Chelsea Vs Manchester City, Kecerdikan Pep Guardiola di Tengah Krisis Striker
04
Jan
2021
0 Comment Share Likes 139 View

Chelsea menelan kekalahan 1-3 saat menjamu Manchester City dalam lanjutan Premier League di Stamford Bridge, Minggu malam WIB 3 Januari 2021. The Blues kesulitan dalam menghadapi keseimbangan permainan yang diterapkan oleh tim tamu. Tak banyak peluang yang bisa mereka ciptakan ke gawang skuad asuhan Pep Guardiola.

Menerapkan formasi 4-3-3, Chelsea mengandalkan trisula Christian Pulisic, Timo Werner, dan Hakim Ziyech di lini depan. Kecepatan dan kemahiran mereka dalam melakukan aksi individu diharapkan Frank Lampard mampu memberi tekanan kepada pertahanan Manchester City.

Di lini tengah, ada Mason Mount, N'Golo Kanté, dan Mateo Kovačić. Tiga pemain yang bertipe sebagai pekerja keras. Mereka bertugas untuk memenangkan duel perebutan bola sekaligus pemutus aliran serangan Manchester City.

Ternyata saat di atas lapangan, kerja mereka tidak bisa semaksimal yang diharapkan. Sebab, Manchester City dengan cara bermainnya malah membuat Chelsea sulit untuk berkreasi dalam membangun serangan. Dua gelandang energik The Citizens, İlkay Gündoğan dan Bernardo Silva berhasil membuat The Blues kerepotan. Ditambah lagi ada Rodri yang unggul dalam duel perebutan bola.

Pep Guardiola yang juga menerapkan formasi 4-3-3 menugaskan Kevin De Bruyne sebagai deep lying forward. Di mana dia lebih sering bergerak membuka ruang guna mendapatkan operan. Setelah itu, tugas pemain berusia 29 tahun menjadi motor kreasi serangan Manchester City. Tugas ini dijalankan dengan baik olehnya, karena bisa menyumbangkan masing-masing satu gol dan assist pada big match kali ini.

 

Pergerakan Kevin De Bruyne (tanda merah) dalam pertandingan melawan Chelsea. Foto - Youtube.com

 

Kevin De Bruyne lebih sering melakukan kombinasi serangan bersama Phil Foden yang ada di sayap kiri penyerangan Manchester City. Mereka saling bertukar posisi untuk mengecoh bek Chelsea. Sedangkan sektor kanan jadi daerah operasi Raheem Sterling yang dibantu oleh Bernardo Silva.

Pep Guardiola menerapkan formasi ini tak lepas dari minimnya stok striker dalam skuadnya. Sergio Agüero baru pulih dari cedera, sehingga tidak bisa dipaksakan turun sejak menit pertama. Pemain asal Argentina itu baru dimainkan pada menit 86 menggantikan Kevin De Bruyne. Sedangkan Gabriel Jesus masih harus istirahat usai dinyatakan positif COVID-19.

Sengatan dalam Kurun Waktu 18 Menit

Gol pembuka Manchester City tercipta ketika pertandingan memasuki menit 18. Pergerakan Oleksandr Zinchenko di sisi kiri penyerangan yang jadi awalnya. Berdiri bebas dan mendapatkan operan dari Rodri, dia langsung meneruskannya dengan umpan silang ke arah Phil Foden yang berdiri tipis di luar kotak penalti Chelsea.

Di belakangnya berdiri pula İlkay Gündoğan. Opsi untuk mengoper ke belakang lebih dipilih oleh Phil Foden ketimbang bergerak melakukan gocekan dan masuk ke dalam kotak penalti. İlkay Gündoğan menyambutnya dengan satu gerakan memutar lalu melepaskan tendangan keras yang membuat bola bersarang ke gawang Chelsea.

Tidak sampai tiga menit berselang, Manchester City kembali membobol gawang Chelsea. Kali ini giliran Kevin De Bruyne yang menjadi sutradaranya memanfaatkan kelengahan lini belakang The Blues dalam menahan serangan balik. Pemain asal Belgia itu pertama kali coba melepaskan umpan terobosan kepada Phil Foden.

Bek Chelsea, Thiago Silva masih bisa menyapunya, tapi arahnya tidak tepat, karena lebih dekat kepada Kevin De Bruyne. Dalam situasi tersebut, Thiago Silva lambat dalam menutup celah berikutnya. Bola langsung diarahkan kepada Phil Foden dan diteruskan dengan tendangan terukur ke sudut sempit.

 

Phil Foden mencetak gol ke gawang Chelsea. Foto - twitter.com/premierleague

 

Unggul dua gol semakin membuat Manchester City nyaman mengontrol permainan. Mereka melakukan dominasi atas penguasaan bola dan tidak membiarkan Chelsea dengan mudah melancarkan serangan balik. Pep Guardiola mengandalkan Rodri yang bertugas untuk memutus aliran bola The Blues.

