Lukas Podolski, Si Kidal yang Tak Pernah Mau Menyerah
04
Jun
2021
0 Comment Share Likes 92 View

Lukas Podolski lahir di Gliwice, Polandia pada 4 Juni 1985. Ketika usianya baru dua tahun, keluarganya pindah ke Jerman Barat. Karena kakek dan neneknya memiliki darah keturunan Jerman, dia dengan mudah mendapatkan kewarganegaraan. Dari sinilah kisahnya sampai menjadi pesepakbola profesional dimulai.

Lukas Podolski sudah diberi kesempatan untuk mengasah kemampuannya bermain sepakbola sejak enam tahun. Orang tuanya memasukkan dia ke tim junior FC Bergheim. Ketika usianya menginjak 11 tahun, Lukas Podolski pindah ke akademi FC Koln, salah satu tim profesional Jerman yang berhasil menghasilkan talenta berbakat.

Selama di FC Koln, Lukas Podolski terus mengembangkan kemampuan bermain sepakbola. Dan akhirnya pada usia 18 tahun dia dipromosikan ke tim utama. Kemampuannya bermain sebagai striker dianggap sebagai salah satu yang potensial di Jerman ketika itu. Prestasi gemilangnya terjadi pada 2004/2005 ketika membawa FC Koln promosi dari Bundesliga 2 sekaligus menjadi pencetak gol terbanyak.

 

Kemunculan Lukas Podolski mencuri perhatian dan membuatnya direkrut Bayern Munich. Foto: Fcbayern.com

 

Karena penampilan gemilangnya itulah kemudian Timnas Jerman memanggilnya dan memberi kesempatan debut pada 6 Juni 2004 dalam sebuah pertandingan persahabatan melawan Hungaria. Pelatih Rudi Völler memberikannya kesempatan bermain sejak menit 74 menggantikan Fredi Bobic. Sayangnya ketika itu Der Panzer menyerah dengan skor 0-2.

Sampai di 2006, tim raksasa Jerman, Bayern Munich merekrutnya. Tidak mudah bagi Lukas Podolski untuk langsung mendapat tempat di tim utama Bayern Munich. Di musim pertamanya, dia kesulitan untuk bisa unjuk ketajaman. Jumlah pertandingan yang dilakoni cukup banyak, termasuk di Liga Champions, tapi gol yang disumbangkan begitu minim. 10 gol dalam satu musim menjadi yang terbanyak darinya untuk Bayern Munich, dengan rincian masing-masing lima di Bundesliga dan UEFA Cup 2007/2008.

Semusim kemudian perolehan golnya dalam satu musim menjadi sembilan. Enam gol di Bundesliga dari total 24 penampilan, ditambah dua di Liga Champions, dan sekali ketika membela Bayern Munich di DFB Pokal. Catatan yang kemudian membuat Bayern Munich memilih untuk melepasnya ke FC Koln pada musim 2009/2010.

Kembali ke klub yang menempatinya hingga menjadi pesepakbola profesional menimbulkan kembali gairah. Sayangnya, di musim pertama tidak berjalan sesuai ekspektasi. 27 pertandingan Bundesliga, cuma dua gol yang bisa dia sumbangkan untuk FC Koln. Kritik pun mulai berdatangan untuk Lukas Podolski. Talenta yang digadang-gadang ketika masih berusia belasan seolah luntur begitu saja.

Kritik yang datang bertubi-tubi dijawab dengan lugas oleh Lukas Podolski. Torehan golnya dalam semusim Bundesliga menjadi dua digit. Jumlah assist-nya pun meningkat. Pada 2010/2011, dia bisa menyarankan 13 gol dan tujuh assist. Bertambah menjadi 18 gol dan delapan assist semusim berikutnya.

Arsene Wenger Memaksimalkan Potensinya


Lukas Podolski ketika bermain untuk Arsenal. Foto: Arsenal.com

 

Ketika usianya memasuki 27 tahun, Lukas Podolski memutuskan untuk merantau. Inggris menjadi pilihannya dengan bergabung bersama Arsenal. Tim berjuluk The Gunners menebusnya dari FC Koln dengan mahar Rp 260 miliar. Arsene Wenger yang menjadi manajer Arsenal ketika itu kepincut dengan kemampuan Lukas Podolski. Dia tak cuma lihai dalam melepaskan tendangan keras dan akurat menggunakan kaki kiri, tapi juga cerdik dalam melepaskan umpan-umpan kunci.

Arsene Wenger memberikan peran baru bagi Lukas Podolski dengan bermain sebagai penyerang sayap kiri. Bukannya tanpa alasan juru taktik asal Prancis melakukan itu. Keunggulan sang pemain dalam melakukan dribble dan kecepatan larinya yang bagus jadi pertimbangan utama. Ketika peran itu dijalani, total masing-masing sembilan gol dan assist dia sumbangkan pada musim pertamanya di Premier League.

Musim kedua Lukas Podolski bersama Arsenal tidak berjalan mulus. Ketika berhasil mencetak dua gol dalam pertandingan melawan Fulham di Premier League, dia mengalami cedera. Robek pada jaringan otot memaksanya istirahat panjang mulai dari pekan ketiga sampai 16. Butuh waktu panjang pula baginya untuk adaptasi begitu pulih. Perjuangan yang berat itu dilalui hingga akhir musim bisa menambah enam gol dan empat assist lagi untuk The Gunners.

Memulai musim berikutnya, Lukas Podolski tak lagi menjadi andalan Arsene Wenger. Dia lebih sering duduk di bangku cadangan. Jikalau main sebagai pengganti, menit yang dilakoni tidak banyak. Sampai akhirnya Arsenal melepasnya sebagai pemain pinjaman ke Inter Milan pada pertengahan musim.

