Kebiasaan Unik Para Pelatih Sepakbola: Dari Kenyamanan hingga Takhayul
15
May
2021
0 Comment Share Likes 396 View

Pelatih merupakan elemen penting dari suatu tim sepakbola. Keberadaan pelatih merupakan kunci dari organisasi tim yang baik di dalam lapangan. Pelatih yang hebat mampu meramu taktik dan strategi yang jitu bagi timnya untuk meraih kemenangan. Sebaliknya, apabila pelatih gagal menemukan strategi yang pas, tak jarang tim yang terkena imbasnya. Karenanya, tak jarang performa buruk suatu tim berujung pada pemecatan pelatih.

Hampir setiap pelatih mempunyai gayanya masing-masing. Tak cuma soal taktik atau strategi, tapi juga gaya melatih di pinggir lapangan. Beberapa pelatih di bawah ini memiliki karakteristik yang unik karena kebiasaan mereka saat melatih tidak ditemui di pelatih lainnya. Di bawah ini, Intersport merangkum lima kebiasaan unik para pelatih saat memimpin timnya dari tepi lapangan.

Berteriak penuh semangat sepanjang laga

Kebiasaan berteriak sepanjang pertandingan boleh jadi merupakan salah satu kebiasaan yang paling banyak dilakukan oleh pelatih sepakbola. Lapangan yang luas menjadi alasan mengapa pelatih tersebut perlu berteriak agar instruksinya sampai kepada anak buahnya yang berada di ujung lapangan.

Antonio Conte merupakan salah satu pelatih yang lekat dengan gaya berteriaknya. Pelatih asal Italia ini punya alasan tersendiri mengapa ia kerap berteriak. Sebagai pelatih, ia memiliki taktik berupa set play yang saklek dan harus dieksekusi oleh para pemainnya dengan detail yang sempurna. Untuk itu, sepanjang 90 menit Conte harus terus berteriak memberikan instruksi kepada pemainnya.

Conte, selalu bersemangat selama 90 menit di pinggir lapangan (foto: Goal)

 

Di luar itu, Conte memang sosok yang sangat bersemangat dan memiliki passion tinggi terhadap sepakbola. Tak hanya kala memberikan instruksi kepada pemain, kebiasaan berteriaknya juga terlihat ketika merayakan gol bersama penonton, bahkan ketika memprotes wasit! Semangat ala Conte diharapkan menular kepada anak asuhnya di lapangan. Tentu saja hal itu terbukti jitu, lihat saja bagaimana kesebelasan arahan Conte, Internazionale Milano yang baru saja memutus dominasi sembilan tahun Juventus di Serie A.

‘Ketagihan’ Merokok

Sebagai olahraga berintensitas tinggi, tentu perilaku merokok merupakan hal yang tabu bagi atlet sepakbola. Tak jarang perilaku merokok bagi pelaku sepakbola berujung denda atau dicoret dari tim. Bahkan, di era kontemporer ini beberapa otoritas kompetisi mengeluarkan larangan bagi perusahaan rokok untuk mensponsori tim atau kejuaraan sepakbola.

Hal tersebut tidak berlaku bagi Maurizio Sarri. Pelatih yang sempat membesut Empoli, Napoli, Chelsea, dan Juventus tersebut kerap ditemui sedang menghembuskan asap nikotin di sela-sela memimpin timnya kala bertanding. Sarri memang seorang perokok akut. Menurut cerita Gonzalo Higuain, eks pemainnya di Napoli dan Chelsea, Sarri bisa menghabiskan lima bungkus rokok setiap harinya. Lebih rinci lagi, kepada Football Italia, Sarri mengakui kalau ia bisa merokok 60 batang per hari. Sebuah jumlah yang mengejutkan untuk seorang berusia 62 tahun.

Sarri tidak bisa dilepaskan dari rokok (foto: 90min)

 

Masalah mulai muncul ketika Sarri menjadi pelatih Chelsea. Peraturan ketat soal rokok di Inggris membuat Sarri tak bisa melanjutkan ‘kegiatan favoritnya’ di tepi lapangan seperti dahulu. Meski begitu, hal tersebut tidak menghentikan Sarri. Ia tetap ‘merokok’ meski tidak dinyalakan dengan korek api. Ya, Sarri hanya menggigit rokok tersebut di bagian filternya. Setidaknya, ia masih bisa merasakan rokok Merit kesukaannya.

Perilaku tersebut tentu berdampak pada kesehatannya. Ketika melatih Juventus musim lalu, Sarri sempat absen di laga perdana kontra Parma akibat infeksi pada paru-parunya. Dokter tim Juventus menyarankan Sarri untuk menjalani rehabilitasi dan menjauhkan diri dari laga penuh tekanan. Sialnya, dalam rehabilitasi tersebut, Sarri kepergok membawa sebungkus rokok saat berfoto bersama penggemar. Rasanya sulit bagi Sarri untuk menghilangkan kebiasaan tersebut.

