Milan vs Juventus: Ajang Pembuktian Dominasi I Rossoneri sebagai Kandidat Juara
06
Jan
2021
0 Comment Share Likes 122 View

Laga grande partita akan tersaji di giornata 16 Serie A pada Kamis dini hari nanti Waktu Indonesia Barat. Pimpinan klasemen sekaligus salah satu kandidat utama peraih scudetto musim ini, AC Milan akan berhadapan dengan juara bertahan, Juventus. Bagi Milan, laga ini bisa menjadi pembuktian kelayakan mereka sebagai kandidat juara. Di sisi lain, Juventus yang masih tercecer di peringkat 6 tentu ingin sesegera mungkin kembali ke jalur perebutan juara. Stadion San Siro akan menghelat laga yang diyakini bisa menentukan arah perburuan titel Serie A musim ini.

Milan: Kandidat Scudetto?

Musim ini bisa dikatakan sebagai renaissance bagi AC Milan. Setelah bertahun-tahun menjadi klub yang cenderung biasa-biasa saja bahkan terkesan medioker, Milan kini berada di puncak klasemen tanpa sekalipun mengalami kekalahan. Banyak yang kemudian menjagokan I Rossoneri untuk menjuarai Serie A musim ini.

Momennya bisa dikatakan tepat. Selain penampilan mereka yang membaik, beberapa pesaing berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Lawan mereka berikutnya Juventus, yang merupakan juara liga selama sembilan tahun terakhir saat ini masih berada di fase transisi. Si Nyonya Tua secara mengejutkan menunjuk eks pemainnya, Andrea Pirlo sebagai pelatih kepala. Pirlo yang baru berpengalaman melatih tim U-23 masih menunjukkan performa yang naik turun. Pesaing lain, seperti Napoli dan Atalanta juga sempat tertatih-tatih dan belum menemukan konsistensi sebaik Milan.

Pertandingan melawan Juve nanti bisa menjadi pembuktian Milan sebagai kandidat scudetto. Meraih kemenangan atas salah satu rival utama perebutan gelar bisa memberikan dorongan yang signifikan bagi Milan, baik secara moril maupun perolehan angka di klasemen. Tidak mengherankan juga kalau pertandingan nanti bisa menjadi salah satu momen penentu perburuan gelar. Di sisi lain, Milan saat ini hanya berjarak satu angka dari peringkat dua, Internazionale. Gagal meraih poin penuh bisa kembali menjadi sandungan bagi Milan yang 2 kali ditahan imbang di 5 laga terkini.

Juve Mencari Konsistensi

Penampilan Juve di Serie A musim ini jauh dari kata impresif seperti biasanya. Kehadiran Pirlo sebagai pelatih kepala memang menghadirkan dimensi permainan yang lebih segar setelah sebelumnya berada di rezim taktik yang cenderung kaku bersama Sarri. Sayangnya, hasil pertandingan belum begitu berpihak kepada tim asal Turin tersebut. Juve saat ini masih tertahan di peringkat ke-6, terpaut 10 angka dari Milan.

Sama seperti Milan, Juve sempat mengalami rentetan pertandingan tanpa terkalahkan. Akan tetapi, Juve juga kerap kehilangan poin dengan mudah. Beberapa kali Juve harus rela meraih hasil imbang, seperti ketika melawan juru kunci Crotone atau kebobolan di menit-menit akhir seperti di laga melawan Lazio. Koleksi enam kali hasil imbang yang diraih si Nyonya Tua merupakan yang terbanyak di liga bersama dengan Parma dan Fiorentina.

Juventus masih mencoba meraih hasil optimal di bawah Pirlo (foto: AS)

 

Sandungan-sandungan tersebut menghambat progres Juve di musim ini. Hasil imbang merugikan bagi mereka karena sebetulnya Juve hanya berjarak satu gol saja dari meraih angka penuh. Hal itu merupakan catatan yang kurang baik bagi kaliber lini serang Juve yang dihuni nama-nama top seperti Cristiano Ronaldo, Paulo Dybala, Álvaro Morata, Federico Chiesa, dan Dejan Kulusevski.

Menghadapi Milan, Juve wajib berbenah. Catatan positif terlihat di pekan terakhir. Pasca kekalahan mengejutkan 0-3 dari Fiorentina, Juve berhasil menggasak Udinese dengan skor telak 4-1. Ketajaman lini serang mutlak dibutuhkan untuk meraih angka melawan Milan.

Badai Cedera Kedua Tim

Memburu hasil maksimal di pertandingan ini, kedua tim harus berurusan dengan absennya beberapa pemain. Kekuatan utama masing-masing kesebelasan dipastikan berkurang dan memberikan pekerjaan tambahan bagi pelatih untuk menyiasatinya.

Di kubu tuan rumah, kepastian bomber andalan mereka, Zlatan Ibrahimović, untuk bermain masih abu-abu. Ibra mengalami cedera sejak bulan lalu dan belum bisa dipastikan fit 100 persen untuk laga ini. Ada kemungkinan penyerang gaek asal Swedia itu tampil setelah mengunggah video sedang berlatih di laman Instagram pribadinya. Meski demikian, Pioli menyatakan bahwa ia tidak akan memaksakan Ibra kembali ke lapangan sebelum benar-benar pulih. Ibra sendiri merupakan pemain kunci Milan, mencetak 10 gol di 6 laga awal Serie A.

Absennya Ibra bisa menjadi pukulan bagi Milan (foto: Goal)

 

Selain Ibra, Milan juga kehilangan Matteo Gabbia di lini belakang akibat cedera. Di lini tengah Milan dipastikan tampil tanpa Sandro Tonali yang menjalani skorsing serta Ismaël Bennacer dan Alexis Saelemaekers yang mengalami cedera.