Lukas Podolski coba membangun kembali kepercayaan dirinya bersama Inter Milan di Serie A. Tapi semuanya terasa berat. Terhitung cuma dua kali dia bermain penuh selama 90 menit dari 17 pertandingan yang dilakoni. Sisanya kalau tidak ditarik keluar, dia memulai pertandingan dari bangku cadangan. Karena tidak terlalu memberi dampak signifikan, Inter Milan memulangkannya kembali ke Arsenal.

Klub asal Turki, Galatasaray kemudian membelinya dari Arsenal dengan harga Rp 43 miliar. Dua musim dia bermain di sana dan selalu jadi andalan. 56 pertandingan kompetisi kasta tertinggi Turki, Super Lig dilaluinya dengan torehan 20 gol dan 14 assist.

Tawaran dari klub Jepang, Vissel Kobe datang pada 2017. Mereka ingin ada pemain kaliber dunia yang datang ke tim guna mendongkrak popularitas. Lukas Podolski menerima pinangan tersebut dan bertahan selama tiga tahun. Meski mampu menyumbang gol dan assist di setiap musimnya, tapi jumlahnya tidak terlalu signifikan.

Vissel Kobe kemudian tidak memperpanjang kontrak Lukas Podolski. Dalam situasi seperti itu, Antalyaspor yang bermain di Super Lig merekrutnya. Ketika itu sudah memasuki pertengahan musim sehingga dia tidak bisa banyak bermain. Ditambah lagi cedera otot paha membuatnya harus absen di empat pertandingan.

Super Lig 2020/2021 menjadi musim terakhirnya bersama Antalyaspor. Total dia bermain dalam 31 pertandingan dengan sumbangan empat gol dan dua assist. Klub memilih untuk tidak memperpanjang kontraknya musim depan. Keputusan yang dikeluarkan oleh Antalyaspor pada 1 Juni 2021 itu membuat Lukas Podolski sekarang ini berstatus sebagai pemain tanpa klub.

Bekal Hari Tua

 

Lukas Podolski memamerkan menu di restoran kebab miliknya. Foto: Instagram.com/mangal_doener

 

Hari ini Lukas Podolski tepat berusia 36 tahun. Masa depannya di sepakbola masih tanda tanya. Belum ada klub yang dikabarkan melakukan pendekatan terhadapnya. Meski begitu, untuk urusan finansial ke depan, dia tampaknya tidak akan terlalu bermasalah. Sejak masih aktif bermain, usaha telah dirintis dan terus berkembang sampai sekarang.

Sejak merumput di Turki bersama Galatasaray, pemain yang akrab disapa Poldi itu turut mendalami kebiasaan masyarakat. Salah satu yang dia ikuti adalah kuliner. Karena itulah membuka restoran kebab di daerah asalnya, Cologne, Jerman dan diberi nama Mangal Doener. Sampai sekarang, sudah lebih dari lima cabang yang dia buka di Jerman.

Unit usaha Lukas Podolski di bidang kuliner lainnya masih ada, yakni es krim. Dia memberi nama produknya tersebut Ice Cream United dan sudah banyak digemari oleh masyarakat Jerman. Dia sempat mendapat pertanyaan mengenai bisnis kulinernya ini, karena sebagai seorang atlet, apa yang dia jual bukanlah makanan menyehatkan.

"Saya tidak khawatir. Sebagai seorang atlet, Anda akan membakar kalori dari es krim untuk pencuci mulut atau kebab hanya dalam waktu 10 menit. Membuka restoran bintang lima bukan gaya saya. Saya bukan tipe orang yang mengenakan jas," ujarnya seperti dikutip dari Dw.com.

Seolah menjawab persepsi tersebut, usaha Lukas Podolski berikutnya amat lekat dengan kegiatan olahraga. Dia membangun sebuah arena olahraga dengan sana Strassen Kicker Base. Lapangan futsal dengan rumput sintetis dan lapangan basket ada di dalam kompleks tersebut. Meski tidak besar, tapi desain yang dibuat seolah seperti stadion, di mana ada tribun di sisi lapangannya.

Di lokasi itu pula, Lukas Podolski menyempatkan diri memimpin pemusatan latihan anak-anak di musim panas. Keceriaan dari wajah para pesertanya bisa dilihat dari unggahan foto mereka di Instagram. Ini adalah bentuk kepedulian dia sebagai seorang pesepakbola yang jadi contoh bagi para anak muda.

Nama Strassen Kicker tak cuma digunakan Lukas Podolski untuk arena olahraga miliknya. Karena sebelumnya dia menggunakan itu untuk produk fashion-nya. Pakaian dengan gaya casual mulai dari orang dewasa sampai anak-anak menjadi identitas mereknya tersebut.

Usaha teranyar Lukas Podolski adalah My Shot. Produknya berupa minuman rasa jahe, wortel, ubi merah, dan kunyit. Semua bahan yang digunakan adalah organik, dan cocok dikonsumsi oleh mereka yang cuma memakan buah dan sayuran sehari-harinya.

Dengan bermacam usaha yang dilakoni, akankah Lukas Podolski kemudian memilih untuk pensiun tahun ini? Atau mungkin hasratnya tampil di atas lapangan hijau masih ada? Yang pasti sampai di usia 36 tahun ini sudah banyak prestasi ditorehkan. Salah satu yang paling bergengsi tentu saja trofi juara Piala Dunia 2014 bersama Timnas Jerman. Selamat ulang tahun, Poldi!

SAMPAIKAN KOMENTAR