Gonta Ganti Klub, Kisah Panjang Karir Si Pirang Jürgen Klinsmann
30
Jul
2021
0 Comment Share Likes 156 View

Bagi banyak orang yang baru mencintai sepakbola beberapa tahun terakhir, rasanya nama Jürgen Klinsmann akan terasa asing terdengar di telinga. Namun, tidak bagi banyak kubu lainnya yang sudah mencintai olahraga si kulit bundar ini sejak lama.

Jürgen Klinsmann adalah jaminan mutu dari seorang penyerang top di era tahun 90-an. Selain itu, mantan pemain berambut pirang ini pernah menjadi pelatih tim nasional Jerman di Piala Dunia 2006. Ia membawa skuad Der Panzer finish di peringkat ketiga di akhir turnamen.

Jürgen Klinsmann saat membela kesebelasan Jerman Barat di Olimpiade 1988. Sumber: publicmetro.cl

 

Klinsmann lahir pada 30 Juli 1964 di Goppingen, Baden Wurttemberg, sebuah kota kecil di selatan Jerman yang masuk ke dalam kawasan Kota Stuttgart. Ia berasal dari keluarga yang memiliki bisnis roti di distrik Botnang. Klinsmann kecil juga sering membantu orang tuanya berjualan roti keliling sambil masih terus berlatih sepakbola.

Ia berkenalan dengan olahraga si kulit bundar pada usia delapan tahun. TB Gingen adalah klub pertamanya di tim junior. Dua tahun di sana, ia melanjutkan pendidikannya dengan bermain bersama akademi SC Geislingen dan Stuttgarter Kickers. Di banyak klub akademi yang diikutinya, Klinsmann bermain di semua posisi termasuk menjadi penjaga gawang dengan hasil yang memuaskan.

Selama sembilan tahun berkelana di tim akademi, akhirnya ia promosi ke tim utama Stuttgarter Kickers ketika usianya menginjak 17 tahun. Klinsmann muda menandatangani kontak profesionalnya bersama klub itu dan bermain selama tiga musim. Total 61 pertandingan pernah ia lakoni bersama klub Divisi 2 Liga Jerman tersebut. Ia sukses mencetak 22 gol meskipun pada musim pertamanya di klub itu ia hanya bermain 6 kali dan membukukan sebiji gol.

Penampilan gemilang Klinsmann bersama Stuttgarter Kickers membuat kepincut banyak klub. Salah satu yang meminatinya adalah klub paling besar di kota yang sama, VFB Stuttgart. Ia akhirnya berkesempatan mencicipi Liga Utama bersama Stuttgart tepatnya pada tahun 1984. Bakatnya sebagai penyerang mumpuni semakin terlihat di klub barunya ini.

 

Selebrasi Klinsmann ketika membela kesebelasan VFB Stuttgart. Sumber: sportskeeda.com

 

Di musim pertamanya, Klinsmann membukukan 32 pertandingan di liga. Selama rentang waktu tersebut, ia sukses mencatatkan 14 gol. Pada musim 1987-1988, Klinsi, sapaan akrabnya berhasil meraih gelar top skor dengan torehan 19 gol. Penampilan gemilangnya ini membuat ia mulai menapaki karir bermain untuk tim nasional, saat itu masih Jerman Barat. Di tahun yang sama juga, Klinsmann dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Jerman Barat.

Di musim berikutnya, penampilan apik Klinsi berlanjut. Ia sukses membawa Stuttgart ke babak final Piala UEFA. Di babak pamungkas ini, Klinsmann dkk akan berhadapan dengan tim kuat asal Italia yang saat itu diperkuat mega bintang asal Argentina, Diego Armando Maradona.

Sihir Klinsmann nyatanya masih belum sekuat Maradona. Ia dan rekan-rekannya harus puas menjadi runner up setelah kalah atas Napoli. Saat itu, partai final diadakan dua kali, home dan away. Di pertandingan pertama di kandang Napoli, Stuttgart harus mengakui keunggulan Maradona dkk dengan skor 1-2. Selang beberapa hari dalam laga home, Stuttgart hanya mampu bermain imbang 3-3 dan Klinsmann berhasil mencetak gol pada menit ke-27.

Sepanjang karirnya di Stuttgart, Klinsmann berhasil mencetak 79 gol dalam 156 pertandingan yang pernah ia lakoni. Selain itu, ia juga membukukan 14 pertandingan di kompetisi Eropa dan sukses mengemas 5 gol.

