Dari Peluit Mereka Sepak Bola Menjadi Penuh Cerita
25
Mar
2021
0 Comment Share Likes 119 View

Sepak bola akan menjadi tragedi bila tidak ada dia. Tanpa dia sepak bola tidak akan jalan, tidak ada pertandingan, tidak ada permainan. Tanpa kehadirannya di lapangan, sepak bola bisa berubah jadi ajang baku hantam, demi mempertahankan ego masing-masing. Mendefinisikan aturan sesuai apa yang ada di pikiran.

Dia adalah wasit, lengkap dengan peluitnya.

Tidak ada pertandingan yang boleh dimainkan tanpa keberadaan wasit. Itu sudah menjadi prinsip umum dalam aturan sepak bola yang disusun Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) dan dilaksanakan Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA). Bahkan pertandingan persahabatan pun tetap harus memakai wasit. Padahal labelnya persahabatan, yang berarti tidak ada kepentingan materialistis.

Saking pentingnya fungsi wasit, pekerjaan ini menjadi tidak kalah populer dibandingkan pemain sepak bola itu sendiri. Banyak wasit dalam sejarah sepak bola yang mampu menyita perhatian, terkenal dan selalu diingat orang. Mulai wasit Eropa sampai Amerika Latin, kemudian juga wasit pria dan wanita.

Siapa saja para pengadil lapangan hijau yang terkenal ini? Berikut disajikan setidaknya 5 wasit yang bisa dikatakan terkenal, entah karena ketegasan atau kontroversinya, sampai berbagai sejarah yang pernah dicatat.

Mike Dean – Foto: Premierleague.com

 

Mike Dean: Hiburan Dari Korps Baju Hitam

Sosok satu ini menarik bukan karena memimpin berbagai pertandingan yang prestisius. Bicara tentang Mike Dean yang menarik justru beragam cerita seputar kariernya sebagai wasit. Termasuk bagaimana pendekatan yang dilakukannya, bila terjadi pemain yang berseteru di lapangan, caranya memimpin pertandingan, hingga komentar-komentarnya yang lucu. Satu kata yang pas untuk menggambarkan sosok Mike Dean adalah: menghibur.

Mike Dean merupakan wasit dari Inggris. Ia berasal dari Wirral. Lahir pada 2 Juni 1968. Sekarang ini Mike Dean masih bertugas di Premier League. Walaupun usianya sudah melewati masa pensiun sebagai wasit. Tapi rekam jejaknya yang bagus sebagai wasit, membuatnya masih dipercaya memimpin pertandingan di kompetisi kasta tertinggi Inggris, yaitu Premier League.

Pecinta Premier League pasti sudah hafal bagaimana cara Mike Dean memimpin pertandingan. Sikapnya tegas, tidak pandang bulu, dan berani mengambil resiko. Satu lagi kalau ada pemain yang berseteru atau terlibat keributan, Mike Dean tidak akan memisahkannya. Ia hanya akan menontonnya sambil melihat siapa saja yang melanggar aturan. Setelah keributan redam sendiri, Mike Dean baru turun tangan dengan mengganjar siapa saja yang melakukan keributan dengan acungan kartu, bisa kartu merah atau minimal kartu kuning.

Yang menarik dari anggota korps baju hitam ini adalah jam terbang di Premier League. Hingga saat ini dia tercatat sudah memimpin 523 pertandingan. Dalam data statistik transfermarkt dari 523 pertandingan itu Mike Dean mencabut 54 kartu merah langsung dan 54 kartu merah tidak langsung. Kalau jumlah kartu kuning sudah pasti jauh lebih banyak, mencapai 1.923 kartu kuning. Angka itu absah menjadi paling tinggi dalam sejarah Premier League. Ini belum membicarakan keputusan penalti yang dijatuhkan. Mike Dean tercatat sudah menjatuhkan 158 penalti sepanjang kariernya di Premier League sejak pertengahan 2000.

