Laga Ketat Duo Nerazzurri: Skuad Gasperini Gagalkan Kemenangan Inter
11
Nov
2020
0 Comment Share Likes 94 View

Lanjutan pekan ke-7 Serie A mempertemukan duo Nerazzurri, Atalanta dan Inter Milan. Keduanya yang juga merupakan perwakilan Italia di Liga Champions musim ini berjuang habis-habisan untuk meraih kemenangan.

Dalam laga yang berlangsung di Gewiss Stadium, Bergamo tersebut, Inter sempat unggul di awal babak kedua lewat sundulan Lautaro Martínez. Sebelas menit sebelum bubar, pemain pengganti Aleksei Miranchuk menyamakan skor lewat tendangan keras dari luar kotak penalti.

Pertandingan antara keduanya berlangsung dengan cukup ketat dan cenderung alot. Kedua kubu cukup kesulitan dalam membongkar pertahanan lawan. Atalanta bertahan dengan pressing ketat sementara Inter memiliki determinasi tinggi untuk keluar dari tekanan. Hasil imbang bisa jadi merupakan hasil yang cukup adil.

Line-up pemain

Berbenah dari kekalahan di laga Liga Champions tengah pekan, kedua tim melakukan beberapa perubahan dalam susunan sebelas awal mereka.

Gian Piero Gasperini menurunkan susunan 3-4-1-2 untuk anak asuhnya. Lini belakang dikomandoi oleh Marco Sportiello di bawah mistar serta trio bek tengah: Berat Djimsiti, Cristian Romero, dan Rafael Tolóii. Hans Hateboer dan debutan Matteo Ruggeri mengapit kedua sisi sayap sebagai wing-back. Duo Remo Freuler-Mario Pašalić mengisi posisi gelandang tengah. Di lini depan, Atalanta dipimpin trio Papu Gómez, Duván Zapata, dan Ruslan Malinovskyi.

Di kubu Inter, Antonio Conte cukup banyak merotasi skuatnya. Dalam formasi 3-5-2, trio Milan Škriniar, Stefan De Vrij, dan Alessandro Bastoni menjaga lini belakang di depan kiper Samir Handanović. Marcelo Brozović mengisi posisi jangkar di lini tengah di belakang dua gelandang box to box, Nicolò Barella dan Arturo Vidal. Matteo Darmian dan Ashley Young menyediakan kelebaran di kedua sisi sayap. Di lini depan Lautaro berduet dengan Alexis Sanchez.

 

Line-up dan tumbukan formasi kedua tim. Sumber: olahan Intersport

 

Kedisiplinan man to man marking Atalanta

Atalanta di bawah Gasperini terkenal sebagai salah satu tim yang memainkan pressing tinggi dengan orientasi penjagaan perorangan (man to man marking) di seluruh area lapangan. Mekanisme tersebut telah membantu mereka menjadi salah satu tim papan atas di Italia serta menjadi kuda hitam di level Eropa. Hal itu juga mereka terapkan ketika melawan Inter Milan, dan sukses menyulitkan tamunya tersebut untuk mengembangkan permainan.

Man to man marking Atalanta sangat terlihat di laga ini. Tiga pemain depan akan berhadapan langsung dengan tiga pemain bertahan Inter. Dua wingback di kedua sisi akan berhadapan langsung dengan dua wingback Inter. Di lini tengah, dua gelandang akan dibantu oleh salah satu bek tengah untuk menjaga trio gelandang Inter. Sementara kedua bek tengah sisanya akan menjaga duet penyerang Inter.

Dalam melakukan pressing, Atalanta sangat memperhatikan lini tengahnya. Gasperini menyadari adanya situasi kalah jumlah 2v3 antara dua gelandang Atalanta melawan tiga gelandang Inter. Hal ini disiasati dengan mekanisme pressing yang ekspansif namun tetap memberikan proteksi kepada area sentral tersebut.

