Berjaya Di Klub, Belum Beruntung Di Tim Nasional, Berikut Para Bintang Yang Tak Pernah Juara Piala Dunia
29
Jul
2021
1 Comment Share Likes 212 View

Gelaran Piala Dunia adalah ajang paling bergengsi antar negara anggota FIFA, federasi sepakbola dunia.Karena posisi pentingnya, ajang ini menjadi barometer banyak pemain top dunia dalam hal pencapaian.

Brasil menjadi negara paling banyak mengoleksi gelar Piala Dunia dengan lima titel juara. Selecao sudah memenangi gelaran empat tahunan ini dalam edisi 1958, 1962, 1970, 1994 dan 2002.

Dari sekian banyak pemain mega bintang yang pernah mengoleksi gelar ini dalam catatan lemari trofinya, nyatanya ada beberapa pemain bintang lainnya yang belum berkesempatan merasakan gelar juara bersama negaranya.

Beberapa pemain padahal sangat bersinar, menjadi bintang dan berhasil mempersembahkan banyak gelar ketika bermain bersama klubnya. Tetapi, ketika beranjak ke level internasional bersama tim nasional, taji mereka seakan tumpul dan kehilangan tuahnya.

Siapa saja mereka, Pria Intersport? Kami hadirkan daftar para pemain top sepakbola yang tidak pernah memenangkan gelaran Piala Dunia. Mari disimak.

Paolo Maldini

 

Paolo Maldini ikon pertahanan kokoh tim nasional Italia. Sumber: amazonaws.com

 

Bagi pecinta sepakbola, rasanya tidak ada yang tak mengenal sosok Paolo Maldini. Maldini adalah jaminan mutu dari kokohnya pertahanan sebuah tim sepakbola. Paolo Maldini menjadi pemain yang tidak tergantikan baik di level klub bersama AC Milan dan Timnas Italia. Ia memegang peranan penting sebagai garda pertahanan klub dan negaranya.

Pemain yang memulai karir sebagai bek kiri ini sudah bergabung dengan AC Milan sejak tahun 1978. Ia merumput dengan I Rossoneri diwali sebagai pemain junior hingga tahun 1984. Di tahun itu juga ia berhasil mendapatkan tiket untuk promosi ke tim senior AC Milan.

Paolo Maldini menghabiskan seluruh karirnya bersama Milan. Total dia sudah mengenakan kostum merah-hitam tersebut selama 25 musim di Serie-A. Performa apiknya ikut mengantarkan AC Milan meraih tujuh gelar Serie A dan lima trofi Liga Champions. Sebuah capaian fantastis seorang pemain sepakbola.

Khusus di level timnas, bersama Italia ia sudah merasakan empat kali edisi Piala Dunia. Maldini pertama kali merasakan atmosfer Piala Dunia di tahun 1990. Di edisi tersebut, ia bersama para koleganya di lini belakang Italia berhasil membukukan rekor Piala Dunia dengan clean sheets lima kali berturut-turut. Baru di babak semifinal gawang Italia berhasil digetarkan oleh Carlos Bilardo dari Argentina. Total 518 menit gawang Italia berhasil dijaga keperawanannya oleh Maldini cs. Sayangnya, Italia gagal melaju ke partai puncak karena kalah adu tos-tosan dengan Argentina di laga malam itu.

Gli Azzurri hanya mampu menyabet posisi ketiga setelah mengalahkan The Three Lions, Inggris dengan skor 2-1. Karena penampilan apiknya selama turnamen, pemain kelahiran 26 Juni 1968 ini terpilih oleh masuk Team of The Tournament.

Pada Piala Dunia 1994, mantan kapten AC Milan ini juga gagal mempersembahkan gelar juara untuk negaranya. Maldini bermain dalam semua tujuh pertandingan Italia di turnamen akbar ini. Karena cederanya kompatriotnya di AC Milan, Franco Baresi, ia harus bermain sama baiknya dalam dua posisi berbeda, bek tengah dan bek sayap. Maldini memimpin barisan pertahanan Italia dan akhirnya tiba di partai puncak.

 

Karir cemerlang Paolo Maldini bersama AC Milan tidak bisa diwariskan ke level tim nasional. Sumber. squawka.com

 

Masalah pelik lainnya adalah Alessandro Costacurta juga dipastikan tidak dapat bertanding di babak final karena larangan bermain akumulasi kartu kuning. Di babak final melawan tim favorit juara saat itu, Brasil, Maldini sukses menjaga gawang Gli Azzurri dari kebobolan tetapi harus mengakui kehebatan Cafu dkk dalam babak adu penalti.

