Franck Ribéry: Perjalanan Panjang Sang Winger Bertalenta
07
Apr
2021
0 Comment Share Likes 83 View

Franck Ribéry menjadi satu sosok yang tidak bisa dilepaskan ketika kita membicarakan sepakbola di dekade akhir 2000-an dan 2010-an. Sebagai pemain sayap dengan kecepatan dan teknik tinggi, namanya selalu muncul di diskusi-diskusi mengenai sepakbola di era tersebut. Bicara tentang Ribéry juga berarti berbicara tentang seorang pemain yang meraih berbagai gelar juara bergengsi.

Siapa sangka, pemain semewah Ribéry pernah mengalami masa-masa awal yang tidak mulus. Seperti apa perjalanan Ribéry hingga bisa menjadi salah satu pemain terbaik dunia? Berikut kisahnya.

Awal kisah Ribéry: Luka di wajah dan liga amatir

Franck Ribéry lahir di Kota Boulogne-sur-Mer, Perancis pada 7 April 1983. Ribéry berasal dari keluarga kelas pekerja di kota tersebut. Bersama keluarganya, Ribéry tinggal di kawasan Chemin-Vert di pinggiran kota tersebut.

Pada usia dua tahun, keluarga Ribéry mengalami kecelakaan hebat setelah mobil yang mereka tumpangi bertabrakan dengan truk. Ribéry kecil mengalami cedera hebat di wajah usai terlempar keluar jendela. Luka besar di wajah Ribéry membutuhkan lebih dari 100 jahitan untuk menutupnya. Hingga kini, bekas jahitan tersebut masih berbekas di wajah hingga pelipis bagian kanan dan menjadi salah satu ciri khas dari Ribéry.

Karir sepakbolanya dimulai dari klub asal kota kelahirannya, FC Conti Boulogne pada usia 6 tahun. Setelah 7 musim memperkuat klub tersebut, Ribéry mendapat kesempatan untuk masuk ke akademi Lille yang merupakan salah satu yang terbaik di Prancis. Hanya saja, keberadaan Ribéry di sana hanya berlangsung selama 3 tahun. Ribéry dikeluarkan karena dianggap memiliki sikap yang kurang baik serta mendapat nilai rendah dalam pelajaran akademik. Ribéry juga dianggap kurang mumpuni secara fisik lantaran postur badannya yang kecil.

Pasca dikeluarkan dari Lille, Ribéry mencoba peruntungan di kompetisi amatir. Dimulai dari kembali ke kampung halaman bersama US Boulogne pada 2001, dan berpindah ke Olympique Ales setahun kemudian. Bermain di kompetisi amatir tentu tidak menjanjikan secara finansial. Upah Ribéry sebagai pemain hanya dihargai sebesar 150 euro per bulan.

Di sela-sela bermain di kompetisi amatir, Ribéry sempat bekerja sambilan sebagai pekerja konstruksi bersama sang ayah. Kepada Bundesliga, Ribéry menyebut masa-masa tersebut sebagai “pengalaman belajar”. Dari sanalah Ribéry belajar tentang disiplin dan etos kerja, yang kemudian menjadi titik balik dalam perjalanan karirnya.

Debut di kasta tertinggi hingga sengketa lintas negara

Karir profesional Ribéry dimulai di usianya yang ke-20. Klub Ligue 2 Prancis, Stade Brestois menjadi kesempatan pertamanya mencicipi jenjang pro. Di kompetisi Championnat National, Ribéry membawa klubnya promosi dengan mencatatkan assist terbanyak di divisi tersebut.

Memulai dari bawah: Ribéry bersama Brest (foto: letelegramme)

 

Hanya berselang semusim, klub Ligue 1 FC Metz meminangnya. Bermain sebagai sayap kanan, Ribéry langsung menjadi andalan. Pada bulan Agustus ia memenangi penghargaan player of the month usai mencetak 2 assist dalam laga tandang ke Marseille. Penampilan gemilang bersama Metz menjadi awal gebrakan Ribéry di dunia sepakbola. Fans bahkan menyamakan Ribéry muda dengan Robert Pires.

Lagi-lagi, dalam jangka waktu yang singkat Ribéry kembali pindah klub. Kali ini Galatasaray yang mengamankan tanda tangannya. Bergabung dengan status pinjaman, Ribéry segera melesat menjadi bagian penting klub asal Istanbul. Permainannya yang mengandalkan kecepatan membuat Ribéry dijuluki ‘FerraRibéry’ oleh para fans. Kecepatannya mampu menjadi andalannya untuk menciptakan assist, ia juga mencetak satu gol dalam kemenangan 5-1 Gala atas rival bebuyutannya, Fenerbahce.

Sayangnya bulan madu di Istanbul tak berlangsung lama. Ia mengakhiri kontrak dengan lebih cepat lantaran masalah tunggakan gaji. Ribéry menganggap tunggakan yang dilakukan Gala sudah lebih dari 3 bulan sehingga ia menjadi pemain bebas kontrak. Ribéry kemudian memutuskan untuk membela salah satu klub papan atas Prancis, Olympique Marseille.

