Mereka Adalah Pahlawan Sepak Bola Indonesia
10
Nov
2020
0 Comment Share Likes 157 View

Penduduk Indonesia itu gila bola. Tidak ada yang membantah anggapan tersebut. Dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 270 juta jiwa, sepak bola dimainkan di seluruh penjuru negeri. Di kota dan desa. Dari pelosok sampai perkotaan. Tua dan muda, hingga anak-anak begitu menggemari olahraga paling populer di kolong jagat ini.

Tentu saja Indonesia punya cerita di sepak bola. Mulai level nasional maupun internasional. Barangkali paling monumental adalah pengakuan FIFA terhadap Indonesia, sebagai negara pertama di Asia yang bermain di Piala Dunia. Tepatnya pada 1938, meski saat itu memakai nama Hindia Belanda, plus hanya segelintir pemain pribumi yang ada di dalam skuat tersebut. Tapi pengakuan tetap pengakuan. Itulah yang sampai sekarang masih terus menjadi kebanggaan buat Indonesia di kancah dunia.

 

Timnas Hindia Belanda di Piala Dunia 1938 yang diakui FIFA sebagai Indonesia – Foto: FIFA.com

 

Namun harus diakui prestasi Indonesia di sepak bola internasional sangat minim. Setelah Piala Dunia 1938 di Prancis, kita belum pernah lagi lolos ke pesta sepak bola terbesar itu. Baru 58 tahun kemudian Indonesia sedikit bangga karena lolos ke ajang internasional yang memiliki gengsi lumayan besar, yaitu Piala Asia 1996. Di luar itu paling banter berkutat di SEA Games atau Piala AFF yang levelnya kita tahu sebatas Asia Tenggara.

Walaupun begitu Indonesia tetap punya nama-nama di sepak bola yang patut dianggap sebagai pahlawan dan dibanggakan. Itu karena pencapaian mereka yang bisa dikatakan bersejarah. Siapa saja mereka?

Intersport Soccer coba menyajikan setidaknya 5 sosok yang pantas dianggap sebagai pahlawan sepak bola Indonesia dari masa ke masa.

Berikut 5 orang tersebut...

SOERATIN SOSROSOEGONDO

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) resmi didirikan pada 19 April 1930. Ir Soeratin Sosrosoegonda menjadi pemeran utama dalam membidani kelahiran federasi yang bahkan negerinya ketika itu masih di bawah jajahan Belanda. Dia menyadari betapa sepak bola memiliki potensi untuk menyatukan semangat nasionalisme dan menonjolkan identitas bangsa ketika itu.

Guna memuluskan gagasannya tersebut, Soeratin bergerak mengumpulkan tokoh-tokoh sepak bola di daerah Jawa dalam sebuah pertemuan. Ide-ide yang dikumpulkan semakin matang, hingga akhirnya PSSI diresmikan di gedung Soceiteit Hande Projo, Yogyakarta. Dari sana sejarah sepak bola Indonesia terus berkembang hingga sekarang.

 

Pendiri PSSI, Ir Soeratin Sosrosoegondo. Foto: pssi.org

 

Karena dianggap sebagai sosok penting dalam kelahiran PSSI, Soeratin langsung dipilih sebagai Ketua Umum. Selama 10 tahun memimpin federasi, banyak kisah yang dilalui oleh pria kelahiran 17 Desember 1898 tersebut. Salah satu yang paling dikenang adalah perjuangannya melawan organisasi sepak bola milik Belanda ketika itu, Nederlandsche Indische Voetbal Unie (NIVU).

PSSI bersitegang dengan NIVU dalam memperebutkan hak mengirim tim menuju Piala Dunia 1938. Namun pada akhirnya Soeratin dan jajarannya di PSSI harus menelan rasa kecewa. Tim yang diberangkatkan menuju Prancis ketika itu menggunakan bendera NIVU karena mereka yang diakui keberadaannya oleh FIFA.

Nilai-nilai perjuangan yang diusung oleh Soeratin dalam pembentukan semangat kemerdekaan hingga sekarang terus dikenang. Ketua Umum PSSI periode 2019-2023, Mochamad Iriawan bahkan sempat mengutarakan niatnya untuk memperjuangkan agar Soeratin mendapatkan anugerah sebagai pahlawan nasional.

"Kami akan terus berjuang, agar almarhum Bapak Soeratin bisa memperoleh anugerah sebagai pahlawan nasional, atas seluruh jasanya membuat sepak bola sebagai alat pemersatu bangsa di era pergerakan menuju kemerdekaan," kata Iriawan, dikutip dari laman resmi PSSI.

