Banting Setir, Enam Pesepakbola Ini Ganti Profesi
25
Jul
2021
1 Comment Share Likes 271 View

Menjadi pemain sepakbola profesional adalah impian dari banyak anak muda di seluruh dunia. Terkenal dan kaya raya adalah dua dari sekian banyak alasan mereka menjadikan ini sebagai profesi cita-citanya. Ketatnya persaingan sejak usia belia menjadikan jalan untuk merengkuh karir sebagai pemain terkenal tidaklah mudah.

Bahkan di masa pensiun bermain sepakbola juga ada tantangan besar lainnya yaitu kelanjutan karir setelahnya. Banyak pemain setelah menuntaskan karirnya sebagai pemain, memilih untuk menjadi pelatih tim. Mereka biasanya akan memulai dari melatih klub kecil atau menangani klub sepakbola usia muda di akademi.

Tetapi, enam pemain dalam daftar berikut ini memilih jalur lain yang di luar kebanyakan orang ketika gantung sepatu. Ada yang menjadi Presiden, penyanyi bahkan pegulat di ajang WWE.

Siapa saja mereka, Pria Intersport? Mari kita simak.

George Weah – Presiden Liberia


Presiden Liberia. George Weah. Sumber : https://en.africatopsports.com/

 

Nasib baik siapa yang sangka mungkin adalah sedikit banyak menjadi gambaran tentang karir George Weah setelah pensiun dari dunia sepakbola. Mantan penyerang AC Milan era 1995-2000  ini sekarang berprofesi sebagai Presiden Liberia. George Weah beralih profesi ke dunia politik sejak tahun 2014 lalu dengan bergabung bersama Partai Demokrat sebagai kendaraan politisnya. Lalu, di tahun 2018 ia mencoba peruntung dalam peta pencalonan presiden Liberia. Kecintaan dan kebanggaan rakyat Liberia terhadapnya berhasil mengantarkan Weah sebagai Presiden terpilih hingga saat ini.

Semasa menjadi pemain sepakbola, George Weah adalah pemain yang sangat berbakat dan ditakuti di depan gawang lawan. Sepanjang 114 kali penampilannya bersama AC Milan, Weah sukses mencetak 46 gol bagi Rossoneri. Bersama tim yang bermarkas di San Siro tersebut juga, Weah berhasil mempersembahkan dua kali gelar capolista Serie A untuk AC Milan.  Sebagai informasi tambahan, AC Milan saat itu diisi oleh banyak pemain top dunia sebut saja nama Roberto Baggio, Dejan Savicevic dan Zvonimir Boban. Pelatih kawakan Fabio Capello sukses menyatukan banyak bintang tersebut dan membawa kejayaan bagi AC Milan.

Selain gelar untuk klubnya, penampilan apik Weah juga berhasil membawanya memenangkan anugerah bergengsi Ballon D’or edisi tahun 1995.  Weah juga mendapat gelar FIFA World Player of The Year di tahun yang sama. Dalam sebuah voting dari banyak jurnalis olahraga seluruh dunia, Weah juga dinobatkan sebagai pemain terbaik Afrika sepanjang masa.

Selain bermain bersama Milan, Weah muda lama menghabiskan karirnya di liga sepakbola Prancis. Monaco dan Paris-Saint Germain tercatat pernah menggunakan jasa pemain kelahiran 1 Oktober 1966 ini. Bersama PSG, Weah sukses menjadi top skor Liga Champions musim 1994-95. Pencapaian tersebut membuatnya dilirik dan akhir pindah ke AC Milan. Bersama tim nasional negaranya, Weah mengantongi 75 caps dan berhasil mencetak 18 gol.

Tim Wiese – Pegulat WWE


Debut Tim Wiese di WWE. Sumber : tribunnews.com

 

Siapa yang akan mengira bahwa seorang pemain sepakbola ketika di masa pensiunnya banting setir berganti posisi sebagai pegulat. Ternyata itu bukan hanya pertanyaan isapan jempol belaka, Tim Wiese lah jawabannya.

Mantan penjaga gawang tim nasional Jerman ini memutuskan beralih profesi sebagai pegulat. Dengan julukan The Machine, Wiese mengawali karir anyarnya di dunia World Wrestling Entertainment (WWE).  Kabar mengejutkan Wiese akan bergabung dengan WWE selepas ia gantung sepatu sudah santer terdengar sejak tahun 2016 lalu.

