Karakter Kuat yang Membentuk Radamel Falcao
10
Feb
2021
1 Comment Share Likes 140 View

Sepakbola di pertengahan era 2010-an tidak lengkap tanpa menyebut nama Radamel Falcao Garcia. Sebagai seorang penyerang murni, Falcao nyaris bisa mencetak gol dari situasi apapun. Keberadaan penyerang Kolombia tersebut di kotak penalti merupakan bentuk ancaman yang nyata bagi barisan pertahanan lawan.

Bek sekelas Carles Puyol atau Sergio Ramos kerap tak berkutik menghadapi pergerakan lincah dan naluri mematikannya. Iker Casillas atau Petr Čech terkadang hanya bisa pasrah memungut bola dari gawang. José Mourinho atau Pep Guardiola harus memutar otak untuk meracik taktik yang bisa menetralisir daya ledak Falcao.

Di usia yang kini menyentuh angka 34 tahun, Falcao bermain untuk Galatasaray di Liga Super Turki. Meski tidak lagi setajam dulu, Falcao tetap menjadi andalan bagi klubnya tersebut. Kisah Falcao akan sangat kental dengan mentalitas kuatnya untuk kembali usai keterpurukan.

Darah sepakbola

Falcao lahir dari keluarga pesepakbola. Ayahnya, Radamel Garcia King adalah seorang bek yang semasa karirnya bermain untuk beberapa kesebelasan papan atas Kolombia. Radamel senior juga tercatat sebagai salah satu kontingen Kolombia cabang sepakbola pada Olimpiade 1980. Nama tengah ‘Falcao’ diberikan sang ayah berdasarkan sosok gelandang Brasil yang melegenda bersama AS Roma pada dekade 1980-an, Paulo Roberto Falcao. Belakangan, Falcao menjadi nama yang sudah lekat dipilih oleh Radamel Junior sepanjang karirnya.

Bakat sepakbola sang ayah menurun pada Falcao. Setelah meninggalkan baseball di usia muda, Falcao segera menekuni sepakbola. Ia segera menjadi fenomena besar di usia belia. Falcao yang baru berusia sangat muda kala itu merasakan debutnya sebagai pesepakbola. Memperkuat Lanceros Boyaca, Falcao menginjak lapangan di 20 menit terakhir laga Categoria Primera B kontra Deportivo Pereira.

Debut tim utama di usia yang sangat belia (foto: El Espectador)

Fenomena tersebut hanyalah awal dari sejarah. Ia direkrut raksasa Argentina, River Plate pada 2001. Menjadi pengisi skuad utama secara reguler sejak 2005, Falcao muda menunjukkan tajinya dengan 45 gol dari 111 penampilan di semua kompetisi. Gelar Clausura Liga Primer Argentina musim 2007/2008 berhasil ia persembahkan.

Puncak performa di Semenanjung Iberia

Kemampuan gemilang Falcao mulai menarik bakat klub-klub Eropa. River Plate dikabarkan sempat menolak tawaran AC Milan dan Aston Villa sebelum sepakat melegonya ke FC Porto pada musim panas 2009 dengan nilai 3,9 juta Euro. Di Portugal inilah tahapan awal Falcao mendominasi Eropa.

Di musim pertamanya, Falcao mencatatkan 34 gol dari 43 laga, sebanyak 25 gol di antaranya terjadi di kompetisi domestik. Musim berikutnya, Falcao meningkatkan produktivitasnya dengan 38 gol dari 42 pertandingan. Selain membantu Porto memenangkan treble (Primeira Liga, Taca de Portugal, dan Liga Europa), Falcao juga memecahkan rekor yang dipegang Jurgen Klinsmann dengan 17 gol dalam satu musim kompetisi antarklub Eropa di musim keduanya.

Penampilan yang fantastis membuat Atlético rela merogoh kocek hingga 50 juta euro untuk mendaratkan Falcao ke sisi lain Semenanjung Iberia. Falcao diplot untuk gantikan Sergio Agüero dan Diego Forlán yang hengkang ke Manchester City dan Inter Milan. Investasi yang memecahkan rekor transfer Atlético kala itu dibayar lunas oleh Falcao. Musim pertamanya di Atletico kembali diwarnainya dengan ketajaman di kompetisi Eropa: mencetak 15 gol dari 12 pertandingan dan membawa Los Rojiblancos menjuarai Liga Europa. Dua tahun merumput di Vicente Calderon, Falcao merangkumnya dengan 70 gol dan 3 trofi bergengsi. Pada tahun 2012, ia terpilih ke dalam 11 terbaik versi FIFPro bersama nama-nama tenar lain seperti Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

Memenangi Liga Europa dengan rekor tertajam di kompetisi antarklub Eropa (foto: UEFA)

 

Mentalitas falcaomania: cedera dan upaya untuk kembali bersinar

Karir gemilang Falcao bisa jadi terhalang ketidakberuntungan. Cedera parah silih berganti datang menghampirinya sehingga karirnya menuju puncak kerap terhambat.

