Daniele de Rossi: Jejak Sejarah Kapten Masa Depan Roma
24
Jul
2021
0 Comment Share Likes 423 View

Roma, 24 Juli 1983 silam lahir seorang anak yang kelak akan menjadi kapten masa depan bagi klub sepakbola kebanggaan kotanya. Daniele de Rossi namanya. Nama yang akan selalu ada dalam ingatan Romanisti dan juga semua khalayak sepakbola dunia. Ia adalah anak tunggal dari kedua orang tuanya. Ayahnya, Alberto de Rossi merupakan mantan pesepakbola dan juga pernah menjabat sebagai pelatih tim muda primavera Roma.

Sedari belia darah sepakbola sudah mengalir dan bukan sesuatu yang asing bagi De Rossi. Itu pula yang menjadikan De Rossi muda dan mungkin mayoritas anak-anak di Italia menjadikan sepakbola tidak sekedar hobi tetap juga cita-cita mengikuti jejak sang ayah. Lekat di ingatan De Rossi bagaimana kehebatan sang ayah ketika memenangkan banyak turnamen pemain muda seperti Coppa Italia Primavera dan Supercoppa Italia. Gemilang pencapaian sang ayah tentu saja menjadi semangat dan lecutan motivasi baginya.

Jejak karir De Rossi di dunia si kulit bundar bermula dari tim lokal daerahnya, Ostia Mare. Di klub amatir tersebut ia lebih sering bermain sebagai bek tengah yang bertugas menyapu bersih serangan lawan-lawannya. Di Ostia Mare, De Rossi menghabiskan tiga tahun di sana sejak tahun 1997 hingga 2000.

Di awal tahun millennium, De Rossi bergabung dengan tim junior AS Roma. Kali ini ia tidak bermain di posisi sebagai “penyapu” tetapi sebagai ujung tombak serangan, seorang penyerang. De Rossi hanya butuh waktu satu tahun untuk mencatatkan namanya di tim senior Roma. Berkat penampilan cemerlang dan potensinya di tim junior, ia akhirnya mendapatkan tiket promosi ke tim senior ketika usia baru menginjak 18 tahun.

De Rossi membuat debut pertamanya bersama tim senior AS Roma tepatnya pada 10 Oktober 2001. Saat itu dalam lanjutan laga Liga Champions, tim ibukota Italia ini bersua salah satu raksasa sepakbola Belgia, Anderlecht. De Rossi yang masih berusia 18 tahun juga mencatatkan namanya tiga kali dalam susunan pemain AS Roma yang saat itu diasuh oleh Fabio Capello dalam gelaran Coppa Italia.

25 Januari 2003 adalah sebuah tanggal yang tidak akan pernah seorang Daniele de Rossi lupakan. Di tanggal tersebut ia akhirnya memulai debutnya bersama AS Roma dalam gelaran Liga Italia Serie A. Walaupun sudah pernah mengecap debut di Liga Champions, tetapi bagi banyak pemain Serie A adalah sesuatu yang berbeda dan juga istimewa. Apalagi Liga Italia di medio itu adalah sebuah barometer sepakbola dunia. Banyak pemain top dan berkelas menjajal peruntungannya di kasta tertinggi si kulit bundar negeri menara Pisa tersebut.

Debut De Rossi di Serie A saat itu mempertemukan AS Roma kontra Como. Dalam pertandingan tersebut, De Rossi memulai petualangannya di posisi yang baru yaitu sebagai seorang gelandang bertahan.

Walaupun secara formasi ia menempati posisi gelandang bertahan yang bertugas sebagai jangkar, penghubung antar posisi dan juga gerbang awal pertahanan Roma. Tetapi De Rossi tetaplah De Rossi yang memiliki insting mencetak gol yang tak pernah mati. Aksinya melalui tendangan keras lagi terukur dari luar kotak penalti lawan sering kali membantu Roma ketika para pemain di sektor penyerangan mengalami kebuntuan.

Sebagai putra sejati Roma dan juga kepemimpinan serta dedikasinya di lapangan, Daniele de Rossi diberi julukan Il Capitano Futuro (Kapten Masa Depan) oleh fans Roma dan awak media di sana.

Seperti sudah ditakdirkan menjadi suksesor Francesco Totti sebagai pangeran Roma, di usianya yang baru menginjak 23 tahun ia sudah mengenakan ban kapten bagi Serigala Ibukota Italia tersebut. Saat itu, Roma tengah berhadapan dengan salah satu klub Liga Inggris, Middlesbrough, dalam lanjutan Liga Eropa pada 15 Maret 2006.

Sayangnya, debut kepemimpinan De Rossi sebagai kapten tim belum mampu membawa klub masa kecilnya tersebut untuk lolos ke babak perempat final Liga Eropa musim tersebut. Di Olimpico, AS Roma meman mampu menang 2-1 tetapi tiket ke babak selanjutnya tetap untuk Middlesbrough yang unggul gol tandang.