Duduk di atas ember

Marcelo Bielsa adalah salah satu sosok paling legendaris dalam sejarah sepakbola. Prestasi dan kontribusi pelatih asal Argentina tersebut di permainan kulit bundar sudah tak bisa diragukan lagi. Tim-tim yang dilatihnya selalu bermain menyerang dan atraktif, sekalipun tim-tim tersebut tak dihuni oleh pemain bintang.

Tak hanya timnya yang tampil menghibur, gaya eksentrik Bielsa kala melatih dari pinggir lapangan juga menjadi sorotan para penggemar. Salah satu gaya unik pelatih yang kini menukangi Leeds United tersebut adalah berjongkok. Kebiasaan lainnya, alih-alih duduk di bangku cadangan untuk sekadar meluruskan kaki atau beristirahat, Bielsa lebih memilih duduk di atas ember.

Selidik punya selidik, kebiasaan unik tersebut semata-mata merupakan pilihan praktis. Dengan duduk di ember yang lebih dekat ke lapangan, Bielsa bisa mendapatkan sudut pandang yang lebih baik dibandingkan dengan duduk di bench yang seringkali berada cukup jauh dan tidak sejajar dengan lapangan. Alasan lainnya, menurut jurnalis senior Guillem Balague, duduk di ember lebih nyaman bagi Bielsa yang memiliki riwayat sakit pinggang. Intensitas Bielsa yang tinggi di hari laga membuatnya lebih nyaman duduk di atas ember.

Bielsa dengan ember yang dirancang khusus oleh Leeds (foto: Goal)

 

Ember Bielsa ini punya cerita tersendiri di Leeds. Dulu, ketika melatih di Marseille, Bielsa lebih banyak duduk di atas kotak es yang merupakan salah satu perangkat wajib di suatu tim. Ketika datang ke Leeds, pihak klub mendesain ember khusus untuk Bielsa, lengkap dengan bantalan duduk dan logo klub beserta sponsor. Leeds bahkan menjual replika ember tersebut di toko resmi klub. Ternyata, kebiasaan unik pelatih juga bisa mendatangkan pundi-pundi penghasilan bagi klub. 

Mengenakan aksesoris unik

Kebiasaan unik lain yang biasa dilakukan pelatih adalah mengenakan aksesoris unik. Pelatih tidak lagi hanya mengenakan kaus atau jaket training, pelatih sekarang juga tak sedikit yang tampil necis dengan balutan fashion terkini. Tak jarang pelatih menambahkan aksesoris-aksesoris pendukung guna menunjang penampilan mereka.

Aksesoris untuk mendukung kita tampil lebih rapi tentu wajar-wajar saja. Akan tetapi, bagaimana jika aksesoris tadi digunakan sebagai jimat guna meraih kemenangan?

Simak apa yang dilakukan oleh Felix Magath. Kala melatih Wolfsburg di medio akhir 2000-an, Magath selalu terlihat dengan dasi berwarna hijau. Pada awalnya, Magath mengenakan warna tersebut karena sesuai dengan warna kebesaran klub. Akan tetapi, ketika Wolfsburg terus meraih kemenangan kala Magath memakai dasi tersebut, ia mulai menganggap dasi hijau sebagai jimat keberuntungannya. Apa boleh buat, jimat tersebut memberikan tuahnya dengan Wolfsburg sukses menjuarai Bundesliga di musim 2008/09.

Menyoal benda keberuntungan, beberapa pelatih memiliki jimat yang bernuansa religius. Giovanni Trapattoni, pelatih kawakan asal Italia, selalu membawa air suci kala melatih Timnas Irlandia. Air suci tersebut ternyata disediakan oleh adik kandungnya sendiri yang merupakan seorang biarawati.

Menyebrang ke Rusia, ada eks pelatih Rubin Kazan dan FC Rostov, Kurban Berdyev, yang kerap terlihat di pinggir lapangan dengan memegang tasbih di tangannya. Menurut Berdyev, memegang tasbih ternyata membuatnya lebih tenang dalam melatih. Dengan begitu, keputusan yang diambil pun bisa lebih tajam.

Kurban Berdyev, kerap terlihat dengan tasbih di tangannya (foto: HITC)

           

Kebiasaan unik para pelatih yang beragam dalam melatih tidak hanya menjadi ciri khas dari pelatih tersebut. Gaya yang unik juga bisa menjadi warna tersendiri dalam permainan sepakbola. Mana yang menjadi favoritmu, Pria Intersport?

SAMPAIKAN KOMENTAR