Liverpool vs Manchester United: Laga Akbar 126 Tahun
15
Jan
2021
0 Comment Share Likes 195 View

Putaran waktu akhirnya membawa Manchester United ke puncak klasemen Premier League. Meski baru klasemen sementara, ini merupakan oase di tengah gurun. Karena Manchester United sudah begitu lama tidak merasakan sensasi sebagai pemuncak klasemen. Terakhir merasakan puncak klasemen pada 2013 di masa-masa akhir jabatan Sir Alex Ferguson.

Manchester United sementara ini di peringkat pertama dengan koleksi 36 poin. Unggul 3 poin atas Liverpool, sang juara bertahan Premier League. The Reds ada di urutan kedua dengan catatan sama-sama dengan Manchester United telah memainkan 17 pertandingan.

Menariknya di penghujung putaran pertama akan tersaji bentrokan antara Liverpool vs Manchester United. Laga pekan ke-18 Premier League Liverpool vs Manchester United dijadwalkan berlangsung di Stadion Anfield, Minggu 17 Januari 2021, mulai pukul 23.30 WIB.

Maka itu, laga Liverpool vs Manchester United akhir pekan ini bakal seru. Banyak hal yang membuat pertandingan itu sayang kalau dilewatkan. Selain nama besar, tradisi, hingga situasi terkini di klasemen Premier League, ada gengsi yang diperebutkan di dalamnya.

Diprediksi persaingan antar lini Liverpool dan Manchester United bakal ketat. Terutama bagaimana para pemain kedua tim berusaha mendominasi permainan, demi mendapatkan gol dan memenangi pertandingan.

Menarik untuk menganalisis bagaimana potensi lini per lini Liverpool dan Manchester United di partai akbar nanti.

 

Dua kiper mahal akan bersaing mempertahankan gawangnya dalam laga akbar Liverpool vs Manchester United – Foto: premierleague.com

 

Penjaga Gawang Kualitas Terbaik

Liverpool dan Manchester United memiliki kiper mahal. Alisson Becker adalah kiper dengan transfer termahal di urutan kedua Premier League, setelah Kepa Arrizabalaga. Alisson ketika dibeli Liverpool dari AS Roma, nilai transfernya mencapai 62,5 juta Euro, atau sekitar Rp 1 triliun.

Kalau kiper utama MU, David de Gea merupakan kiper yang masuk 10 besar pemain dengan gaji tertinggi di dunia. Rekening kiper asal Spanyol ini tiap tahun bertambah 19,7 miliar Euro, atau sekitar Rp 338 miliar. Gajinya setara dengan Robert Lewandowski dari FC Bayern yang merupakan pemain terbaik dunia 2020. Di Manchester United, gaji David de Gea persis di bawah Paul Pogba yang menjadi pemain dengan gaji tertinggi, Rp 394 miliar per tahun.

Dengan label mahal itu Alisson dan David de Gea dituntut bermain maksimal di setiap pertandingan. Dan pertemuan Liverpool vs Manchester United nanti menjadi salah satu ajang pembuktian kedua penjaga gawang top ini. Keduanya dilarang membuat kesalahan.

Secara teknis kedua kiper punya kemampuan mumpuni. Jam terbangnya tinggi. Mereka juga kiper utama negara masing-masing. Alisson adalah kiper inti Timnas Brasil. Kalau David de Gea merupakan pilihan utama di Timnas Spanyol.

Di Premier League musim ini Alisson sudah mencatat 1.260 menit bermain dari 14 pertandingan. Ia baru absen di tiga pertandingan karena alasan kebugaran. Dari 14 laga yang dijalani Alisson, gawangnya jebol 9 kali. Mayoritas kebobolan 1 gol per pertandingan, dengan catatan sekali clean sheet saja ketika melawan Newcastle United dengan hasil 0-0. Kalau kebobolan paling banyak terjadi saat Liverpool menang 4-3 atas Leeds United pada September lalu atau di pekan pertama Premier League.

Sementara statistik David de Gea memperlihatkan kiper 30 tahun ini bermain dalam 15 pertandingan Premier League. Namun dibandingkan Alisson yang baru kebobolan 9 gol, David de Gea jauh tertinggal. Dari 15 pertandingan dengan 1.306 menit bermain, David de Gea harus 21 kali memungut bola dari gawang. Jumlah yang mengkhawatirkan bila melihat lini depan Liverpool dihuni para penyerang solid, seperti Mohamed Salah, Roberto Firmino, Sadio Mané, hingga Diogo Jota. Di situ agaknya David de Gea harus waspada. Jangan sampai mudah membuat kesalahan. Karena sedikit saja kesalahan, bisa fatal akibatnya dimanfaatkan para penyerang haus gol milik Liverpool.

