendapatkan hasil impresif kala menghadapi tim-tim papan atas. Max Kruse dkk sukses mencuri angka dari Bayern München dan Borussia Mönchengladbach serta mengalahkan Borussia Dortmund.

Ralph Hasenhüttl (Southampton)

Ketika Southampton kalah telak 0-9 dari Leicester pada Oktober 2019 lalu, tidak sedikit yang menganggap bahwa masa Ralph Hasenhüttl bersama The Saints bakal segera berakhir. Selain karena kekalahan telak dan memalukan di kandang sendiri, kekalahan tersebut juga membuat Southampton terjerembab di jurang degradasi. Akan tetapi, manajemen The Saints bergeming dan memberikan Hasenhüttl kesempatan lebih banyak.

Berselang 13 bulan kemudian, gol tunggal dari Danny Ings membawa Southampton mengalahkan juara bertahan Liverpool di St. Mary’s. Kemenangan tersebut membawa Southampton duduk di posisi 6 besar klasemen sementara Liga Primer Inggris. Kemenangan tersebut dirayakan dengan emosional oleh sang bos asal Austria tersebut mengingat seberapa jauh perjalanan mereka sejak menjadi bulan-bulanan oleh Leicester.

Selebrasi emosional Hasenhüttl usai mengalahkan Liverpool (foto: Planet Football)

 

Hasenhüttl sendiri membawa permainan vertikal dengan intensitas pressing tinggi yang menjadi ciri khasnya ketika melatih Southampton. Gaya tersebut sudah lama ia terapkan ketika melatih RB Leipzig di Jerman. Saat ini, Southampton merupakan tim dengan jumlah pressing keempat terbanyak di ⅓ akhir lapangan, yaitu 530. Mereka juga menjadi salah satu tim dengan pressing paling efektif dengan catatan keberhasilan pressing di angka 32,4%. Salah satu kunci sukses Hasenhüttl menerapkan gaya main tersebut di pantai selatan Inggris adalah metode latihannya. Hasenhüttl melakukan otomatisasi terhadap beberapa aspek, seperti pressing trigger sehingga para pemainnya sudah hafal momen-momen untuk melakukan pressing serta cara mengeksekusinya.

SAMPAIKAN KOMENTAR