Manchester City vs Chelsea: Ambisi Dua Kekuatan Baru
29
May
2021
0 Comment Share Likes 95 View

Final Liga Champions akan menjadi penutup kompetisi antarklub Eropa musim ini. Sabtu (29/3), Estadio Do Dragao di Porto, Portugal akan menjadi panggungnya, dengan Manchester City dan Chelsea yang akan saling jegal demi trofi Liga Champions.

Tajuk final nanti bukan hanya soal All English Final, tetapi juga duel dua kekuatan baru di sepakbola Eropa. Manchester City dan Chelsea bukan kekuatan tradisional di benua biru. Keduanya tidak memiliki tradisi yang mengakar di Eropa seperti Real Madrid atau Bayern Munchen. Bahkan jika dibandingkan dengan rival senegara mereka seperti Liverpool atau Manchester United, pencapaian keduanya tentu masih kalah.

Meski demikian keduanya kini berada di partai puncak Liga Champions, kompetisi teragung antarklub Eropa. Sejak menerima suntikan dana dari investor luar, keduanya mulai menancapkan diri sebagai klub papan atas Eropa. Chelsea, yang sudah mulai lebih dulu, telah menikmati pencapaian di benua biru lewat 1 gelar Liga Champions dan 2 Liga Europa. City, yang baru menyusul kali ini lolos ke final pertamanya. Seperti apa prediksi pertandingan keduanya? Simak ulasan berikut.

Ambisi besar City untuk si kuping besar

Menjuarai Liga Champions. Itulah alasan di balik penunjukan Pep Guardiola sebagai pelatih City 2016 silam. Investasi besar City Football Group di Kota Manchester memang memberikan banyak trofi domestik. Meski demikian keberhasilan di kompetisi Eropa merupakan puncak raihan sesungguhnya.

Lima musim berlalu, Manchester Biru terpeleset selalu. Jangankan menembus final, pencapaian terbaik mereka hanya babak delapan besar. Musim pertama Guardiola diwarnai eliminasi di babak 16 besar oleh Monaco. Selanjutnya giliran Liverpool, Tottenham, dan Lyon yang menjegal trofi kuping besar singgah ke Etihad.

City, tak boleh gagal lagi (foto: Goldenrope)

 

Musim ini tentu City tak mau tersandung lagi. Motivasi besar akan menjadi modal City. Usai menjuarai semua trofi, hanya satu yang belum diraih. Apalagi di musim ini, setelah meraih trofi Liga Inggris dan Piala Liga, kesempatan meraih trofi Liga Champions tak boleh disia-siakan. Terkhusus bagi Sergio Aguero, penyerang andalan City selama 9 musim terakhir, yang tentu memiliki motivasi berlipat di laga terakhirnya bersama City kali ini.

Skuad muda Chelsea tak ingin gagal lagi

Musim ini boleh jadi merupakan musim yang aneh bagi Chelsea. Musim lalu mereka berhasil tampil impresif. Bermodalkan pemain akademi, Chelsea sukses menyegel posisi empat besar dan lolos ke Final Piala FA. Seiring diangkatnya embargo transfer, Chelsea segera menggelontorkan dana besar untuk mendatangkan pemain bintang sekelas Hakim Ziyech, Timo Werner, Thiago Silva, Ben Chilwell, dan Kai Havertz.

Sialnya, Frank Lampard hingga separuh musim gagal untuk mengintegrasikan rekrutan anyarnya ke dalam tim. Alhasil Chelsea terjerembab di posisi sembilan. Manajemen bergerak cepat dan menunjuk Thomas Tuchel sebagai penggantinya. Pilihan yang sejauh ini tidak salah, karena Tuchel segera menstabilkan Chelsea. Membawa mereka finis di empat besar dan mencapai final di dua kompetisi piala.

Satu yang kurang dari Chelsea adalah gelar juara. Penampilan impresif anak-anak muda Chelsea kerap berujung anti klimaks. Musim lalu, Liverpool dan Arsenal menggagalkan potensi Chelsea meraih trofi Piala Super Eropa dan Piala FA. Dua pekan lalu giliran Leicester yang membuat Mason Mount cs kembali gigit jari. Tentu tiga kekalahan final beruntun tersebut harus menjadi pelajaran. Apalagi, kelolosan ke final Liga Champions bukan perkara mudah yang bisa diraih setiap tahunnya.

