Drawing Delapan Besar Liga Champions: Antara Balas Dendam dan Ambisi Besar
20
Mar
2021
0 Comment Share Likes 96 View

Liga Champions sudah memasuki tahapan selanjutnya. Setelah berjibaku di babak 16 besar, delapan tim, yaitu Liverpool, Paris Saint-Germain, Porto, Borussia Dortmund, Manchester City, Real Madrid, Bayern Munchen, Chelsea berhasil memastikan tempat masing-masing di babak perempat final.  Delapan tim tersebut siap bertarung demi satu tujuan: meraih trofi si kuping besar pada Mei mendatang di Istanbul.

Dalam undian yang dilakukan di Nyon, Swiss, pada Jumat (19/3) malam, delapan tim tersisa di sudah mendapat kepastian lawan mereka di Babak Delapan Besar. Masing-masing hasil undian memiliki ceritanya sendiri. Hasil undian yang mempertemukan tim dengan sejarah pertemuan tertentu bisa memantik pertandingan yang menarik. Apa saja yang menarik dari hasil undian tersebut? Simak ulasan di bawah ini.

Hasil undian perempat final Liga Champions (foto: Bleacher News)

 

Manchester City vs Borussia Dortmund: Guardiola tidak boleh terpeleset lagi

Sejak proyek Abu Dhabi dimulai di City, hanya satu kali The CItizens melangkah lebih jauh dari babak delapan besar, yaitu pada musim 2013/14. Pep Guardiola, pelatih yang berpengalaman menjuarai kompetisi ini bersama Barcelona, ditunjuk untuk mewujudkan ambisi besar proyek City untuk memenangi Liga Champions. Sayangnya, babak delapan besar seolah menjadi tembok besar bagi Guardiola. Tak sekalipun pelatih asal Spanyol tersebut berhasil melangkah lebih jauh.

Musim lalu, langkahnya dihentikan Lyon secara mengejutkan dalam format kompetisi satu leg. Musim sebelumnya, adalah dua rival sesama Inggris: Tottenham Hotspurs dan Liverpool yang bergiliran menyingkirkan City secara agregat.

Musim ini Guardiola tentu tak ingin jatuh di lubang yang sama. Ia harus bisa menunjukkan kualitasnya sebagai pelatih jempolan. Setidaknya musim ini menjadi momen yang pas baginya untuk mencetak sejarah baru Manchester City. Penampilan impresifnya di kompetisi domestik bisa menjadi modal untuk berbicara lebih banyak di Eropa.

Pep Guardiola, tak boleh gagal lagi (foto: 90Min)

 

Meski demikian Dortmund tentu tak bisa dianggap remeh. Meski limbung di kompetisi domestik, klub asal Jerman tersebut bisa menjadi batu sandungan bagi City. Erling Haaland, yang juga anak dari eks pemain City Alf-Inge Haaland, bisa menjadi ancaman yang nyata. Bersama dengan Jadon Sancho, yang merupakan lulusan akademi City, keduanya menjadi motor serangan Dortmund musim ini dengan catatan 37 gol dan 17 asis atas nama keduanya.

Walaupun Dortmund cenderung tidak diunggulkan, hal itu bukan menjadi jaminan City bakal melenggang mudah ke semifinal. Dua musim terakhir menjadi pembuktian di mana City justru tersingkir oleh Lyon dan Tottenham yang tidak diunggulkan. Catatan ini menjadi perhatian khusus bagi Guardiola agar ia tidak terpeleset lagi.

Bayern Munchen vs Paris Saint-Germain: mampukah PSG melakukan revans?

Laga ulangan final tahun lalu terjadi di babak delapan besar. Bayern Munchen dengan skuad yang tak jauh berbeda dengan musim lalu akan ngotot mempertahankan gelar. Sementara PSG di bawah pelatih baru mengincar revans atas kesebelasan asal Jerman tersebut. Pertanyaannya adalah, mampukah PSG?

Ulangan final tahun lalu. Akankah hasilnya berbeda? (foto: France TV)

 

Juara Prancis tersebut lolos meyakinkan ke babak delapan besar usai menyingkirkan Barcelona dengan agregat 5-2. Kemenangan 4-1 di kandang lawan dilengkapi dengan penampilan solid di kandang. Tak sedikit yang menilai hasil tersebut sebagai pembuktian mental juara PSG yang tak terlena keunggulan di pertemuan pertama.