Musim Fantastis dan Sikap Jujur serta Terhormat

Saat itu musim 2005-2006 dalam pertandingan antara AS Roma melawan Messina pada tanggal 19 Maret 2006. De Rossi sempat mencetak gol dalam pertandingan tersebut dan wasit sudah mengesahkannya sebagai sebuah gol. Tetapi, dengan kejujurannya De Rossi mengakui kesalahannya bahwa bola sempat terdorong oleh tangannya sebelum menjeblos gawang Messina.

Mauro Bergonzi yang saat itu membatalkan gol tersebut dan usai pertandingan tak segan memuji sikap terhormat dan sebuah contoh baik yang dipertunjukkan oleh De Rossi. Dalam pertandingan malam itu, Serigala Ibukota berhasil menang dengan skor 2-1. De Rossi digantikan oleh M. Kharja pada menit ke-85 pertandingan tersebut.

Berkat penampilan gemilangnya sepanjang musim berjalan serta aksinya itu, di akhir musim ia diberi ganjaran penghargaan sebagai pemain muda terbaik Serie A musim 2005-2006.

2006 memang adalah tahunnya De Rossi. Dengan sederet penampilan apiknya bersama Roma membuat dirinya dipanggil oleh Marcello Lippi yang saat itu sebagai pelatih tim nasional Italia untuk berlaga di gelaran akbar Piala Dunia. Bersama Simone Perrotta dan Francesco Totti, De Rossi ikut terbang bersama skuad Italia ke Jerman yang menjadi tuan rumah.

Daniele de Rossi yang saat itu berusia 22 tahun merayakan keberhasilan Italia menjuarai Piala Dunia 2006. Sumber: sportskeeda.com

 

Piala Dunia 2006 tentu menjadi sejarah tidak hanya bagi Italia yang sukses menggondol piala tetapi bagi Daniel de Rossi. Gelaran bergengsi sejagat sepakbola tersebut telah melambungkan namanya. Di usia yang baru menginjak 22 tahun, De Rossi menjadi pemain termuda Gli Azzurri saat itu.

Di tahun dan musim yang sama juga, De Rossi sukses mempersembahkan gelar Coppa Italia untuk AS Roma. Torehan 6 gol dari 55 pertandingan berhasil dicatatkan De Rossi menutup musim yang fantastis tersebut.

Catatan Sejarah Indah Itu Terus Berlanjut

Setelah musim 2006-2007, AS Roma yang saat itu dilatih Luciano Spalletti berhasil mengalahkan juara Serie A, Internazionale Milan, dalam perebutan Piala Super Italia. Dalam pertandingan tersebut, De Rossi mencetak satu-satunya gol melalui titik putih dan mengantarkan Il Giallorossi menang 1-0 di Milan pada 19 Agustus 2007.

Roma dan Inter rasanya terlibat persaingan ketat dalam setiap kompetisi yang mereka ikuti di musim tersebut. Dalam gelaran Coppa Italia, tim Serigala Ibukota berhasil mempertahankan gelar mereka musim lalu. De Rossi memegang peran kunci bagi kesuksesan Roma mengalahkan Inter di partai puncak dengan skor tipis 2-1 pada 24 Agustus 2008.

Catatan apik AS Roma juga berlanjut di Liga Italia Serie A. Meskipun saat itu tidak berhasil memenangkan gelar, tetapi catatan berhasil finish di peringkat ke dua adalah sebuah pencapaian yang sangat baik bagi De Rossi dkk. Roma harus puas tepat satu peringkat di bawah Inter yang musim tersebut menjadi Capolista

Di tahun 2009, berkat penampilannya yang terus menunjukkan konsistensi, namanya masuk dalam nominasi Gran Gala del Calcio. Sebagai informasi, Gran Gala del Calcio adalah penghargaan tahunan pemain terbaik di Liga Italia. Sejak 1997, setiap tahunnya pemain terbaik akan dianugerahi gelar ini. Pemain pertama yang mendapatkannya adalah pelatih tim nasional Italia saat ini, Roberto Mancini, yang saat itu sebagai punggawa Sampdoria.

Kembali ke tahun 2009, nama Daniele de Rossi masuk nominasi bersanding dengan daftar pemain hebat lainnya di musim tersebut. Ada Zlatan Ibrahimovic (Inter Milan), Alessandro Del Piero (Juventus), Andrea Pirlo (AC Milan), Adrian Mutu (Fiorentina) dan Kaka (AC Milan). Meskipun tidak menjadi pemenang penghargaan tersebut, munculnya nama De Rossi dalam daftar tentu saja menjadi sinyal akan permainan bagusnya. Gran Gala del Calcio di tahun tersebut dianugerahkan kepada bomber Inter Milan asal Swedia, Zlatan Ibrahimovic.

