Heavy Metal Liverpool Tak Mampu Robohkan Tembok Real Madrid
15
Apr
2021
1 Comment Share Likes 123 View

Liverpool gagal melangkah ke semifinal Liga Champions 2020/2021. Sebab, pada leg kedua perempat final melawan Real Madrid di Anfield Stadium, Kamis dini hari WIB 15 April 2021, skuad asuhan Jürgen Klopp dipaksa bermain imbang tanpa gol. Dengan hasil itu, agregat pertemuan kedua tim menjadi 3-1 untuk keunggulan tim berjuluk Los Blancos.

Kedua tim memulai pertandingan ini dengan mengandalkan formasi andalannya, yaitu 4-3-3. Namun, untuk Real Madrid, permainan pasif menanti lawan di daerah pertahanan sendiri menjadi pilihan. Tim besutan Zinedine Zidane mengubah formasinya menjadi 4-1-4-1 ketika lawan sedang menguasai bola.

Marco Asensio dan Vinicius Junior yang berperan sebagai penyerang sayap ditarik ke belakang. Mereka berdiri sejajar dengan Luka Modrić dan Toni Kroos untuk menutup upaya lawan melepaskan umpan. Di belakang mereka berdiri Casemiro yang siap menghalau datangnya bola sebelum sampai ke dalam kotak penalti.

 

Duel lini tengah dalam pertandingan Liverpool vs Real Madrid. Twitter.com/realmadriden

 

Empat pemain belakang Real Madrid menerapkan compact defense. Di mana mereka cuma fokus menjaga area kotak penalti agar para penyerang Liverpool, Sadio Mané, Roberto Firmino, dan Mohamed Salah tidak bisa bebas menembus area vital pertahanan Los Blancos. Nacho Fernandez dan Éder Militão bersiap di tengah kotak penalti. Lalu Federico Valverde dan Ferland Mendy siap bertahan dari sisi sayap.

Tiga gelandang Liverpool, James Milner, Fabinho, dan Georginio Wijnaldum tak bisa terlalu berbuat banyak dalam mengkreasikan serangan. Peran mereka di babak pertama terlihat cuma untuk merebut bola dari sapuan pemain Real Madrid ketika coba mengamankan daerah pertahanannya.

Untuk membantu lini serang, dua bek sayap Liverpool, Andrew Robertson dan Trent Alexander-Arnold yang lebih banyak bergerak. Mereka memberi dukungan untuk mengurung lini pertahanan Real Madrid. Jürgen Klopp yang ingin mengejar agregat ketertinggalan dari leg pertama secepat mungkin coba untuk menerapkan gaya bermain heavy metal miliknya.

Heavy metal yang dimaksud Jürgen Klopp adalah melakukan serangan secara terus-menerus dan tak membiarkan lawan bisa melakukan serangan balik. Mengurung lawan di daerah pertahanannya dengan intens dan menanti ada kelengahan untuk bisa mencetak gol. Akan tetapi, Real Madrid sudah siap untuk menghadapi metode tersebut.

Empat pemain belakang Real Madrid juga menjalankan tugasnya dengan baik sepanjang babak pertama. Terhitung ada 11 kali blok yang mereka lakukan, di mana 10 di antaranya dari dalam kotak penalti. Fakta ini menguatkan jika compact defense yang mereka lakukan berjalan dengan maksimal. Federico Valverde dan Ferland Mendy masing-masin melakukan dua kali blok. Sedangkan Nacho Fernandez empat kali, dan Éder Militão sebanyak tiga kali.

 

Statistik blok yang dilakukan kedua tim sepanjang babak pertama (Real Madrid warna biru). Foto: Whoscored.com.

 

Casemiro yang dalam pertandingan Real Madrid lainnya kerap memberi bantuan ke lini depan malah terlihat lebih aktif di belakang. Dia memiliki banyak tugas, tidak cuma menanti pemain lini kedua Liverpool merangsek, tapi juga turun sampai ke dalam kotak penalti untuk melapis bek sayap jika ada pemain lawan yang melakukan akselerasi individu. Faktor inilah yang membuat The Reds semakin sulit membongkar pertahanan tim tamu.

Tambah Daya Gedor, Hidupkan Lini Tengah

Liverpool yang tak kunjung bisa memecah kebuntuan akhirnya melakukan perubahan pada menit 60. Jürgen Klopp menurunkan Thiago Alcântara untuk menggantikan James Milner, dan Ozan Kabak diganti oleh Diogo Jota. Dengan adanya pergantian ini, rotasi posisi pun dilakukan. Diogo Jota mengisi posisi penyerang sayap kiri, dan Sadio Mané ke tengah untuk berduet dengan Roberto Firmino.

Formasi Liverpool berubah menjadi 4-2-4, dimana lini tengah cuma diisi oleh Thiago Alcântara dan Georginio Wijnaldum. Sementara Fabinho diminta mundur menjadi bek tengah menggantikan peran dari Ozan Kabak. Menambah daya gedor dan menghidupkan lini tengah adalah kesan yang ditangkap dari keputusan Jürgen Klopp ini.

Thiago Alcântara sebagai gelandang kreatif dimainkan karena sepanjang pertandingan Georginio Wijnaldum sulit berkembang. Dia ditempel ketat oleh Toni Kroos. Kehilangan peran dari pemain Timnas Belanda tersebut, Liverpool tak punya pemain yang bisa membantu mengkreasikan serangan dari lini tengah. Umpan lambung langsung ke dalam kotak penalti yang bisa mengejutkan lawan sulit untuk diterapkan.