Rafael Leão atau Ante Rebić kemungkinan bakal menggantikan peran Ibra di lini depan. Sementara Rade Krunić kemungkinan bakal berduet dengan Franck Kessié di lini tengah. Kabar baik bagi Milan adalah bek kiri Theo Hernández yang sudah fit dan dipastikan bisa bermain.

Juventus juga harus tampil tanpa beberapa pemain intinya. Alex Sandro dipastikan menepi usai dinyatakan positif terjangkit Covid-19. Penyerang utama, Álvaro Morata juga dipastikan absen lantaran mengalami cedera pada sesi latihan beberapa pekan lalu. Absennya dua pemain ini bisa jadi tidak terlalu banyak mengganggu kesiapan skuat Juventus. Gianluca Frabotta dan Paulo Dybala siap mengisi posisi keduanya. Kembalinya Adrien Rabiot dan Juan Cuadrado dari masa hukuman juga bisa menjadi tambahan angin segar bagi I Bianconeri.

Fleksibilitas Serangan Pioli vs Permainan Posisional Pirlo

Laga ini juga akan menyajikan adu taktik yang menarik antara kedua pelatih yang mengusung gaya permainan menyerang. Stefano Pioli akan mengandalkan gaya serangan mereka yang cair dan fleksibel, sementara Andrea Pirlo menyajikan gaya menyerang yang mirip dengan prinsip permainan posisional.

Penyerangan Milan yang fleksibel menjadi salah satu rahasia kebangkitan mereka musim ini. Membangun serangan dari bawah, gelandang tengah akan memberikan support dan opsi progresi serangan yang bersih. Kehadiran gelandang bertahan di area yang lebih dalam memungkinkan bek sayap untuk tampil di area yang lebih tinggi. Di lini depan, fleksibilitas posisi pemain depan umumnya dapat menyulitkan lawan untuk melakukan pressing. Alhasil, lawan kerap meninggalkan pressing blok tingginya untuk berfokus di areanya sendiri. Milan pun kemudian menjadi lebih nyaman membangun serangan dari bawah dengan lancar.

Menghadapi Juve yang kerap melakukan tekanan sejak awal, pola tersebut bisa dipakai oleh Milan. Hakan Çalhanoğlu,  Brahim Díaz, dan Ante Rebić dapat menjadi motor serangan di ruang antarlini. Khusus  Çalhanoğlu, ia bisa turun ke lini tengah untuk memberikan opsi serangan. Gelandang Turki tersebut cukup andal dalam situasi ini. Apabila Leão dipasang sebagai penyerang tengah, ia harus bisa memerankan peran Ibra yang kerap turun ke antar lini untuk memberikan opsi serangan sekaligus membuka ruang bagi rekan-rekannya.

Kemungkinan build-up Milan untuk melewati pressing Juve (sumber: olahan Intersport)

 

Dari kubu Juve, gaya permainan menyerang yang dibawa Pirlo kurang lebih sama. Hanya saja, Pirlo lebih menekankan pada kedisiplinan posisional di mana pemain-pemain harus mengisi posisi-posisi tertentu untuk memberikan opsi serangan, merenggangkan pertahanan lawan, membuka ruang, serta mengantisipasi terjadinya transisi apabila Juve kehilangan bola.

Pirlo kerap menggunakan pola 2-3 atau 3-2 di awal build-up serangan untuk memberikan opsi diagonal bagi pemegang bola. Para pemain depan kerap diinstruksikan untuk mengisi ruang antar lini lawan dan memberikan tekanan bagi pertahanan lawan walaupun sedang tidak memegang bola. Meski disiplin secara posisional, Pirlo juga bisa tampil lebih cair dengan mengombinasikan umpan-umpan pendek dengan bola vertikal langsung ke lini depan.

Menghadapi Milan yang kerap melakukan pressing blok tinggi, okupasi pemain depan Juve di dalam blok pertahanan Milan menjadi krusial apabila ingin meraih hasil optimal. Di area bawah, progresi yang bersih dari pemain belakang dan gelandang mutlak dibutuhkan. Di area depan, dengan kualitas lini serang yang ada, Juve harus bisa memaksimalkan kemampuan pemain seperti Ronaldo atau Dybala di area sempit guna menciptakan peluang.

Struktur posisional Juve untuk menghadapi Milan: 3-2 (plus kiper) di bawah dengan opsi diagonal serta pemosisian penyerang di ruang antarlini (sumber: olahan Intersport)

 

Prediksi susunan line-up

Milan (4-2-3-1): Gianluigi Donnarumma; Davide Calabria, Simon Kjær, Alessio Romagnoli, Theo Hernandez; Rade Krunić, Franck Kessié; Brahim Díaz, Hakan Çalhanoğlu, dan Ante Rebić.

Juventus (3-4-1-2): Wojciech Szczęsny; Danilo, Leonardo Bonucci, Matthijs De Ligt; Federico Chiesa, Rodrigo Bentancur, Adrien Rabiot, Gianluca Frabotta; Aaron Ramsey; Paulo Dybala, Cristiano Ronaldo.

Melihat laga grande partita ini rasanya cukup sulit untuk menebak tim mana yang layak jadi pemenang. Namun, I Rossoneri boleh sedikit diunggulkan melihat performa dari tim ini sejak awal musim ini. Setidaknya I Rossoneri mampu menang dengan skor tipis 2-1. Setuju, Pria Intersport?

SAMPAIKAN KOMENTAR