Diego Simeone: Wajah Keras Sepakbola
28
Apr
2021
0 Comment Share Likes 109 View

Apabila kita ingin menggambarkan sepakbola sebagai olahraga yang penuh semangat dan kerja keras, maka nama Diego Simeone menjadi jawabannya. Sosok kelahiran Buenos Aires 51 tahun silam tersebut lekat dengan wajah keras sepakbola yang selalu berjuang untuk memenangkan pertandingan.

Semasa bermain ia adalah seorang gelandang pekerja keras dan tanpa kompromi. Ketika melatih ia juga tidak akan menurunkan tim yang lemah gemulai. Nilai-nilai yang ia bentuk menjadi ciri khas baginya baik semasa bermain maupun saat melatih. Sebuah karakteristik yang terbentuk sepanjang karir sepakbola pria asal Argentina tersebut. ]

Sosok keras dan tanpa kompromi

Diego Pablo Simeone González lahir dan besar di Buenos Aires, ibukota Argentina. Simeone dibesarkan oleh keluarga kelas pekerja di distrik Palermo. Ayahnya merupakan eks pesepakbola amatir yang bekerja sebagai salesman. Sementara ibunya merupakan seorang penata rambut. Lahir dan besar di keluarga pekerja turut membentuk watak permainan Simeone di lapangan.           

Sejak kecil Simeone sudah menunjukkan bakatnya sebagai pesepakbola. Konon ia pernah bermain untuk tiga kesebelasan amatir sekaligus: Star of Gold di Caseros, General Paz di Mataderos, dan Velez Sarsfield di Devoto.

Bakatnya semakin terasah kala ia bergabung dengan akademi Velez yang juga menjadi klub pro pertamanya. Di sini ia mulai menunjukkan kombinasi antara bakat dengan permainan beretos kerja tinggi dan tanpa kenal lelah. Ia bahkan menjadi favorit para penggemar berkat karakter bermainnya tersebut.

Di Velez ia berlatih di bawah bimbingan Oscar Nessi dan Victorio Spinetto, yang merupakan salah satu pelatih Argentina kala itu dengan gaya bermain yang sangat berorientasi pada kemenangan. Dari sana Simeone banyak belajar dan turut membentuk gaya bermainnya saat dewasa. Simeone mendapatkan debutnya di tim senior Velez pada usia 17. Setahun setelah kemenangan Argentina di Piala Dunia Meksiko 1986, Simeone mencicipi pertandingan perdananya dalam kekalahan 1-2 Velez dari Gimnasia. Setahun kemudian ia diberi kesempatan tampil di tim nasional.

Dalam periode 1987-1990, Simeone muda telah menjadi pilihan utama di klub berjuluk El Fortin tersebut. Tampil sangat enerjik di lini tengah, Simeone merupakan gelandang paket lengkap: ia bisa memotong serangan lawan, jeli dalam melakukan tekel, tapi juga masih punya energi untuk penetrasi ke lini depan bahkan mencetak gol.

Simeone sudah menjadi andalan Velez di usia muda (foto: Marca)

 

Reputasi tersebut membuatnya segera mendapatkan kepindahan ke Eropa. Pisa dan Sevilla merupakan dua klub pertamanya di benua biru. Setelah masing-masing dua musim di dua tim tersebut, Simeone mendapatkan kepindahan di klub di mana namanya tenar kelak: Atletico Madrid.

Di musim keduanya di ibukota, Simeone berjasa mempersembahkan dua gelar sekaligus: La Liga dan Copa del Rey. Di musim yang penuh kesuksesan tersebut, Simeone menjadi bagian penting dari skuad Los Rojiblancos. Sama seperti masa juniornya di Velez: gaya bermain Simeone masih sama. Seorang gelandang serba bisa yang memenangkan duel di area tengah, sebelum tiba-tiba merangsek ke pertahanan lawan dan menebar ancaman.

Pasca Atletico, Simeone melanjutkan karir yang sempat tertunda di Italia. Kali ini Internazionale dan Lazio menjadi pelabuhan karir selanjutnya. Di tanah kelahiran catenaccio tersebut, gaya permainan Simeone berubah menjadi lebih disiplin. Filosofi pelatih Inter kala itu, Luigi Simoni yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai catenaccio turut membentuk perubahan karakter Simeone.

Simeone versi baru lebih banyak ditugaskan untuk memenangi perebutan bola, sebelum menyerahkan urusan menyerang kepada Yuri Djorkaeff, Ivan Zamorano, atau Ronaldo. Hal serupa terjadi ketika ia pindah ke Lazio arahan Sven-Goran Eriksson, di mana Simeone berperan menopang Pavel Nedved, Juan Sebastian Veron, dan Hernan Crespo. Satu hal yang tidak berubah adalah perolehan trofi. Simeone turut memenangi Piala UEFA 1998 bersama Inter.