Rodri tidak sendirian berada di tengah lapangan ketika melakukan tugasnya. Ada João Cancelo yang aslinya beroperasi di bek sayap kanan untuk ikut merapat ke tengah. Kedua pemain tersebut secara bergantian menjadi orang pertama yang berupaya untuk menghentikan upaya serangan balik Chelsea, termasuk dengan melakukan pelanggaran.

Kelengahan skuad asuhan Frank Lampard dalam mengantisipasi serangan balik kembali terlihat ketika Manchester City mencetak gol ketiganya pada menit ke-34. Diawali dengan tendangan bebas yang didapatkan oleh Chelsea. Bola berhasil dihalau, dan mengarah kepada N'Golo Kanté yang berdiri sebagai orang terakhir di garis pertahanan.

Dia coba melepaskan umpan kepada pemain Chelsea lainnya yang masih ada di luar kotak penalti Manchester City. Tapi laju umpannya masih belum tepat. Bola berhasil disundul oleh Kevin De Bruyne dan diarahkan kepada Raheem Sterling yang berada di belakang N'Golo Kanté. Dengan kecepatannya melakukan dribble, bola terus dibawa masuk ke dalam kotak penalti.

Sempat ada keterlambatan dari Raheem Sterling dalam membuat keputusan selanjutnya. Sehingga beberapa pemain Chelsea lainnya sudah melakukan transisi bertahan dan berdiri di dalam kotak penalti. Dalam situasi tersebut, Raheem Sterling memilih untuk melepaskan tendangan langsung, dan bola membentur tiang gawang.

Dalam momen tersebut, Kevin De Bruyne sigap untuk masuk ke dalam kotak penalti dan lepas dari penjagaan. Bola yang jatuh tepat di depannya langsung disambut dengan tendangan terarah ke sisi kanan bawah dan tak bisa dihalau oleh kiper Chelsea, Edouard Mendy. Jadilah tiga gol bersarang ke gawang The Blues dalam kurun waktu 18 menit di babak pertama.

Tembok Penghalang Chelsea

Memulai babak kedua, Chelsea melakukan perubahan strategi. Mereka harus bisa membuat pemain Manchester City tidak leluasa bergerak. Gantian kini mereka yang lebih banyak melakukan penguasaan bola. Cara itulah satu-satunya yang membuka kemungkinan mereka memecah kebuntuan pada pertandingan ini.

Belum genap 20 menit babak kedua berjalan, Lampard langsung melakukan dua pergantian. N'Golo Kanté yang tenaganya terkuras untuk menjaga kekuatan di lini tengah digantikan oleh pemain muda, Billy Gilmour. Kemudian Hakim Ziyech yang sulit untuk bergerak bebas di sisi kanan penyerangan digantikan Callum Hudson-Odoi.

Dengan tenaga pemain yang lebih segar, Chelsea semakin meningkatkan tekanannya kepada Manchester City. Penguasaan bola The Blues semakin mantap. Tapi itu tidak diimbangi dengan kreasi serangan yang bisa menciptakan peluang ke gawang lawan. Kebuntuan mereka baru terpecahkan pada menit 90+2 melalui Callum Hudson-Odoi.

Sepanjang pertandingan, cuma momen inilah yang bisa dianggap pemain Manchester City gagal dalam melakukan halauan terhadap serangan Chelsea. Di mana Kai Havertz bisa leluasa melepaskan umpan silang, dan penjagaan Oleksandr Zinchenko terhadap Callum Hudson-Odoi yang ada di dalam kotak penalti terlambat.

 

Rodri berupaya merebut bola dari Christian Pulisic. Foto - twitter.com/ChelseaFC

 

Manchester City yang cuma mencatatkan 44 persen penguasaan bola sepanjang babak kedua malah lebih garang dalam urusan percobaan ke gawang lawan. The Citizens melakukannya sebanyak tujuh kali, sedangkan Chelsea cuma memiliki kesempatan lima kali. Lapisan pertahanan Manchester City betul-betul menyulitkan mereka.

Respons penting Pep Guardiola untuk perubahan strategi Chelsea dilakukan pada menit 75. Dia menarik keluar İlkay Gündoğan dan memainkan Fernandinho. Dengan strategi tersebut, rotasi gelandang Manchester City dalam membantu pertahanan menjadi lebih cepat lagi. Fernandinho, Rodri, dan Bernardo Silva bergantian untuk menjadi orang pertama yang menghentikan serangan Chelsea.

Strategi itulah yang membuat dua bek tengah mereka, John Stones dan Rúben Dias lebih mudah dalam membaca alur serangan dan pergerakan pemain Chelsea. Seringkali mereka hanya tinggal melakukan intersep atau sapuan terhadap bola sehingga upaya serangan The Blues dapat dihentikan sebelum bisa masuk sampai ke dalam kotak penalti.

Dengan hasil ini, The Citizens mampu melaju ke posisi kelima klasemen sementara Liga Inggris dan masih menyisakan dua tabungan pertandingan untuk semakin memperbaiki posisi. Sedangkan skuad asuhan Frank Lampard harus puas berada di posisi delapan klasemen sementara Liga Inggris di awal bulan Januari 2021 ini.

SAMPAIKAN KOMENTAR