Football’s Coming To Rome: Perjalanan Italia Merengkuh Juara Eropa
12
Jul
2021
0 Comment Share Likes 81 View

Perhelatan akbar UEFA Euro 2020 sudah mencapai babak klimaksnya. Tim nasional Italia berhasil menasbihkan diri menjadi juara setelah di babak pamungkas sukses mengalahkan tim nasional Inggris. Skuad asuhan Roberto Mancini berhasil menang melalui adu penalti setelah dalam masa 120 menit kedua tim bermain sama kuat 1-1. Algojo Italia mampu menceploskan 3 gol sedangkan anak didik Gareth Southgate hanya mampu mencetak dua gol setelah dua kesempatan lainnya berhasil digagalkan oleh Gianluigi Donnarumma.

Final UEFA Euro 2020 berlangsung di Stadion Wembley, Kota London, pada Minggu (11 Juli 2021). Inggris gagal memanfaatkan keunggulan dukungan lebih dari 50 ribu publik Britania yang sesak memenuhi stadion kebanggaan para pendukung The Three Lions tersebut.

 

Italia mengangkat Trofi Euro 2020 di Wembley Stadium, Britania Raya. Sumber : indosport.com

 

Keberhasilan Gli Azzurri ini menjadi capaian gelar kedua mereka selama Piala Eropa berlangsung. Terakhir kali tim biru langit berhasil mengangkat trofi Henry Delaunay adalah pada tahun 1968. 53 tahun berselang kesempatan tersebut kembali hadir, Lorenzo Insigne dkk menuntaskan dahaga para pendukung untuk melihat kembali negaranya berjalan di perhelatan Piala Eropa.

Fase Grup: Rekor Sempurna Tanpa Kebobolan

Perjalanan Italia menjadi jawara Eropa sangatlah mulus. Italia mampu menorehkan catatan gemilang dengan 33 kali pertandingan beruntun tanpa pernah sekali pun mencecap kekalahan.

Ciro Immobile dkk hadir ke Euro 2020 dengan tergabung dalam Grup A. Gli Azzurri beradu kuat dengan Turki, Swiss dan Wales demi memperebutkan dua tiket untuk melaju ke babak selanjutnya.

Italia melibas habis semua pertandingan di Grup A dengan hasil sempurna 9 poin. Mereka berhasil mengalahkan Turki pada laga pembuka Euro dengan skor telak tiga gol tanpa balas. Setelahnya, Swiss menjadi korban selanjutnya dengan skor yang sama telaknya dengan Turki, 3-0. Pada pertandingan terakhir fase grup melawan Wales, Gli Azzurri mampu menang tipis dengan 1-0 dan mengandaskan perlawanan Gareth Bale dkk.

Italia kontra Austria di babak 16 besar  Sumber: bola.tempo.co

 

Fase Gugur, Ujian Sesungguhnya Mental Juara

Setelahnya di babak perdelapan final, Italia bersua Austria yang berhasil lolos setelah menjadi runner up grup C. Beberapa pengamat menganggap Italia beruntung dengan hanya bersua Austria di babak ini. Tapi, banyak negara peserta menganggap Austria justru sebagai salah satu underdog yang paling ditakuti sepanjang turnamen berlangsung,

Hal tersebut terbukti di lapangan. Anak asuh Roberto Mancini kesulitan untuk menang dan mencetak barang satu gol pun. Austria bukannya bermain bertahan seperti tim lain ketika bertemu tim yang lebih diunggulkan. Tetapi, David Alaba dkk terus menerus memberikan serangan terukur ke jantung pertahanan Italia. Skor imbang tanpa gol selama masa 90 menit pertandingan tak terelakan dan pertandingan harus dilanjutkan ke babak tambahan waktu.

Skuad Gli Azzurri baru mampu mencetak angka di babak 2x15 menit setelah sebelumnya mandul dalam masa normal pertandingan. Federico Chiesa (95’) dan Matteo Pessina (105’) berhasil membuat Italia unggul dua gol. Austria berusaha mengejar dan hanya mampu mencetak sebiji gol melalui aksi Saša Kalajdžić di menit 114. Austria pun dipaksa harus segera mengepak koper dan pulang dini dari turnamen.

Lalu pada perempat final, Italia akhirnya mendapatkan lawan sepadan yang sama-sama kuat. Federico Chiesa dkk harus melawan generasi emas tim nasional Belgia yang terkenal memiliki kedalaman dan kualitas pemain yang sangat baik. Lagi-lagi Italia mampu menunjukkan taji dan mental juaranya setelah berhasil mengalahkan Romelu Lukaku dkk dengan skor 2-1.

Lagi-lagi di babak semifinal, Gli Azzurri mendapat lawan yang sangat berat ketika dipaksa melawan juara tiga kali Piala Eropa, Spanyol. Pertandingan Italia melawan Spanyol ini berjalan sangat ketat lagi sengit. Bagaimana tidak pertandingan harus dilanjutkan ke babak tambahan waktu setelah kedua tim bermain sama kuat 1-1 di 90 menit pertandingan. Selama masa 2x15 menit perpanjangan waktu, kedua tim mengalami kebuntuan dengan tidak menghasilkan gol barang sebiji pun. Akhirnya, laga Italia melawan Spanyol harus dilanjutkan adu tos-tosan.

