Deretan Pesepakbola Tercepat Di Eropa
14
Nov
2020
0 Comment Share Likes 92 View

Sebagai seorang atlet, para pesepakbola dituntut untuk memiliki kemampuan fisik yang baik untuk menunjang performa diri dan kesebelasannya. Salah satu indikator kemampuan tersebut adalah kecepatan.

Dalam pertandingan, banyak momen di mana suatu tim bisa mendapatkan keuntungan dari pemain-pemain yang memiliki kecepatan tinggi, misalnya dalam situasi serangan balik. Pemain dengan kecepatan tinggi bisa memanfaatkan ruang untuk menciptakan peluang bagi timnya dalam waktu yang singkat sebelum lawan kembali ke struktur bertahannya.

Kylian Mbappe Di Piala Dunia 2018. Sumber Foto: The Times

 

Perkembangan sepakbola modern yang ditandai banyaknya momen transisi. Salah satu fenomena terkini adalah Olympique Lyonnais di Liga Champions Eropa musim lalu. Berdasarkan technical reports Liga Champions yang dirilis UEFA, Lyon mencatatkan rata-rata hanya 1,9 operan dan 6,6 detik untuk proses penciptaan gol. Strategi tersebut mampu membawa Lyon tampil mengejutkan dengan lolos ke semifinal, menyingkirkan Juventus dan Manchester City, sebelum takluk dari Bayern München yang keluar sebagai juara.

Kehadiran pemain dengan kecepatan tinggi akan bisa sangat membantu. Memphis Depay, Martin Terrier, Maxwel Cornet, dan Moussa Dembélé merupakan pemain-pemain dengan kecepatan tinggi yang menjadi tumpuan Lyon dalam strateginya. Gol Dembélé ke gawang City di babak perempat final menjadi salah satu bukti. Berawal dari intersep Maxence Caqueret, Lyon segera meluncurkan serangan balik kilat yang kemudian diselesaikan Dembélé dalam situasi one-on-one dengan Ederson. Proses tersebut hanya membutuhkan waktu kurang dari 9 detik, 6 sentuhan, dan 2 operan.

Sepakbola sendiri mengenal banyak pemain dengan kecepatan yang mumpuni. Ryan Giggs, Thierry Henry, Cristiano Ronaldo, Gareth Bale, Theo Walcott, hingga Aaron Lennon memiliki reputasi sebagai pemain dengan kecepatan di atas rata-rata. Selain nama-nama di atas, beberapa pemain aktif di bawah ini memiliki reputasi membuat bek-bek lawan kepayahan lewat eksplosivitas mereka.

Kylian Mbappé (Paris Saint Germain/Prancis)

Digadang-gadang bakal menjadi legenda, Mbappé memiliki kemampuan sepakbola yang lengkap untuk seorang penyerang. Skill olah bola yang ciamik, pergerakan yang cerdas, hingga kemampuan penyelesaian akhir yang brillian menjadikannya salah satu pesepakbola terbaik yang pernah ada.

Salah satu keunggulan lain dari Mbappé adalah kecepatannya. Musim lalu, berdasarkan catatan UEFA, Mbappé merupakan pemain dengan kecepatan sprint tertinggi di Liga Champions, yaitu 36km/jam. Angka tersebut dicatatkan pada laga final melawan Bayern München yang terkenal kerap memasang garis pertahanan tinggi. Pelatih PSG, Thomas Tuchel, kecepatan Mbappé dimanfaatkan untuk mengeksploitasi garis pertahanan tinggi lawan. Meski PSG banyak menciptakan peluang dari momen tersebut, sayangnya penampilan gemilang Manuel Neuer di bawah mistar Bayern mencegah Mbappé dan kawan-kawan meraih gelar.

Peluang Mbappé yang dimentahkan Neuer di final UCL musim lalu. Sumber Foto: Twitter Coaches Voice

 

Selain itu, kecepatan Mbappé yang tinggi juga membuat pemain lawan harus mengimbanginya. Dari lima sprint tercepat di Liga Champions musim lalu, Mbappé menempati urutan pertama. Uniknya, empat pemain di bawahnya dicatatkan oleh bek sayap ketika melawan Mbappé.

Lima sprint tercepat Liga Champions musim lalu. Sumber Foto: UEFA Technical Reports

 

Iñaki Williams (Athletic Bilbao/Spanyol)

Iñaki Williams memiliki predikat spesial: pemain kulit hitam pertama yang mencetak gol bagi Athletic Bilbao. Klub legendaris dari daerah Basque, Spanyol tersebut memang memiliki kebijakan hanya akan menggunakan pemain berdarah Basque. Williams, yang lahir di Baskonia, salah satu wilayah di Basque, memenuhi kualifikasi tersebut kendati lahir dari pasangan orangtua berkebangsaan Ghana dan Liberia.

