Menanti Kejutan Sosok "Underrated" Marcelo Bielsa di Premier League
06
Sep
2020
1 Comment Share Likes 244 View

Kompetisi Premier League musim 2020/2021 bakal mulai digulirkan pada 12 September 2020 mendatang. Leeds United sudah dipastikan menjadi salah satu kontestan liga kasta tertinggi di Inggris tersebut lewat jalur promosi. Sukses menjuarai divisi championship tersebut salah satunya berkat tangan dingin dari sang pelatih Marcelo Bielsa. The Whites pun akhirnya menyudahi penantian mereka untuk kembali ke Premier League setelah absen 16 tahun. 

Bagi fans bola millenial atau fans yang baru mengikuti sepakbola di atas tahun 2000-an, nama Bielsa tidaklah setenar Jurgen Klopp, Pep Guardiola, Jose Mourinho hingga mantan pelatih ternama seperti Sir Alex Ferguson. Bielsa adalah pelatih sepak bola asal Argentina yang dikenal telah berkarir sebagai pelatih lebih dari 30 tahun. Selama itulah dia membangun reputasinya sebagai salah satu pelatih terbaik di dunia.

 Sumber: Leedsunited.com

 

Metode latihan Bielsa disebut-sebut sebagai salah satu yang paling sulit. Sejak diperkenalkan sebagai pelatih anyar Leeds di Elland Road pada 15 Juni 2018 lalu ia Bielsa langsung diberikan ekspektasi tinggi, yaitu memperbaiki kultur klub, menciptakan mentalitas pemenang, hingga mengembalikan kepercayaan para penggemar.

Bielsa sama sekali tak mau berkompromi. Ia punya standar tinggi terkait siapa yang pantas bermain, entah itu berdasarkan berat badan, catatan lari, hingga pengambilan keputusan. Jika ada pemain yang tak memenuhi kriteria tersebut sebagus apapun pemain itu, ia tak akan dipasang oleh Bielsa.

Bukan tanpa alasan, filosofi permainan Bielsa yang berpusat pada permainan menyerang secara vertikal dan high-pressing menuntut intensitas, kedisiplinan, serta kecerdasan. Setidaknya hal ini dapat dilihat dari salah satu sesi latihan ala Bielsa yang paling terkenal yaitu Murderball.  

Murderball ialah sesi latihan ala Bielsa yang paling berat. Dalam sesi tersebut, para pemain akan bertanding 11 melawan 11, seperti dalam pertandingan sesungguhnya. Namun Bielsa menerapkan aturan sendiri seperti saat bola keluar lapangan, tidak ada lemparan ke dalam ataupun tendangan sudut. Pertandingan akan terus dilanjutkan dengan bola lain yang sudah disiapkan. Metode latihan ini mempunyai intensitas lebih tinggi ketimbang dalam pertandingan sesungguhnya. Dalam sesi tersebut, para pemain dituntut untuk selalu sprint, baik dalam transisi bertahan ke menyerang ataupun sebaliknya. Selebihnya adalah umpan-umpan pendek penetratif yang sebisa mungkin selalu diarahkan ke depan.

Julukan ‘El Loco’ pun disematkan kepadanya karena memiliki sistem dan metode kepelatihan yang sangat detail sampai titik terkecil. Karena itulah pemain-pemain yang pernah bekerja di bawahnya biasanya berkembang pesat.

Hasilnya di musim 2018-2019, Leeds tampil meyakinkan sekaligus mengundang banyak pujian. Menariknya, meski penampilan tersebut membuat The Whites mendapatkan predikat sebagai tim terbaik di Championship, mereka pada akhirnya gagal promosi ke Premier League. Pada pekan-pekan terakhir, pasukan Bielsa seolah kehabisan bensin. Mereka tak mampu menang dalam empat pertandingan terakhir, dan finis di urutan ketiga. Apesnya, pada babak play-off promosi, mereka juga kalah 2-4 dari Derby Country. Namun kegagalan tersebut menciptakan sebuah harapan yang merupakan bagian proses perbaikan tim. Betul saja, semusim setelahnya Bielsa memimpin Leeds menjadi juara dengan total koleksi 93 poin atau selisih 10 poin dari West Bromich Albion yang ada di urutan kedua.

Bielsa, dengan anggun, menancapkan pengaruhnya bukan lewat jaminan trofi. Ia telah menjadi sosok underrated dan hanya diidolakan oleh segelintir orang, termasuk tim yang kini dibesutnya (Leeds). Representasi Bielsa hanya bisa diilhami oleh banyak orang Cile, klub kota kelahirannya Argentina Newell's Old Boys, kota Basque Spanyol, klub semenanjung Prancis Marseille, dan Leeds United. 