Hasil tersebut menjadi modal mereka menghadapi Bayern. Die Roten tidak banyak berubah dari tim musim lalu: dominan, kuat, dan ngotot meraih kemenangan. Tidak terhitung beberapa kali musim ini mereka mampu keluar dari situasi sulit untuk balik mengalahkan lawannya. Ditambah dengan performa para pemain kuncinya, seperti Robert Lewandowski, yang tak sedikitpun menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Bayern boleh jadi adalah tim yang paling ingin dihindari siapapun di babak ini. Bagi PSG, bertemu Bayern jelas menjadi tantangan berat. Hanya saja, apabila mereka berhasil menyingkirkan Bayern, kepercayaan diri mereka tentu akan meningkat. Langkah selanjutnya tentu bisa lebih mudah. Mampukah PSG?

 

Liverpool vs Real Madrid: aroma balas dendam Final 2018

Liverpool dan Real Madrid adalah representasi masing-masing negara di kompetisi Eropa. Dengan koleksi trofi Liga Champions terbanyak di antara klub dari negara asal mereka, keduanya kerap bertemu di partai-partai penting.

Terakhir keduanya bersua di final 2018 yang digelar di Kiev, Ukraina. Highlight utama dari laga tersebut adalah tekel horor Sergio Ramos terhadap Mohamed Salah, yang memaksa penyerang asal Mesir tersebut mengakhiri laga di menit awal. Liverpool, yang tampil gemilang sepanjang turnamen dipaksa bertekuk lutut usai kalah dengan skor 1-3. Meski berhasil menjuarai turnamen di tahun berikutnya, insiden tersebut masih diingat oleh Liverpool. Dendam terhadap El Real, terutama Ramos, masih menjadi bumbu laga ini yang bisa menjadi motivasi tambahan bagi pasukan The Reds.

Tekel Ramos terhadap Salah masih menghantui Liverpool (foto: The Guardian)

 

Musim ini mereka memang terseok-seok di liga. Akan tetapi, penampilan mereka di kompetisi Eropa masih meyakinkan. Usai menjuarai grup, Liverpool menyingkirkan RB Leipzig dengan dua kemenangan dari dua laga. Hal serupa juga dialami oleh El Real. Tercecer di belakang Atletico dan Barcelona di liga, anak asuh Zinedine Zidane tampil cukup lancar di Liga Champions, bahkan menjuarai grup dengan lawan yang cukup sulit.

Sama-sama tersingkir di babak 16 besar musim lalu, keduanya mengincar prestasi di arena kontinental untuk mengakhiri musim ini dengan trofi besar. Motivasi tinggi dua kesebelasan ini bisa menambah bumbu yang menarik.

 

Porto vs Chelsea: ajang pembuktian Tuchel

Untuk kali pertama dalam tujuh tahun, Chelsea berhasil melaju ke babak delapan besar. Prestasi ini diraih dengan penampilan meyakinkan usai menyingkirkan pimpinan klasemen La Liga, Atletico Madrid dengan agregat 3-0. Aktor utamanya adalah Thomas Tuchel. Juru latih asal Jerman yang musim lalu membawa PSG ke final tersebut berhasil menerapkan sistem permainan yang solid di Stamford Bridge, sesuatu yang kurang terlihat kala Chelsea masih ditangani oleh Frank Lampard.

Di tangan Tuchel, Chelsea menjadi tim yang sulit dikalahkan. Tidak hanya karena dominan ketika menguasai bola, The Blues juga tidak mudah ditembus oleh lawan. Sejak mengambil alih Chelsea pada awal tahun, Cesar Azpilicueta dkk hanya kebobolan 2 gol dari 13 pertandingan. Bahkan 1 dari 2 gol yang bersarang di gawang Edouard Mendy tersebut merupakan gol bunuh diri.

Thomas Tuchel, mengincar pencapaian lebih tinggi (foto: Bolanet)

 

Porto, di sisi lain, bukan lawan yang bisa dianggap enteng. Dengan pertahanan yang solid, tim arahan Sergio Conceicao tersebut mampu menyingkirkan Juventus dan Cristiano Ronaldo. Permainan defensif ala Porto punya potensi menyulitkan Chelsea, yang belum menjadi tim yang tajam di bawah Tuchel. Rasa frustasi yang menimpa Juventus, bukan tak mungkin juga dialami Chelsea.

Melawan Porto menjadi tantangan berikutnya bagi Tuchel. Keberhasilan melaju jauh di Liga Champions bisa jadi memberikan ia kursi yang lebih nyaman di Chelsea. Apalagi dengan rasa penasarannya yang harus terhenti di final musim lalu.

Melihat ketatnya persaingan berbagai tim besar yang akan mengarahkan skuad terbaiknya demi lolos ke babak selanjutnya, babak perempatfinal musim ini layak untuk dinanti-nantikan para pecinta sepakbola. Kira-kira siapa saja tim yang akan berhasil lolos ke babak semifinal? Kita lihat saja, Pria Intersport.

SAMPAIKAN KOMENTAR