Catatan disiplin yang mengerikan itu kadang sampai membuat Mike Dean terancam. Fakta bisa dilihat saat Februari 2020 lalu meminta cuti sementara dari Premier League. Dia dan keluarganya mendapatkan ancaman pembunuhan. Situasi yang cukup meresahkan buat Mike Dean.

 

Wasit asal Turki, Cüneyt Çakır. Foto: FIFA.com

 

Cüneyt Çakır: Bikin Kesal Sir Alex Ferguson

 

Wasit asal Turki, Cüneyt Çakır menjadi sorotan saat memimpin pertandingan leg kedua babak 16 besar Liga Champions 2012/2013 antara Manchester United melawan Real Madrid di Old Trafford Stadium. Keputusannya untuk memberi hukuman kartu merah kepada Luis Nani membuat Sir Alex Ferguson mengakhiri pertandingan terakhirnya di Liga Champions sebagai manajer terasa begitu pahit.

Manchester United cuma butuh hasil imbang 0-0 saja untuk memastikan lolos ke babak perempat final. Karena pada leg pertama di Estadio Santiago Bernabeu, tim berjuluk Setan Merah menahan imbang Real Madrid dengan skor 1-1. Akan tetapi, keputusan kontroversial Cüneyt Çakır mengubah segalanya. Luis Nani mengangkat kakinya untuk melakukan kontrol terhadap bola, tapi kemudian ada insiden perut bek Real Madrid, Alvaro Arbeloa datang dari arah belakang kena tendang.

Melihat kejadian tersebut, para pemain Real Madrid melakukan protes. Mereka meminta ada ganjaran yang diberikan kepada Luis Nani. Cüneyt Çakır kemudian memberi kartu merah langsung kepada pemain asal Portugal tersebut. Sontak pendukung tuan rumah kesal, karena keunggulan 1-0 timnya di awal babak kedua terancam dikejar oleh tim tamu. Benar saja, setelah itu Real Madrid bisa berbalik unggul 2-1 berkat gol dari Luka Modric dan Cristiano Ronaldo.

Sir Alex Ferguson seusai pertandingan tak bisa menahan rasa kesalnya terhadap kepemimpinan Cüneyt Çakır. Dia tak bisa menerima keputusan yang terlihat begitu mudah diambil oleh sang pengadil untuk mengusir Luis Nani keluar lapangan. Laga yang kemudian menjadi terakhir baginya di Liga Champions karena pada akhir musim 2012/2013, pria kelahiran Glasgow, Skotlandia tersebut memutuskan pensiun sebagai manajer.

Walau meninggalkan kesan buruk bagi para pendukung Manchester United, tapi kepercayaan FIFA kepadanya tak luntur. Pada Piala Dunia 2014 dia dipercaya memimpin tiga pertandingan, salah satunya semifinal antara Belanda melawan Argentina. Jumlah yang sama juga dia dapatkan saat bertugas di Piala Dunia 2018. Semifinal antara Kroasia melawan Inggris, dia pula yang memimpinnya.

 

Byron Moreno – Foto: FIFA.com

 

Byron Moreno: Bikin Patah Hati Massal Gli Azzurri

Daejeon, 18 Juni 2002 malam. Rakyat Italia dibuat patah hati oleh wasit dari Ekuador, Byron Moreno. Beragam keputusan kontroversial dalam babak 16 besar melawan Korea Selatan, membuat Italia tersingkir dari Piala Dunia 2002. Byron Moreno dianggap melakukan banyak kesalahan dalam pengambilan keputusan, sehingga Italia harus kalah dari Korea Selatan yang saat itu menjadi satu dari dua tuan rumah.

Byron Moreno dikritik karena dalam satu pertandingan itu menghadiahkan penalti kontroversial buat Korea Selatan di babak pertama, tetapi diselamatkan Gianluigi Buffon. Kemudian menganulir gol Damiano Tommasi karena dianggap offside saat perpanjangan waktu yang berarti berpotensi menjadi golden goal. Selain itu juga menghadiahi Francesco Totti kartu kuning kedua yang berarti kartu merah. Totti dinilai melakukan aksi diving di kotak penalti Korea Selatan, padahal posisi Byron Moreno jauh dari kejadian, sekitar 40 meter.