Ketiga pemain terdepan umumnya tidak akan langsung agresif menekan saat bek tengah lawan menguasai bola. Mereka cenderung lebih dahulu menutup akses umpan vertikal Inter di area half space lewat cover shadow. Trigger bagi mereka untuk melakukan pressing adalah ketika bola diarahkan ke salah satu wing-back. Karena bola berada di area tepi, dua gelandang Atalanta dapat bergeser ke dua gelandang terdekat dan mengatasi situasi kalah jumlah.

Bentuk pressing Atalanta (sumber: fullmatchsports.co & olahan Intersport)

 

Mekanisme lainnya adalah dengan melibatkan salah satu bek tengah untuk melakukan forward press ke gelandang Inter apabila Inter bisa melakukan progresi di tengah. Biasanya ini dilakukan oleh Tolói kepada Barella. Akan tetapi tentu saja ini berisiko menimbulkan lubang di lini belakang Atalanta.

Kunci kedisiplinan Atalanta adalah dua gelandang tengah mereka. Baik Freuler dan Pašalić cukup disiplin ketika menekan lawan, dengan tidak teburu-buru dan tetap memprioritaskan proteksi area mereka. Hal ini juga dibantu oleh positioning Gomez dan Malinovskyi yang kerap membantu keduanya dengan menutup jalur umpan.

Inter keluar dari tekanan: potensi dari 3rd man run

Inter sendiri memiliki beberapa mekanisme untuk membongkar pressing Atalanta tersebut. Dalam beberapa momen, mekanisme tersebut membuat Inter memiliki progresi serangan yang baik dan menciptakan peluang.

Mekanisme yang cukup banyak digunakan adalah melakukan umpan diagonal dari sayap yang dikombinasikan dengan 3rd man run oleh gelandang. Mekanisme ini sudah menjadi semacam trademark dari tim yang diasuh oleh Conte. Prinsip 3rd man run itu sendiri adalah menemukan ‘orang ketiga’ di area yang kosong sehingga sulit diantisipasi oleh tim yang bertahan.

Ketika melawan Atalanta, bola pertama biasanya datang dari wingback atau gelandang yang diarahkan kepada striker. Setelah itu striker akan melakukan wall pass kepada orang kedua, biasanya gelandang pemberi umpan atau penyerang lain yang sebelumnya melakukan dummy sehingga menarik penjaganya dan memberikan ruang kepada orang pertama. Baru kemudian orang kedua tersebut memberikan umpan terobosan kepada orang ketiga yang berlari ke ruang kosong. Melawan orientasi man to man marking Atalanta, mekanisme ini memberikan potensi menjanjikan.

 

Potensi 3rd man run Inter (sumber: fullmatchsports.co & olahan Intersport)

 

Wide overload dan overlapping Centre Backs

Bermain dengan formasi identik 3 bek, keduanya memperagakan mekanisme yang mirip dalam membongkar serangan lawan, yaitu dengan melakukan overload di area luar dan memanfaatkan salah satu bek tengah untuk melakukan overlap. Tujuannya adalah menciptakan situasi menang jumlah di area sayap untuk kemudian melakukan umpan diagonal ke area sentral yang lebih berbahaya. Implementasi dari konsep ini mempunyai nilai strategis tersendiri bagi masing-masing tim dalam melakukan serangan.

Wide overload Atalanta dilakukan dengan salah satu gelandang yang turun ke belakang, sejajar dengan bek tengah. Sementara itu, bek tengah di sisi tersebut akan naik bersama wing-back dan penyerang untuk membuat overload di sisi sayap.

Melawan blok 5-3-2 Inter, mekanisme ini ditujukan untuk mengincar ruang di luar area gelandang dan penyerang lawan yang secara natural tidak terproteksi. Hal ini diharapkan dapat membuat blok Inter bergeser dan merenggang, sehingga membuka ruang untuk melakukan umpan diagonal.