Setelah musim 1988-1989, Klinsmann mencoba peruntungannya dengan bergabung dengan klub dari luar negaranya. Internazionale Milan menjadi pelabuhan Klinsi berikutnya. Hadirnya rekan sesama Jerman di Liga Italia yaitu Lothar Matthäus dan Andreas Brehme membuatnya menandatangani kontrak dengan klub juara bertahan Serie A itu. Ambisi Inter mendatangkan Trio Jerman ini adalah untuk menyaingi Trio Belanda yang juga hadir di rival sekota mereka, AC Milan.

Klinsmann tentu saja memberikan atmosfer anyar bagi skuad I Nerazzurri. Di musim perdananya berseragam biru-hitam, Klinsi berhasil mencatat 15 gol dari 37 lagi yang dimainkannya. Penampilan gemilangnya tidak dapat membantu Inter mempertahankan scudetto dan hanya berada di peringkat ketiga di akhir musim. Supercoppa Italiana menjadi gelar pemanis bagi perjalanan Klinsi di awal keberadaannya di Italia.

Di musim berikutnya, Ia akhirnya berhasil mempersembahkan gelar Piala UEFA untuk Inter pada edisi tahun 1991. Sepanjang karirnya bersama Inter, ia berhasil memainkan 95 partai di Liga Serie A Italia dengan torehan 34 gol. Selain itu, Klinsmann juga membukukan 15 pertandingan di kompetisi Eropa dan mencetak 3 gol.

Ada satu kemampuan unik yang dimiliki Klinsmann dan akan selalu dikenang oleh Interisti, fans Inter Milan. Ia memiliki keahlian menjatuhkan diri untuk mendapatkan hadiah tendangan bebas bahkan penalti di zona pertahanan lawan dan menguntungkan timnya. Berkat kemampuan uniknya tersebut, publik memberi julukan La Pantegana Bionda untuk dirinya.

Frustasi karena semakin sulitnya mendapatkan gelar juara liga di Italia karena kehebatan AC Milan dan Trio Belandanya, Klinsmann memutuskan pindah. Prancis menjadi negara berikutnya yang menjadi sejarah karir sepakbolanya. Kali ini AS Monaco berhasil mendapatkan jasa pemain berpostur 181 cm itu.

Klinsmann begitu menikmati musim perdananya di Monaco. Ia menggila dengan berhasil mencatatkan 19 gol dari 35 pertandingan yang dilakoni. Torehan tersebut membuat namanya berada di posisi ketiga dalam daftar pencetak gol terbanyak Liga Prancis musim tersebut.

Selain catatan pribadi, Klinsmann juga sukses mengantarkan klubnya finish di peringkat ketiga di bawah Olympique de Marseille dan Paris-Saint Germain. Sayang di musim keduanya ia tidak terlalu bermain moncer. Monaco hanya berhasil berada di posisi ke 9 klasemen akhir musim. Selama di Monaco, Klinsmann sudah mencetak 29 gol dari 65 kali penampilan.

Kondisi sepakbola Prancis yang tidak kondusif karena maraknya kasus penyuapan dan pengaturan skor akhirnya membuat Klinsmann hijrah. Kali ini tanah Britannia, Inggris menjadi tujuan selanjutnya. Tottenham Hotspur menjadi klub berikutnya yang memanfaatkan jasanya.

Ketika kali pertama tiba di Tottenham, Klinsmann adalah figur paling tidak populer karena perannya sebagai pemain timnas Jerman yang mendepak Inggris di semifinal Piala Dunia 1990. Sebuah surat kabar Inggris, Guardian, sampai membuat tajuk “Why I Hate Jürgen Klinsmann”. Klinsmann menjawab hinaan publik Inggris dengan mencetak gol dalam debut perdananya ketika Tottenham harus bertandang ke Sheffield Wednesday. Golnya berhasil mengantarkan kemenangan 4-3 untuk Tottenham. Klinsi membuat selebrasi menjatuhkan diri layaknya sedang di jegal pemain lawan. Sontak aksinya tersebut membuat nama Klinsmann semakin terkenal.

Klinsmann saat berseragam Tottenham Hotspurs. Sumber: bola.okezone.com

 

Tahun pertamanya di Spurs, Klinsmann sukses besar. Ia mencetak 21 gol dari 41 partai yang ia jalani. Capaian tersebut membuat publik Inggris yang semula membencinya kini mulai mencintainya. Bahkan Guardian juga mencabut tajuk sebelumnya dan menggantinya dengan “Why I Love Jürgen Klinsmann”.