 

Jordan Henderson kapten Liverpool – Foto: Twitter Liverpool FC

 

Sorotan untuk Barisan Pertahanan

Tanpa pertahanan yang bagus, setiap tim punya potensi menjadi bulan-bulanan lawan. Apalagi pertandingan yang melibatkan sesama tim besar yang sedang berpacu di trek juara. Pertemuan Liverpool vs Manchester United bisa menjadi gambaran nyata, bahwa tim mana yang pertahanannya kurang maksimal, itulah yang berpotensi besar menderita kekalahan. Oleh karena itu dibutuhkan soliditas di lini pertahanan. Tidak saja di area sepertiga akhir lapangan, tetapi sejak lapangan tengah, bahkan depan. Di situ transisi dari menyerang ke bertahan bisa menjadi faktor kunci.

Liverpool sejak ditinggal Virgil van Dijk karena cedera pada Oktober 2020 sampai akhir musim ini, tampak tidak terpengaruh. Buktinya Liverpool sempat dalam 12 pertandingan tidak terkalahkan, sampai akhirnya di laga pertama pada 2021, tepatnya 5 Januari lalu, menyerah tipis dari Southampton 0-1. Jadi sepertinya lini belakang Liverpool tidak ada masalah berarti untuk menghadapi serbuan para pemain Manchester United. Barangkali faktor keberuntungan saja, kalau akhirnya kemarin Liverpool kalah di kandang Southampton.

Daerah operasi pertahanan Liverpool diisi kuartet Trent Alexander-Arnold, Jordan Henderson, Fabinho, dan Andrew Robertson. Mereka ditopang tiga gelandang yang rajin naik dan turun, yaitu Oxlade-Chamberlain, Thiago Alcântara, dan Georginio Wijnaldum. Komando pertahanan ada di kapten Jordan Henderson. Sebagai pelapis multiguna di daerah belakang adalah James Milner dan Xherdan Shaqiri.

Memang, gawang Liverpool boros gol. Mereka sudah 21 kali kebobolan. Tapi hal itu diimbangi produktivitas yang tinggi. Liverpool sementara ini menjadi tim paling sering mencetak gol dengan 37 kali. Unggul 3 gol atas Manchester United yang menjadi tim urutan kedua sampai pekan 17 Premier League yang paling banyak mencetak gol. Tapi rasanya Jürgen Klopp, manajer Liverpool, harus waspada untuk pertandingan melawan Manchester United. Jangan sampai lini belakang menjadi sumber masalah di permainan, sehingga menyebabkan hasil tidak maksimal.

Dari Manchester United, kondisi lini belakang mereka juga tidak menggembirakan. Gawang Setan Merah sudah koyak 24 kali. Tertinggi diantara lima besar tim papan atas di klasemen sementara Premier League. Buat tim yang sedang bersaing di arena juara, kebobolan sebanyak itu bisa menjadi aib. Memperlihatkan bahwa ada lubang besar di sektor pertahanan.

Benar, Manchester United dalam 11 pertandingan terakhir Premier League tidak terkalahkan, sehingga membuat mereka naik ke puncak klasemen. Tapi dari 11 pertandingan itu ada empat kali saja Manchester United mencatat clean sheet alias bersih gol. Salah satunya saat imbang tanpa gol dalam Derby Manchester di Old Trafford pada 13 Desember 2020. Sisanya melawan WBA (1-0), Wolves (1-0), dan Burnley (1-0). Sementara di 7 pertandingan lain dalam 11 laga terakhir Premier League, gawang Manchester United selalu koyak. Malah dari 7 laga itu empat kali gawang Manchester United kebobolan 2 gol. Masing-masing saat menang atas Southampton (3-2), Sheffield United (3-2), Leeds United (6-2), dan Leicester City (2-2).

Empat bek sejajar Manchester United: Wan-Bissaka, Eric Bailly, Harry Maguire, dan Luke Shaw, harus cermat di pertandingan nanti. Termasuk dua gelandang bertahan Paul Pogba dan Nemanja Matić yang boleh lebih bijak dan condong menjaga kedalaman permainan, daripada bernafsu menyerang. Sebab, Liverpool tidak bisa dibiarkan mengembangkan permainan. Kalau kendali permainan ada di tangan Liverpool, siap-siap tim lawan menuai hasil negatif.

