Manchester City vs Tottenham Hotspur: Dua Misi Guardiola
13
Feb
2021
1 Comment Share Likes 124 View

Dua kesebelasan papan atas Liga Inggris akan saling bertarung di akhir pekan nanti. Etihad Stadium menjadi arena laga ketat antara Manchester City kontra Tottenham Hotspur. Pelatih City, Pep Guardiola membawa dua misi khusus kala menjamu Spurs di pertandingan nanti: dari memantapkan posisi di papan atas hingga membalas kekalahan di pertemuan pertama dari rival kepelatihannya, José Mourinho.

Tuan rumah di atas angin, tim tamu masih terseok-seok

Pertemuan pertama kedua tim pada November lalu berakhir dengan kemenangan Spurs 2-0 atas Manchester biru. Gol dari Son Heung-min dan Giovani Lo Celso. Tambahan tiga angka dari pertandingan tersebut membawa Spurs memimpin klasemen sementara Liga Primer kala itu. Di sisi lain, City asuhan Guardiola masih terseok-seok dengan hanya meraih 12 angka dari 8 laga awal musim.

Selebrasi Son usai mencetak gol ke gawang City di pertemuan pertama (foto: Bola.net)

 

Situasi berbalik 180 derajat jelang laga pekan ini. Tuan rumah City sedang berada di performa terbaiknya. Sejak ditahan imbang 1-1 oleh West Brom pada 16 Desember lalu, City tak kehilangan poin satupun dari 10 pertandingan terakhir mereka di liga. Sebanyak 10 kemenangan tersebut ditambah dengan 5 kemenangan lainnya di ajang Piala FA dan Piala Liga. Performa impresif City berbuah puncak klasemen sementara. Dengan koleksi 50 angka, City unggul 5 poin dari Manchester United di peringkat kedua. The Citizens juga masih memiliki tabungan satu laga.

Spurs, di sisi lain, sedang tidak berada dalam performa terbaiknya. Sempat memimpin klasemen pada musim gugur, The Lilywhites kini justru tercecer di peringkat 8 klasemen. Sejak kemenangan atas City, Spurs hanya memenangi 4 dari 13 pertandingan liga terkini. Situasi sempat diperparah oleh cederanya Harry Kane. Beruntung penyerang Timnas Inggris tersebut sudah pulih sejak pekan lalu.

City yang sedang berada di atas angin tentu ingin memperlebar jarak di puncak klasemen. Kondisi lawan yang tengah limbung bisa menjadi sasaran empuk bagi Raheem Sterling cs memantapkan posisi mereka di peringkat pertama.

 

Pendekatan taktik Guardiola vs Mourinho: Pertarungan dua sisi yang berbeda

Laga City melawan Spurs juga mempertemukan antara dua pelatih kelas dunia dengan karakteristik taktikal yang berbeda. Guardiola merepresentasikan sepakbola idealis: jalan menuju kemenangan yang diraih dengan dominasi atas lawan. Penguasaan bola, permainan posisional, dan pressing ketat menjadi bagian dari dominasi tersebut. Di kubu seberang ada Mourinho yang menjadi perwakilan kaum pragmatis: ia akan melakukan apapun untuk mengalahkan lawan. Termasuk dengan bermain sangat bertahan, membiarkan lawan menguasai bola hingga frustasi, dan segera menghukumnya dengan serangan balik.

Pertemuan antara keduanya telah melalui sejarah panjang selama satu dekade terakhir. Hanya saja, setelah melatih Spurs, Mourinho punya rekor yang relatif mentereng kala bertemu Guardiola. Dua pertandingan berujung pada dua kemenangan bagi sang manajer berkebangsaan Portugal tersebut. Keduanya diraih dengan cara yang sangat khas Mourinho. Ia membiarkan anak asuh Guardiola memegang penguasaan bola dan menciptakan banyak tembakan. Hanya saja ketika timnya mendapatkan celah, ia akan memaksimalkan kesempatan itu. Dua laga berhasil ia menangi dengan mencetak 4 gol dari 7 tembakan serta tanpa sekalipun kebobolan meski menderita 41 tembakan.

Spurs vs City menjadi arena rivalitas baru bagi Mourinho dan Guardiola (foto: Talksport)

 

Karakteristik inilah yang kemungkinan bakal kembali terlihat di laga nanti. Guardiola mencari kemenangan pertamanya atas Mourinho di tanah Inggris, sementara nama yang disebut belakangan akan berupaya menunjukkan kalau ia masih pelatih yang disegani di negara tersebut.

Prediksi taktikal: dominasi City vs reaksi Spurs

Bermain di rumah sendiri, besar kemungkinan City akan mencoba mendominasi laga sejak peluit pertama dibunyikan. Di sisi lain, Spurs nampaknya akan bermain lebih reaktif dan menunggu kesempatan untuk menyerang balik.