 

Penampilan apik Williams membuatnya dipanggil ke Timnas Spanyol. Sumber Foto: Marca.com

 

Kecepatan menjadi salah satu  kekuatan utama Williams. Hal tersebut membuat lulusan akademi CD Pamplona tersebut bisa tampil baik di lini terdepan maupun kedua sisi sayap. Pada musim lalu, Squawka menobatkan Williams sebagai sprinter tercepat di La Liga. Williams mencatatkan kecepatan di angka 34,37 km/jam, mengungguli duo Real Madrid, Ferland Mendy dan Gareth Bale. Situs SpeedsDB juga mencatat Williams pernah mencatatkan top speed di angka 35,71 km/jam.

Pierre-Emerick Aubameyang (Arsenal/Gabon)

Kapten Arsenal dan Timnas Gabon, Pierre-Emerick Aubameyang juga merupakan salah satu pemain yang terkenal dengan kecepatannya. Dilansir dari Bleacher Report, ketika masih berseragam Borussia Dortmund, Aubameyang pernah mencatatkan rekor sprint ketika menempuh jarak 30 meter dalam waktu 3,7 detik. Catatan waktu tersebut bahkan mengalahkan catatan Usain Bolt ketika memecahkan rekor 100 meter pada 2009.

Aubameyang saat menerima penghargaan top skorer Liga Inggris 2018/19. Sumber Foto: Arsenal.com

 

Kemampuannya tersebut dikombinasikan dengan keahlian penyelesaian akhir yang ciamik. Aubameyang merupakan pencetak gol terbanyak Bundesliga musim 2016/17 dan Liga Primer Inggris 2018/19. Sepanjang kariernya, Aubameyang berhasil mencetak 251 gol, menjadikannya salah satu penyerang tertajam di Eropa saat ini.

Karim Bellarabi (Bayer Leverkusen/Jerman)

Sebagai pemain yang banyak beroperasi di sayap, Karim Bellarabi sangat memanfaatkan kemampuan eksplosifnya. Bellarabi dikenal sebagai seorang pemain bertipikal winger murni. Ia akan berlari menyisir tepi lapangan dan memberikan ancaman dari area luar. Selama sembilan musim membela Leverkusen, Bellarabi menjadi salah satu pemain kunci kesebelasan yang bermarkas di BayArena tersebut, tampil di 176 pertandingan dan mencetak 31 gol dan 36 assist di Bundesliga.

Penampilan Karim Bellarabi bersama Bayer Leverkusen. Sumber Foto: Bulinews.com

 

Pada musim 2016/17 lalu, Bellarabi tercatat sebagai pemain tercepat di Bundesliga. Menurut laman resmi Bundesliga, Bellarabi mencatatkan kecepatan 35,27 km/jam. Angka tersebut melampaui beberapa jagoan pelari cepat lainnya, seperti Pierre-Emerick Aubameyang, Timo Werner, Levin Öztunali, dan Kingsley Coman. Uniknya, Bellarabi merupakan pencetak gol tercepat di sejarah Bundesliga. Bellarabi hanya membutuhkan waktu 9 detik ketika membobol gawang Borussia Dortmund pada musim 2014/15.

Kyle Walker (Manchester City/Inggris)

Sebagai seorang bek sayap, seorang pemain harus bisa memiliki kemampuan bertahan dan menyerang yang baik. Faktor kecepatan bisa membantu mengoptimalkan kemampuan tersebut. Seorang bek sayap yang memiliki kecepatan, tidak hanya dapat mengimbangi kecepatan pemain sayap lawan, tetapi juga bisa memberikan ancaman bagi pertahanan lawan. Kemampuan tersebut membuat Kyle Walker menjadi salah satu pemain kunci dalam kesuksesan Manchester City di Liga Primer beberapa tahun belakangan.

Kyle Walker, Andalan Sisi Pertahanan The Citizens. Sumber Foto: Bloomberg.com

 

Planet Football mencatat Walker sebagai pemain tercepat di Liga Primer Inggris musim lalu. Walker mencatatkan sprint dengan kecepatan 37,8 km/jam di laga melawan Chelsea pada Juni lalu. Di musim sebelumnya, Opta mencatat Walker memiliki top speed di angka 35,27 km/jam. Konsistensi eks pemain Tottenham Hotspur tersebut menjadikannya salah satu bek sayap papan atas di Inggris dan Eropa.

