Kesabaran Chelsea Menembus Benteng Atlético Madrid
24
Feb
2021
0 Comment Share Likes 126 View

Pertahanan kokoh yang dibangun Atlético sepanjang pertandingan akhirnya bisa ditembus oleh Chelsea. Gol semata wayang yang dicetak Olivier Giroud berhasil membawa Chelsea meraih kemenangan tandang penting di leg pertama babak 16 Besar Liga Champions. Hasil 1-0 menjadi modal berharga bagi The Blues untuk menghadapi leg kedua nanti di Stamford Bridge.

Atlético harus bermain sebagai tuan rumah ‘sementara’ karena tidak bisa menggelar laga di kandang mereka sendiri. Protokol Covid-19 di Spanyol melarang masuknya pendatang dari Inggris. Alhasil UEFA menginstruksikan Atlético untuk mencari venue netral. National Arena di Bucharest, Rumania, menjadi pilihan. Stadion tersebut memiliki nilai historis, karena menjadi tempat di mana Diego Simeone memenangi gelar perdananya sebagai pelatih Los Rojiblancos: Liga Europa 2012.

Di luar nostalgia tadi, nyatanya Chelsea mampu mengambil keuntungan sebagai tim tamu di lokasi netral. Meski harus bersusah payah menembus blok pertahanan Atleti selama satu jam lebih, anak asuh Thomas Tuchel mampu membawa hasil penting kembali ke London. Mari kita telaah apa yang jadi faktor kesuksesan The Blues di leg pertama ini, Pria Intersport.

Line-up

Tuan rumah yang ditinggalkan banyak pemain kuncinya akibat badai cedera dan skorsing melakukan beberapa penyesuaian. Cukup sulit secara rinci mendefinisikan formasi Atlético Madrid. Ketika sedang tidak memegang bola, mereka akan bertahan dengan struktur 6-3-1, sedangkan ketika menyerang mereka bisa menggunakan formasi 4-4-2.

Fitur utama dari formasi Los Rojiblancos adalah tiga pemain bertahan yang selalu stay di garis belakang: Stefan Savić, Felipe, dan Mario Hermoso. Marcos Llorente, yang berperan sebagai ‘bek kanan’ kerap membantu serangan bersama dengan Ángel Correa. Sisi sayap kiri menjadi domain Thomas Lemar dan João Félix. Nama terakhir juga kerap bermain lebih ke dalam sebagai duet dari Luis Suárez di lini depan. Di lini tengah Koke dan Saúl berperan sebagai double pivot.

Sementara itu tim tamu tetap menggunakan pola andalan mereka sejak ditangani oleh Thomas Tuchel, yaitu 3-4-2-1. Selain tiga bek yang diisi oleh César Azpilicueta, Andreas Christensen, dan Antonio Rudiger, perubahan utamanya terjadi di posisi tiga terdepan. Kali ini tiga pos lini serang tersebut diisi oleh Olivier Giroud sebagai penyerang utama, diapit oleh Timo Werner dan Mason Mount di kedua sisi. Posisi sayap terluar, yang menjadi area operasi dua wingback, diisi oleh Callum Hudson-Odoi dan Marcos Alonso.

Susunan formasi kedua tim (sumber: olahan Intersport)

 

Blok rendah 6-3-1 Atlético

Meski berstatus sebagai ‘tuan rumah’, Atlético bermain tidak dengan susunan ideal dan menerapkan permainan yang lebih pasif. Simeone menginstruksikan anak asuhnya untuk bermain lebih bertahan dengan struktur 6-3-1 ketika tidak memegang bola. Bertahan dengan blok menengah dan rendah, Atlético berupaya untuk meredam lini serang Chelsea yang eksplosif.

Chelsea kerap menyerang menggunakan lima pemain sekaligus. Selain ketiga penyerang, dua wingback juga kerap membantu serangan dari area luar. Dengan menggunakan backline dengan komposisi enam pemain belakang, Atlético mampu memiliki situasi unggul jumlah (6v5) melawan lini serang Chelsea.

Di lini tengah, tiga gelandang juga membantu memberikan proteksi tambahan. Selain Saúl dan Koke, João Félix akan membantu lini tengah dengan bermain sejajar dengan dua kompatriotnya asal Spanyol tersebut dan meninggalkan Luis Suárez sendirian di lini depan.

Meski bertahan dengan banyak pemain di belakang, blok pressing Atlético tidak selamanya pasif. Mereka tetap menekan Chelsea dengan mengarahkan build-up tim asal London tersebut ke area yang tidak menguntungkan.