Dalam sebuah acara WWE yang berlangsung di Jerman, Tim Wiese akhirnya benar-benar tampil pada pertandingan Stardust and Goldust melawan The Usos. Wiese juga sempat diberikan satu kesempatan berlaga di dalam pertandingan tag team. Pemain yang besar bersama Werder Bremen ini tergabung dengan grup The Bar (Cesaro and Sheamus) melawan The Shining and Bo Dallas. Hebatnya lagi, sosok berpostur 193 cm ini berhasil memenangkan laga setelah mengunci salah satu lawannya.

Dalam karir sepakbolanya, selain Werder Bremen, Wiese pernah memperkuat Bayer Leverkusen, Fortuna Koln, Kaiserslautern dan Hoffenheim. Yang terakhir, Wiese bergabung dengan klub divisi lima Bundesliga, SSV Dillingen selama satu musim. Kebersamaan Wiese dan Dillingen bermula ketika Wiese terpaksa tidak bisa melanjutkan karirnya di dunia gulat WWE. Faktor usia disinyalir menjadi salah satu penyebab utamanya Tim Wiese kembali ke dunia si kulit bundar.

Fabien Barthez  - Pembalap Mobil


Fabien Barthez Juarai Seri GT Motorsport Prancis. Sumber : beritasatu.com

 

Jauh sebelum Hugo Lloris berdiri di bawah mistar gawang tim nasional Prancis, ingatan khalayak sepakbola dunia pasti akan terpaku pada satu nama yang sangat legendaris, Fabien Barthez.

Pemain plontos ini mengawali karir sepakbolanya dari klub negara asalnya, Toulouse. Di klub ini, Barthez bermain apik dan mencuri perhatian Aime Jacquet pelatih tim nasional ayam jantan untuk memasukan namanya dalam daftar pemain Piala Dunia 1998.

Bersama Lilian Thuram, Bixente Lizarazu, Marcel Desailly dan Laurent Blanc mereka bahu membahu menjaga gawang timnas Prancis selama gelaran turnamen. Tercatat pertahanan tangguh Prancis hanya kebobolan dua gol sepanjang gelaran.

Penampilan apiknya bersama tim nasional berhasil membuahkan hasil manis dengan menjadikan Prancis sebagai juara Piala Dunia 1998. Di partai puncak, Prancis berhasil menundukan juara bertahan Brazil dengan skor telak tiga gol tanpa balas. Barthez juga mencatat rekor tidak pernah kebobolan dalam 10 laga putaran final Piala Dunia. Catatan ini menyamai rekor Peter Shilton, penjaga gawang legendaris Inggris medio 1980-an.

Di level klub, Barthez sudah mengukir namanya dalam catatan sejarah sepakbola dunia sejak masih memperkuat Marseille. Saat itu, Barthez dkk sukses mempersembahkan trofi bergengsi Liga Champions edisi musim 1992-1993. Dalam partai final melawan AC Milan, Barthez sukses menjaga keperawanan gawangnya dan Marseille sukses menang dengan skor tipis 1-0. Pencapaian juara Marseille ini dalam gelaran Liga Champions masih menjadi satu-satunya gelar dari klub Ligue One dan belum ada yang bisa menyainginya hingga saat ini.

Selain Marseille, Barthez juga sempat membela Manchester United. Bersama The Red Devils, Barthez sukses mempersembahkan dua gelar Liga Premier Inggris untuk publik Old Trafford. Kesal hanya menjadi kiper pelapis setelah kedatangan Tim Howard, Barthez akhirnya angkat kaki dari Inggris di tahun 2004 dan kembali ke klub lamanya, Marseille.

 

Fabien Barthez ketika bersama Setan Merah, Manchester United. Sumber: dailystars.co.uk

 

5 Oktober 2006 menjadi hari bersejarah bagi Barthez. Di tanggal tersebut ia memutuskan gantung sepatu dari dunia yang sudah membesarkan namanya itu. Setelah lepas dari sepakbola, Barthez tidak memilih sebagai pelatih seperti kebanyakan pensiunan sepakbola lainnya melainkan menjadi pembalap.