Menariknya meski banjir pujian dari banyak pemain dan pelatih ternama, persembahan trofi Bielsa sebagai pelatih tidak secemerlang reputasinya. Di level klub, dia hanya memenangkan 3 trofi di Primera Division Argentina bersama Newell ‘s Old Boys (2) dan Velez Sarsfield (1). Jika dihitung dengan gelar EFL Championshipnya bersama Leeds United, artinya Bielsa sudah koleksi 4 trofi. Namun tidak ada satu pun gelar yang berasal dari level tertinggi Eropa. Sementara di level Negara, pencapaian terbaiknya memenangkan Medali Emas Olimpiade tahun 2004 bersama Tim Tango.

 Sumber: Leedsunited.com

 

Jadi jika membandingkan koleksi trofi Pep Guardiola, Jose Mourinho, ataupun Carlo Anceloti yang bakal menjadi pesaingnya di Premier League musim depan, koleksi trofi Bielsa tidak ada apa-apanya.

Namun itulah spesialnya Bielsa. Pep pernah mengakui bahwa Bielsa merupakan sosok panutan baginya. Bahkan, Manajer Manchester City tersebut diberitakan pernah terbang ke Argentina untuk meminta saran dari Bielsa dua tahun sebelum memutuskan menjadi pelatih Barcelona.

"Kami (sebagai manajer) dinilai dari berapa titel yang kami menangi. Tapi jumlah titel itu tak ada apa-apanya dibanding bagaimana Bielsa memengaruhi sepak bola dan para pemainnya. Itulah sebabnya bagi saya, ia adalah pelatih terbaik di dunia," kata Guardiola. Ia bahkan punya salinan pidato Bielsa pada dinding ruang kerjanya.

Tidak heran jika majalah ternama France Football yang juga menjadi pencetus penghargaan Ballon d’Or menempatkannya sebagai satu dari 50 pelatih terbaik sepanjang masa. Pasalnya, disamping gelontoran banyak trofi, salah satu syarat untuk masuk ke jajaran elite pelatih dunia adalah pengaruh besar dan warisan yang ditinggalkan untuk permainan sepak bola.

Namun tidak hanya banjir pujian. Bielsa juga merupakan sosok yang unik dan kontroversial. Dia pernah hanya menjabat sebagai pelatih Lazio selama dua hari, tepatnya pada 2016. Bielsa mundur karena manajemen dianggap tidak menepati janji terkait transfer pemain.

Kontroversi lainnya terjadi pada tahun 2019 lalu saat sudah menangani Leeds United. Bielsa jadi sorotan terkait pemberitaan tentang dirinya memata-matai latihan tim lawan sebelum bertanding. Momen ini terjadi saat persiapan duel antara Leeds menghadapi Derby County asuhan Frank Lampard di ajang Championship tahun 2019. Leeds adalah pemuncak klasemen sementara Derby di posisi keenam yang juga mengejar tiket promosi.

Ditengah persiapan laga tersebut, ada insiden penangkapan seseorang oleh Kepolisian Derbyshire saat sesi latihan Derby di Moor Farm. Oknum tersebut ternyata sedang memata-matai para pemain Derby dengan menyelusup ke dalam kamp latihan setelah memotong pagar pembatas. Setelah diusut dia adalah staf pelatih yang diutus langsung Bielsa.  Insiden ini pun sempat membuat manajer asal Argentina itu dikecam habis-habisan, termasuk oleh manajer Derby, Frank Lampard dalam wawancara jelang pertandingan. Leeds pun akhirnya menang dengan skor 2-0 dan mengukuhkan posisinya di puncak klasemen.

Kasus tersebut lantas membuat petinggi Leeds harus membuat pernyataan maaf ke publik dengan mengundang awak media ke markas mereka. Pelatih Argentina itu pun hadir untuk memberikan penjelasan langsung terkait aksi mata-matanya. Dia mengaku aksi mengintip langsung kamp latihan lawan adalah kebiasaannya sejak pertama kali melatih di Argentina. Tradisi tersebut juga dia terapkan saat melatih klub lain di Eropa, termasuk saat menangani timnas Argentina.

"Saya meneliti semua lawan yang akan kami hadapi dan melihat sesi latihan seluruh lawan-lawan," ujar Bielsa dikutip BBC.

"Kami merasa bersalah jika kami tidak bekerja dengan baik. Hal itu (mengintip latihan lawan) membuat kami lebih rileks dan untuk kasus ini, saya memang bodoh membiarkan aksi seperti ini terjadi."

Dalam presentasinya kepada para media, Bielsa bahkan mempertontonkan slide-slide berisi informasi yang sangat detil terkait pemain Derby dan juga tim-tim lainnya. Untuk membedah kekuatan lawan, Bielsa biasanya menghabiskan waktu sampai empat jam.

Dengan reputasi dan jam terbang tinggi yang dimilikinya ditambah karakter yang bisa mengejutkan bahkan mengundang kontroversi, menarik untuk disimak sepak terjang Bielsa di Premier League musim 2020-2021. Meski hanya memimpin tim promosi, filosofi permainan Bielsa yang diterapkan oleh pasukan The Whites bukan tidak mungkin bakal menjadi kuda hitam atau kejutan bagi tim-tim besar Premier League.

SAMPAIKAN KOMENTAR