Cedera parah pertama ia dapatkan kala memperkuat River Plate di musim pertamanya. Ligamen lutut kanannya robek di suatu laga Apertura kontra San Lorenzo dan mengharuskan Falcao menepi selama 10 bulan. Padahal sebelum cedera, ia sedang berada di salah satu momen terbaiknya dengan mencetak 7 gol dari 7 pertandingan. Cedera horor tersebut tentu memengaruhi Falcao yang kala itu belum berusia 20 tahun.

Momen cedera yang juga menjadi titik balik karir Falcao terjadi kala ia memperkuat Monaco. Tekel horor yang diterimanya di laga Coupe de France kontra Monts d’Or Azergues membuat ACL-nya robek. Cedera tersebut bukan hanya menghilangkan kesempatan tampil di Piala Dunia 2014, tetapi juga membuat penampilannya menurun.

Cedera yang sempat meredupkan ketajaman Falcao (foto: Eurosport)

 

Pasca pulih dari cedera, Falcao menjalani masa peminjaman di dua klub papan atas Inggris, Manchester United dan Chelsea. Sayangnya, penampilan buruk di periode tersebut semakin mengisyaratkan penurunan dalam karirnya. Di dua klub tersebut Falcao bukan pilihan utama. Dua musim bermain ia hanya mencatatkan 41 penampilan dan 5 gol, jauh dari perolehan musim-musim sebelumnya yang kerap mencatatkan rataan gol di atas 30 buah semusim. Di United, manager Louis Van Gaal bahkan sempat mengeluarkan Falcao dari tim utama ke tim cadangan.

Masa-masa sulit ketika diturunkan ke tim cadangan United (foto: Eurosport)

 

Di masa-masa sulit inilah karakter kuat Falcao berperan penting. Media asal Kolombia, El Tiempo mengistilahkannya dengan falcaomania: sebuah mentalitas tentang penguasaan kedamaian dalam diri di kehidupan sehari-hari yang dikombinasikan dengan ekspresi kemarahan, agresivitas, dan passion di lapangan hijau. Mentalitas tersebut berperan dalam membentuk karakter Falcao yang tetap tenang menghadapi hambatan dalam karir dan kembali tajam ketika ia kembali turun ke lapangan.

Dari mana mentalitas ini berasal? Falcao muda rupanya dibesarkan dalam keluarga yang religius. Di masa kecil, ia sudah menarik bakat tim-tim papan atas Kolombia seperti Santa Fe dan Millonarios. Meski demikian, berkat bimbingan ayahnya, Falcao dimasukkan ke akademi milik Silvano Espindola. Kebetulan Espindola adalah rekan setim ayahnya semasa aktif bermain. Akademi milik Espindola bukan seperti akademi sepakbola pada umumnya, kurikulumnya mengkombinasikan teknik dasar sepakbola dengan ajaran agama. Pemain tidak hanya diajarkan cara mencetak gol, tetapi juga karakter.

Ajaran ini yang kemudian turut membentuk kedewasaan Falcao. Mulai dari debut tim senior di usia belia, memulai karir di luar negeri tak lama setelahnya, hingga kekuatan mental untuk comeback pasca diterpa cedera.

Setidaknya hal itu beberapa kali terbukti dalam perjalanan karir seorang Falcao. Usai dua musim mengecewakan di Britania, Falcao kembali ke Monaco pada awal musim 2016-17. Pelatih kepala Leonardo Jardim memanggil Falcao untuk memimpin Monaco di lapangan sebagai kapten. Kala itu Monaco banyak mengorbitkan talenta-talenta muda, mulai dari Kylian Mbappé, Bernardo Silva, Fabinho, Thomas Lemar, Tiémoué Bakayoko, hingga Benjamin Mendy. Falcao dipercaya Jardim sebagai pemimpin bagi pasukan muda Monaco. Hasilnya tidak mengecewakan. Monaco berhasil memutus dominasi Paris Saint Germain dengan menjuarai Ligue 1. Tak berhenti sampai di situ, Monaco berhasil menembus semifinal Liga Champions untuk kali pertama sejak 2004.

Comeback dengan memimpin Monaco pada 2016/17 (foto: 90min)

 

Comeback Falcao terasa lengkap dengan kembalinya ketajaman di depan gawang. Total 30 gol dari 43 laga menjadi catatan spesial bagi Falcao yang mulai memasuki usia kepala tiga. Falcao masih bermain untuk Monaco hingga kontraknya habis pada 2019, menambah 40 gol lagi ke dalam koleksinya sebelum hijrah ke Galatasaray.

Sosok yang dijuluki El Tigre tersebut kini mulai memasuki penghujung karir. Berada di usia yang tak muda lagi, Falcao masih menjadi salah satu tumpuan klubnya. Perjalanan karir Falcao mengalami banyak naik turun. Meski demikian, kekuatan karakter Falcao telah membuktikan bahwa ia mampu melewati masa-masa sulit dan kembali ke performa terbaiknya.

Permainan berkelasnya sebagai seorang striker murni yang tajam baik untuk berbagai tim dan Timnas Kolombia dengan olah bolanya ciamiknya tetap akan dikenang sepanjang masa.

SAMPAIKAN KOMENTAR