Mengutip Sofascore.com, sepanjang 90 menit bermain, Georginio Wijnaldum tercatat cuma sekali melakukan operan panjang. Lalu dia sama sekali tidak mencatatkan key passes yang sejatinya diharapkan ada darinya untuk membuat Liverpool mendapatkan peluang ke gawang Real Madrid.

 

Gelandang Liverpool, Georginio Wijnaldum dalam pertandingan melawan Real Madrid. Foto: Twitter.com/LFC

 

Dengan hadirnya Thiago Alcântara, Liverpool jadi memiliki dua pemain dengan kemampuan passing mumpuni di lini tengah. Aliran bola menjadi lebih hidup, dan Real Madrid semakin dalam tekanan. Selama dia berada di lapangan, total ada satu key passes dan tiga dari empat kali upayanya melepaskan umpan lambung berakhir sukses.

Zinedine Zidane tak tinggal diam. Selang 12 menit kemudian dia juga melakukan pergantian pemain. Toni Kroos yang sudah tampak kelelahan ditarik keluar untuk digantikan Alvaro Odriozola. Pemain tersebut diplot untuk mengisi bek sayap kanan, dan Federico Valverde yang gantian menemani Luka Modrić dan Casemiro di lini tengah Real Madrid. Rodrygo juga masuk menggantikan Vinicius Junior.

Dengan adanya empat penyerang Liverpool, Real Madrid butuh penyerang sayap yang staminanya masih bagus. Dengan begitu masih akan ada bantuan dari mereka untuk lini pertahanan. Rodrygo dianggap tetap untuk melakukan hal tersebut oleh juru taktik asal Prancis.

Kontra-strategi yang dilakukan Zinedine Zidane ini terbilang sukses. Karena Real Madrid masih terus bisa membendung serangan yang dilakukan oleh Liverpool. Federico Valverde juga bermain dengan baik di lini tengah. Beberapa kali dia melakukan blok atas pressing pemain lawan, bahkan sampai melakukan tekel untuk menyapu bola.

Meredam Senjata Terakhir Jürgen Klopp

Ketika waktu normal pertandingan tersisa delapan menit lagi, Jürgen Klopp mengeluarkan senjata terakhirnya. Perubahan strategi untuk yang ketiga kalinya coba dilakukan arsitek asal Jerman itu. Dia tak mau lagi menunggu waktu karena sadar butuh dua gol dan gawang anak asuhnya tidak kebobolan untuk bisa lolos ke semifinal.

Dua penyerang yang tidak bisa maksimal, Roberto Firmino dan Sadio Mané ditarik keluar. Lalu Jürgen Klopp memainkan Xherdan Shaqiri dan Alex Oxlade-Chamberlain. Menariknya, kedua pemain tersebut tidaklah bertugas untuk menjadi penyerang. Upaya Liverpool menambah daya gedor malah terlihat jadi berkurang.

Dari sini menariknya cara Jürgen Klopp untuk memecah kebuntuan anak asuhnya. Merebut lini tengah dan menekan dengan operan pendek di depan kotak penalti jadi pilihannya. Xherdan Shaqiri, Thiago Alcântara, Georginio Wijnaldum, dan Alex Oxlade-Chamberlain melakukan kombinasi operan pendek dari lini kedua.

 

Ekspresi pemain Real Madrid begitu pertandingan melawan Liverpool usai. Foto: Twitter.com/realmadriden

 

Mereka mengajak pemain tengah Real Madrid yang terlihat sudah mulai kelelahan untuk terus bergerak mengejar bola. Tapi sayangnya, umpan di sepertiga akhir lapangan masih tetap buntu. Real Madrid begitu kokoh melapis pertahanan mereka, terutama dengan kehadiran Isco yang menggantikan Marco Asensio tak berselang lama dari pergantian pemain terakhir Liverpool.

Respons Zinedine Zidane dalam melihat perubahan yang dilakukan Jürgen Klopp sangat cepat. Dia menyadari butuh tambahan tenaga baru di lini tengah, dan perkiraan tersebut tepat. Karena Liverpool coba mengeksploitasi sepertiga akhir. Upaya The Reds kembali menemui tembok kokoh. Andai pun bisa mendapat peluang, sosok Thibaut Courtois yang jadi penghalangnya.

Statistik menunjukkan, Liverpool melakukan lima kali percobaan ke gawang Real Madrid. Tapi cuma empat yang mengarah tepat ke sasaran. Ini menjadi tanda skuad asuhan Jürgen Klopp belum selesai dengan masalah di lini depannya. Melempemnya Liverpool di Premier League musim ini tak lepas dari faktor itu.

Liverpool Mesti Segera Bangkit

Keinginan untuk merebut gelar juara Liga Champions telah sirna. Begitu pula dengan kemungkinan mereka mempertahankan gelar juara di Premier League yang semakin tipis. Satu-satunya target yang bisa jadi fokus utama adalah merebut tiket ke Liga Champions musim depan.

Saat ini Liverpool masih ada di urutan keenam dengan koleksi 52 poin. The Reds tertinggal tiga angka dari West Ham United yang ada di urutan empat atau batas akhir menuju Liga Champions. The Reds mesti bangkit. Jangan status tanpa gelar musim ini diperparah dengan finis di luar empat besar Premier League.

SAMPAIKAN KOMENTAR