Seperti edisi sebelumnya, di Piala Dunia 1994 ini juga Maldini sukses masuk dalam Team of The Tournament menyamai capaian ayahnya, Cesare Maldini, di Piala Dunia 1962.

Setelah pensiunnya Franco Baresi dari laga internasional di tahun 1994, Paolo Maldini ditunjuk sebagai suksesornya. Piala Dunia 1998 menjadi ajang pembuktian Maldini selanjutnya. Italia datang ke Prancis, yang menjadi tuan rumah, dengan kedalaman skuad yang matang. Bertengger banyak pemain hebat dari kiper hingga ke posisi penyerangan Italia. Italia lolos dari fase grup dengan hasil meyakinkan sebagai juara. Mereka sukses mengumpulkan tujuh poin hasil dua kali menang dan satu seri.

Di babak perdelapan final, Italia berhadapan dengan Norwegia di Stade Velodrome, Marseille. Di pertandingan tersebut, Italia berhasil menang tipis 1-0 melalui gol Christian Vieri ketika laga berjalan 18 menit. Sayangnya, di babak perempat final, Italia harus mengakui keunggulan tuan rumah, Perancis dalam babak adu penalti setelah kedua tim bermain imbang tanpa gol.

Piala Dunia 2002 adalah edisi terakhir dari Maldini dalam menjawab rasa penasarannya. Gli Azzurri datang ke Korea Selatan-Jepang dengan bergabung ke grup G bersama Meksiko, Kroatia dan Ekuador. Italia berhasil lolos ke babak selanjutnya setelah berhasil finish di posisi runner up grup G di bawah Meksiko. Sayangnya di babak perdelapan final, mereka harus tersingkir setelah kalah dengan Golden Ball oleh tuan rumah Korea Selatan.

Empat edisi Piala Dunia gagal sekali pun dimenangkan oleh Paolo Maldini. Gelaran 2002 Korea Selatan-Jepang adalah edisi terakhir sang maestro dalam laga internasional sebelum akhirnya memilih pensiun. Paolo Maldini mencatatkan dirinya sebagai pemain dengan jumlah penampilan terbanyak di tim nasional Italia dengan 126 caps. Ia juga membukukan 23 penampilan sepanjang empat gelaran Piala Dunia dan menempatkannya di posisi kedua terbanyak di bawah Lothar Matthaus.

Empat tahun berselang setelah Paolo Maldini pensiun, dalam gelaran Piala Dunia 2006, tim nasional kebanggaannya akhir berhasil memenangkan gelar Piala Dunia.

Oliver Khan

Oliver Kahn masih penasaran terhadap gelaran Piala Dunia. Sumber: cachefly.net

 

Oliver Kahn adalah salah satu kiper ikonik dalam dunia si kulit bundar. Selain karena penampilan gemilangnya di lapangan hijau, Kahn juga dikenal karena emosional baik kepada lawan maupun kawan setimnya.

Kahn dipanggil di menit-menit akhir pendaftaran pemain skuad Jerman untuk Piala Dunia 1994. Namun, di gelaran tersebut sang pemain hanya menjadi lapis ketiga di bawah Bodo Illgner dan Andreas Kopke.

Pada gelaran Piala Dunia 1998 di Prancis, Kahn juga menjadi bagian dari skuad Jerman yang berangkat ke Paris. Namun, sepanjang turnamen, pemain berpostur 188 cm ini hanya duduk menghangatkan bangku cadangan dan menjadi cadangan abadi untuk Andreas Kopke.

Resmi pensiunnya Kopke sebagai pemain profesional di tahun 1998 setelah gelaran Piala Dunia. Otomatis nama Oliver Kahn menjadi kiper nomor satu tim nasional Jerman tersebut.  Tetapi, debut Kahn sebagai kiper utama dan juga kapten timnas dalam gelaran UEFA Euro 2000 menuai hasil yang sangat mengecewakan. Jerman tersingkir sejak babak pertama fase grup dengan menjadi juru kunci Grup A di bawah Portugal, Rumania dan Inggris.

