Dominasi Milan Hancurkan Juventus yang Kebingungan
10
May
2021
0 Comment Share Likes 127 View

Kemenangan telak berhasil diraih AC Milan kala melawat ke kandang Juventus. Tidak tanggung-tanggung, tiga gol berhasil dilesakkan oleh Milan tanpa sekalipun bisa dibalas oleh tuan rumah. Ketiga gol Milan dilesakkan oleh Brahim Diaz, Ante Rebić, dan Fikayo Tomori.

Kemenangan Milan bisa saja lebih besar lagi jika penalti Franck Kessie di awal babak kedua tidak dimentahkan Wojciech Szczesny. Dominasi Milan dalam hal struktur serangan membuat Juventus harus bertekuk lutut. Alhasil, Milan semakin dekat dengan kualifikasi ke Liga Champions.

Di laga ini, penampilan kedua tim dalam menciptakan peluang sebetulnya relatif berimbang. Berdasarkan data understat.com, Juventus malah mampu menciptakan tembakan lebih banyak, yaitu 16 tembakan berbanding 10 milik AC Milan. Nilai expected goals (xG) kedua tim juga hampir sama, yaitu 1,10 milik Juve berbanding 1,23 milik AC Milan. Hanya saja, struktur serangan AC Milan mampu mendapatkan keunggulan dari Juve. Alhasil Milan bisa mendapatkan banyak momen-momen berbahaya.

Susunan pemain

Juventus yang bermain sebagai tuan rumah, menurunkan sebagian besar pemain kuncinya dalam formasi 4-4-2. Wojciech Szczęsny jadi pilihan utama di bawah mistar. Di depannya ada kuartet empat bek Juan Cuadrado, Matthijs De Ligt, Giorgio Chiellini, dan Alex Sandro. Rodrigo Bentancur dan Adrien Rabiot bertandem di jantung lini tengah, diapit oleh Weston McKennie dan Federico Chiesa di kedua sisi sayap. Lini serang Si Nyonya Tua dipimpin oleh duet Cristiano Ronaldo dan Alvaro Morata.

Sementara itu, tim tamu turun dengan formasi 4-2-3-1. Sama seperti tuan rumah, mereka menurunkan hampir semua pemain terbaiknya. Gianluigi Donnarumma menjadi palang pintu terakhir di belakang back four: Davide Calabria, Simon Kjaer, Fikayo Tomori, dan Theo Hernandez. Ismael Bennacer dan Franck Kessie berduet sebagai pivot ganda di lini tengah. Tiga gelandang serang diisi oleh Alexis Saelmaekers, Brahim Diaz, dan Hakan Calhanoglu. Penyerang utama mereka Zlatan Ibrahimovic memimpin lini serang.

Susunan pemain kedua tim (sumber: olahan Intersport)

 

Struktur serangan Milan

Memulai laga dengan struktur 4-2-3-1, Milan banyak melakukan percobaan bangun serangan dari bawah. Tentu bukan perkara mudah mengingat Juve merupakan tim yang akan melakukan pressing blok tinggi. Di laga ini, pakem 4-4-2 mereka terlihat ketika sedang tidak menguasai bola.

Dua penyerang mereka, Ronaldo dan Morata akan menjadi penekan di lini pertama. Mereka akan segera melancarkan gangguan pada bangun serangan pertama Milan. Mereka akan dibantu dengan empat gelandang yang akan menutup akses Milan untuk melakukan progresi vertikal. Empat pemain belakang juga akan naik secara situasional untuk menutup jalur umpan kepada pemain depan Milan.

Milan mengatasi hal ini dengan menerapkan struktur yang simetris. Di lini belakang, Milan akan membentuk struktur 3-1. Dalam momen ini, bek kanan, Calabria akan tampil lebih ke dalam membentuk struktur tiga bek bersama dua bek tengah, Kjaer dan Tomori. Salah satu gelandang, biasanya Bennacer akan turun menjadi opsi vertikal di depan tiga bek.

Di area luar, Theo dan Saelmaekers akan menjaga kelebaran tetap maksimal sehingga pertahanan Juve merenggang. Mekanisme ini juga akan membuka ruang bagi pemain tengah dan depan menciptakan koneksi di area bawah. Di area yang lebih tinggi, pemain depan Milan akan mengisi ruang antar lini.

