Misi Capolista di Derby Della Madonnina
21
Feb
2021
0 Comment Share Likes 117 View

Derby Kota Milan selalu memberikan nuansa persaingan tersendiri. Edisi ke-228 akhir pekan nanti akan membawa tajuk perebutan pimpinan klasemen. Laga di San Siro pada Minggu (21/2) mendatang menjadi laga wajib menang bagi AC Milan dan Internazionale.

Saling susul di klasemen

Serie A musim ini menjadi panggung bagi Milan dan Inter. Juventus yang sedang mengalami ‘masa transisi’ belum begitu konsisten seperti musim-musim sebelumnya. Hingga pekan 22, dua klub asal Milan tersebut setidaknya bisa mengambil keuntungan dari performa rival mereka untuk memimpin klasemen sementara.

Pertarungan merebut pimpinan klasemen akan menjadi headline utama laga kali ini. Kemenangan 3-1 Inter atas Lazio pekan lalu mampu membuat mereka menyalip Milan, yang takluk 0-2 dari Spezia. Inter kini memimpin klasemen dengan 50 angka, unggul tipis satu poin dari Milan. Dengan liga yang masih menyisakan 16 pertandingan, tentu apapun bisa terjadi.

Satu hal lain yang membuat pertandingan ini bisa semakin menarik adalah dari sisi sejarah. Terakhir kali Inter dan Milan bersaing memperebutkan pucuk klasemen dalam laga derby adalah pada April 2011 silam. Momen satu dekade lalu tersebut berakhir manis bagi kubu Merah-Hitam, di mana mereka berhasil memenangi laga dengan skor 3-0 dan dinobatkan sebagai juara di akhir musim.

Pertemuan dengan rival langsung dalam perburuan gelar tentu memiliki signifikansi lebih. Kemenangan atas rival berarti tambahan angka bagi sang pemenang dan kehilangan poin bagi pihak lawan. Dalam kompetisi yang sangat ketat, margin sekecil apapun bisa sangat berpengaruh. Fakta ini tak pelak memberikan bumbu tersendiri dalam persaingan keduanya.

Asa La Beneamata meraih gelar

Gagal total di Liga Champions serta tersingkir di semifinal Coppa Italia, kompetisi liga menjadi satu-satunya harapan Inter memenangi trofi musim ini. Inter memang sejak awal dibebani target tinggi untuk meraih scudetto. Investasi besar dengan mendatangkan pemain-pemain bintang dan pelatih berpengalaman diharapkan dapat mengakhiri puasa gelar liga selama satu dekade. Setelah gagal di musim lalu, musim ini menjadi momen wajib bagi Inter untuk meraih trofi. Apalagi dengan kondisi rival terbesar yang sedang timpang.

Kekalahan AC Milan pekan lalu bisa direspon positif oleh Inter. Tampil 24 jam setelahnya, Inter sukses menaklukan Lazio dengan skor 3-1. Mentalitas tersebut wajib mereka bawa menghadapi laga derby nanti.

 

Penampilan dan Mentalitas seperti ketika menghadapi Lazio wajib diteruskan Inter (sumber foto: Goal)

 

Menghadapi laga ini, Inter sedikit diuntungkan dengan tersingkirnya mereka dari kompetisi Eropa. Romelu Lukaku dkk memiliki waktu istirahat satu pekan penuh sejak laga melawan Lazio. Dengan masa recovery yang lebih lama, fisik dan mental punggawa Nerazzurri tentu lebih prima. Dari sisi kelengkapan personil, hanya Arturo Vidal dan Matías Vecino yang sedikit meragukan.

Milan pantang terpeleset lagi

Milan cukup lama menguasai klasemen. Performa impresif mereka sepanjang tahun 2020 berhasil diteruskan. I Rossoneri bahkan sempat mencatatkan 27 laga tanpa terkalahkan sebelum tumbang dari Juventus pada Januari lalu. Meski begitu AC Milan masih sempat mempertahankan posisi puncak klasemen hingga giornata 22.

Sayangnya meski sempat memimpin klasemen cukup lama, Milan akhirnya lengser pada pekan lalu usai takluk di kandang Spezia. Sebelumnya Milan juga secara mengejutkan dikalahkan Atalanta 0-3 di San Siro. Dua kekalahan tersebut menjadi momen kunci di mana rival di bawahnya bisa menyalip puncak klasemen.

Milan pantang terpeleset lagi seperti ketika menghadapi Atalanta dan Spezia (sumber foto: Goal)

 

Menghadapi Inter, tentu Milan pantang untuk terpeleset lagi. Kekalahan akan memperlebar jarak ketertinggalan dari rival sekotanya tersebut. Sebaliknya, keberhasilan meraih angka akan mengembalikan mereka ke puncak klasemen

Kabar baiknya, Milan bisa menurunkan kekuatan terbaiknya. Setelah sempat berkutat dengan badai cedera pada awal tahun ini, pemain-pemain yang menjadi pilar Milan perlahan pulih dan mulai bermain penuh seperti biasanya. Sudah dua pekan ini Ismaël Bennacer, Simon Kjær, dan Hakan Çalhanoğlu sudah bermain reguler.

