Milan vs Atalanta: Dari Ambisi Baru I Rossoneri Hingga Misi La Dea Raih Poin Sempurna
22
Jan
2021
0 Comment Share Likes 163 View

Pada Desember 2019 lalu, AC Milan bertandang ke Bergamo untuk menghadapi Atalanta di lanjutan Serie A musim 2019/20. Pertandingan tersebut berakhir dengan hasil yang tidak ingin dikenang oleh Milan. I Rossoneri mengalami kekalahan telak 0-5 dari sang tuan rumah. Hasil tersebut juga menjadi kekalahan terbesar Milan di era kepelatihan Stefano Pioli.

Ketika ganti menjamu Atalanta di San Siro, Milan hanya mampu bermain imbang 1-1. Milan bahkan nyaris kalah apabila penalti Ruslan Malinovskiy bisa dikonversi menjadi gol. Rekor kurang baik tersebut masih menghantui Milan jelang pertemuan kedua tim di lanjutan Serie A musim ini. 

Meski demikian, secara posisi klasemen dan performa terkini, Milan jauh diunggulkan atas lawannya yang juga berasal dari Italia Utara tersebut. Kemenangan menjadi di target yang tidak bisa ditawar bagi Milan. Raihan tiga angka atas Atalanta di akhir pekan nanti bukan hanya sekedar membalas dendam, tetapi juga akan memperkokoh posisi mereka di puncak klasemen sementara.

Skuad Atalanta berpose usai kalahkan Milan 5-0 pada Desember 2019 lalul (foto:The Sun)

 

Lebih dari membalas catatan pertemuan Milan yang buruk

Sejak kekalahan dari Atalanta tersebut, Milan seolah tak terbendung. Dalam periode 13 bulan sejak laga tersebut, Gianluigi Donnarumma cs hanya menderita dua kekalahan. Satu dari Internazionale Milan (dengan skor 2-4) dan kala menghadapi Juventus (1-3). Milan kemudian menjadi kekuatan baru dan mendominasi Serie A di musim ini.

Milan sendiri akan menghadapi laga ini dengan predikat sebagai tim unggulan. Milan masih memuncaki Serie A dengan keunggulan tiga angka atas Inter di bawahnya. Milan juga sedang dalam tren yang cukup positif pasca takluk dari Juve dengan mengemas tiga kemenangan beruntun.

Tren positif tersebut wajib dilanjutkan kala menjamu Atalanta. Keunggulan tiga angka di puncak klasemen tak berarti apa-apa di saat liga masih menyisakan banyak pertandingan. Gagal meraih poin penuh, entah imbang apalagi kalah, bisa membuat Milan kehilangan singgasananya.

Milan juga harus menghadapi persoalan lain yang membuat tugas Pioli semakin berat. Simon Kjær hanya bermain satu babak kala menghadapi Cagliari tengah pekan kemarin. Ismaël Bennacer juga masih menjalani rehabilitasi cedera ototnya. Dua nama tersebut memperpanjang daftar pemain Milan yang absen. Sebelumnya sudah ada Hakan Çalhanoğlu, Ante Rebić, Rade Krunić, dan Theo Hernández yang menepi akibat infeksi coronavirus, serta Alexis Saelemaekers yang terkena larangan bertanding.

I Rossoneri akan sangat mengandalkan ketajaman Zlatan Ibrahimović. Bomber asal Swedia tersebut sudah kembali menemukan ketajamannya pasca absen cukup lama akibat cedera. Kala melawat ke Cagliari, Zlatan memborong dua gol kemenangan Milan. Rekrutan terbaru, Mario Mandžukić dikabarkan sudah berlatih bersama tim. Meski kecil kemungkinan ia bermain sejak menit awal, Mandžukić bisa menjadi tambahan opsi di lini serang tim merah-hitam.

Ibrahimović kembali melakukan tugasnya: mencetak gol (foto: sempremilan.com)

 

Atalanta yang tengah limbung

Tak bisa dipungkiri bahwa perjalanan Atalanta musim ini tidak sebaik dua musim sebelumnya. Konflik internal antara pelatih kepala Gian Piero Gasperini dengan sejumlah pemain senior merusak keharmonisan tim. Pemain andalan mereka, seperti Alejandro Darío Gómez atau Papu Gómez hampir dipastikan hengkang. Ironisnya Milan menjadi salah satu tim yang dirumorkan menjadi tujuan Gómez berikutnya.

Buntutnya performa Atalanta juga tidak sebaik di musim-musim sebelumnya. Saat ini, La Dea masih tertahan di posisi enam klasemen sementara. Atalanta baru mengoleksi 33 angka hasil 9 kali menang, 6 kali imbang, dan 3 kali mengalami kekalahan. Rekor 6 kali imbang tersebut juga merupakan salah satu yang terbanyak di Serie A, hanya kalah dari Torino dan Parma yang masing-masing seri 7 kali. Sebanyak 2 hasil imbang Atalanta hadir di dua laga terkini ketika ditahan Genoa 0-0 dan Udinese 1-1.

Permainan cair Milan vs pressing man to man Atalanta

Laga ini akan menghadirkan pertarungan taktikal antara dua tim dengan gaya permainan yang cenderung berbeda. Milan asuhan Pioli akan mengusung gaya serangan yang mengalir bebas, sementara Atalanta asuhan Gasperini akan mengandalkan pressing ketat dengan orientasi man to man miliknya. 