Ajang Piala Dunia 2002 di Korea Selatan-Jepang menjadi ajang pembuktian selanjutnya untuk Oliver Kahn. Jerman lolos ke babak perdelapan final setelah menjadi pemuncak grup E setelah mengemas tujuh poin hasil dua kali menang dan sekali seri. Oliver Kahn selama fase grup tampil meyakinkan dengan hanya kebobolan sekali saja.

Di Piala Dunia 2002, Kahn yang mencatat 5 clean sheet alis tidak pernah kebobolan. Karena penampilan menawannya tersebut, pemain Bayern Munchen saat itu menjadi kiper pertama yang sukses menyabet gelar Bola Emas. Namun, Jerman harus puas menjadi runner up, usai kalah 0-2 dari Brasil di final.

Dalam gelaran Piala Dunia edisi selanjutnya tahun 2006 yang mendaulat Jerman sebagai tuan rumah diharapkan menjadi jawaban atas rasa penasaran Kahn atas gelar bergengsi tersebut. Sayangnya, pelatih Jerman tersebut, Jurgen Klinsmann lebih memilih Jens Lehmann, kiper Arsenal sebagai kiper utama timnas.

Meskipun hanya menjadi pelapis, tentu saja Kahn punya harapan untuk bisa melihat Jerman juara dan merasakan memegang piala paling prestisius tersebut. Tetapi, langkah tim nasional Jerman harus rela dihentikan Italia di babak semifinal setelah kalah dengan skor 0-2 melalui perpanjangan waktu.

Michael Platini

Michel Platini memimpin rekan-rekannya di Les Blues, Prancis. Sumber: elleman.vn

 

Sebelum khalayak sepakbola dunia mengenal nama Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, terdapat satu nama yang menyamai kehebatan keduanya di era 1980-an. Tak lain Michel Platini adalah orangnya.

Eks pemain Juventus ini sukses tiga kali menyabet gelar Ballon d'Or. Sebuah penghargaan untuk pemain terbaik dunia menjadi sebuah bukti begitu hebatnya Platini di masa itu. Selain itu, Platini juga sukses mencetak 312 gol bersama klub yang dibelanya dari 580 pertandingan dan 41 gol dalam karir internasional. Ini merupakan suatu pencapaian yang fantastis mengingat posisi Platini di rumput hijau adalah seorang gelandang serang bukan seorang striker.

Platini menjadi tulang punggung bagi Prancis di berbagai turnamen internasional yang diikutinya. Pada gelaran Piala Dunia 1978, ia memimpin rekan-rekannya tetapi sayangnya Prancis harus tersingkir dini di babak grup.

Empat tahun berselang dalam gelaran Piala Dunia 1982 kembali menjadi pembuktian untuk melengkapi segala pencapaiannya selama ini. Les Blues julukan Prancis sukses melaju hingga ke babak empat besar alias semifinal. Sayangnya, lagi-lagi Platini cs harus kandas setelah kalah adu penalti dengan skor 4-5 atas Jerman Barat.

Sukses bersama Juventus, Platini tampil kurang maksimal di level tim nasional. Sumber: footballmakeshistory.eu

 

Sejak kegagalan di Piala Dunia 1982, Platini fokus bermain bersama klubnya, Juventus. Bersama Juventus, puncak karirnya berhasil direngkuh. Berbagai gelar juara baik di kompetisi lokal dan Eropa berhasil ia raih termasuk juga capaian pribadi menjadi top skor liga.

Platini akhirnya sukses mempersembahkan gelar juara untuk negaranya Prancis. Pada Piala Eropa edisi 1984, Platini sukses memimpin rekan-rekannya menjadi juara Eropa setelah di partai puncak berhasil mengalahkan Spanyol. Platini sendiri menyabet gelar top skor dengan mencetak 9 gol dari 5 pertandingan.

Meskipun berhasil membawa Prancis juara Eropa, tetapi rasa penasaran Platini terhadap Piala Dunia tetap tak kan ada obatnya hingga ia memutuskan pensiun di tahun 1987.

Johan Cruyff

Piala Dunia 1974 satu-satunya gelaran Piala Dunia yang Johan Cruyff ikuti. Sumber: newyorker.com

 

Nama Johan Cruyff adalah salah satu ikon kehebatan seorang pesepakbola di medio 1970-an. Bagaimana tidak, ia sukses merebut gelar Ballon d'Or pada 1971, 1973, dan 1974. Ia menorehkan tinta emas dalam olahraga ini sebagai salah satu talenta terhebat.