Permainan posisional City belakangan cenderung variatif. Hal ini utamanya ditunjang oleh fleksibilitas pemain-pemainnya untuk memerankan lebih dari satu posisi dan peran dalam permainan. Misalnya, João Cancelo yang berposisi sebagai fullback bisa bermain lebih ke area tengah. Atau Bernardo Silva yang bisa berperan di sisi luar maupun dalam lapangan sama baiknya. Terakhir ada İlkay Gündoğan yang bisa menggantikan peran Kevin De Bruyne sebagai aktor utama di lini tengah kala pemain Belgia tersebut menepi.

Dalam beberapa laga terakhir City terlihat memanfaatkan hal tersebut dalam struktur serang 3-2-4-1 atau 3-2-5. Cancelo yang berposisi sebagai fullback dapat menjadi pemain tambahan di lini tengah. Biasanya Cancelo akan berposisi sejajar dengan Rodri sebagai double pivot. Hal tersebut memungkinkan Silva dan Gündoğan bermain di posisi yang lebih tinggi. Sementara kedua winger akan bermain melebar, striker akan memainkan peran yang lebih fleksibel antara sebagai nomor sembilan murni atau false nine.

Respon Spurs nampaknya akan sama dengan laga-laga besar lainnya, yaitu bertahan dengan blok menengah atau rendah dikombinasikan dengan man to man di lini tengah. Mourinho kerap menginstruksikan anak asuhnya agar memproteksi garis pertahanan. Untuk itu, gelandang bahkan penyerang sayap diinstruksikan agar mengikuti gelandang lawan sehingga mengurangi beban pemain bertahan.

Struktur serang City vs pertahanan Spurs (sumber: olahan Intersport)

 

Bagaimana City bisa mengeksploitasi man to man marking gelandang Spurs? Pertama, permainan posisional City yang menjadi keunggulan. Secara posisional, pemain City akan mengisi posisi-posisi strategis untuk memberikan opsi koneksi serangan baik di dalam maupun luar blok. Secara khusus, pemosisian pemain di luar blok, terutama winger, akan membantu meregangkan blok pertahanan Spurs dan menciptakan ruang.  

Fleksibilitas formasi di satu sisi bisa membantu dalam rotasi dan memanipulasi penjagaan tersebut. Selain itu, secara taktikal penjagaan Spurs memiliki potensi kelemahan lain. Penjagaan perorangan yang dilakukan oleh double pivot terkadang membuat mereka keluar dari posisinya dan membuka space yang luas di ruang antarlini. Hal ini yang bisa dieksploitasi City, baik melalui dribel pemain sayap ke dalam atau umpan diagonal ke pemain yang masuk ke area tersebut.

Potensi City mengeksploitasi pertahanan Spurs (sumber: olahan Intersport)

 

Lantas bagaimana Spurs keluar dari tekanan? Seperti biasa duet Kane-Son akan menjadi andalan. Kane mungkin akan banyak turun ke area antar lini dan menciptakan opsi umpan vertikal. Sementara Son, yang kerap dibantu oleh Bergwijn akan mengincar ruang di belakang lini pertahanan City memanfaatkan kecepatan mereka.

Serangan balik Spurs. Struktur City bisa memberikan keamanan karena unggul secara jumlah 5v4 (sumber: olahan Intersport)

 

Di sinilah peran struktur posisional City juga terlihat. Selain menjadi opsi ketika menyerang, struktur tersebut juga menjadi filter yang mencegah lawan melakukan serangan balasan. Struktur 3-2 City di bawah ketika melakukan build up memberikan formasi yang aman secara kuantitatif untuk meminimalisir serangan balik lawan.

Prediksi susunan pemain

City (4-3-3): Ederson Moraes, João Cancelo, John Stones, Rúben Dias, Oleksandr Zinchenko, Bernardo Silva, Rodri, İlkay Gündoğan, Riyad Mahrez, Phil Foden, Raheem Sterling.

Spurs (4-2-3-1): Hugo Lloris, Serge Aurier, Toby Alderweireld, Eric Dier, Ben Davies; Moussa Sissoko, Pierre-Emile Højbjerg, Stefan Bergwijn, Tanguy Ndombele, Son Heung-min, Harry Kane.

Melihat tren terkini dan potensi keunggulan taktikal Guardiola, City yang bermain di kandang sendiri lebih diunggulkan untuk meraih poin penuh. Anak asuh Guardiola rasanya bisa menang meyakinkan dengan skor 2-0. Setuju, Pria Intersport?

SAMPAIKAN KOMENTAR