Mekanisme ini membantu mengatasi blok pressing 4-4-2 Juve. Di lini pertama, Milan memiliki keunggulan kuantitatif 4v2 atas pemain depan Juve. Hal ini cukup banyak terlihat memudahkan Milan dalam memprogresi serangan. Untuk menyiasati situasi kalah jumlah di atas, gelandang Juve merespon dengan banyak membantu penyerang untuk menutup bangun serangan Milan. Hanya saja, struktur serangan yang baik membuat Milan mampu beberapa kali keluar dari tekanan, baik itu melalui area luar atau bahkan lewat area tengah.

Adanya dua pemain yang menjaga kelebaran bisa membantu memberikan koneksi di area luar apabila gelandang Juve mencoba untuk bantu menekan di atas. Dalam hal ini, Theo atau Saelmaekers akan mengambil posisi ‘tanggung’, tidak terlalu ke bawah tapi juga tidak terlalu tinggi untuk memberikan opsi keluar.]

Struktur serangan Milan mampu beberapa kali keluar dari tekanan Juve (sumber: olahan Intersport)

 

Adanya gelandang serang dan pemain depan yang mengisi ruang antar lini juga membantu Milan mendapatkan situasi menguntungkan di sepertiga akhir. Seperti yang terlihat dalam gol kedua yang dicetak Rebic. Lagi-lagi keunggulan jumlah bangun serangan di bawah menjadi kunci. Gelandang Juve jadi terpancing untuk melakukan press dan membuka ruang di area yang terbuka bagi Rebic untuk melakukan tendangan.

Juve yang ‘kebingungan’

Juve sendiri menciptakan cukup banyak tembakan. Akan tetapi, hanya satu tembakan tersebut yang bisa mengarah tepat sasaran. Kesulitan Juve dalam menciptakan peluang sangat terlihat karena struktur serangan mereka.

Menyerang dengan pola 4-4-2, Juve juga mencoba melakukan beberapa penyesuaian untuk menciptakan situasi yang menguntungkan. Keunggulan 2v1 di bawah coba diperkuat dengan menciptakan situasi menang jumlah juga di lini tengah. McKennie yang bermain di sayap kanan kerap membantu menciptakan situasi segitiga di lini tengah bersama Rabiot dan Bentancur. Ronaldo dan Morata secara konsisten mengisi ruang antar lini sebagai opsi serangan Juve di sepertiga akhir.

Akan tetapi, penjagaan zonal Milan yang rapat mampu mencegah Juve mengambil keunggulan dari mekanisme tersebut. Alhasil mereka harus banyak melakukan sirkulasi ke area tepi untuk melakukan serangan. Karena McKennie banyak masuk ke tengah, situasi kurang menguntungkan bagi Juve di area kanan.

Sebagai gantinya, Juve banyak masuk dari kiri lewat kombinasi antara Chiesa dan Sandro. Hanya saja, minimnya mekanisme overload membuat mereka kerap menghadapi situasi sama jumlah bahkan kalah jumlah dari pemain bertahan Milan. Hal ini menyebabkan mereka kesulitan melakukan penetrasi ke area berbahaya.

Struktur serangan Juve (sumber: olahan Intersport)

 

Langkah terjal Juve menuju Liga Champions

Kalah dari Milan membuat langkah Juve lolos ke Liga Champions musim depan semakin berat. Saat ini saja mereka sudah tercecer di peringkat lima dengan koleksi 69 poin. Menyisakan 3 pertandingan lagi, mereka harus menyusul defisit satu angka dari Napoli di atasnya.

Mau tidak mau, Juve harus memenangkan semua pertandingan sisa sambil berharap Napoli, Milan, atau Atalanta kehilangan poin. Tentu bukan perkara mudah. Tren Juventus akhir-akhir ini masih sangat inkonsisten. Mereka 3 kali gagal meraih kemenangan dari 5 laga terkini. Ditambah dengan dua laga sulit kontra Inter Milan dan Sassuolo di 3 pekan tersisa.

Sementara itu, Milan sukses naik ke peringkat 3. Setan Merah saat ini menyamai perolehan poin Atalanta di peringkat 2 dengan koleksi 72 poin. Peluang Milan lolos ke Liga Champions untuk kali pertama sejak musim 2013/14 jadi cukup besar. Milan tinggal mempertahankan level konsistensi permainan mereka di tiga pertandingan sisa.

Kemenangan atas Juve juga diyakini akan mengembalikan kepercayaan diri skuad AC Milan. Sempat bersaing di jalur juara, I Rossoneri justru tertinggal jauh dari rivalnya, Inter, yang sudah memastikan scudetto sejak pekan lalu. Kemenangan atas Juve akan menjadi modal berharga bagi Milan untuk memenuhi target lolos ke Liga Champions.

SAMPAIKAN KOMENTAR