Eric Cantona: Jenius Sepakbola yang Sulit Dipahami
24
May
2021
0 Comment Share Likes 148 View

Elegan, karismatik, tetapi juga eksentrik dan punya karakter yang keras. Begitulah gambaran figur seorang Eric Cantona. Karirnya tidak hanya diwarnai dengan rentetan trofi dan penampilan fenomenal, tetapi juga dengan hal-hal nyeleneh seperti pernyataan-pernyataan uniknya di depan wartawan hingga tendangan kungfu kepada seorang suporter Crystal Palace.

Tapi begitulah dunia mengenal Cantona. Sosoknya yang unik menjadikannya pusat perdebatan. Seorang jenius di dalam lapangan juga figur yang bisa memancing perdebatan di luarnya. Bagaimanapun, sepakbola terbukti jadi lebih indah berkat sosok Cantona.

Dari bocah bengal hingga legenda besar

Masa kecil Eric Cantona kurang lebih sama seperti bocah laki-laki pada umumnya yang terpesona pada permainan sepakbola. Cantona di masa kecilnya adalah penonton rutin Olympique Marseille di baris depan tribun Stadium Vélodrome.

Sang ayah, Albert Cantona, adalah sosok yang mengenalkannya pada sepakbola. Pengalaman bermain sebagai kiper di beberapa klub lokal, coba ditularkan pada anaknya. Tetapi pengaruh besar bagi permainan Cantona datang dari Roger Magnusson dan Josip Skoblar yang rutin ia saksikan mencetak gol di Velodrome. Belakangan, partisipasi Marseille di kompetisi Eropa menakdirkan Cantona menyaksikan langsung filsuf sepakbola lainnya, Johan Cruyff yang datang bersama Ajax dan total voetbal-nya pada pertengahan 1970-an. Sosok terakhir disebut-sebut memberi inspirasi bagi permainan Cantona nantinya.

Sejak saat itulah karir sepakbola Cantona dimulai. Dari klub lokal SO Caillois hingga diterima di akademi dan menembus tim utama Auxerre, Cantona menunjukkan bakat sepak bolanya. Permainannya yang banyak mengandalkan skill individu membuatnya kerap jadi sasaran bek lawan. Darah muda nya menggelegar dan tak jarang Cantona terlibat bentrok fisik dengan pemain lawan.

Cantona bersama Guy Roux, pelatihnya di Auxerre (foto: Beinsports)

 

Cantona tampil gemilang di Auxerre, membawa klub itu lolos ke kompetisi Eropa. Di usianya yang ke-20, Cantona bergabung dengan klub masa kecilnya, Marseille. Sayangnya, konflik yang kerap terjadi antara dirinya, klub, dan fans membuat Cantona beberapa kali dipinjamkan ke klub lain. Tapi, siapa sangka hal tersebut justru membuka lembaran baru baginya.

Ikon United, Premier League, dan sepakbola 1990-an

Berbagai konflik di Prancis membuat Cantona mempertimbangkan untuk menyebrang ke Inggris. Melintasi Selat Channel, Cantona berupaya mengubah nasibnya. Sempat menjalani trial di Sheffield Wednesday, Leeds United kemudian yang akhirnya jadi pelabuhan pertama Cantona di tanah Britania.

Karena memang berbakat, Cantona langsung memberikan impak signifikan bagi tim. Bertandem bersama Rod Wallace dan Lee Chapman Leeds dibawanya menjuarai First Division, unggul empat angka dari rival yang nanti jadi klub kedua Cantona, Manchester United. Cantona menyumbangkan 3 gol dari 15 penampilan.

Berseteru dengan klub kembali menjadi alasan bagi Cantona untuk pindah klub. Kali ini tidak tanggung-tanggung, Cantona bergabung dengan rival berat Leeds, Manchester United. Mahar 1,2 juta paun dikeluarkan untuk mengamankan pemain bertalenta tersebut.

Tidak butuh waktu lama bagi Cantona untuk memberikan magisnya. United, yang seret gol sejak awal musim dan terdampar di peringkat delapan, dibawa Cantona tampil trengginas. Duetnya bersama Mark Hughes di lini depan jadi senjata mematikan. Tak sampai sebulan, Cantona mencetak gol pertamanya. Total di musim pertamanya, Cantona mencetak 9 gol dari 22 laga bersama United.

Selanjutnya adalah sejarah. Karir Cantona bersama United adalah rentetan trofi dan momen-momen magis. Selama lima musim berkarir di Old Trafford, Cantona mempersembahkan 4 gelar liga, 2 Piala FA, dan 3 Charity Shield. Cantona juga membawa United dua kali memenangi gelar ganda dalam semusim, yaitu pada 1993/94 dan 1995/96.

