Kualitas Individu Lini Serang PSG Meneror Bayern Munich
12
Apr
2021
0 Comment Share Likes 115 View

Bayern Munich harus belajar dari kesalahan ketika melawan Paris Saint-Germain (PSG) dalam leg pertama babak perempat final Liga Champions di Allianz Arena, Kamis dini hari WIB 8 April 2021. Bermain di kandang sendiri, tim berjuluk FC Hollywood dipaksa menyerah dengan skor 2-3 oleh tamunya.

Secara permainan, Bayern Munich jauh lebih mendominasi. Mereka mampu membuat PSG dalam keadaan tertekan sepanjang pertandingan. Statistik menunjukkan, skuad asuhan Hans-Dieter Flick mencatatkan penguasaan bola sebanyak 62 persen dengan 31 kali percobaan ke gawang lawan.

Namun, ketika tim tamu melancarkan serangan balik dan mendapatkan peluang, gol bisa mereka ciptakan. Alhasil tuan rumah dibuat gigit jari. Bahkan PSG sempat unggul dua gol lebih dulu dalam pertandingan yang berlangsung di bawah guyuran salju tersebut.

 

Kylian Mbappé dan Neymar dalam pertandingan Bayern Munich melawan PSG. Foto: Twitter.com/PSG_English

 

Kylian Mbappé membuka keunggulan PSG ketika pertandingan baru berjalan tiga menit. Berawal dari akselerasi Neymar yang dikepung lima pemain Bayern Munich tapi masih bisa melepaskan operan pendek kepada Kylian Mbappé. Striker Timnas Prancis itu berdiri di samping, dan seolah tak terdeteksi pergerakan oleh pemain tuan rumah.

Gol cepat itu sebenarnya menjadi peringatan keras bagi Bayern Munich. Kualitas individu pemain PSG tak bisa mereka redam dengan mudah meski sudah lima orang yang mengepung. Serangan balik yang jadi andalan tim tamu tersebut akan sangat berbahaya karena para pemain depan Les Parisiens bisa melakukan variasi dalam upaya melakukan penyelesaian akhir.

Kemampuan individu Kylian Mbappé kembali teruji saat dia mencetak gol kedua pada pertandingan ini sekaligus menjadi penentu kemenangan PSG atas Bayern Munich. Melakukan akselerasi hingga ke dalam kotak penalti, dengan tenang dia mengecoh bek lawan, lalu melepaskan tendangan keras mendatar yang membuat Manuel Neuer tak bisa melakukan apa-apa.

Mengubah Peran Neymar

Menghadapi Bayern Munich pada leg pertama, pelatih PSG, Mauricio Pochettino menerapkan formasi yang tak biasa. 4-2-3-1 jadi andalannya dengan menempatkan Kylian Mbappé sebagai penyerang tunggal. Di belakangnya ada Neymar, Angel Di Maria, dan Julian Draxler yang juga bertugas untuk mengawal lini tengah Bayern Munich agar tidak mudah mengalirkan bola.

Angel Di Maria dan Julian Draxler seringkali terlihat turun ke daerah pertahanan sendiri untuk memberi bantuan kepada bek sayap yang ditempat Colin Dagba dan Abdou Diallo. Sedangkan Neymar dan Kylian Mbappé saling bergantian menutup celah Bayern Munich memberikan asupan bola kepada Joshua Kimmich.

"Pelatih ingin saya dan Neymar menghentikan opsi passing kepada Joshua Kimmich. Ketika kami mendapatkan bola, dia ingin saya masuk lebih dalam sekaligus mencari jalan keluar. Saya siap menerima tantangan yang diberikan, dan itu bekerja dengan baik," kata Kylian Mbappé, dikutip dari laman resmi UEFA.

 

Gelandang Bayern Munich, Joshua Kimmich saat menghadapi PSG. Foto: Twitter.com/FCBayernEN

 

Joshua Kimmich dan Leon Goretzka merupakan gelandang jangkar andalan Bayern Munich. Tugas mereka dalam formasi 4-2-3-1 tidak cuma merebut bola dari lawan ketika diserang, tapi juga memulai inisiatif serangan dengan cara mengalirkan bola ke ruang yang terbuka.

Tidak mudah bagi Joshua Kimmich untuk menjalankan peran seperti biasa. Ruang untuk memberikan bola kepadanya ditutup secara bergantian oleh Kylian Mbappé dan Neymar. Alhasil pemain belakang atau kiper Bayern Munich harus berulang kali langsung melepaskan bola ke lini depan yang diisi Kingsley Coman, Eric Maxim Choupo-Moting, dan Leroy Sane.

Guna mengantisipasi alternatif serangan Bayern Munich tersebut, PSG menempatkan empat beknya dengan sejajar. Bek sayap kiri dan kanan begitu siaga untuk menghalau upaya Kingsley Coman dan Leroy Sane untuk merangsek masuk ke dalam kotak penalti. Lalu dua gelandang bertahan PSG, Danilo Pereira dan Idrissa Gueye ikut serta membantu untuk menjaga pergerakan Thomas Muller yang biasa muncul tiba-tiba ke dalam kotak penalti.

Kecerdikan Mauricio Pochettino juga terlihat dari cara PSG melakukan transisi dari bertahan ke menyerang. Neymar lebih banyak porsinya dalam menguasai bola untuk melakukan serangan balik. Tapi dia tak terburu-buru. Kemampuan individunya dalam mengolah si kulit bundar dijadikan Mauricio Pochettino untuk mengulur waktu guna menanti Angel Di Maria dan Julian Draxler membantu Kylian Mbappé ke depan.

