Dunia Unik Kiper Top Dunia: Mulai Kalajengking sampai Helm Rugby
12
Feb
2021
1 Comment Share Likes 108 View

Kiper adalah posisi yang sunyi ketika pertandingan berjalan satu arah, karena tidak ada perlawanan berarti dari tim yang dihadapi. Kiper baru menjadi posisi paling sibuk, ketika suatu tim terus menerus diserang, hingga terpaksa memakai taktik parkir bus.

Maka itu kadang ada kiper yang tidak ingin kesepian di bawah mistar gawang. Mereka berusaha mencuri perhatian dari penonton. Entah lewat kemampuan bermain, penampilan, hingga posisi yang tidak lazim.

Dari sekian banyak nama kiper top dunia, tidak sedikit diantara mereka yang memilih jalan unik agar selalu dinanti kehadirannya. Tidak tenggelam dengan popularitas pemain lainnya, terutama striker yang tugasnya mencetak gol. Beda dengan kiper yang fungsi utamanya adalah mencegah terjadinya gol.

Siapa saja mereka? Berikut beberapa diantaranya:

 

Bruce Grobbelaar saat membela Liverpool. Foto: Liverpoolfc.com

 

BRUCE GROBBELAAR

Penjaga gawang asal Zimbabwe ini naik daun ketika bergabung dengan Liverpool 1981. Keputusan manajer The Reds, Bob Paisley untuk mendatangkannya dari Vancouver Whitecaps sempat menuai kritik. Mengapa kiper dengan reputasi tidak jelas yang dipilih untuk menggantikan Ray Clemence yang baru saja hijrah ke Tottenham Hotspur.

Akan tetapi keraguan publik dijawab dengan penampilan apik oleh Bruce Grobbelaar. Meski Liverpool kalah 0-1 dari Wolverhampton Wanderers, namun aksi sang kiper di bawah mistar gawang mampu membius Bob Paisley. Dia melakukan beberapa kali penyelamatan yang begitu gemilang di mata sang juru taktik.

Sejak saat itu Bruce Grobbelaar selalu jadi andalan Liverpool. Total dia mencatatkan 317 penampilan bersama The Reds dengan total persembahan enam gelar juara kompetisi kasta tertinggi Inggris, tiga Piala FA dan Piala Liga Inggris, lima FA Charity Shield, dan Piala Eropa 1983/1984. Tercatat dia menyumbangkan enam gol untuk Liverpool karena dalam beberapa kesempatan bertugas sebagai algojo penalti.

Satu aksi dari Bruce Grobbelaar yang masih diingat adalah final Piala Eropa. Ketika itu Liverpool berhadapan dengan AS Roma. Kedua tim bermain imbang 1-1 dan untuk menentukan pemenang dilanjutkan ke drama adu penalti. Saat momen penting terjadi, Bruce Grobbelaar mengeluarkan jurus 'Kaki Spaghetti' untuk mengacaukan konsentrasi Francesco Graziani.

Jurus tersebut adalah aksi di mana Bruce Grobbelaar sengaja meliuk-liukan tubuh dan kakinya saat Francesco Graziani akan melakukan eksekusi penalti. Gestur yang menunjukkan seakan dia tak berdaya itu malah membuat konsentrasi lawan buyar dan tendangannya melambung jauh di atas mistar gawang. Liverpool akhirnya berpesta di akhir pertandingan.

 

Aksi penyelamatan kalajengking René Higuita – Foto: FIFA.com

 

René Higuita

Si Kalajengking, begitu julukan sosok dari Kolombia ini. Penampilannya di lapangan begitu eksentrik. Rambut gondrong ikalnya dibiarkan terurai tidak beraturan. Ia memelihara kumis dan jambang. Celana yang dipakainya model panjang sampai mata kaki dan ketat. Satu ciri khas yang menjadi keunikannya adalah tidak betah berlama-lama di bawah mistar gawang. Padahal kita tahu area itu paling rawan sehingga harus disiplin menjaganya. Karena kalau kiper sembrono sering meninggalkan sarangnya, bisa berakibat fatal.

Nah, Rene Higuita termasuk golongan kiper yang sembrono. Tapi harus diakui itu adalah keunikan yang dimilikinya. Pernah ia nekat menggiring bola sampai ke tengah lapangan. Aksi itu sering berhasil karena memberi umpan jitu buat rekannya. Namun tidak sedikit yang akibatnya menjadi fatal. Pernah usahanya menggocek bola mendekati tengah lapangan diserobot Roger Milla pada Piala Dunia 1990. Bisa ditebak Roger Milla berlari cepat meninggalkan Rene Higuita yang coba mengejar. Sia-sia saja karena Roger Milla berhasil menuntaskannya menjadi gol dan mengubah kedudukan Kamerun melawan Kolombia.