ACHMAD NAWIR

Achmad Nawir adalah kapten Timnas Indonesia ketika tampil dalam helatan Piala Dunia 1938 di Prancis. Ketika itu mereka masih menggunakan nama Timnas Sepak Bola Hindia Belanda karena ketika itu yang diterima oleh FIFA adalah perwakilan yang dikirim oleh Nederlandsche Indische Voetbal Unie (NIVU), bukan PSSI yang sudah terbentuk dan dipimpin Ir Soeratin Sosrosoegondo.

Achmad Nawir dan kawan-kawan mentas di Piala Dunia 1938 sebagai perwakilan Asia. Catatan pertama kalinya di mana wakil Benua Kuning tampil di kejuaraan sepakbola bergengsi tersebut. Sedianya timnya diadu lebih dulu dengan Jepang untuk memastikan siapa yang berhak, tapi sang lawan memilih untuk mengundurkan diri.

Achmad Nawir, kapten Timnas di Piala Dunia 1938. Foto: Twitter.com/pssi

 

Memainkan satu pertandingan, langkah tim yang diasuh oleh Johannes Christoffel Jan Mastenbroek itu langsung terhenti. Mereka dipaksa menyerah dari Hungaria enam gol tanpa balas. Tapi ketika itu kebanggaan anak-anak Indonesia bisa tampil di Piala Dunia terus melekat, terutama pada Achmad Nawir.

Achmad Nawir dianggap sebagai sosok kapten yang memiliki kepemimpinan kuat. Tak peduli pemain Hungaria memiliki postur tubuh jauh lebih tinggi, tapi perlawanan semaksimal mungkin dikerahkan oleh pria yang ketika itu berstatus sebagai mahasiswa ilmu kedokteran.

Mengutip laman resmi PSSI, Achmad Nawir ketika itu dikenal sebagai pemain yang menggunakan kaca mata ketika pertandingan. Sebagai mahasiswa di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) Surabaya, waktu senggangnya diisi dengan ikut klub Houd Braef Stand (HBS) Surabaya. Lalu dia ikut dalam seleksi pembentukan tim yang akan dikirim ke Piala Dunia 1938, dan lolos sekaligus dipercaya sebagai kapten.

Sepulang dari Piala Dunia 1938, Achmad Nawir memilih untuk melanjutkan studinya. Setahun berselang dia resmi menjadi dokter, dan sempat ikut turun ke medan perang sebagai tim medis saat Jepang menduduki Indonesia.

SOETJIPTO SOENTORO

Pada era 1960-an, Timnas Indonesia punya mesin gol. Dia adalah Soetjipto Soentoro yang namanya masih tercatat sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah sepak bola Indonesia. Lawan-lawan era itu amat segan kepadanya.

Soetjipto tercatat mulai bermain untuk Timnas Indonesia pada 1965 hingga 1970. Pria yang akrab disapa ‘Gareng’ itu sukses mencatatkan 57 gol dalam 68 penampilan bersama skuad Garuda. Jumlah yang baru bisa didekati oleh Bambang Pamungkas dengan catatan 38 gol dari 86 laga.

 

Soetjipto Soentoro. Foto: facebook.com/thaifootballcyclopedia

 

Dalam kurun waktu lima tahun membela Timnas Indonesia, Soetjipto mempersembahkan dua trofi. Yang pertama Kings Cup 1968 Thailand dan Turnamen Merdeka 1969 Malaysia. Dalam dua kejuaraan itu pula, dia menyabet gelar pencetak gol terbanyak.

Soetjipto mendapatkan panggilan dari Timnas Indonesia karena penampilan gemilangnya bersama klub. Dia salah satu pemain mengantarkan Persija Jakarta menjadi juara Perserikatan 1964. Tim berjuluk Macan Kemayoran menjadi yang pertama sekaligus yang terakhir baginya karena pada 1971 memutuskan untuk gantung sepatu.

Bambang Pamungkas sebagai pemain yang mencatatkan penampilan terbanyak bersama Timnas Indonesia menjadikan sosok Soetjipto sebagai idola. Dalam sebuah kesempatan membentuk skuad Garuda impiannya, sang senior menjadi andalan di lini depan bersama Boaz Solossa dan Kurniawan Dwi Yulianto.

BERTJE MATULAPELWA

Agak sulit menaruh label pahlawan sepak bola Indonesia di jalur pelatih ini kepada siapa. Hal ini berkaitan dengan prestasi Indonesia yang masih minim di pentas internasional, sampai sekarang. Belum lagi jabatan pelatih Timnas sering diberikan kepada orang asing, yang itupun juga tidak mendatangkan prestasi nyata. Hanya Anatoly Polosin yang mampu memberi prestasi nyata lewat medali emas sepak bola SEA Games 1991. Tapi sekali lagi ia adalah orang asing, kurang pas kalau menyebutnya sebagai pahlawan Indonesia.