Sampai tiba akhirnya penyerang Korea Selatan, Ahn Jung-hwan mencetak gol lewat sundulan di perpanjangan waktu. Italia pun kalah dan tersingkir, karena gol Ahn Jung-hwan itu langsung mengunci hasil di era golden goal. Sejak itu Byron Moreno menjadi musuh publik Italia, termasuk Ahn Jung-hwan yang mencetak gol. Ahn Jung-hwan bahkan langsung diputus kontrak klub Italia, Perugia, yang saat itu dibelanya.

Hingga saat ini Byron Moreno masih menjadi musuh publik Italia. Dianggap sebagai wasit paling buruk di muka bumi. Karena Timnas Italia punya banyak penggemar di mana-mana, maka jadilah Byron Moreno juga tercatat dalam sejarah sepak bola sebagai wasit paling dimusuhi di muka bumi. Byron Moreno sudah lama tidak aktif di sepak bola. Pekerjaannya tidak jelas, dengan sebelumnya sering terjerat berbagai kasus penyalahgunaan narkotika. Sekarang usia 51 tahun dan tinggal di Quito, ibukota Ekuador.

 

Howard Webb – Foto: FIFA.com

 

Howard Webb: Penuh Wibawa Dan Ketegasan

Rekam jejaknya saat menjadi wasit sangat mengesankan. Ditunjang dengan perawakan seperti bodyguard, membuat dia hampir tidak pernah mendapat perlawanan dari pemain, pelatih, atau official, ketika menjatuhkan keputusan. Dia adalah Howard Webb, wasit yang sepanjang karirnya di dunia sempritan begitu berwibawa, karena dihormati para pelaku di lapangan hijau. Howard Webb merupakan mantan wasit yang berasal dari Inggris. Ia lahir pada 14 Juli 1971.

Howard Webb menjadi wasit di Premier League antara 2003 hingga 2014. Sedangkan masa tugasnya sebagai wasit internasional pada 2005 sampai 2014. Ia memutuskan pensiun lebih cepat sebagai wasit pada 2014. Saat usianya baru 43 tahun. Bisa jadi keputusan pensiun lebih cepat, karena dia sudah memimpin hampir semua pertandingan bergengsi di dunia. Jadi seperti sudah mencapai puncak.

Howard Webb masuk dalam daftar wasit terbaik sepanjang masa yang disusun International Federation of Football History and Statistics (IFFHS). Di Inggris dia sudah memimpin semua pertandingan final kompetisi yang ada. Mulai Piala FA, Community Shield, hingga Piala Liga. Kemudian World Referee juga mencatat Howard Webb adalah pemegang buku sejarah memimpin pertandingan final Liga Champions dan Piala Dunia pada tahun yang sama.

Sejarah itu dicetak Howard Webb pada 2010. Di final Liga Champions 2010 antara FC Bayern vs Inter. Pertandingan berlangsung di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid. Setelahnya di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, Howard Webb menjadi pengadil pertandingan final antara Belanda vs Spanyol. Semua catatan dan wibawa sosok yang profesi aslinya sebagai polisi itu, membuat namanya masyhur di kalangan pecinta sepak bola.

 

Pierluigi Collina – Foto: FIFA.com

 

Pierluigi Collina: Paling Kondang Sampai Sekarang

Inilah wasit paling terkenal sepanjang masa. Namanya begitu kondang, walaupun sudah lama gantung peluit. Tegas, bersahaja, dan tidak takut menghadapi konfrontasi dari pemain adalah ciri khasnya. Namun Pierluigi Collina juga orang yang bersahabat. Ia tidak segan untuk membangkitkan semangat pemain yang jatuh, supaya kembali mendapatkan motivasi bermain. Buat "Kojak" para pelaku sepak bola harus menikmati permainan di lapangan.