Chelsea harus bangkit dari tiga kekalahan final beruntun (foto: SI)

 

Prediksi taktikal: utak-atik Tuchel vs potensi kejutan Guardiola

Duel kedua pelatih diprediksi akan menampilkan laga yang menarik. Guardiola dikenal sebagai pelatih yang sangat menekankan pada penguasaan bola dan merebut bola secepat mungkin. Filosofi tersebut juga menginspirasi Tuchel dalam karir manajerialnya. Sepanjang musim ini keduanya juga relatif sukses dalam beradaptasi dengan jadwal padat selama pandemi. Baik Guardiola maupun Tuchel, bisa sedikit ‘mengerem’ agresivitas timnya dengan bermain lebih sabar dan tidak terburu-buru menekan lawan.

Bicara rekor terkini, Tuchel sedikit lebih unggul. Sejak ditunjuk sebagai manajer Chelsea pada awal tahun, Tuchel sudah dua kali sukses mempecundangi Guardiola. Kemenangan 1-0 di ajang Piala FA dan 2-1 di Liga Primer menjadi rekor tersendiri bagi pelatih asal Jerman tersebut.

Meski demikian, dalam dua laga tersebut, Guardiola menggunakan dua sistem yang berbeda. Artinya eks pelatih Barcelona tersebut memiliki banyak alternatif strategi yang digunakan untuk menghadapi lawan. Memang di dua laga itu City harus mengakui keunggulan lawan, tetapi ada potensi pengembangan taktik yang bisa diambil Guardiola sebagai bekal di laga final nanti.

Ketika kalah 1-2 atas Chelsea, Guardiola melakukan perubahan dengan memainkan formasi ‘unik’ 3-1-4-2. Fitur utama dari formasi tersebut adalah struktur 3-1 + kiper di belakang, dua gelandang serang, dan dua penyerang. Struktur tersebut mampu memberikan City keunggulan atas blok pressing 3-4-2-1 Chelsea.

Di bawah, mereka bisa menciptakan keunggulan 4v3 atau 5v3. Hal ini akan memaksa salah satu gelandang Chelsea untuk naik, biasanya menekan pivot tunggal City. Mekanisme tersebut membuat Chelsea rentan, karena hanya menyisakan 1 gelandang tengah dan 3 pemain bertahan. Apabila City mampu menemukan pemain bebas (biasanya salah satu gelandang serang), bek tengah terdekat bisa dipancing keluar dan menciptakan situasi 2v2 di lini belakang Chelsea.

Adu taktik duo jenius. Guardiola vs Tuchel kerap menampilkan duel menarik (foto: Marca)

 

Situasi ini kerap terjadi di laga terakhir antara keduanya, terutama di babak pertama di mana City unggul. Manchester biru bisa saja unggul lebih banyak apabila Sergio Aguero bisa mengonversi tendangan penalti.

Di sisi lain, Tuchel tampaknya tidak akan banyak melakukan perubahan pada skuad intinya. Apabila Edouard Mendy dan N’Golo Kante dipastikan fit, kelihatannya Tuchel masih akan mempercayakan sebelas awal inti untuk laga penting nanti.

Perubahan mungkin akan banyak terjadi di lini tengah dan depan. Mason Mount dan Timo Werner kemungkinan akan tampil. Penampilan impresif keduanya sepanjang musim, serta kemampuan spesifik keduanya bisa menjadi senjata Chelsea di laga ini. Mount memiliki penguasaan bola yang bagus. Pemain terbaik Chelsea musim ini tersebut bisa turun ke lini tengah untuk membantu mengamankan penguasaan bola sekaligus melakukan progresi ke depan. Sementara Timo Werner punya kecepatan yang mumpuni untuk mengeksploitasi lini pertahanan City.

Prediksi susunan pemain

Man. City (4-3-3)

Ederson, Kyle Walker, John Stones, Ruben Dias, Oleksandr Zinchenko, Bernardo Silva, Fernandinho, Ilkay Gundogan; Riyad Mahrez,Kevin De Bruyne, Phil Foden.

Chelsea (3-4-2-1)

Edouard Mendy, Cesar Azpilicueta, Thiago Silva, Antonio Rudiger; Reece James, N’Golo Kante, Jorginho, Ben Chilwell, Hakim Ziyech, Mason Mount, Timo Werner.

Pertandingan nanti bukan tidak mungkin kedua tim tampil lebih hati-hati. Meski Guardiola punya peluang dan kerap tidak bisa diprediksi dalam hal taktik, Chelsea membuktikan bahwa mereka cukup stabil dan tidak mudah untuk dikalahkan. Mengingat pentingnya laga final, juga kecil kemungkinan kedua pelatih akan menurunkan kejutan taktik yang signifikan. Kami memprediksi laga ini berjalan ketat dan bisa berlanjut hingga perpanjangan waktu. Bagaimana dengan kamu, Pria Intersport?

SAMPAIKAN KOMENTAR