Gelaran Piala Dunia edisi 1974 menjadi satu-satunya ajang empat tahunan tersebut yang ia ikuti. Tetapi kehebatan Cruyff tersebut hanya mampu membawa De Oranje melaju ke babak final. Di partai puncak tersebut, Belanda dipaksa bertekuk lutut atas tuan rumah Jerman Barat dengan skor 1-2.

Padahal, jika ditilik pencapaian Cruyff di level klub bergelimang gelar juara. Ajax Amsterdam, Barcelona hingga Feyenoord menjadi sederet klub yang pernah menikmati jasanya. Selain tiga gelar Ballon d’Or, Cruyff juga sukses menyabet gelar top skor Piala Dunia hingga Don Balon tahun 1977 dan 1978.

Pada gelaran Piala Dunia 1978 di Argentina ada sedikit kejanggalan tentang absennya sang legenda. Padahal, saat itu pemain yang mempopulerkan gaya permainan Total Football ini sedang di masa keemasannya.

“Pada Oktober 1977 Johan Cruyff mengumumkan bahwa dia pensiun dari sepakbola internasional dan takkan berangkat ke Argentina dengan skuat Belanda. Dia tak pernah membeberkan alasannya. Publik sepakbola Belanda geger.” ungkap Adrian Durham dalam Is He All That? Great Footballing Myths Shattered.

Terdengar kabar bahwa “hilangnya” sang maestro dalam gelaran Piala Dunia 1978 tersebut karena adanya semacam konspirasi dari junta militer di Argentina. Termasuk juga adanya ancaman pembunuhan terhadap dirinya. Tanpa Cruyff di lapangan, Belanda harus mengepak koper dan pulang setelah kalah 3-1 atas tuan rumah Argentina dengan skor 1-3 setelah kedua tim bermain imbang 1-1 di waktu normal.

Arjen Robben

Arjen Robben sukses mempersembahkan gelar Liga Champions musim 2012-13. Sumber: Gettyimages

 

Meskipun tidak sebesar nama lain dalam daftar ini, Arjen Robben adalah salah satu pemain yang dipaksa gigit jari di setiap ajang Piala Dunia yang diikuti. Padahal, jika menilik perjalanan karir dari Arjen Robben, rasa-rasanya takkan ada khalayak yang meragukan kemampuannya.

Robben dikenal sebagai seorang sayap kanan yang rajin menyisir sisi lapangan untuk kemudian melakukan cut-off dan melakukan sepakan keras menghujam jala jaring lawan. Pemain kelahiran 23 Januari 1984 ini memulai karirnya bersama Groningen baik di tim junior maupun senior. Ia kemudian pindah dan bertahan di PSV dari tahun 2002 hingga 2004.

Chelsea adalah salah satu klub besar yang pernah ia perkuat sejak tahun 2004 hingga 2007. Selama 67 pertandingan bersama The Blues, Robben berhasil mencetak 15 gol. Klub raksasa Spanyol, Real Madrid tertarik menggunakan jasanya. Gelontoran dana 24 juta euro menjadi mahar untuk Arjen Robben untuk mendarat di Santiago Bernabeu.

Meskipun sukses mempersembahkan gelar La Liga di musim 2008/09, perjalanan karirnya di Real Madrid tidak terlalu mulus. Ia hanya bertahan dua musim dan membukukan 50 caps dan 11 gol. Kemudian ia memutuskan menerima pinangan dari klub raksasa Jerman, Bayern Munchen.

Bersama Munchen, masa keemasan Robben berhasil direngkuh. Bersama Bayern Munchen ia sukses mempersembahkan delapan gelar juara Bundesliga. Selain itu ia juga sukses membawa klubnya juara Liga Champions edisi musim 2012/13.

Sejak April 2003, Arjen Robben sudah memulai debut internasionalnya bersama tim nasional Belanda dalam ajang persahabatan kontra Portugal. Saat itu, sang pemain yang mendapat julukan “kaki kaca” baru menginjak usia 19 tahun.

Piala Dunia 2006 adalah ajang Piala Dunia pertama bagi Robben. Saat itu negaranya tergabung dalam Grup C bersama Argentina, Pantai Gading dan Serbia & Montenegro. Saat itu, Belanda sukses melaju ke babak selanjutnya setelah berhasil menjadi runner up di bawah Argentina. Sayang langkah Belanda harus terhenti di babak perdelapan final setelah kalah dengan skor tipis 0-1.

