Clarence Seedorf adalah Gambaran Ideal Pemain Sepak Bola
01
Apr
2021
0 Comment Share Likes 88 View

Kali ini kita membicarakan tentang sosok gelandang yang pernah mewarnai lapangan hijau dengan talenta dan kecerdasan bermain di atas rata-rata. Dibilang penuh talenta dan cerdas, karena gaya bermainnya begitu elegan, tidak meledak-ledak, tetapi mampu menghanyutkan lawan-lawannya. Dia adalah Clarence Seedorf.

Kamis 1 April 2021, Clarence Seedorf merayakan ulang tahun ke-45. Lahir di ibukota Suriname, Paramaribo, 1 April 1976, Clarence Seedorf kelak dikenal sebagai pemain sepak bola yang namanya begitu harum, masyhur, dan melegenda. Bahkan sampai sekarang.

 

Clarence Seedorf – Foto: Instagram.com/clarenceseedorf

 

Contohnya sampai detik ini Clarence Seedorf adalah sosok pertama dan masih bertahan sebagai peraih trofi juara Liga Champions di tiga klub berbeda. Cristiano Ronaldo? Lionel Messi? Belum sebanding. Hanya ada Clarence Seedorf yang sampai sekarang mampu mendapatkan trofi "Si Kuping Lebar" di tiga klub berbeda. Total Clarence Seedorf meraih gelar juara Liga Champions sebanyak empat kali. Ia mendapatkan piala terbaik di Eropa itu bersama Ajax Amsterdam pada final 1993, Real Madrid 1998, dan AC Milan pada 2003 serta 2007.

Di usia 2 tahun Clarence Seedorf dibawa orang tuanya pindah ke Belanda. Persisnya dari Paramaribo ke Almere. Ia tumbuh dalam lingkungan sepak bola dan punya dua adik, yaitu Jurgen dan Chedric. Ayah Clarence Seedorf, Johann Seedorf, merupakan mantan pemain sepak bola yang kemudian banting setir menjadi pemandu bakat. Bakat Clarence Seedorf tercium Urgent Scouting Team, agen pemain muda yang dibentuk legendaris sepak bola Belanda, Johan Cruyff. Rekan seangkatan Clarence Seedorf di keagenan itu kemudian juga dikenal sebagai pemain sepak bola sukses. Misalnya Frank dan Ronald de Boer, Edgar Davids, Robert Witschge, hingga Patrick Kluivert.

Agensi pemain itu lantas mengirimkan Clarence Seedorf dari klub amatir VV AS '80 dan Real Almere ke Ajax. Di klub besar Belanda itu Clarence Seedorf merasakan tempaan keras. Dengan sistem pembinaan di Ajax Youth Academy, Clarence Seedorf benar-benar dilatih menjadi pemain andal. Isyarat Clarence Seedorf bakal menjadi pemain hebat terlihat dari catatan debut profesionalnya bersama Ajax. Dalam usia yang masih sangat muda, 16 tahun dan 242 hari, Clarence Seedorf sudah mendapatkan debut di tim utama Ajax dalam pertandingan Eredivisie.

Clarence Seedorf menjadi bagian dari generasi emas 1990-an Ajax. Trofi Liga Champions 1994/1995 menjadi buktinya. Di final Ajax mengalahkan AC Milan. Klub yang suatu hari kemudian dibela Clarence Seedorf dan ikut membawanya terbang tinggi sampai langit ketujuh.

Bertahan selama tiga tahun di Ajax, Clarence Seedorf memutuskan hengkang. Kali ini Sampdoria, klub Serie A Italia yang waktu itu sedang bersinar datang mengajukan pinangan. Clarence Seedorf kalau diamati memiliki keseimbangan bermain yang mumpuni. Ia bisa mendukung serangan sekaligus membantu pertahanan sama baiknya. Hal itu membuat transisi permainan menjadi terjaga. Dia Pun pandai mengatur ritme permain, kapan harus bermain kencang atau lambat. Kemudian kapan menahan dan melepas bola. Clarence Seedorf jarang kehilangan bola. Penguasaan bola yang kuat menjadi salah satu trademark dia waktu itu.

Hanya bertahan semusim di Sampdoria, raksasa Spanyol: Real Madrid datang memberi tawaran. Sampdoria tidak berpikir dua kali. Dipikirnya kapan lagi dapat uang banyak dari penjualan pemain. Maka sejak 1996, Clarence Seedorf resmi berkostum El Real. Di Real Madrid rekam jejak bermainnya pada 1996-1999. Selain Liga Champions pada 1998, gelar juara berikutnya bersama Real Madrid adalah La Liga 1996/1997, Piala Super Spanyol 1997, dan Piala Dunia Klub 1998.