 

Bertje Matulapelewa – Foto: Dok. Kompas

 

Melihat track record prestasi internasional sepak bola ini, paling ideal yang layak disebut pahlawan adalah Bertje Matulapelwa. Ia adalah pelatih yang mengantarkan Indonesia meraih medali emas SEA Games 1987, yang kita tahu itu adalah medali emas pertama Indonesia di sepak bola SEA Games.

Bertje Matulapelwa juga tercatat pernah membawa Indonesia lolos sampai ke semifinal sepak bola Asian Games 1986 Seoul. Bermain di penyisihan Grup C, Indonesia finis peringkat kedua. Main tiga kali dengan hasil masing-masing sekali menang, seri, dan kalah. Posisi runner-up mengantarkan Indonesia ke perempat final menghadapi Uni Emirat Arab (UEA). Di babak itu Indonesia menang 4-3 adu penalti. Dalam waktu normal imbang 1-1 dan perpanjangan waktu menjadi 2-2. Sampai di semifinal Indonesia digulung Korea Selatan 0-4. Setelah itu seperti kita tahu Indonesia kemudian merebut medali emas SEA Games 1987, masih dengan jabatan pelatih dipegang Bertje Matulapelwa dan skuat yang hampir sama dengan Asian Games 1986.

Bertje Matulapelwa dari kabar berbagai sumber meninggal dunia pada 2002 dalam usia 61 tahun di Muna. Dalam karier kepelatihannya selain Timnas Indonesia juga pernah menangani Pelita Jaya, Persegres Gresik, PSIM, dan BPD Jateng. Karier melatih terakhir sosok yang sering dijuluki "Sang Pendeta" ini saat kembali menangani PSIM pada musim 1999-2000. Setelah itu ia banyak menghabiskan waktu sebagai penginjil hingga tutup usia.

ANDI RAMANG

Nama Andi Ramang masih diingat publik pecinta sepakbola Indonesia sebagai sosok striker bertubuh kecil tapi lincah. Kisah tentang pemain kelahiran Sulawesi Selatan pada 24 April 1924 itu terus diceritakan secara turun-temurun. Bukan cuma gemilang bersama PSM Makassar, tapi juga Timnas Indonesia di era 1950-an.

Profil Andi Ramang pernah pula dituliskan di FIFA.com. Dia digambarkan sebagai penyerang yang membuat kiper legendaris Uni Soviet, Lev Yashin harus susah payah menyelematkan gawang dari kebobolan. Ketika itu, kedua tim bentrok pada perempat final Olimpiade 1956 di Melbourne, Australia.

 

Andi Ramang. Foto: facebook.com/Mediaofficial.PSMMakassar

 

Mengutip rsssf.com, Timnas Indonesia dua kali berhadapan dengan Uni Soviet di babak perempat final tersebut. Yang pertama pada 29 November 1956, dengan kedudukan akhir imbang tanpa gol. Untuk menentukan siapa yang lolos ke semifinal, pertandingan kedua pun digelar, dan sayangnya Andi Ramang dan kawan-kawan menyerah 0-4.

"Fakta bahwa Uni Soviet berhasil merebut medali emas di Melbourne menambah performa epik legenda Indonesia itu, yang menjadi salah satu hasil menakjubkan dalam sejarah Olimpiade," demikian FIFA mengenang performa Andi Ramang ketika itu.

Andi Ramang yang jadi pahlawan ketika masih aktif bermain kondisinya berbalik setelah pensiun. Pria yang meninggal pada 26 September 1987. Dikutip dari laporan Majalah Tempo, dia pernah dirawat di rumah sakit selama 55 hari. Sempat diperbolehkan pulang, namun penyakitnya kambuh lagi.

Ketiadaan biaya membuat Andi Ramang tidak dirujuk ke rumah sakit. Dia memilih untuk memulihkan diri di rumah sendiri. Tapi tak berselang lama dia meninggal dunia pada usia 59 tahun. Pria yang memberi pengaruh besar untuk sepak bola Makassar itu kemudian dibuatkan patung di Lapangan Karebosi sebagai monumen mengenang jasanya.

Terima Kasih, Pahlawan Sepak Bola!

Lima sosok yang disebutkan di atas layak dianggap sebagai pahlawan sepak bola Indonesia. Tanpa mereka, tidak akan lahir pemain dan pelatih papan atas yang saat ini menghiasi kompetisi di Tanah Air yang semakin berkembang. Mereka adalah contoh sehingga generasi penerusnya punya semangat untuk bisa lebih baik lagi. Dari mereka kita belajar apa arti penting sepak bola bagi persatuan bangsa dan kebanggaan yang bisa diberikan kepada masyarakat.

SAMPAIKAN KOMENTAR