Dimulai dari lini depan, Suárez menekan pemain belakang Chelsea yang menguasai bola. Tiga gelandang di belakangnya juga memiliki akses pressing yang relatif terjangkau ke semua sisi lapangan. Apabila bola diarahkan ke sayap, gelandang terdekat dapat dengan mudah menekan area tersebut karena jaraknya tidak terlalu jauh. Dua gelandang lainnya akan ikut bergeser menjaga kestabilan blok pressing secara horizontal.

Di lini belakang, dengan situasi unggul jumlah, Atlético dapat dengan mudah menginstruksikan masing-masing pemain untuk melakukan penjagaan man-marking kepada pemain Chelsea yang mengisi lini depan. Utamanya penjagaan ini dilakukan di area terdekat. Misalnya, Chelsea menyerang lewat sisi kanan. Maka tiga bek terdekat di area kiri akan melakukan penjagaan perorangan tersebut.

Situasi tersebut menyulitkan Chelsea untuk menyerang dengan nyaman. Dengan situasi kalah jumlah dan lawan yang menerapkan orientasi man to man, Chelsea tidak banyak menciptakan peluang berbahaya dengan sudut dan jarak tembak yang pas.

Blok rendah Atlético (sumber: olahan Intersport)

 

Wide overload: upaya Chelsea membongkar pertahanan Atlético

Di tengah situasi tersebut, bagaimana Chelsea membongkar pertahanan lawan? Di pertandingan liga sebelumnya, Chelsea beberapa kali menghadapi lawan yang bertahan begitu dalam. Terdapat beberapa metode yang digunakan Chelsea pada laga ini.

Pertama adalah menciptakan overload di area luar. Mekanisme ini biasa dilakukan oleh Mason Mount yang memiliki kemampuan operan dan penguasaan bola (ball retention) yang baik. Dua kemampuan tersebut dipakai Mount untuk menciptakan situasi menang jumlah di area tertentu sehingga memperlancar progresi serangan Chelsea.

Mount kerap bermain sedikit melebar ke area sayap kanan di mana ia melakukan kombinasi satu dua dengan Callum Hudson-Odoi. Lewat kombinasi tersebut, Chelsea bisa mendapatkan ruang dan posisi yang bersih untuk melakukan umpan silang. Kemampuan Hudson-Odoi yang baik dalam situasi satu lawan satu dan memiliki kecepatan sangat baik dalam mengeliminasi penjagaan dan mendapatkan situasi berbahaya.

Jangkauan Overload Para Pemain Chelsea (sumber: olahan Intersport)

 

Overload di area luar juga dibantu oleh bek tengah yang sedikit naik. Dengan naiknya bek tengah ke area gelandang, pivot Chelsea seperti Jorginho atau Mateo Kovačić bisa membantu menciptakan overload di area yang lebih tinggi. Mekanisme seperti ini juga membuat lini pertahanan Atlético turun semakin dalam, sehingga turut meminimalisir ancaman serangan balik dari Los Rojiblancos.

Chelsea semakin padu atau Atlético yang mulai menurun?

Chelsea akhirnya mampu menemukan gol penentu lewat kaki Olivier Giroud. Gol salto penyerang Timnas Prancis tersebut merupakan koleksi keenamnya di Liga Champions musim ini. Catatan tersebut membuktikan bahwa ia masih bisa menjadi andalan bagi Thomas Tuchel dalam mencetak angka.

Gol yang dicetak Giroud sempat tertunda cukup lama akibat pengecekan VAR. Posisi Giroud yang offside ketika menyepak bola sempat membuat asisten wasit menganulir golnya. Akan tetapi setelah melihat kalau bola yang terpantul ke kaki Giroud adalah hasil sentuhan Mario Hermoso, wasit Felix Brych segera mengesahkannya.

 Aksi Hermoso tersebut sempat menjadi sorotan. Pasalnya bek lulusan akademi Real Madrid tersebut disinyalir ingin mengontrol bola hasil umpan silang Marcos Alonso alih-alih segera menyapunya keluar kotak penalti. Kesalahan tersebut harus dibayar mahal dengan kekalahan Atlético. Di pertandingan sebelumnya melawan Levante, kesalahan individu juga membuat Atlético takluk dengan skor 0-2. Tren buruk ini tentu akan menghambat perkembangan Atlético yang sempat tampil gemilang di awal musim.

Di sisi lain, Thomas Tuchel terbukti mampu memberikan hasil yang baik bagi Chelsea. Meski masih belum optimal, struktur formasi yang ada mampu menambal lubang di tim dan memberikan hasil berupa kemenangan. Melihat tim yang semakin padu, patut ditunggu bagaimana perkembangan taktik Tuchel terhadap timnya.

SAMPAIKAN KOMENTAR