Karena briliannya penampilan Klinsi di musim tersebut, membuat dirinya dianugerahi gelar Pemain Terbaik versi FWA. Di musim yang sama, Klinsmann juga meraih peringkat ketiga dalam daftar Pemain Terbaik FIFA.

Karena penasaran dengan juara Liga, Klinsmann akhirnya pindah ke Bayern Munchen, klub raksasanya negaranya. Musim pertamanya ia membawa Bayern menjadi runner-up dan pada papan top skor ia juga meraih gelar runner up bersama dengan torehan 16 gol. Pada kompetisi Eropa, Klinsmann berhasil mempersembahkan gelar Piala UEFA untuk Bayern dan dilengkapi dengan capaian pribadi 15 gol.

Akhirnya impian meraih juara liga tercapai pada musim keduanya bersama Bayern Munchen. Ini akan menjadi satu-satunya gelar juara liga yang dimiliki Klinsmann sepanjang karir profesionalnya. Di musim tersebut, 1996-1997, Klinsmann meraih 15 gol dari 33 pertandingan di Bundesliga.

Entah apa yang ada dibenak Klinsmann ketika memutuskan untuk keluar dari Bayern Munchen. Ia seperti sulit kerasan berada dalam satu klub lebih dari dua musim. Pelabuhan berikutnya dari seorang Klinsmann adalah Sampdoria. Sebagian orang akan mengernyitkan dahi mengapa Sampdoria.

Terbukti kepulangannya ke Serie A bersama Sampdoria tidaklah lama. Ia hanya bermain sebanyak 8 kali dan menyumbang dua gol. Kemudian ia dipinjamkan ke Tottenham Hotspur.

Kepulang Klinsi ke Spurs tentu saja menjadi energi yang baik bagi klub dan para penggemar. Spurs yang saat itu hampir terdegradasi berhasil diselamatkan berkat kehadiran Klinsmann. Kemenangan 6-2 atas Wimbledon FC dengan empat gol diantaranya merupakan hasil dari Klinsmann berhasil membantu klub yang bermarkas di White Hart Lane itu terbebas dari jurang degradasi.

Musim panas 1998, setelah Piala Dunia, Klinsmann memutuskan mengundurkan diri. Lima tahun kemudian, Klinsmann kembali ke lapangan untuk memperkuat Orange County Blue Star -- klub di American Premier Development League -- dengan nama samaran Jay Goppingen. Saat itu usianya telah 39 tahun, tapi masih bisa mencetak lima gol dari delapan pertandingan. Ia mengantar klub itu ke babak playoff.

Selain kesuksesannya bersama klub, menarik disimak juga karir Klinsmann bersama tim nasional Jerman. Klinsmann memulai karir internasionalnya tahun 1987. Ia memperkuat Jerman di 108 pertandingan, dan mengoleksi 47 gol. Rekor penampilannya dengan Jerman hanya bisa dilampaui Lothar Matthäus. 

Ia berpartisipasi di Olimpiade 1988 dan memenangkan medali perunggu. Bermain di Piala Eropa 1988, 1992, dan 1996, serta menjadi pemain pertama yang mencetak gol di tiga kejuaraan itu. Setelah itu, banyak pemain berupaya menyamai rekornya. Vladimír Šmicer, Thierry Henry, dan Nuno Gomes, bisa melakukannya 

Jürgen Klinsmann mengangkat trofi Piala Eropa 1996. Sumber: 90min.com

 

Selain menjadikan Jerman sebagai juara Piala Eropa 1996, Klinsmann juga meraih gelar Piala Dunia 1990. Ia menjadi pemain pertama yang mencetak sedikit tiga gol di tiga Piala Dunia, dan disejajarkan dengan Ronaldo (Brasil). 

Sebagai pengusaha, Klinsmann kurang dikenal. Padahal dia adalah vice president SoccerSolution, sebuah perusahaan pemasaran dan pengembangan olahraga. Ia dikenal dengan nama Rainmaker di perusahaan itu, karena kontribusinya yang luar biasa. Selain sebagai pengusaha, Klinsmann juga pernah sebagai pundit-pengamat sepakbola untuk siaran ESPN di Piala Dunia 2010 dan BBC Sports di Piala Dunia 2018. 

SAMPAIKAN KOMENTAR