Barthez beralih profesi sebagai pengemudi mobil motosport dengan mengawali karir bersama tim SOFREV Auto Sport Promotion di tahun 2008. Kejuaran pertama yang diikuti Barthez adalah Porsche Carrera Cup di Prancis. Setahun setelahnya Barthez mengikuti gelaran THP Spider Cup.

Keseriusan Barthez di dunia balap mobil membuahkan hasil setelah ia dinobatkan menjadi juara French GT edisi tahun 2013. Ajang ini cukup bergengsi terutama karena diikuti juga oleh juara dunia F1, Jacques Villeneuve.

Tidak sampai di situ saja kehebatan Barthez, di ajang Le Mans Series ia sukses menyabet gelar juara sebanyak tiga kali yaitu pada tahun 2014, 2016 dan 2017.

Andrey Arshavin - Perancang Busana

 

Andrey Arshavin ketika bersama Arsenal. Sumber : planetfootball.com

 

Ketika banyak pemain sepakbola lainnya yang mencoba peruntungan menjadi model dari merek ternama seperti Dolce Gabbana, Gucci, Louis Vuitton, Tommy Hilfiger dan lain sebagainya. Tetapi, berbeda dengan Arshavin. Ia bukan model melainkan sebuah fakta yang tidak banyak diketahui orang bahawa pemain berambut pirang ini juga adalah seorang desainer/perancang busana.

Arshavin ternyata memiliki gelar pendidikan sebagai perancang busana, dan gelar master di bidang tersebut. Selain itu, karyanya juga tercatat di seluruh Rusia, dan dianggap sebagai salah satu desainer paling terkenal di negaranya.

Dalam situs resmi klub Arsenal disebutkan, Arshavin telah menyelesaikan tesis S-2 dengan judul ”Pengembangan Industri Pakaian Olahraga”. Arshavin mengaku tertarik dengan mode karena kampusnya dipenuhi gadis cantik dan materi kuliahnya menyenangkan. Beberapa pakaian rancangan Arshavin saat kuliah telah dimuseumkan oleh pihak kampusnya.

Andrey Arshavin dan rancangan pakaiannya. Sumber: dailymail.co.uk

 

Andrey Arshavin adalah salah satu pemain paling berbakat dan dikenal di pertengahan tahun 2000-an. Ia menjadi ikon potensi hebat dunia sepakbola dari Rusia. Selain itu, Arshavin pernah menjadi mimpi buruk bagi Liverpool ketika kedua klub bertemu dalam lanjutan Liga premier Inggris, 21 Mei 2009. Saat itu Arshavin empat kali merobek gawang The Reds dengan aksi-aksi memukaunya. Untung bagi Liverpool bisa mengejar ketertinggalan dan membuat skor imbang 4-4 di ujung pertandingan.

Karir Arshavin di Inggris tidaklah lama. Ia dikenal introvert dan sangat tertutup dengan sesama rekannya. Kendala bahasa adalah faktor utama Arshavin kurang menyatu dengan Theo Walcott dkk. Pria 37 tahun itu akhirnya kembali ke kampung halamannya dan bergabung dengan Zenit St. Petersburg pada 2013. Namun, 2016 lalu Arshavin berkiprah ke Kazakhstan membela FC Kairat.

Jose Manuel Pinto - Musisi


Pinto Wahin. Sumber : https://merahputih.com/

 

Jika anda hobi mendengarkan musik anggap saja melalui kanal Spotify, coba masukan nama Pinto “Wahin” dalam kolom pencarian. Ya, Pinto Wahin dan Jose Manuel Pinto adalah orang yang tetapi dengan persona yang berbeda.

Selama ini khalayak lebih banyak mengenalnya sebagai seorang kiper yang nyentrik di Barcelona. Ternyata fakta mengejutkan bahwa Pinto juga adalah seorang musisi yang serius.

Bagi sebagian orang, Pinto memang juga dikenal sebagai musisi dan produser musik hip-hop. Sebagai musisi ia menggunakan nama panggung Wahin dan pada 2006 sudah memiliki label sendiri, Wahin Makinaciones.

Melalui laman Twitter-nya, Pinto juga sempat mengumumkan bahwa ia telah menandatangani kontrak dengan Sony Musik Spanyol. "Tanda tangan kontrak (setelah 22 tahun berada dalam bayang-bayang sebagai produser) dengan Sony Musik Spanyol," tulisnya saat itu. Wah, luar biasa sekali.