Kapasitas Pierluigi Collina di lapangan tidak ada yang meragukan. Semua pertandingan yang dipimpinnya nyaris tidak pernah meninggalkan perdebatan atau kontroversi. Ia benar-benar menjaga nama baiknya sebagai wasit dengan menjaga kualitas kepemimpinan. Pengakuan itu tercermin dari berbagai penghargaan yang diperolehnya. Misalnya Wasit Terbaik Dunia versi IFFHS pada 1998, 1998, 2001, 2002, dan 2003. Kemudian masuk dalam Wasit Terbaik Dunia Sepanjang Masa versi IFFHS periode 1987-2020. Masih ada lagi Wasit Terbaik Serie A Italia pada 1997, 1998, 2000, 2002, 2003, 2004, dan 2005. Pierluigi Collina juga masuk dalam Hall of Fame Italian Football.

Pierluigi Collina pastinya sudah pernah memimpin pertandingan final Liga Champions. Kemudian juga final Piala Dunia. Final World Cup yang pernah dipimpinnya adalah Piala Dunia 2002, antara Jerman vs Brasil. Ia pensiun dari perwasitan pada 2005 dan meneruskan pekerjaan sebagai konsultan keuangan. Tapi pada 2010 Pierluigi Collina menjadi konsultan wasit Ukraina dan sekarang menjadi Kepala Departemen Wasit di FIFA. Namanya pun tetap harum sampai sekarang.

Wasit asal Jerman, Markus Merk. Foto: FIFA.com

 

Markus Merk: Mendapat Perlakuan Sinis Dari David Beckham

Markus Merk adalah salah satu wasit papan atas di dunia. Dia memulai karir menjadi sang pengadil sejak usia 15 tahun. Mengutip Worldreferee.com, pria kelahiran 15 Maret 1962 tersebut sudah terkesan dengan cara wasit dan asistennya bekerja tiga tahun sebelum mendaftarkan diri ke Federasi Sepakbola Jerman (DFB). Setahun kemudian, Markus Merk sudah mendapat kepercayaan untuk terlibat dalam pertandingan kasta kedua kompetisi Jerman. Lalu pada 1988, dia naik ke Bundesliga dan karier menuju tingkat selanjutnya terbuka lebar.

Pada 1992, Markus Merk sudah mendapatkan lisensi wasit FIFA dan terlibat di Olimpiade. Setelah banyak memimpin pertandingan internasional, kepercayaan besar yang didapatkan oleh pria yang juga berprofesi sebagai dokter gigi tersebut adalah memimpin final Liga Champions 2003 antara Juventus melawan AC Milan di Old Trafford Stadium. Selang setahun kemudian, giliran final Piala Eropa antara Portugal melawan Yunani yang dia pimpin.

Sepanjang kariernya profesionalnya sebagai wasit sampai 2008, total sudah enam kali Markus Merk didapuk sebagai pengadil terbaik di Bundesliga. Setahun sebelum memutuskan pensiun, dia mendapatkan Penghargaan Wasit Terbaik Dunia. Di luar prestasi itu, ada pula kejadian tak mengenakkan yang menyeretnya saat memimpin pertandingan.

Pada Piala Eropa 2000, David Beckham dijatuhi denda 4.000 euro (Rp68 juta) akibat meludah di depan Markus Merk. Tindakan tersebut dianggap sebagai salah satu bentuk protes terhadap keputusan saat Timnas Inggris bertanding. Pada leg kedua perempat final Liga Champions 2004/2005, Markus Merk juga mendapatkan lemparan botol dari suporter Inter Milan karena menganulir gol Esteban Cambiasso ke gawang AC Milan.

Profesi Yang Takkan Pernah Habis

Demikianlah lima wasit yang sekiranya menjadi paling terkenal di dunia. Tapi bukan berarti di luar nama-nama itu, tidak ada lagi wasit yang mendunia. Jumlah wasit yang punya integritas, ketegasan, dan ciri khas masih melimpah di dunia.

Patut dicatat pula bahwa cerita tentang wasit tidak akan pernah habis, karena profesi ini akan selalu ada, selama sepak bola belum hilang dari muka bumi

SAMPAIKAN KOMENTAR