 

Suasana latihan Manchester United jelang menghadapi Liverpool – Foto: Twitter Manutd

 

Adu Cerdik Lini Tengah

Seperti apa formasi Liverpool dan Manchester United nanti, bisa memberi pengaruh besar terhadap hasil pertandingan. Selain formasi, bagaimana pola permainan yang dikembangkan, juga ikut berkontribusi terhadap jalannya permainan. Kebetulan Liverpool dan Manchester United adalah tipe tim yang di bawah manajer Jürgen Klopp serta Ole Gunnar Solskjær tidak suka bermain menunggu. Mereka adalah tim agresif, namun dengan perhitungan yang matang. Ada kalanya harus tancap gas, ada saatnya menurunkan tempo sejenak. Keseimbangan permainan adalah kunci dari Liverpool dan Manchester United sekarang ini ada di posisi teratas klasemen Premier League.

Tuan rumah Liverpool seperti biasa bakal memainkan formasi dasar 4-3-3, dengan pola permainan menyerang yang mengeksploitasi sisi sayap. Tiga gelandang dan dua penyerang sayap menjadi tumpuan permainan The Reds. Peran Jordan Henderson sebagai pemain nomor 8, berubah menjadi nomor kecil di lini belakang sejak Virgil van Dijk cedera. Tapi itu tidak masalah karena Thiago Alcantara bisa diandalkan untuk membentuk trio lapangan tengah Liverpool bersama Georginio Wijnaldum dan Curtis Jones.

Prinsipnya, Liverpool itu punya banyak pemain multi posisi yang siap diturunkan di mana saja. Terutama lini tengah dan belakang. Jadi Jürgen Klopp tidak perlu khawatir kekurangan stok pemain. Posisi tiga gelandang tidak terpaku kepada sosok, tetapi sistem. Transisi menyerang dan bertahan atau sebaliknya, menjadi tugas dari tiga gelandang untuk mengaturnya. Dari prinsip itu Liverpool tampaknya bisa bersaing ketat dengan Manchester United.

Dari kubu tamu, pilar tengah Manchester United juga tidak bisa dianggap remeh. Sistem permainan Manchester United bertumpu kepada lima pemain, karena Ole Gunnar Solskjær gemar memainkan formasi 4-2-3-1, dengan kombinasi 4-3-2-1, atau 4-5-1. Intinya Solskjær selalu menekankan kepada para pemainnya untuk bisa menguasai lini tengah. Karena di situ adalah pusat permainan.

Kelima andalan Manchester United di lini tengah adalah Paul Pogba dan Nemanja Matić sebagai metronom, serta Marcus Rashford, Bruno Fernandes, dan Anthony Martial, sebagai gelandang serang. Bila aliran bola Manchester United di lapangan tengah yang dikuasai lima pemain itu stabil, bukan tidak mungkin hasil positif akan dipetik di Anfield. Menang? Ya, tidak menutup kemungkinan. Karena ada faktor kunci lain yang sekiranya lapangan tengah Manchester United bisa berbicara banyak. Faktor itu adalah mayoritas pemain tengah Manchester United memiliki kemampuan sebagai penembak jitu. Jadi kiper Liverpool harus waspada jika sewaktu-waktu muncul tembakan tidak terduga yang tepat sasaran.

 

Mohamed Salah adalah mesin gol andalan Liverpool – Foto: Twitter Liverpool

 

Uji Ketajaman

Citra serangan Liverpool dalam beberapa tahun terakhir lekat dengan sosok Mohamed Salah, Roberto Firmino, dan Sadio Mané. Belakangan hadir Diogo Jota. Sebagai pelapis yang bagus ada stok pemain seperti Divock Origi hingga Takumi Minamino. Jürgen Klopp sangat baik dalam mengoperasikan para penyerangnya sebagai satu kesatuan yang kompak di kotak penalti lawan. Hasilnya sudah jelas bahwa trisula penyerang Liverpool menjadi kunci dalam sukses meraih gelar Liga Champions 2019 dan Premier League 2020.