Lebih dari itu, Cantona adalah sosok yang amat populer. Figur Cantona amat lekat dengan dominasi United di sepakbola Britania dekade 1990-an. Cantona adalah sosok yang membuat Liga Inggris menjadi populer berkat aksi-aksinya di dalam dan luar lapangan. Siluet Cantona dengan pose tangan membentang dan kerah dinaikkan adalah simbol Liga Inggris, bahkan sepakbola di era tersebut.

Pose khas Cantona di United (foto: Sportsbible)

 

Filosofi Cantona dan sanksi-sanksinya

Sisi lain Cantona, di balik bakat briliannya adalah sifatnya yang tempramen. Berulang kali ia mendapatkan denda akibat sifatnya tersebut. Tak jarang, seperti yang sempat disinggung sebelumnya, sifat temperamen dari dalam dirinya berujung pada konflik dengan pengurus klub. Di balik itu, ia adalah sosok jenius yang sulit dipahami oleh banyak orang.

Ketika masih bermain bersama Marseille, Cantona pernah disanksi satu bulan lantaran protes berlebihan hingga melempar bola ke arah wasit. Apa yang selanjutnya Cantona lakukan? Dalam satu wawancara ia mengumpat komite disiplin dengan kata-kata ‘idiot’ hingga lima kali. Yang terjadi selanjutnya? Hukumannya dilipatgandakan. Respon Cantona? Mengancam mogok dan pensiun dini. Peristiwa tersebut sempat membuat heboh, bahkan hingga melibatkan pelatih tim nasional dan seorang psikoanalisis yang kemudian menyarankannya hijrah ke luar negeri.

Yang paling diingat tentu tendangan kungfu-nya ke salah seorang fan Crystal Palace. Usai dikartu merah, Cantona yang berjalan menuju lorong tiba-tiba mendengar umpatan dari tribun penonton. Usai berhasil mengidentifikasi si pengumpat, tanpa tedeng aling-aling Cantona segera melayangkan tendangan ke dada orang tersebut.

Tendangan kung-fu Cantona (foto: BBC)

 

Selesai? Belum. Dalam konferensi pers pasca laga, wartawan berdesakan menunggu respon Cantona. Tak sedikit dari mereka yang sudah menyiapkan headline bombastis guna mendongkrak oplah penjualan untuk koran pagi esok. Cantona datang, dan mengatakan baris kalimat yang amat fenomenal: “ketika burung camar mengikuti kapal pengangkut ikan, ia berpikir bahwa kapal akan melemparkan ikan ke laut. Terima kasih.” Singkat dan padat, Cantona berhasil ‘mengejek’ wartawan-wartawan tadi.

Cantona pasca sepakbola: dari puisi hingga film

Sang jenius sepakbola ini pensiun di usia yang cukup dini, 30 tahun. Alasannya, ia tak kuat lagi harus menahan beban profesionalitas sepakbola: berlatih setiap hari, tidak bisa keluar malam, dan mengurangi minum bir.

Pensiun tidak menghalangi Cantona dari aktivitas-aktivitas uniknya. Cantona pernah memperkuat tim nasional sepakbola pantai Prancis, sebagai pemain dan pelatih. Ia bahkan sukses membawa Prancis menjadi juara Eropa dan Piala Dunia. Aktivitas lain yang sering dilakoni Cantona adalah berakting. Cantona tercatat membintangi sejumlah film, serial tv dan video klip. Terakhir, Cantona berperan sebagai pensiunan detektif polisi dalam serial Le Voyageur yang tayang 2019 lalu.

Cantona dalam sebuah laga sepakbola pantai (foto: UEFA)

 

Celotehan-celotehan nyeleneh juga kerap dilontarkan Cantona pasca gantung sepatu. Ketika menerima penghargaan UEFA Presidential Award 2019 silam, misalnya. Cantona, yang diberi kesempatan memberikan sepatah dua patah kata oleh pembawa acara, membacakan puisi yang cukup absurd dan unik. Dimulai dengan menggambarkan kekerdilan manusia di hadapan Tuhan, peningkatan teknologi biomedis yang menaikkan harapan hidup manusia, hingga maraknya kriminalitas dan peperangan yang berpotensi memusnahkan manusia. Terakhir, Cantona menutup puisinya dengan kalimat sederhana: I love football.

Cantona adalah seorang jenius lapangan hijau yang kerap salah diartikan. Pergolakan dalam hidupnya telah membentuknya menjadi figur yang begitu membekas bagi pecinta sepakbola. Suka atau tidak, Cantona adalah bagian dari sejarah sepakbola yang banyak diminati. Setuju, Pria Intersport?

SAMPAIKAN KOMENTAR