Gianluigi Donnarumma sukses meredam tendangan penalti Álvaro Morata. Sumber : sport.detik.com

 

Italia mampu meredam Spanyol di babak adu penalti setelah berhasil unggul 4-2. Donnarumma menjadi aktor kemenangan Italia setelah mampu menggagalkan dua algojo dari tim La Furia Roja.

Final: Inggris Kalah di Rumah, Italia Bawa Piala Ke Roma

Akhirnya perhelatan menuju partai puncak mempertemukan Italia dan Inggris. The Three Lions menuju babak final setelah di partai semifinal berhasil mengalahkan tim dinamit, Denmark, dengan skor 2-1. Di babak final, kedua tim harus menguras energi juga emosi dengan saling adu strategi dan skill dalam usaha membongkar pertahanan lawan.

Giorgio Chiellini dkk dikejutkan oleh gol Inggris di menit-menit awal pertandingan. Laga baru berjalan 3 menit, Luke Shaw pemain Manchester United yang berposisi sebagai sayap kiri berhasil menggetarkan gawang Donnarumma setelah sebelumnya menerima umpan matang dari Kieran Trippier.

Roberto Mancini memutar otak dengan terus menginstruksikan anak asuhannya untuk terus menurut menusuk pertahanan Inggris yang dikomandoi Harry Maguire. Tetapi, tidak ada hasil gol tambahan hingga wasit meniup peluit tanda usainya babak pertama.

Selebrasi Bonucci pada menit ke- 67 yang mengantarkan Gli Azzuri ke babak adu penalti. Sumber : sport.detik.com

 

Di babak kedua, baik Italia maupun Inggris sudah tancap gas sejak awal. Kedua tim bertukar serangan demi mencetak gol dan memenangkan perhelatan ini. Puncaknya, ketika pertandingan menyentuh menit 67, sebuah tendangan dari Domenico Berardi tepat mengenai Marco Verratti. Sundulan sang pemain menuju jantung pertahanan Inggris dan menciptakan kemelut di depan gawang Jordan Pickford. Situasi tersebut berhasil dimanfaatkan oleh Leonardo Bonucci menjadi sebuah gol melalui sepakannya.

Skor 1-1 bertahan hingga pengadil lapangan meniup peluit panjang tanda pertandingan harus dilanjutkan ke babak tambahan waktu. Sayangnya, dalam 2x15 menit tidak ada gol yang tercipta dari kedua kesebelasan. Dan pertandingan harus dilanjutkan ke babak adu tos-tosan.

Inggris yang memiliki keunggulan bermain di rumah sendiri tentu saja memiliki motivasi lebih untuk memenangkan perhelatan ini. Selain itu, jargon Football is coming home sudah bergema di seluruh penjuru stadion bahkan juga di jagat maya internet. Keunggulan tersebut juga didapat Inggris, ketika dalam pengundian koin untuk menentukan area gawang mana yang akan menjadi arena adu penalti, The Three Lions mendapat kesempatan dengan memilih gawang yang tepat di depan ribuan pendukungnya.

Sayangnya, sederet daftar potensi kekuatan yang Inggris miliki tersebut belum mampu membawa kembali sepakbola ke rumah, seperti jargon mereka. Gareth Southgate dan anak asuhannya harus menelan pil pahit setelah dalam babak adu penalti mereka dipaksa harus mengakui keunggulan Italia dengan skor 3-2. Hanya dua algojo awal Inggris, Harry Kane dan Harry Maguire, saja yang mampu menjalankan tugasnya. Tiga lainnya, Marcus Rashford, Jadon Sancho dan Bukayo Saka, gagal melaksanakan amanah publik Britania.

Modal Besar Menuju Piala Dunia 2022, Qatar

Al Janoub Stadium, salah satu venue utama gelaran Piala Dunia 2022 di Qatar. Sumber: wgoqatar.com

 

Kemenangan ini menjadi catatan kedua Italia sebagai juara Piala Eropa. Ini juga menjadi obat manjur bagi kegagalan Italia ke Piala Dunia edisi sebelumnya. Lalu, kemenangan ini sekaligus mengukuhkan rekor tak terkalahkan mereka dalam 33 pertandingan Internasional.

Di pihak Inggris, kekalahan ini menambah suram paceklik gelar The Three Lions. Besar harapan publik terhadap tim nasional Inggris di setiap ajang Internasional melihat fakta bahwa English Premier League adalah salah satu liga terkuat dan terketat di dunia. Edisi selanjutnya dari turnamen Internasional yang bisa membawa kembali sepakbola kembali ke rumah adalah ajang Piala Dunia 2022 di Qatar. Tetapi, hal tersebut akan semakin sulit mengingat tim kuat seperti Brasil dan Argentina pun akan ikut andil dalam hajatan akbar empat tahunan ini.

Menarik disimak bagaimana strategi, kedalaman skuad serta persiapan semua kontestan terutama Italia dan Inggris dalam menyongsong gelaran Piala Dunia tahun depan. Prediksi lo untuk juara tahun depan siapa nih, Pria Intersport?

SAMPAIKAN KOMENTAR