Kolaborasi lapangan depan Liverpool ini bisa dikatakan sudah paten. Mau menghadapi tim manapun sudah tidak ada rahasia lagi. Pergerakan mereka akan selalu dijaga lawan. Tapi sampai sejauh ini kontribusi para penyerang Liverpool belum macet. Dari 34 gol yang dihasilkan dalam 17 laga Liverpool, 13 diantaranya datang dari Mohamed Salah. Di urutan kedua ada Sadio Mane 6 gol, lalu Roberto Firmino dan Diogo Jota sama-sama 5 gol. Kemudian enam pemain mencatat masing-masing 1 gol, yaitu Virgil van Dijk, Andy Robertson, Joel Matip, Georginio Wijnaldum, Jordan Henderson, dan Takumi Minamino. Sudah terbayang bukan, kalau poros Mohamed Salah-Roberto Firmino/Diogo Jota-Sadio Mané adalah kekuatan utama lini depan Liverpool.

Lalu bagaimana dengan kondisi lini depan Manchester United?

Catatan hasil 17 hasil pertandingan memperlihatkan bahwa pencetak gol terbanyak Manchester United bukan striker, tetapi gelandang. Dalam hal ini adalah Bruno Fernandes. Namun hampir separo gol yang dicetaknya berasal dari titik penalti. Ada 5 dari 11 gol yang dibuat Bruno Fernandes datang dari penalti. Dari 11 gol ini 10 diantaranya memakai kaki kanan, dan 1 sundulan.

Di urutan kedua penyumbang terbanyak adalah Marcus Rashford dengan 7 gol. Disusul Edinson Cavani (3), Paul Pogba, Scott McTominay, Anthony Martial (2), dan masing-masing 1 gol dari Victor Lindelöf, Harry Maguire, Wan-Bissaka, Daniel James, Donny van de Beek, dan Mason Greenwood.

Dari catatan gol itu bisa terlihat bahwa formasi satu striker murni yang ditempatkan Solskjær, memberi peluang besar untuk para penyerang tengah atau sayap, dapat memproduksi gol lebih banyak. Oleh karena itu Liverpool harus berhati-hati dengan skema yang dijalankan Manchester United. Minimal harus membuat perputaran bola di lini tengah Manchester United menjadi macet. Kalau bisa membuat lapangan tengah Manchester United buntu, Liverpool bakal punya angin lebih kencang untuk mendapatkan kemenangan.

Stadion Anfield akan jadi saksi siapa yang terbaik antara Liverpool vs Manchester United – Foto: premierleague.com

 

Head to Head

Pertemuan Liverpool dan Manchester United ini usianya sudah tua. Pertama kali dua tim paling sukses di Inggris Raya ini bersua dalam uji coba di Ewood Park, 28 April 1894. Jadi pertemuan ini umurnya 126 tahun. Pertemuan pertama dimenangi Liverpool atas Manchester United yang masih bernama Newton Heath dengan angka 2-0.

Dalam sejarahnya sejak 1894 itu--berdasarkan web pencatat hasil pertandingan Premier League 11 v 11--Liverpool menang 77 kali atas Manchester United, 67 kali seri, dan 88 kali kalah. Pertemuan terakhir berlangsung dalam Premier League pada 19 Januari 2020 di Stadion Anfield. Hasilnya Liverpool menang 2-0 lewat gol Virgil van Dijk dan Mohamed Salah.

Untuk mengukur kekuatan sekarang, ada baiknya kita berkaca dari hasil pertemuan dua musim terakhir, 2018/2019 dan 2019/2020. Ada empat pertandingan dalam dua musim terakhir saat Liverpool bertemu Manchester United. Hasilnya Liverpool menang 2 kali dan seri 2 kali. Artinya Manchester United tidak mampu menang.

Fakta itu bisa untuk menempatkan Liverpool sebagai unggulan di pertandingan nanti. Apalagi diselenggarakan di Stadion Anfield yang meski tanpa penonton, auranya tetap angker buat tim tamu. Terbukti dalam dua pertemuan terakhir Liverpool vs Manchester United di Anfield, tuan rumah menang dengan angka 3-1 dan 2-0.

Tapi jangan dilupakan kalau Manchester United datang ke markas Liverpool dengan status pemuncak klasemen. Boleh saja dibilang Manchester United datang ke Liverpool dengan membawa beban sebagai pemuncak klasemen. Tapi kalau bisa bermain lepas, posisi sementara Manchester United di klasemen Premier League itu bisa menjadi senjata.

Tapi rasa-rasanya Liverpool memang sedikit diunggulkan mencetak kemenangan di pertandingan nanti. Mungkin dengan margin tipis. Setuju Pria Intersport?

SAMPAIKAN KOMENTAR