Masih segar dalam ingatan pula penyelamatan kalajengking yang dilakukan Rene Higuita. Di banyak rekaman video bisa kita lihat bagaimana Rene Higuita nekat melakukan penyelamatan gaya kalajengking sambil terbang. Sesuatu yang penuh resiko, karena sebetulnya bola mudah ditangkap. Hanya Rene Higuita punya pertimbangan lain, memilih terbang lompat ke depan dengan mengangkat kedua kakinya di belakang lalu menyapu bola.

Aksi kalajengking itu dilakukannya dalam pertandingan Timnas Inggris vs Kolombia di Stadion Wembley, 6 September 1995. Sapuan itu untuk menghalau tendangan pemain Inggris, Jamie Redknapp. Pada 2002 penyelamatan kalajengking itu menempatkannya di peringkat ke-94 dalam 100 momen olahraga terbesar di Channel 4. Hebatnya penyelamatan kalajengking seperti itu tidak hanya sekali dilakukannya.

 

Jorge Campos – Foto: FIFA.com

 

Jorge Campos

Sebagai kiper perawakannya kurang meyakinkan. Karena tinggi tubuhnya di bawah rata-rata kiper yang identik dengan postur tinggi besar. Sosok yang sekarang berusia 54 tahun dan bekerja sebagai analis pertandingan di salah satu stasiun televisi Meksiko ini pernah tenar sebagai kiper eksentrik.

Dengan tinggi badan 168 sentimeter Jorge Campos terlihat berbeda karena memakai kostum kiper berwarna-warni. Malah tidak sekadar warna-warni karena pilihannya adalah warna yang mencolok. Misalnya bajunya merupakan campuran potongan-potongan warna pink, kuning, hitam, hijau, dan lain-lain. Ditambah lagi keunikan lainnya adalah ukuran kostum yang kebesaran. Jadi modelnya tidak rapat badan atau bodyfit seperti kiper-kiper sekarang. Dengan kostum kedodoran dan warna yang ngejreng, sudah pasti penampilan Jorge Campos menjadi unik.

Keunikan yang dimiliki Jorge Campos ternyata tidak sebatas penampilan dari kostum, tetapi juga performanya di lapangan. Sebagai kiper ia sering ikut membantu serangan, terutama ketika ada tendangan bebas, sepak pojok, atau mengambil penalti. Nalurinya sebagai pemain memang tinggi.

Sebab dulu sebelum menjadi kiper ia adalah striker di Pumas pada 1988, klub tempat mengawali karir di sepak bola. Karena persaingan striker yang ketat, Jorge Campos memutuskan jadi kiper agar tetap bisa menjadi pemain utama. Dulu sebagai kiper ia kerap melompat ke sana dan ke mari, menyelamatkan gawang dari kebobolan. Aksi Jorge Campos ini selalu ditunggu para penikmat bola, terutama di era 1990-an.

 

Rogério Ceni – Foto: FIFA.com

 

Rogério Ceni

Kalau ditanya siapa kiper paling produktif mencetak gol dalam sejarah sepak bola, jawabannya adalah sosok asal Brasil ini. Dari berbagai situs pengumpul statistik sepak bola, misalnya rsssf.com hingga 11v11.com, Rogério Ceni sepanjang kariernya 1990-2015 menjaringkan sebanyak 131 gol. Momen paling banyak mencetak gol terjadi saat memperkuat São Paulo, karena di klub itu dia paling lama bermain. Tepatnya sejak 1992 hingga 2015. Sebelumnya dua tahun itu bermain untuk Sinop.

Rogério Ceni bisa produktif mencetak gol seperti itu karena keahliannya sebagai eksekutor bola mati. Ia adalah pengambil resmi tendangan bebas dan penalti di  São Paulo dari 1997 hingga pensiun pada 6 Desember 2015. Final Piala Dunia Klub 2005 Sao Paulo vs Liverpool menjadi sejarah emas buat Rogério Ceni. Banyak penyelamatan brilian yang dilakukannya dalam pertandingan itu, hingga akhirnya São Paulo menang 1-0 atas Liverpool. Atas performanya dalam laga itu ia dinobatkan sebagai Man of The Match. Hingga kini Rogério Ceni dianggap salah seorang kiper terbaik yang pernah lahir di Brasil.