‘El Cholo’ dan Cholismo

Gaya permainan Simeone yang keras dan tanpa kompromi membuatnya diberi julukan ‘El Cholo’. Julukan tersebut sebenarnya merupakan umpatan khas Amerika Latin terhadap sosok dari kelas bawah. Meski demikian, terminologi tersebut juga digunakan untuk menggambarkan kekuatan dan kecerdikan khas ‘jalanan’ yang keras.

El Cholo bagi Diego Simeone dimulai dari karir juniornya di Velez. Adalah Spinetto, sosok yang membentuk karakter tersebut di masa awal karirnya. Spinetto adalah bagian dari generasi pelatih Argentina yang memiliki haluan sepakbola untuk kemenangan. Keberhasilan di lapangan hijau bukan diraih oleh skill individu ciamik, tetapi kerja keras dan kemauan lebih.

Sosok lain yang berpengaruh adalah Carlos Bilardo dan Luigi Simoni. Kedua sosok yang lekat dengan sematan anti-football karena permainan bertahan yang sinis alih-alih serangan cantik yang estetik. Keduanya juga turut membentuk karakter permainan Simeone menjadi semakin disiplin dan patuh terhadap sistem tim yang dibangun.

Pasca pensiun dan menjalani karir sebagai juru latih, Simeone membawa karakteristik permainannya tersebut ke dalam filosofi melatihnya. Cholismo, begitu gaya melatihnya sering disebut, menekankan pada pertahanan yang kuat dibarengi etos kerja yang tinggi dalam merebut bola. Usaha keras adalah sesuatu yang tidak bisa diperdebatkan lagi, begitu bagaimana Simeone mendeskripsikan filosofi permainannya.

Filosofi Cholismo yang dibawa semasa menjadi pemain dan pelatih (foto: Sportskeeda)

 

Filosofi tersebut dipengaruhi filosofi Bilardo yang menjunjung tinggi kemenangan apapun caranya dibarengi dengan elemen pertahanan ala Italia yang dipengaruhi Simoni. Tak heran kita melihat bagaimana Atletico arahan Simeone bermain dengan pertahanan rapat berorientasi penjagaan perorangan yang ketat dibarengi dengan pelanggaran-pelanggaran sinis terhadap pemain lawan yang coba menerobos.

Gaya main tersebut juga diterapkan hingga ke sesi latihan, komunikasi dengan pemain, dan prinsip-prinsip manajerialnya. Tak heran jika melihat bagaimana hubungan Simeone dengan para pemainnya, serta kerelaan pemainnya untuk menderita demi meraih hasil maksimal.

Penantang kemapanan di Negeri Matador

Gaya bermain dan melatih yang penuh penekanan pada etos kerja, disiplin, dan perlawanan terhadap kemapanan membuat Simeone menjadi sosok yang lekat dengan Atletico Madrid. Sepakbola negeri Spanyol sangat lekat dengan dominasi dua raksasa, Real Madrid dan Barcelona. Atletico, semewah apapun sekarang, bukan klub dengan tradisi yang megah seperti keduanya.

Atleti bukanlah klub dengan gaya main elegan dan cantik yang mengakar seperti Barcelona. Atleti juga bukanlah kesebelasan penuh gaya dan tradisi kebangsawanan khas Real Madrid. Sebaliknya, Atletico adalah klub milik kelas pekerja. Mereka yang bukan berada di puncak strata sosial. Mereka yang harus bekerja keras untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Filosofi itulah yang membuat Simeone seolah-olah merupakan Atletico, juga sebaliknya. Simeone dan Atletico adalah wujud dari wajah sepakbola sebagai olahraga penuh kerja keras. Sebagai olahraga yang tidak mengandalkan status bangsawan atau teknik tinggi untuk memenangkannya.

Perlawanan Simeone bersama Atletico sudah dimulai di musim kedua El Cholo sebagai pemain. Bersama skuad arahan Radomir Antic, Atleti memenangkan gelar dobel pada musim 1995/96 di tengah menurunnya dominasi Real dan dream team Barcelona arahan Cruyff. Ketika kembali menjadi pelatih pada 2011, Atleti arahan Simeone menunjukkan taji yang sama. Hingga kini mereka merupakan kesebelasan terakhir selain Real dan Barca yang memenangi trofi Liga Spanyol. Gelar yang mereka raih di musim 2013/14 tersebut menunjukkan watak tersebut: permainan defensif dan penuh kerja keras.

Simeone membawa Atletico merusak dominasi Real Madrid dan Barcelona (foto: Independent)

 

Atletico arahan Simeone kini masih berada di jalur perebutan gelar juara La Liga. Menyisakan lima pertandingan, sejauh ini mereka masih memimpin klasemen di depan kejaran duo raksasa tersebut. Meski jarak poin sangat tipis, peluang masih terbuka bagi Atleti. Mampukah Simeone kembali mendobrak dominasi keduanya di akhir musim?

SAMPAIKAN KOMENTAR