Clarence Seedorf di AC Milan – Foto: Instagram.com/clarenceseedorf

 

Pada musim dingin akhir tahun 1999, Clarence Seedorf memutuskan pindah ke Inter. Bermain kembali di Italia seolah ingin menuntaskan misinya yang belum selesai, meraih medali juara. Karena di Sampdoria dia tidak satupun mendapatkan trofi untuk ditaruh di lemari prestasi. Sayangnya pilihan pindah ke Inter seperti kesalahan. Berbaju Hitam-Biru hingga 2002 tidak satupun gelar juara yang berhasil didapatkan. Baru di musim panas 2002 AC Milan menawarkan pertukaran pemain, Clarence Seedorf dengan Francesco Coco. Sejak itulah nasib Clarence Seedorf di Italia berubah.

Karena kita tahu di AC Milan Clarence Seedorf mendapatkan segala-galanya. Mulai Liga Champions Serie A Italia, Coppa Italia, hingga Piala Dunia Klub. Semua lengkap didapatkannya dalam masa kontrak 2002 sampai 2012. Selama 10 tahun memperkuat AC Milan tentu meninggalkan kenangan yang tidak sedikit. Ia sampai mengatakan kalau sampai kapanpun AC Milan adalah keluarga. Usia yang mulai menua membuat Clarence Seedorf pamit. Ia menghabiskan karier lapangan hijau di klub Brasil, Botafogo. Pada Januari tanggal 14, tahun 2014, Clarence Seedorf mengumumkan pensiun.

 

Clarence Seedorf di Timnas Belanda – Foto: Instagram.com/clarenceseedorf

 

Memilih Timnas Belanda

Di level internasional, Clarence Seedorf memilih Timnas Belanda, bukan Timnas Suriname. Ia menerima paspor Belanda karena sejak kecil tinggal di Belanda dan mengikuti sistem sepak bola di Negeri Kincir Angin tersebut. Tapi alasannya juga sudah jelas, bermain untuk Timnas Belanda lebih strategis. Sebab bisa mengantarkannya menjadi pemain sepak bola terkenal dan lolos ke Piala Dunia, bahkan mendapatkan trofi paling prestisius di muka bumi.

Ternyata perjalanan di De Oranje tidak mulus. Ia mengakhiri karir di Timnas Belanda lebih cepat. Karena pada 2008 sempat berkonflik dengan pelatih nasional kala itu, Marco van Basten. Gara-garanya Marco van Basten lebih mengutamakan pemain muda yang sedang bersinar seperti Rafael van der Vaart, Wesley Sneijder, hingga Robin van Persie. Akibatnya tidak ada prestasi mentereng yang diperolehnya selama mengabdi di Timnas Belanda.

Di awal tulisan kita sempat membaca Clarence Seedorf merupakan sosok yang cerdas. Hal itu benar adanya karena dia tidak hanya pintar di lapangan, tetapi juga di bidang akademis. Semasa memperkuat AC Milan ia juga kuliah. Mengambil gelar master dalam bisnis di Universitas Bocconi, universitas bergengsi di Milan. Alasan itu yang membuatnya punya julukan Il Professore.

Kemudian tahukah Anda bahwa Clarence Seedorf punya kemampuan enam bahasa? Itu merupakan fakta yang menarik. Ia dikenal senang belajar bahasa, supaya mudah bergaul dengan orang-orang setempat. Terutama di negara tempat dirinya bermain. Maka Clarence Seedorf kemudian bisa menguasai Bahasa Belanda, Inggris, Italia, Portugis, Spanyol, dan Suriname.

Barangkali kemampuan banyak bahasa itu yang membuat Clarence Seedorf mudah memahami keinginan pelatih. Imbasnya permainan di lapangan menjadi terarah, dan bisa menjadi pemimpin yang baik di lapangan. Sebab komunikasi dengan pemain lain menjadi lancar. Tidak hanya mengandalkan "Bahasa Sepak Bola".