Mekanisme ini cukup berbahaya ketika dilakukan dari kanan ke kiri. Malinovskyi sebagai penyerang kanan memiliki kaki dominan kiri yang bisa memberinya sudut umpan diagonal yang lebih tajam. Di sisi kiri, bola diterima oleh Zapata yang memiliki kemampuan sangat baik untuk shielding the ball sembari menunggu dukungan dari rekan setim atau mencari ruang tembak.

Wide overload Atalanta (sumber: fullmatchsports.co & olahan Intersport)

 

Mekanisme wide overload Inter kurang lebih mirip dengan Atalanta. Inter cenderung berbahaya dari sisi kiri, di mana bek tengah di sisi tersebut, yaitu Bastoni, memiliki kemampuan olah bola yang baik dan bisa memberikan ancaman ketika melakukan overlap.

Mekanisme ini memiliki nilai strategis dalam menarik penjagaan man to man lawan dan menciptakan ruang kosong yang bisa dieksploitasi. Hal ini terlihat di proses gol yang dicetak Lautaro, di mana overload yang diciptakan di sisi kanan oleh Barella, Škriniar, Darmian, dan Brozović menarik Pašalić keluar dan menciptakan ruang bagi Brozović untuk melakukan switch ke area kiri.

Wide overload Inter sebelum gol Lautaro (sumber: fullmatchsports.co & olahan Intersport)

 

Strategi Gasperini yang membuahkan hasil

Setelah tertinggal, Gasperini melakukan perubahan dengan memasukkan beberapa pemain, termasuk Miranchuk, Luis Muriel, dan Sam Lammers yang kemudian berperan dalam gol penyama kedudukan.

Kunci strategi dari Gasperini adalah perubahan formasi menjadi 4-2-1-3. Melawan Inter yang sedang mempertahankan keunggulan, tambahan pemain di lini depan membuat Inter semakin harus bertahan di blok rendah. Meski pemain di belakang berkurang, Gasperini tetap melakukan mekanisme wide overload dan overlapping Center Back. Dengan jumlah pemain yang lebih banyak, kombinasi yang bisa dilakukan juga semakin beragam. Dari proses overload di sisi kiri kemudian Miranchuk berhasil mendapatkan ruang tembak dan mencetak gol penyama kedudukan.

Situasi sebelum gol Miranchuk, pemain Atalanta menguasai lini terdepan dan memaksa Inter bertahan di blok rendah (sumber: fullmatchsports.co & Olahan Intersport)

 

Membuang kesempatan

Meski hasil akhir terlihat adil, namun kegagalan meraih kemenangan rasanya cukup disesali keduanya. Tidak hanya gagal memperbaiki performa, hasil imbang juga membuat posisi mereka di klasemen sementara melorot ke posisi 6 dan 7. Keduanya juga membuang kesempatan, karena tidak sampai sejam sebelum kick-off Atalanta vs Inter, dua pesaing juara lainnya, Lazio dan Juventus meraih hasil imbang 1-1. Keduanya kini harus merelakan disalip oleh Napoli dan AS Roma.

Khusus bagi Conte, hasil imbang ini membuat timnya kembali menjadi sorotan. Inter gagal meraih kemenangan di empat laga terakhirnya. Selain itu, statistik yang membuat frustrasi adalah fakta kalau Inter bisa saja meraih hasil lebih baik di dua laga terakhir.

Melawan Atalanta, Inter bisa meraih kemenangan jika lebih disiplin menjaga keunggulan. Di laga sebelumnya ketika kalah 2-3 melawan Real Madrid, Inter bisa saja membawa pulang satu angka jika lebih ketat dalam bertahan. Baik gol penyama kedudukan Atalanta dan gol penentu kemenangan Real Madrid dicetak di fase krusial 15 menit akhir pertandingan. Hal ini tentu perlu segera diperbaiki oleh Conte, yang dibebani target tinggi pada musim ini.

SAMPAIKAN KOMENTAR