Adama Traoré (Wolverhampton Wanderers/Spanyol)

Pada laga Europa League musim lalu, beberapa staf Wolves tertangkap kamera melumuri lengan Traoré dengan minyak sebelum ia masuk lapangan sebagai pemain pengganti. Usut punya usut, tindakan tersebut dilakukan untuk melicinkan lengan Traore agar terhindar dari tarikan pemain lawan.

Staf Wolves mengolesi lengan Traore dengan minyak. Sumber Foto: ESPN FC (Twitter)

 

Traoré memang dikenal sebagai pemain dengan kecepatan yang luar biasa. Dengan kecepatannya, Traoré kerap membuat bek lawan frustasi dan mencoba menghentikannya dengan cara apapun, termasuk cara-cara kotor dengan menarik anggota tubuh. Staf pelatih Wolves kala itu tidak ingin kehilangan pemain kuncinya di laga penting karena cedera, akhirnya muncullah foto ikonik tersebut.

Tak hanya itu, tubuhnya yang atletis membuat ia bisa melakukan duel-duel fisik dengan pemain lawan. Dua musim di Inggris bersama Wolves, ia turut menyumbangkan 7 gol dan 13 assist serta membawa klub yang bermarkas di Stadion Molineux tersebut ke babak perempat final Europa League 2019/20. Berkat penampilan gemilangnya di level klub, pada Oktober lalu pemain berusia 24 tahun tersebut mendapatkan caps perdananya bersama Timnas Spanyol dalam laga uji coba melawan Portugal di Lisbon.

Mohamed Salah (Liverpool/Mesir)

Sejak diboyong dari AS Roma, Salah telah menjadi andalan Liverpool. Bersama Sadio Mané dan Roberto Firmino, Salah membentuk salah satu trio lini depan paling mematikan di Eropa. Hingga 8 November 2020, Salah total mencatatkan 103 gol dan 37 assist di semua kompetisi bagi kesebelasan asal Merseyside tersebut.

Salah kerap menyulitkan pemain lawan lewat kecepatannya, Sumber Foto: Dailymail.co.uk

 

Kecepatan menjadi salah satu kekuatan Salah. Kemampuannya ini sudah terlihat ketika ia pertama kali berkarir di Eropa bersama FC Basel di Swiss. Hal itulah yang membuat Chelsea memboyongnya pada bursa transfer musim dingin 2014. Kemampuannya semakin tajam ketika berkarir di Serie A, liga yang terkenal sulit karena kuatnya pertahanan para kontestan liga. Nyatanya hal tersebut justru menjadi arena bagi Salah mempertontonkan kemampuannya. Bersama Fiorentina dan AS Roma, Salah mencetak 45 gol dan 22 assist sebelum pindah ke Liverpool.

Dilansir dari Liverpool Echo, Salah memiliki catatan top speed di angka 35 km/jam. Kecepatan tersebut sangat pas dengan filosofi Gegenpressing ala manajer The Reds, Jürgen Klopp. Dengan permainan pressing dengan intensitas tinggi yang dikombinasikan dengan serangan balik cepat, kemampuan pemain seperti Salah akan banyak bermanfaat bagi tim.

Serge Gnabry (Bayern Muenchen/Jerman)

Sempat meredup ketika berkarir di Inggris bersama Arsenal dan West Bromwich Albion, Gnabry seolah-olah terlahir kembali ketika pulang kampung ke Jerman. Dua musim bersama Werder Bremen dan TSG Hoffenheim, Gnabry mencetak 21 gol dan 6 assist dan mendapatkan kepindahan ke raksasa Bundesliga, Bayern München.

Momen fenomenal Gnabry musim lalu: mencetak empat gol dalam kemenangan 7-2 Bayern atas Tottenham di London. Sumber Foto: Bundesliga.com

 

Bersama Bayern, Gnabry memantapkan posisinya sebagai salah satu pemain terbaik Eropa. Musim lalu, Gnabry mencatatkan rataan 48,9 sprint per laga di Liga Champions. Pemain terbaik Bundesliga 2018/19 tersebut pernah mencatatkan top speed di angka 34,76 km/jam, seperti dilansir Bundesliga. Kemampuan lari Gnabry tersebut tidak muncul begitu saja. Ketika masih belia, Gnabry merupakan salah satu atlet lari muda bertalenta di Jerman. Gnabry disebut banyak mengikuti kompetisi atletik di sana sebelum akhirnya memilih untuk fokus di sepakbola.

SAMPAIKAN KOMENTAR