 

Clarence Seedorf saat menjadi pelatih Timnas Kamerun – Foto: Instagram.com/clarenceseedorf

 

Masa Menjadi Pelatih

Sebetulnya momen pensiun Clarence Seedorf dari lapangan hijau bisa dikatakan unik. Ia pensiun bukan karena sudah capek bermain sepak bola, tapi ada panggilan dari AC Milan untuk kembali. Tapi fungsinya menjadi pelatih menggantikan Max Allegri yang dipecat pada 2014. Saat itu momennya terburu-buru, bahkan sampai Clarence Seedorf harus mengikuti sesi khusus kursus lisensi pelatih, agar sesuai dengan persyaratan melatih di Serie A Italia.

Namun kondisi finansial AC Milan yang sedang parah, membuat manajemen tim tidak stabil. Korbannya adalah Clarence Seedorf yang baru empat bulan menjadi pelatih, harus rela digantikan legenda AC Milan lainnya, Filippo Inzaghi. Dari AC Milan Clarence Seedorf rehat sejenak dan baru kembali melatih pada 2016 dengan menangani Shenzhen FC di China League One. Lagi-lagi karirnya hanya sebentar. Hanya bertahan lima bulan. Setelah itu pindah ke Atletico Paranaense sebagai pelatih dan direktur olahraga. Ternyata nasibnya sama saja, bahkan kesepakatan dengan Atletico Paranaense dibatalkan, karena ada pelanggaran kontrak yang dilakukan klub.

Pada Februari 2018 Clarence Seedorf mendapatkan tawaran menyelamatkan Deportivo La Coruna. Namun tangan Clarence Seedorf masih panas. Dia tidak mampu menghindarkan Deportivo La Coruna dari degradasi, karena hanya mencatat 2 kemenangan dari 16 pertandingan La Liga. Di akhir musim 2017/2018 Clarence Seedorf pergi dari Deportivo La Coruna.

Berikutnya perjalanan karier kepelatihan Clarence Seedorf adalah Timnas Kamerun. Di sana pun kariernya relatif pendek, karena hanya bertahan satu tahun sebelum akhirnya dipecat. Gara-garanya adalah Kamerun kalah dari Nigeria di fase knockout 2019 Africa Cup of Nations. Pada Juli 2019 Clarence Seedorf dipecat Kamerun dan sampai sekarang belum dapat tawaran melatih lagi.

Bekerja Di Medis Dan Kehidupan Bisnis

Sejak masih menjadi pemain, Clarence Seedorf sudah aktif di bidang media. Terutama ketika memperkuat AC Milan. Misalnya pada 2009 ia menjalin kerja sama dengan The New York Times untuk bertanggung jawab atas kolom "Respon Seedorf". Kolom khusus itu diberikan untuk ruangnya menjawab berbagai pertanyaan dari orang-orang tentang sepak bola.

Lalu di Piala Dunia 2010 saat Belanda masuk ke final menghadapi Spanyol, Clarence Seedorf pun aktif sebagai tim peliput BBC. Ia bekerja sebagai pakar, komentator, atau pengamat. Kerja sama dengan BBC bertahan hingga 2012 saat berlangsungnya Piala Eropa. Dia juga bekerja menjadi pengamat pertandingan Premier League.

Di luar sepak bola Clarence Seedorf punya restoran, yang didirikan bersama istrinya yang merupakan wanita Brasil, Luviana. Mereka dikaruniai empat anak. Restoran di Milan itu diberi nama Fingers. Bisnis restoran itu masih langgeng, karena pada dasarnya Clarence Seedorf adalah orang yang suka berbisnis.

Usaha lain yang dijalankannya adalah mendirikan stadion. Mengambil tempat di Distrik Para, Suriname, Clarence Seedorf membangun stadion sepak bola. Bangunan itu selain dipakai untuk sepak bola, juga boleh untuk kegiatan sosial. Nama bangunan itu adalah Clarence Seedorf Stadium. Secara reguler stadion yang ada dalam kompleks olahraga tersebut disewa SV The Brothers.

Atas peran sosial dan sebagai tanda kehormatan atas dedikasi terhadap tempat kelahiran, Pemerintah Suriname memberikan bintang jasa kepada Clarence Seedorf. Ia pernah diberi gelar Commander of the High-Order of the Yellow Star, hingga Knight of the Order of Orange-Nassau.

Demikianlah cerita seputar Clarence Seedorf, nama yang sampai sekarang masih jadi pembahasan para pengamat sepak bola. Semua karena rekor dan perjalanan karir yang cemerlang. Ditambah kecerdasannya di dalam maupun luar lapangan, Clarence Seedorf merupakan gambaran ideal pemain sepak bola, yang bisa dijadikan anutan generasi sepak bola masa sekarang. Setuju, Pria Intersport

SAMPAIKAN KOMENTAR