Kembali ke sepakbola, walaupun bermain untuk Barcelona, nama Pinto tidaklah sebesar dan seterkenal klubnya. Ia memang didatangkan dari Celta Vigo bukan untuk menjadi kiper utama tetapi hanya sebagai pelapis Victor Valdes yang saat itu sedang di masa keemasannya.

Sesekali Pinto memang dipasang sejak awal laga menjaga baris terakhir pertahanan Blaugrana. Penampilan nyentriknya di lapangan dengan rambut dreadlock sedikit banyak menyita perhatian penonton dan membuat ia cepat dikenali. Meskipun jarang mendapatkan menit bermain, tetapi Pinto menjadi saksi dari berlimpahnya gelar dan trofi yang didapatkan oleh Barcelona di masa itu.

Socrates - Dokter

Jika harus menyebutkan satu nama pemain sepakbola yang paling pintar dan jenius, kami menyarankan kepada kalian semua untuk memilih Socrates. Ya, namanya memang Socrates seperti filsuf Yunani yang terkenal itu. Tapi yang ini berbeda, ia adalah Socrates asal Brasil.

Terlahir dengan nama lengkap Sócrates Brasileiro Sampaio de Souza Vieira de Oliveira, mantan pesepakbola yang dijuluki 'Doctor Socrates' itu membuktikan bahwa kedua orang tuanya tidak salah memberikan nama. Socrates yang meninggal dunia 4 Desember 2011 silam, mempunya gelar ganda dalam bidang akademik.

Gelar pertama adalah seorang dokter berkualifikasi dan memiliki izin praktek. Itu yang membuatnya berhak menyandang gelar “MD” atau “Medical Degree” dari Faculdade de Medicina de Ribeirão Preto. Socrates juga memiliki julukan Doctor Socrates yang bersumber dari gelar akademik dan pergerakan politiknya. Selain itu, pemain yang mencetak 22 gol dari 60 pertandingan bersama tim nasional Brasil ini juga memiliki gelar Phd dalam bidang filsafat. Socrates Brasil menjelma menjadi Socrates Yunani dalam kehidupan modern.

 

Socrates saat menjalani praktek dokter semasa pensiun di Brasil. Sumber: AFP Photo

 

Socrates sejatinya terhitung telat dalam menjalani debutnya di ranah profesional seperti kebanyakan pesepakbola lainnya. Di usia sudah menginjak 24 tahun ia merasakan atmosfer pertandingan profesional. Ada alasan yang masuk akal mengapa sang maestro baru bisa mulai bermain di usia tersebut adalah karena ia harus menunaikan pendidikannya untuk menjadi seorang dokter.

Benar saja ketika di tahun 1989 ia gantung sepatu, dokter adalah profesi yang ia jalani untuk mengisi masa pensiunnya. Selain kedua gelar yang disebutkan di atas, Socrates rasa-rasanya mampu melakukan apapun dengan sama baiknya. Pemain yang memulai karirnya dari Botafogo-SP ini juga aktif di dunia politik, kepenulisan dan musik.

Dalam aksi dan manuver politiknya, Socrates sering kali mengundang kontroversi. Ia pernah menyablon bagian punggung seragam Corinthians dengan tulisan “Democracia Corinthiana”. Itu adalah wujud protesnya terhadap keberadaan junta militer di Brasil yang mengontrol segala lini kehidupan di negeri samba hingga ke ranah sepakbola termasuk klubnya saat itu.

Karena rasa tidak sukanya dengan junta militer tersebut, Socrates sering kali mengkritik pedas legenda Brasil, Pele. ia merasa Pele yang berjaya saat itu terlalu dekat hubungan dengan junta militer. Socrates terlihat lebih akrab dengan pemimpin Kuba, Fidel Castro. Bahkan anak Socrates pun diberi nama Fidel terinspirasi teman dekatnya tersebut.

Socrates pernah mengkritik Pele dan menyebutnya sebagai “Kapitalis Sampah”. Itu merupakan reaksi Socrates ketika Pele ditunjuk sebagai Duta Besar Sepakbola Brasil. Meskipun demikian, Pele tetap memasukan nama Socrates ke dalam 100 pemain terbaik sepanjang masa versi FIFA.

SAMPAIKAN KOMENTAR