Empat tahun berselang di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, Arjen Robben dkk tergabung dalam grup E yang berisi Jepang, Denmark dan Kamerun. Belanda berhasil melibas semua tiga pertandingan dengan poin sempurna sembilan dan berhak melaju ke babak selanjutnya,

Di akhir turnamen, Belanda sukses melaju hingga ke partai final dan menantang favorit juara, Spanyol. Pertandingan yang dipimpin wasit Howard Webb asal Inggris tersebut berkesudahan dengan kemenangan untuk Spanyol. Arjen Robben cs harus mengakui keunggulan La Furia Roja dengan skor tipis 1-0 setelah Andres Iniesta mencetak angka di babak tambahan waktu.

Piala Dunia 2014 adalah gelaran ketiga yang diikuti Arjen Robben sepanjang karirnya. Saat itu, Belanda memulai perjalanan mereka dengan tergabung di Grup B bersama juara bertahan Spanyol, Chile, Spanyol dan Australia.

Selebrasi Arjen Robben setelah mencetak dua gol ketika membantai Spanyol 5-1 di Piala Dunia 2014. Sumber: enca.com

 

Hasil pertandingan awal melawan Spanyol memunculkan harapan kepada publik sepakbola Belanda. Bagaimana tidak, mereka berhasil membantai Spanyol yang saat itu juga difavoritkan juara dengan skor telak 5-1. Robben turut mencetak dua gol di menit ke 53 dan ke 80 pertandingan. Belanda mengakhiri fase grup dengan merengkuh titel sebagai juara grup dan berhak lolos ke babak selanjutnya bersama Chile. Spanyol lolos ke babak perdelapan final setelah berhasil sebagai salah satu peringkat tiga terbaik.

Belanda berhasil melaju ke babak semifinal dalam lanjutan Piala Dunia 2014 yang dihelat di Brasil tersebut. Arjen Robben dkk dipaksa gigit jari setelah kalah dalam adu tos-tosan atas Argentina setelah kedua kesebelasan hanya bermain imbang tanpa gol di waktu normal.

Gelar peringkat ketiga menjadi pelipur lara bagi Arjen Robben setelah sukses mengalahkan Brasil dengan skor telak 3-0. Lagi-lagi, Arjen Robben gagal mempersembahkan gelar juara Piala Dunia untuk negaranya.

Ada harapan bagi Arjen Robben untuk membalas rasa penasarannya terhadap Piala Dunia di kesempatan empat tahun ke depan. Namun, sayangnya tim nasional Belanda gagal lolos ke Piala Dunia edisi 2018.

David Beckham

Selebrasi membentangankan tangan khas ala David Beckham dalam laga melawan Yunani. Sumber: bbc.co.uk

 

Bisa dipastikan hampir tidak ada orang yang tak tahu siapa David Beckham. Ketenaran Beckham tidak hanya dikenal oleh khalayak sepakbola tetapi juga oleh orang di luar dunia si kulit bundar. Beckham sudah menjelma menjadi ikon dan terkenal bak selebriti. Terlebih lagi status sebagai suami Victoria yang juga mantan punggawa The Spice Girl, sebuah grup pop yang sangat terkenal di masanya.

Menawan baik di luar lapangan juga terasa lengkap karena penampilan Beckham di dalam lapangan juga sangat menawan. Perjalanan karir David Beckham bermula dari klub akademi Tottenham Hotspur kemudian pindah ke Brimsdown dan terakhir bermuara di Manchester United Junior. Dua tahun di tim junior, Becks akhirnya promosi ke tim senior di tahun 1992.

Bersama Setan Merah, julukan Manchester United, ia berhasil mempersembahkan enam kali gelar juara Liga Premier Inggris. Becks juga ikut ambil bagian ketika Manchester United menyabet treble winners di musim 1998/99. Becks dkk sukses mengawinkan gelar Liga Champions, Liga Premier Inggris dan dilengkapi trofi FA Cup.

Potret David Beckham di usia muda ketika bersama Manchester United. Sumber: happybdayto.to

 

Transfer musim panas tahun 2003 menjadi akhir kisah perjalanannya dengan Manchester United dengan menerima pinangan Real Madrid dengan mahar 37 euro. Sebuah angka yang fantastis saat itu demi mewujudkan impian Presiden Madrid, Florentino Perez membuat sebuah klub terbaik seantero galaksi dengan julukan Los Galacticos.