Selain gelaran tersebut, ada anugerah lainnya khusus untuk pemain terbaik Italia. Di tahun 2009 tersebut Daniele de Rossi dinobatkan sebagai pemain terbaik Italia. Rekan sekaligus junjungannya di Roma, Francesco Totti pernah menyabet gelar ini sebagai lima kali.

Takdir Kapten Masa Depan

Melekat dengan julukan Il Capitano Futuro, De Rossi memenuhi takdirnya sebagai kapten utama tim di musim 2017-2018 setelah idolanya sekaligus Pangeran Roma, Francesco Totti gantung sepatu. Ini tentu akan menjadi tanggung jawab besar sekaligus sebagai kebanggan bagi seorang De Rossi yang sudah sedari belia memimpikan hal tersebut.

Setelah resmi menjadi kapten Roma, peran De Rossi bagi Il Giallorossi semakin penting. Dalam hajatan Liga Champions babak perempat final musim tersebut, De Rossi dkk harus berhadapan dengan tim kuat asal Spanyol, Barcelona. Mayoritas pengamat sepakbola dunia akan menjagokan Barcelona untuk lolos dengan mudah ke babak selanjutnya.

Tebakan para pengamat tersebut semakin kuat terbukti ketika di leg pertama Barcelona sukses membantai Roma dengan skor 4-1 di Camp Nou. Malang bagi De Rossi ia turut mencatat namanya dalam papan skor sebagai gol bunuh diri bersama Kostas Manolas. Untung Edin Dzeko mampu mencuri sebiji gol untuk Roma sebagai modal tandang.

Di leg kedua, Barcelona yang sudah menang besar sebelumnya tentu saja akan sangat diunggulkan untuk lolos. Keajaiban memang tidak terjadi hanya di cerita-cerita Disney saja, tetapi juga di lapangan hijau. Roma yang membawa beban berat kekalahan leg pertama, nyatanya bisa menang dan menutup pertandingan dengan skor telak tiga gol tanpa balas. Edin Dzeko membuka keran gol Roma ketika laga baru bergulir enam menit. Selanjutnya, Daniele de Rossi dan Kostas Manolas seperti membayar lunas kesalahan gol bunuh diri yang mereka buat di pertandingan sebelumnya dengan mencetak masing-masing satu gol malam itu.

Berkat kemenangan itu, Roma lolos ke babak selanjutnya dengan keunggulan gol tandang atas Barcelona. Lionel Messi dkk dipaksa pulang dengan kepala tertunduk dari Stadion Olimpico.

26 September 2018 menjadi momen penting lainnya bagi perjalanan karir seorang Daniele de Rossi. Di tanggal tersebut ia mencatatkan penampilan ke-600 bersama Roma saat timnya menang 4-0 atas Frosinone. Catatn ini sekaligus mendapuk De Rossi sebagai pemain dengan jumlah pertandingan terbaik kedua bagi Roma.

Salam penutup sang legenda setelah 18 musim bersama Roma. Sumber: chiessaditotti.com

 

Sejatinya seperti Alpha dan Omega, setiap awalan pasti akan bersanding dengan akhiran. Selasa, 14 Mei 2019 menjadi kisah penutup dari catatan panjang sejarah seorang Daniel De Rossi bersama Roma. Ia sudah menghabiskan total 18 musim bersama tim Serigala Ibukota tersebut. Selama 18 tahun tersebut, tak terhitung berapa banyak klub besar lain yang ingin merekrut dan memakai jasanya. Tetapi, seakan kontrak mati, De Rossi lebih memilih bertahan dan mengabdi bagi Roma. De Rossi lebih memilih terus menggantung banyak mimpi pada langit-langit megah Stadion Olimpico.

Padahal jika De Rossi pindah ke klub lain, besar kemungkinan ia akan mendapatkan banyak gelar bergengsi dalam lemari trofinya. Tetapi, hal tersebut mungkin bukan menjadi motivasi utama bagi De Rossi dalam dunia sepakbola.

Daniele De Rossi mengajarkan pada kita arti dari sebuah konsistensi dan kesetiaan. Tidak ada yang lebih bisa dibanggakan bagi Daniele de Rossi selain menjadi bagian sejarah perjalanan indah bersama klub masa kecilnya.

Meskipun di usia semenjananya ia akhirnya pindah ke Argentina bersama Boca Juniors. Tetapi akan selalu lekat dalam ingatan bahwa tidak ada hal yang bisa dibicarakan ketika menyebut nama Daniele de Rossi selain AS Roma. AS Roma adalah cinta dan cita-cita. AS Roma adalah Daniele de Rossi itu sendiri.

Bagaimana Pria Intersport? Setuju?

SAMPAIKAN KOMENTAR