Kendala terbesar adalah dari sisi kebugaran. Tiga hari sebelum laga, Milan mesti melawat ke Belgrade, Serbia, untuk menjalani leg pertama babak 32 Besar Liga Europa. Menghadapi Crvena Zvezda, Milan bermain imbang 2-2. Meski begitu, beberapa pemain kunci diistirahatkan di laga tersebut. Fokus Milan nampaknya sudah terkunci di laga melawan Inter.

Prediksi jalannya pertandingan: Milan agresif, tapi Inter cukup solid

Musim ini keduanya sudah bertemu dua kali. Milan memenangi pertemuan pertama di ajang Serie A, sementara Inter ganti membalasnya di babak perempat final Coppa Italia. Pertemuan ketiga kali ini rasanya akan kembali mempertontonkan adu taktik yang hampir sama.

Milan yang butuh kemenangan untuk merebut kembali pimpinan klasemen, kemungkinan akan tampil lebih agresif. Zlatan Ibrahimović dkk akan banyak tampil proaktif untuk menguasai bola. Tak hanya itu, mereka juga identik dengan permainan menekan yang intens ketika lawan menguasai bola. Di momen transisi, mereka akan cepat dalam melakukan serangan balik untuk sesegera mungkin mencetak gol.

Bermain konstruktif dari bawah menjadi ciri khas Milan. Tidak identik dengan set-play yang baku, Milan arahan Pioli justru kerap membangun serangan dengan cair. Rotasi antar gelandang serang, pemain sayap, dan penyerang mampu memberikan dimensi serangan yang berbeda.

Mekanisme ini menjadi penting untuk digunakan mengingat ketatnya blok pertahanan Inter. Jika Inter bertahan dengan blok menengah, maka proses bangun serangan di bawah tidak begitu bermasalah. Tantangan besar bagi Milan adalah dalam proses penciptaan peluang di ⅓ akhir. Blok lima bek Inter menjadi tembok yang harus ditembus Milan.

Dinamika antar pemain depan tersebut menjadi kunci penting untuk merusak blok pertahanan lawan. Gerak turun penyerang ke ruang antar lini yang dibarengi dengan gerak vertikal pemain sayap bisa dilakukan dengan intens. Rotasi antar pemain depan juga bisa membantu Milan menciptakan situasi overload.

Di bawah, Milan bisa menciptakan struktur berlian untuk menciptakan situasi unggul jumlah melawan dua penyerang Inter. Untuk mencegah gelandang Inter untuk ikut naik melakukan pressing, pemain depan bisa turun di ruang antar lini sekaligus sesekali melakukan support bagi pembawa bola. Dua bek sayap dengan struktur yang aman di bawah bisa naik lebih tinggi untuk mengikat wing back lawan.

Contoh bentuk build-up Milan untuk menghadapi blok pertahanan Inter (sumber: olahan Intersport)

 

Pressing ketat juga menjadi andalan armada Stefano Pioli. Di pertemuan pertama yang berhasil dengan kemenangan Milan, penggunaan taktik pressing terbukti jitu dan jadi salah satu rahasia kemenangan mereka. I Rossoneri tidak ragu untuk mengimbangi jumlah build-up Inter dan memaksakan penjagaan man-oriented. Hal itu tentu menyulitkan bangun serangan Inter.

Merespon hal tersebut, Inter memiliki beberapa mekanisme untuk variasi bangun serangannya. Pertama adalah menciptakan overload lewat penjaga gawang untuk menciptakan situasi menang jumlah. Keberadaan salah satu gelandang untuk turun juga bisa menjadi solusi. Adanya situasi menang jumlah bisa menciptakan decisional crisis bagi lini pressing Milan. Apabila ia tidak naik menekan, lawan bisa memainkan bola dengan aman. Akan tetapi dengan semakin banyaknya pemain di atas, risiko kecolongan di bawah juga semakin besar. Terlebih dengan keberadaan Romelu Lukaku yang memiliki kemampuan menahan bola dengan baik bisa menjadi solusi Inter untuk melakukan build-up lewat umpan vertikal.

Solusi Inter untuk menghadapi pressing Milan  (sumber: olahan Intersport)

 

Prediksi susunan pemain

AC Milan (4-2-3-1): Gianluigi Donnarumma, Davide Calabria, Simon Kjaer, Alessio Romagnoli, Theo Hernández, Franck Kessié, Ismaël Bennacer, Alexis Saelemaekers, Hakan Çalhanoğlu, Rafael Leão, Zlatan Ibrahimović.

Internazionale (3-5-2): Samir Handanović, Milan Škriniar, Stefan De Vrij, Alessandro Bastoni, Achraf Hakimi, Nicolo Barella, Marcelo Brozović, Christian Eriksen, Ivan Perišić, Romelu Lukaku, Lautaro Martínez.

Laga antara rival sekota berpotensi menghadirkan pertarungan yang panas. Apalagi menyangkut perburuan gelar seperti sekarang. Bagi penonton umum laga ini rasanya sayang untuk dilewatkan.

Inter memiliki keuntungan secara jadwal. Menurunkan pemain yang lebih fresh menjadi keuntungan tersendiri. Kemenangan tipis rasanya bisa dipetik oleh anak asuh Antonio Conte. Kalaupun ternyata Milan ngotot untuk bermain lebih agresif, rasa-rasanya Inter bisa memaksakan hasil seri. Setuju, Pria Intersport?

SAMPAIKAN KOMENTAR