Dengan tugas seperti itu, tak heran jika Neymar sering sekali dilanggar oleh lawan. Pemain Bayern Munich juga tak punya pilihan lain, mereka harus cepat menghentikan pemain Timnas Brasil tersebut ketika sedang menguasai bola, daripada nantinya gawang mereka yang mendapatkan ancaman dari Les Parisiens.

Manfaatkan Duel Udara

Rapatnya pertahanan PSG bukannya tanpa celah yang bisa dimanfaatkan oleh Bayern Munich. Dua gol yang tercipta melalui Eric Maxim Choupo-Moting dan Thomas Muller lahir melalui sundulan. Umpan silang ke dalam kotak penalti dan memenangkan duel udara menjadi keunggulan yang bisa dimaksimalkan oleh skuad besutan Hansi Flick pada leg kedua nanti.

Untuk lebih memaksimalkan keunggulan tersebut, yang pasti dua penyerang sayap Bayern Munich, Kingsley Coman dan Leroy Sane harus lebih sering lagi mengirimkan umpan silang lambung. Karena pada leg pertama mereka kerap memaksakan untuk melakukan akselerasi ke dalam kotak penalti lalu mengirim operan mendatar.

Cara tersebut tidak bisa sukses untuk membongkar compact defense yang diterapkan oleh Les Parisiens. Di mana empat pemain belakang mereka selalu ada di dalam kotak penalti untuk melakukan blok terhadap bola. Padahal statistik Whoscored.com menyebutkan dari 22 kali duel udara, Bayern Munich memenangkan sebanyak 14, dan delapan di antaranya terjadi dalam kotak penalti PSG.

 

Statistik duel udara Bayern Munich (oranye) melawan PSG (biru) pada leg pertama perempat final Liga Champions 2020/2021. Foto: Whoscored.com

 

Tidak ada yang salah jika Bayern Munich mencoba untuk mengubah permainan menjadi lebih sering mengirim umpan silang lambung. Karena mereka juga masih akan kehilangan Robert Lewandowski yang belum pulih dari cedera lutut. Artinya, Eric Maxim Choupo-Moting yang punya tinggi 191 centimeter akan tetap menjadi andalan sebagai ujung tombak.

Bayern Munich juga masih punya Thomas Muller yang bisa diandalkan untuk menghadapi duel udara. Pemain yang juga pintar dalam mencari ruang kosong di lini pertahanan lawan bisa jadi alternatif pula sebagai pengirim umpan silang lambung. Karena dalam beberapa kesempatan, pemain berjuluk Sang Penafsir Ruang bermain melebar ke sisi sayap kanan untuk membuat kombinasi bersama Leroy Sane.

Belum lagi ada tambahan dari dua bek sayap Bayern Munich yang aktif memberi bantuan ke lini depan. Yang paling menonjol tentu saja Benjamin Pavard di sisi kanan. Catatan satu assist dihasilkan saat leg pertama dan berbuah gol sundulan dari Eric Maxim Choupo-Moting.

Seni Pertahanan Mauricio Pochettino

Mauricio Pochettino adalah pelatih yang menjadi antitesis dari Hansi Flick. Pria berusia 49 tahun itu merupakan salah satu arsitek yang terkenal mampu membuat pertahanan tim besutannya sulit untuk ditembus oleh lawan. Semasa melatih Tottenham Hotspur pada 2015/2016 dan 2016/2017, jumlah kebobolan paling sedikit di Premier League adalah pembuktiannya.

Pada musim 2016/2017 itulah catatan kebobolan paling minimal dan luar biasa didapat oleh The Lilywhites. Mereka cuma kebobolan 26 kali dari 38 pertandingan yang dijalani. Jumlah gol Tottenham Hotspur ke gawang lawan ketika itu mencapai 86. Tak heran jika finis pada urutan kedua jadi raihan mereka ketika itu.

Saat ini adalah musim pertama Mauricio Pochettino di PSG. Pemain belakang yang ada bukanlah pilihan dia, karena masuk di tengah musim berjalan untuk menggantikan Thomas Tuchel yang dipecat oleh manajemen pada awal 2021. Meski begitu, leg pertama melawan Bayern Munich jadi cerminan betapa cara dia membangun tembok pertahanan yang kokoh begitu apik.

Di sisi lain, Hansi Flick yang dipercaya menjadi pelatih kepala Bayern Munich sejak November 2019 telah memimpin sebanyak 17 pertandingan Liga Champions. 15 kemenangan dan masing-masing sekali imbang serta kalah jadi catatannya. Dia membuat FC Hollywood menjadi tim yang ganas dalam urusan membobol gawang lawan.

 

Pertandingan Bayern Munich vs PSG dalam leg pertama perempat final Liga Champions 2020/2021. Foto: Psg.fr

 

Total sejauh ini Bayern Munich mampu menghasilkan 56 gol. Itu membuat mereka rata-rata dalam satu pertandingan mencetak 2,71 gol. Siapa yang tidak gentar melihat catatan statistik tersebut. Agresivitas mereka selalu jadi momok menakutkan bagi tim yang akan menjadi lawan.

Itulah mengapa menarik untuk menantikan leg kedua antara PSG melawan Bayern Munich yang akan dilangsungkan di Parc des Princes pada Rabu dini hari WIB 14 April 2021. Apakah Hans-Dieter Flick bisa memberikan balasan pahit kepada Mauricio Pochettino yang telah menghentikan tren positifnya di Liga Champions selama ini.

Atau mungkin memang juru taktik asal Jerman itu berhadapan dengan sosok yang sudah tahu cara untuk melumpuhkan strateginya? Menarik untuk menantikan pertandingan ini. Siapa yang akhirnya bisa tersenyum sembari membawa tim besutannya membuka asa merengkuh gelar juara Liga Champions 2020/2021. Jangan sampai ketinggalan, Pria Intersport!

SAMPAIKAN KOMENTAR