Di Real Madrid, ia bergabung dengan banyak pemain top lainnya seperti Luis Figo, Zinedine Zidane, Ronaldo, Michael Owen, Robinho dan Sergio Ramos. Belum lagi keberadaan pemain yang sebelumnya sudah lebih dulu bergabung dengan Los Blancos seperti Roberto Carlos, Raul, Guti, Iker Casillas dan lain sebagainya.

Karir Beckham di level tim nasional ternyata tidak seglamor pencapaiannya di level klub. Bahkan pada perhelatan Piala Dunia 1998, ia pernah mendapat caci maki dari publik Inggris. Pasalnya dalam pertandingan Inggris kontra Argentina dalam memperebutkan tiket perempat final, Beckham mendapatkan kartu merah. Semua bermula ketika babak kedua baru berusia dua menit, Diego Simeone menekel Beckham. Kedua pemain terjatuh, bukannya lantas segera bangkit, Beckham justru menendang Simeone yang hendak bangun. Celakanya, wasit melihat aksi tidak terpuji Beckham tersebut dan mengusirnya keluar lapangan.

Sementara sebelumnya, calon bintang masa depan Inggris, Michael Owen mencetak gol solo run pada menit ke-16. Aksi Own yang saat itu masih berusia 19 tahun tak mampu menyelamatkan negaranya. Akhirnya Inggris kalah di partai tersebut melalui babak adu penalti.

Usai laga, rakyat Inggris dan juga awak media menyambut kepulangan skuat The Three Lions dengan melahirkan julukan baru bagi dua pemainnya: Anak Ajaib untuk Michael Owen dan Bocah Bodoh untuk David Beckham. Disinyalir kabar bahwa Beckham juga mendapat ancaman pembunuhan setelah aksi tercela tersebut.

Empat tahun berselang dalam Piala Dunia 2002 di Korea Selatan-Jepang, Inggris berada di Grup F bersama Swedia, Nigeria dan negara bebuyutan Beckham, Argentina. Beckham berhasil membalas dendamnya terhadap tim Tango dengan mencetak satu-satunya gol di pertandingan itu melalui sepakan titik putih. Inggris lolos ke babak selanjutnya sebagai runner up di bawah Swedia, sedangkan Argentina harus gigit jari karena hanya mampu finish di posisi ketiga di bawah Inggris.

Di babak perdelapan final, Inggris menang mudah tiga gol tanpa balas atas tim dinamit, Denmark. Becks menyumbang satu assist dalam laga tersebut. Namun, Inggris harus mengakhiri perjalanannya di babak perempat final setelah sebuah gol Ronaldinho membawa kemenangan bagi Brasil.

Pada gelaran Piala Dunia 2006, sebuah tendangan bebas Beckham berhasil membuat Carlos Gamarra membuat gol bunuh diri dalam laga pembuka Inggris kontra Paraguay. Inggris berhasil mendapatkan tiket ke babak selanjutnya setelah menjadi pemuncak klasemen Grup B dengan raihan tujuh poin hasil dua kali menang dan sekali imbang.

Di perdelapan final, Inggris menang tipis 1-0 ketika mereka kontra Ekuador. Di babak perempat final, Becks dkk harus bertanding melawan tim kuat Portugal. Pertandingan bertahan alot tanpa gol bahkan setelah tambahan waktu. Inggris harus pulang menunduk setelah lagi-lagi dalam adu tos-tosan mereka harus kalah 1-3. Sedari dulu adu penalti adalah kutukan dan momok paling menakutkan bagi tim Ratu Elizabeth tersebut.

David Beckham tidak bisa ikut bertanding bersama rekan-rekannya dalam edisi lanjutan Piala Dunia 2010. Pemain yang pernah merumput bersama AC Milan, PSG dan LA Galaxy ini mengalami cedera tendon menjelang gelaran dimulai.

Sampai akhir karirnya bersama tim nasional Inggris, Becks tidak mampu mempersembahkan satu gelar bergengsi pun. 20 Maret 2008 menjadi pertandingan terakhir Beckham mengenakan seragam The Three Lions dalam laga persahabatan melawan Prancis. Laga tersebut juga menjadi catatan 100 kali penampilannya bersama Inggris yang saat itu dilatih pelatih kawakan asal Italia, Fabio Capello.

SAMPAIKAN KOMENTAR