Kepindahan Ribéry sempat menimbulkan sengketa. Galatasaray sempat membawa persoalan ini ke FIFA dan CAS serta menuntut Ribéry hingga 10 juta euro. Akan tetapi, gugatan klub asal Turki ini tidak dianggap valid oleh otoritas terkait.

Ribéry kemudian sukses berlaga bersama Marseille, membawa klub asal kota pelabuhan tersebut ke 2 final Coupe de France dan posisi runner-up di musim 2006/07. Bersama Marseille pula, Ribéry mulai dilirik Tim Nasional Prancis. Debutnya bersama Les Bleus didapatkan pada laga persahabatan kontra Meksiko. Di Piala Dunia 2006, ia bermain di semua laga. Sayangnya, Perancis dikalahkan oleh Italia di partai puncak. Meski demikian penampilan Ribéry menuai pujian. Oleh Zinedine Zidane, ia disebut sebagai permata sepakbola Prancis.

Bersinar di Marseille (foto: Goal)

 

Melegenda di Bavaria bersama duet “Robbery”

Pada musim panas 2007, raksasa jerman, Bayern Munich memecahkan rekor transfer mereka untuk mendatangkan Ribéry. Klub asal Bavaria tersebut rela merogoh kocek hingga 25 juta euro untuk mengamankan tanda tangan Ribéry selama empat tahun. Presiden klub, Franz Beckenbauer menggambarkan keberhasilan mendatangkan Ribéry seperti memenangkan lotre.

Ribéry langsung menjadi pilihan utama Bayern di musim 2007/08. Bersama rekrutan anyar lain seperti Miroslav Klose dan Luca Toni, Bayern merebut kembali titel Bundesliga yang semusim sebelumnya digondol Stuttgart. Musim pertama dilalui Ribéry dengan indah. Torehan 16 gol dan 17 assist atas namanya berperan dalam kesuksesan Bayern meraih gelar ganda di liga dan DFB Pokal. Di akhir musim, pencapaian Ribéry diganjar penghargaan French Footballer of the Year.

Musim berikutnya menjadi satu yang tak ingin diingat oleh Bayern, tersingkir di perempat final Liga Champions dan kehilangan gelar liga ke Wolfsburg. Di awal musim berikutnya, Bayern mengalami start yang kurang baik usai tiga kali gagal menang secara beruntun. Beruntung klub bergerak cepat dan mengamankan tanda tangan seorang pemain yang kelak menjadi ‘tandem’ maut Ribéry, yaitu Arjen Robben.

‘Duet’ Ribéry dan Robben menjadi salah satu kekuatan dominasi Bayern di dekade 2010-an. Tak seperti duet-duet lain yang bermain berpasangan di satu posisi yang berdekatan, duet Robbery bermain di dua sisi lapangan yang berbeda. Ribéry bermain di sayap kiri, sementara Robben di kanan. Kendati demikian, perbedaan sisi lapangan justru membuat duet keduanya semakin mematikan.

Sama-sama bermain dengan kecepatan dan skill individu yang tinggi, duet keduanya membuat serangan Bayern menjadi lebih hidup di kedua sisi. Ada satu kesamaan dari keduanya yang memperkaya dimensi serangan Die Roten. Tak seperti pemain sayap tradisional yang bermain di sisi yang sama dengan kaki terkuatnya, duet Robbery justru sebaliknya. Robben, yang dominan kaki kiri, bermain di sayap kanan. Sementara Ribéry yang dominan kaki kanan, bermain di sayap kiri. Hal ini membuat serangan Bayern semakin luas. Pemain sayap tak hanya menyisir sisi lapangan, tetapi juga bisa menusuk masuk ke dalam dan menciptakan gol. Duet Robbery menjadi salah satu simbol tren inverted winger yang marak di Eropa pada dekade tersebut.

Membentuk duet mematikan bersama Robben di Bayern (foto: Bundesliga)

 

Ilustrasi Beckenbauer di awal tadi jadi tak terasa berlebihan. Ribéry menjadi bagian penting dari dominasi Bayern di sepakbola Jerman dan Eropa pada dekade 2010-an. Bersama Bayern, Ribéry menghabiskan 12 musim di Bayern. Ribéry mengoleksi 425 penampilan, 124 gol, dan 182 assist. Catatan apik tersebut dilengkapi dengan torehan 22 trofi bagi klub.

Memasuki akhir usia 30-an, Ribéry mungkin kini tak ‘sekencang’ dahulu. Meski demikian tenaganya masih berguna bagi Fiorentina, yang masih bersaing di papan tengah Serie A. Sejak diboyong pada musim panas 2019, Ribéry sudah berlaga 43 kali dan mencetak 5 gol.

Ribéry telah menjadi simbol bagi satu generasi. Di era sepakbola yang didominasi oleh kedua pemain besar yakni Cristiano Ronaldo dan Messi, Ribéry mampu muncul sebagai salah satu pemain yang mampu mendobrak kemapanan. Perjuangan panjangnya yang dimulai sejak muda membawanya menjadi salah satu yang terbaik di masanya.

SAMPAIKAN KOMENTAR