Milan kemungkinan akan memainkan serangan cair mereka untuk mengeksploitasi penjagaan perorangan yang diperagakan Atalanta. Dengan rotasi pemain yang dikombinasikan dengan perpindahan bola yang cepat diharapkan dapat menarik pemain bertahan Atalanta keluar dari posisinya. Dengan begitu, serangan yang cair dapat menciptakan ruang bagi pemain depan Milan untuk mendapatkan peluang.

Menghadapi pressing Atalanta, rotasi dasar Milan bisa sangat membantu. Kessié akan turun sejajar dengan dua bek tengah sekaligus memancing tiga penyerang Atalanta untuk press lebih ke depan. Dua bek sayap bisa difungsikan untuk bermain tidak terlalu tinggi sebagai opsi keluar dari pressing tiga pemain depan lawan sekaligus memancing wing back lawan ke atas. 

Di sini, Brahim bisa turun sejajar dengan Tonali di lini tengah. Pada akhirnya, lini depan Milan bisa berhadapan 3v3 dengan lini belakang Atalanta. Peran pemain seperti Ibrahimović akan sangat diperlukan di fase ini. Ibra dalam banyak pertandingan Milan musim ini kerap menjadi tujuan umpan pertama ketika Milan keluar dari serangan lawan. Postur besarnya memungkinkan ia menjadi sasaran bola vertikal dari lini belakang untuk keluar dari tekanan Atalanta. Selain itu, kemampuan Ibra dalam menahan bola berguna untuk menciptakan ruang dan memberikan waktu yang cukup bagi pemain depan lainnya untuk segera menyerang garis belakang lawan.

Perkiraan bentuk build-up Milan menghadapi pressing man to man Atalanta. Rotasi antar pemain, terutama gelandang bisa menjadi kunci. (Olahan Intersport)

 

Atalanta di sisi lain merupakan tim yang memiliki gaya bermain menyerang dengan intensitas tinggi. Atalanta merupakan tim paling produktif kedua di Serie A. Koleksi  41 gol Duván Zapata cs hanya kalah dari Inter. Menghadapi Milan, Atalanta sangat mungkin tetap bermain menyerang. 

Serangan Atalanta biasanya akan melibatkan hampir semua pemainnya, termasuk bek tengah sisi luar yang kerap ikut naik hingga fase penciptaan peluang. Di sini, bek tengah tersebut akan melakukan overload di sisi sayap bersama dengan wing back, gelandang tengah, dan penyerang di sisi tersebut. Situasi ini memungkinkan Atalanta untuk melakukan progresi serangan dengan akses yang lebih bersih. 

Mekanisme ini memiliki potensi menjanjikan menghadapi pressing Milan. I Rossoneri kerap melakukan pressing dengan penekanan orientasi ke posisi bola (ball oriented press). Artinya, pemain Milan ketika tidak menguasai bola akan menekan lawan di area dimana bola berada. Tekanan tersebut dilakukan secara kolektif. Pemain di sisi jauh juga akan ikut merapat dan membuat lawan kesulitan melakukan kombinasi. Meski demikian, overload yang dilakukan Atalanta akan mengharuskan Milan menekan dengan lebih banyak pemain. Akibatnya, ada peluang sisi jauh menjadi rentan ketika Atalanta sukses memindahkan bola. Permainan switch play tersebut sangat dimungkinkan mengingat Atalanta memiliki profil pemain sayap impresif dalam sosok Hans Hateboer dan Robin Gosens. Keduanya bisa secara konsisten menjaga kelebaran La Dea di tingkat maksimum untuk mengeksploitasi perpindahan bola tersebut.

Peluang Atalanta lewat switch play (Olahan Intersport)

 

Baik Milan dan Atalanta datang ke pertandingan dengan intensi untuk meraih tiga angka. Karena itu, pertemuan antara keduanya berpotensi menyajikan pertandingan berintensitas tinggi dengan dua tim yang tak berhenti menyerang. Laga di San Siro pada Sabtu (23/1) waktu setempat nanti berpeluang memberikan tontonan menarik.

Berikut prediksi susunan pemain kedua tim

AC Milan (4-2-3-1): Gianluigi Donnarumma; Davide Calabria, Simon Kjaer, Alessio Romagnoli, Diogo Dalot; Sandro Tonali, Franck Kessie; Samu Castillejo, Brahim Diaz, Jens Petter Hauge; Zlatan Ibrahimovic.

Atalanta (3-4-2-1): Pierluigi Gollini; Rafael Toloi, Jose Luis Palomino, Berat Djimsiti; Hans Hateboer, Remo Freuler, Marten De Roon, Robin Gosens; Matteo Pessina, Ruslan Malinovskiy; Duvan Zapata.

Meski Milan diunggulkan di laga sengit ini, kekuatan Atalanta juga tidak bisa dipandang sebelah mata, setidaknya mereka mampu memberikan serangan berbahaya untuk sang pemuncak klasemen. Namun, sekali lagi I Rossoneri dengan penampilan konsistennya dinilai mampu mengalahkan La Dea setidaknya dengan skor akhir 2-1. Setuju, Pria Intersport?

SAMPAIKAN KOMENTAR