Keahlian Rogério Ceni dalam memaksimalkan peluang bola mati menjadi gol, tidak datang begitu saja. Sejak menekuni sepak bola, ia terus melatih akurasi tendangan bebas dan penalti. Tidak heran bila akhirnya Rogério Ceni menjadi kiper yang lekat dengan rekor. Bahkan rekor yang unik karena selain tugas utamanya mengamankan bola jangan sampai masuk gawang, tetapi di sisi lain ia produktif membobol gawang lawan. Situasi yang mungkin hingga sekarang belum ada lagi kiper yang mampu menyamai catatan Rogério Ceni.

 

Petr Čech – Foto: FIFA.com

 

Petr Čech

Figur kiper berikutnya yang kental dengan keunikan adalah Petr Čech. Sebagai kiper ia masuk dalam jajaran terbaik dalam sejarah sepak bola. Namun keunikan paling nyata adalah keputusannya mengenakan helm rugby.

Penampilan itu langsung menyita perhatian karena belum pernah ada kiper memakai helm rugby di pertandingan. Yang umum paling kiper mengenakan topi untuk menghindari silau matahari. Tapi ini beda, Petr Čech memakai helm yang biasa dipakai untuk olahraga rugby.

Semua berawal dari kejadian Petr Čech mengalami patah tulang tengkorak. Peristiwa itu berlangsung dalam pertandingan Chelsea melawan Reading pada 2006. Kala itu Petr Čech yang sekarang masuk dalam jajaran direksi Chelsea, bertabrakan dengan pemain Reading, Stephen Hunt. Penjaga gawang asal Republik Ceko itu langsung kehilangan kesadaran. Beruntung ia mendapat penanganan yang tepat, sehingga nyawanya terselamatkan.

Petr Čech sempat istirahat lama untuk menyembuhkan cedera tulang tengkorak yang diderita. Kemudian setelah kembali ke lapangan, ia memperkenalkan helm rugby sebagai pelindung kepala buat kiper. Identitas unik itu jadi melekat sampai sekarang dalam sosok Petr Čech.

Peraturan sepak bola memang tidak melarang kiper memakai perlengkapan seperti topi dalam pertandingan. Jadi helm rugby itu tidak Petr Čech dilarang bermain. Malah makin membuatnya merasa aman dan nyaman, serta paling penting menghilangkan trauma cedera tulang tengkorak.

 

Manuel Neuer – Foto: FIFA.com

 

MANUEL NEUER

Di era sepak bola modern seperti sekarang, peran kiper tidak monoton lagi sebagai benteng terakhir pertahanan di bawah mistar gawang. Tapi sebagai benteng terakhir, kiper juga bisa menjadi sweeper atau penyapu bola. Bahkan pembagi bola dari lapis pertahanan pertama. Model seperti ini mulai dipopulerkan kiper Jerman, Manuel Neuer.

Langganan Timnas Jerman dan kiper utama FC Bayern ini mampu menjalankan tugas ganda sama baiknya, sebagai kiper maupun sweeper. Kemampuan menempatkan posisi, membaca tembakan bola, hingga antisipasinya untuk mengamankan gawang secara komplet dimiliki Manuel Neuer. Kemudian dia juga pandai dalam mengawali perputaran bola. Ia terlibat aktif dalam transisi permainan dari lapangan belakang.

Gaya bermain seperti itu menjadi keunikan tersendiri bagi Manuel Neuer. Tidak heran gaya seperti itu lantas coba ditiru kiper lain di berbagai belahan dunia. Banyak pula pelatih yang menginstruksikan kipernya untuk meniru ciri khas Manuel Neuer, menjadi penjaga gawang sekaligus sweeper.

Peran unik sebagai kiper dan sweeper ini mulai populer di Piala Dunia 2014. Tahun saat Jerman berhasil menjadi juara dunia, setelah di final menghempaskan Argentina. Ketika itu Manuel Neuer benar-benar mencapai puncak performa. Penampilannya tidak monoton di area penalti, tetapi juga maju sampai sepertiga akhir, memerankan posisi sebagai sweeper.

Demikian 6 kiper yang kiranya mewakili keunikan dunia penjaga gawang. Tentu masih banyak kiper-kiper unik dan eksentrik di berbagai belahan dunia. Tujuan mereka hanya satu, supaya tidak lagi dianggap sebagai posisi buangan dan hidup dalam kesunyian. Setidaknya berkat 6 kiper tadi, penggemar sepak bola menjadi tahu, bahwa penjaga gawang punya dunia yang ramai dan berwarna-warni

SAMPAIKAN KOMENTAR